Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 144


__ADS_3

Pintu berdaun dua bercat putih itu terbuka lebar. Shanum Inshira melihat ada punggung lebar yang membelakanginya.


"Assalamualaikum maaf Bu Anda cari siapa yah?" Tanyanya Shanum.


Perempuan itu segera berbalik dengan gayanya yang anggun dan modis segera berbalik dan menatap ke arah Sahnun. Perempuan itu tanpa basa-basi dan ba bi bu langsung memeluk tubuhnya Shanum.


"Shanum," cicitnya yang memeluk erat tubuhnya Shanum.


Sedangkan Shanum yang kebingungan dan juga keheranan dengan seorang perempuan paruh baya yang kurang lebih seumuran dengan mamanya.


"Kenapa Sha belum balik juga? Padahal hanya bukain pintu," ujarnya Syam.


"Iya Pa, Sha belum balik juga,apa jangan-jangan ada yang bertanya alamat dan malah kekasaran ke sini," timpalnya Abyasa Akhtam.


"Untuk memastikannya sebaiknya kita lihat apa yang dilakukan oleh Sahnum Du depan," usulnya Dewi yang segera bangkit dari duduknya dan semua orang mengikuti langkah kakinya Dewi.


Karena cukup lama perginya Shanum ke depan pintu, semua orang yang kebetulan berada di dalam ruangan tengah segera menghampiri Shanum.


"Shanum ada siapa nak?" Tanyanya Dewi.


Shanum segera melepaskan pelukan wanita yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


"Maaf Bu, saya tidak kenal Anda jadi jangan terlalu akrab seperti ini juga," ujarnya Shanum dengan sopan.


Dewi dan lainnya segera menghampiri wanita itu dan Shanum.


"Assalamualaikum Bu Dewi Kinantii Mirasih kan," sapanya perempuan itu yang berjalan melewati Shanum yang semakin terkaget-kaget dengan apa yang terjadi di sana.


"Waalaikum salam, maaf siapa yah, apa kita saling kenal sebelumnya Nyonya?" Tanyanya Dewi dengan cukup keheranan.


