
Shaira gegas menyelesaikan menu bekal suaminya itu sebelum Adelio datang. Untungnya Shaira sudah mempersiapkan segala keperluan dari suaminya, seperti pakaian kerja yang harus dipakainya, sepatu lengkap kaos kaki serta tas kerja hingga pakaian terdalam pun setiap hari dipersiapkan oleh Shaira.
Adelio tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Shaira yang selalu melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang istri sholehah dengan penuh keikhlasan.
"Kamu memang isteri yang paling sempurna dimataku, setiap hari kamu juga sibuk dengan pekerjaan kamu di rumah sakit tapi tanggung jawab kamu sebagai seorang istri selalu saja kamu bisa penuhi dengan baik," cicitnya Adelio yang tersenyum lebar melihat semua kebutuhannya sudah tersedia ketika bangun.
Rachel Amanda yang sedari tadi menguping dan bersembunyi dibalik tembok tertangkap basah oleh Abyasa kakak iparnya sendiri dengan segala umpatannya Rachel yang memperhatikan anggota keluarga suaminya itu.
"Brengsek! Mereka selalu terlihat bahagia padahal semuanya itu hanya akting dan berpura-pura menjadi keluarga bahagia dan harmonis. Aku paling malas lihat tampangnya mereka seperti ini. Jujur aku jijik melihatnya!" Umpatnya Rachel.
"Hemm, kalau mereka tertawa lepas bukan berarti mereka hanya sekedar bahagia dengan penuh kepalsuan, mereka itu murni dan alami bahagianya. Tidak seperti kamu yang sangat munafik. Dilihatnya lemah lembut, tapi ternyata busuk!" Hinanya Abyasa Akhtam yang berlalu dari hadapannya Rachel yang tidak menduga jika ketahuan sedang menguntit.
Rachel sangat marah karena telah dihina oleh Abyasa baru saja hendak membalas perlakuannya Abyaza tapi, sudut ekor matanya melihat kedatangan Aidan membuatnya segera kembali ke mode kalem, baik hati dan penuh kemunafikan.
"Suamiku, apa kamu mau sarapan bersama mereka bareng aku?" Tanyanya Rachel yang sudah bergelantungan di lengannya Aidan seperti seorang anak monkey saja.
"Tolong jaga sikapmu, jangan bersikap seperti ini karena aku tidak suka kamu bermanja-manja di depan saudaraku!" Ketusnya Aidan Akhtar yang segera menghempas tangannya Rachel.
Aydan segera meninggalkan Rachel yang tidak menduga jika suaminya akan bersikap kasar padanya selama mereka menjalin hubungan dengannya.
"Hey, mas Aydan apa yang terjadi padamu! Kenapa kamu bersikap kasar dan acuh padaku! Apa salahku padamu!" Jeritnya Rachel seraya mengejar kemana perginya Aidan.
Aydan menghentikan langkahnya itu dan menatap tajam ke arah Rachel," Stop! Aydan mengarahkan telapak tangannya ke depan wajahnya Rachel.
"Tidak perlu mengejar ku, karena semakin kamu kejar aku akan semakin menjauh darimu!" Bentaknya Aidan.
"Apa kamu bermasalah jika aku mengejar kamu? Ingat aku ini istrimu dan sedang hamil anakmu! Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini!?" Teriak Rachel yang sudah berdiri di depan pintu keluar.
Karena Aidan ingin berangkat ke kantor tanpa menyempatkan diri untuk sarapan pagi bersama dengan kelurganya seperti yang setiap hari dilakukannya.
Aydan menghentikan langkahnya itu dan kembali mengangkat tangannya agar Rachel tidak terus-menerus mengejarnya.
__ADS_1
"Tolong hentikan lelucon dan kebohongan kamu sebelum aku mengambil keputusan yang paling fatal dalam hidupku dan nantinya akan mengubah hidupmu juga tentunya! Jadi aku mohon dengan sangat jangan kejar aku lagi," cegahnya Aidan.
"Tapi, Mas Aidan apa salahku padamu, kenapa kamu melarangku untuk mengikutimu, padahal kamu adalah suamiku, jadi wajar saja aku bersikap seperti ini," tampiknya Rachel yang bingung dengan sikapnya Aidan yang tidak seperti biasanya.
Aidan tersenyum sinis," apa aku perlu menjelaskan secara detail apa sajakah salahmu padaku dan kepada keluargaku ha!?"
Aidan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya di depan Rachel, apalagi mereka masih berada di dalam rumah kedua orang tuanya. Aydan tidak ingin aibnya sendiri terekspos ke luar. Sudah cukup semalam dia mendapatkan rahasia besar yang disembunyikan oleh istrinya itu.
Rachel mematung mendengar perkataan dari suaminya itu, bibirnya bergetar hebat, dadanya bergemuruh hingga lututnya seakan tidak mampu menopang bobot tubuhnya.
Aydan yang melihat raut wajahnya Rachel yang pucat pasi sudah menandakan kecurigaan dan informasi yang tanpa sengaja didengarnya langsung tentang tindak tanduk istrinya itu dari kedua adik iparnya yaitu Arion Sneider Oesman dan Adelio Arsene Smith.
Rachel menutup mulutnya melepas kepergian suaminya itu," apa jangan-jangan mas Aidan sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi bagaimana bisa dia mengetahuinya karena aku sudah bermain cantik dan terus menutupinya dengan menyogok orang-orang yang berada di tempat itu."
Aidan yang sudah ingin memutar handle pintu tertahan karena dia tidak akan menutupi kenyataan tersebut yang baru diketahuinya semalam tentang kebusukan dari Rachel. Dia kembali melangkah ke arah Rachel yang masih berdiri mematung di posisinya semula.
Aidan mencengkeram kuat dagunya,"Rachel, sebelum aku bertindak kasar dan kejam padamu, tolong katakan padaku bayi siapa yang ada di dalam kandungmu ini? Karena aku sungguh tak percaya jika calon bayimu adalah milikku, karena cintamu padaku hanya obsesi semata yang ingin menguasai harta kekayaanku saja yang tidak seberapa ini!"
"Hahaha! Kamu tidak perlu berkilah lagi semua bukti sudah aku kantongi jadi sebaiknya kamu jujur padaku atau aku akan melempar kamu ke jalanan! Aku masih bisa menerima bayimu ini asalkan kamu berterus-terang kepadaku sekarang juga!" Gertak Aydan yang kali ini kemarahannya sudah membuncah tapi terus ditekannya karena tak ingin keluarga besarnya mengetahui apa yang telah terjadi.
Aydan sebenarnya belum melihat langsung buktinya, setelah mendengar perbincangan kedua adik iparnya semalam yang mengatakan bahwa Rachel malam itu telah menjebaknya dengan memasukkan obat tidur ke dalam jus jeruk pesanannya.
Sehingga Rachel dengan leluasa menjebaknya malam itu hingga mereka seperti sedang melakukan hubungan suami-istri. Sejak itu lah, Aidan merasa sangat bersalah pada istrinya Maryam Nurhaliza, walaupun ia belum bisa sepenuhnya mencintainya. Tetapi, dia tidak menduga jika akan bermain serong dengan mantan kekasihnya dikala masih berseragam putih abu-abu itu.
"Sudahlah, tidak ada gunanya berbicara denganmu! Aku memberikan kamu waktu hingga jam sembilan malam. Jika kamu tidak berbicara jujur untuk mengakhiri kebohongan ini maka jangan salahkan aku jika malam ini juga aku langsung menceraikan kamu!" Ancamnya Aidan.
Rachel semakin tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Aidan.
"Berhenti!! Jangan mendekatiku lagi! aku tidak ingin disentuh oleh tangan kotormu ini! Aku sudah sangat bersalah besar pada istriku dan kedua orang tuaku gara-gara kejahatan kamu ini!"
Kenapa sampai dia mengetahui segalanya, jika aku hamil bukan anaknya. Aku pun tidak tau siapa ayah biologis dari anak yang aku kandung.
__ADS_1
Aidan melepaskan cengkraman tangannya itu karena melihat wajahnya Rachel yang pucat pasi dan berkeringat dingin.
"Mas Aidan, apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah berbohong padamu," bujuk Rachel yang berusaha untuk menahan tangannya Aidan agar tidak pergi.
Tapi, lagi-lagi Aydan melepas pegangan tangannya Rachel istri sirinya itu dengan sangat kuat.
"Aku mohon hentikan!! Jangan pernah sentuh aku lagi sebelum kamu berkata jujur padaku! Karena aku sudah muak melihat wajahmu yang penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan!"
Aydan bergegas berjalan cepat hingga berlari kecil, karena sudah terlalu muak dan jengkel dengan kenyataan yang sungguh menyakiti hati dan perasaannya.
Rachel tidak ingin Aidan diceraikan oleh suaminya itu, karena hanya dia laki-laki yang mau menikahinya yang dalam keadaan hamil tanpa diketahui siapa pria yang telah menghamilinya itu.
"Tunggu! jangan pergi aku mohon tunggu aku mas, aku tidak seperti yang kamu kira, apa yang kamu ketahui bukan seperti kenyataannya, mereka hanya memfitnahku!" teriaknya Rachel Amanda yang meninggikan suaranya hingga terdengar ke dapur dimana orang-orang sedang menyantap sarapannya.
Rachel semakin mempercepat langkahnya menuju ke arah suaminya pintu hingga ia terjatuh karena berjalan tanpa berhati-hati, kakinya terpeleset di atas lantai keramik tersebut.
"Ahhhh!! tolong!" jerit Rachel yang tubuhnya sudah mendarat tengkurap di atas lantai.
brukk!!!
"Abya, suara apa itu?" Tanya Dewi yang mendengar suara teriakan seseorang dan benda yang terjatuh ke atas lantai.
"Iya Tante, aku juga mendengar suara keributan yang sepertinya bersumber dari arah depan pintu," sahutnya Adisty Ulfa.
"Tapi, siapa yang berteriak-teriak kencang seperti sedang di hutan belantara saja!" Gerutu Arion.
Semua orang saling berpandangan satu sama lainnya dan mereka tersadar yang tidak hadir di sana adalah hanya Aidan dan Rachel.
"Astaghfirullahaladzim, apa itu kak Aidan atau Rachel Ma?" Tebak Shaira Innira.
Bu Siti yang lebih duluan sudah berjalan tergopoh-gopoh ke arah depan pintu,dia pun berteriak histeris saking terkejutnya melihat siapa yang terjatuh dengan bersimbah darah.
__ADS_1
"Tooolong!! Nyonya Muda Rachel terjatuh!" Pekik Bibi Siti Aminah.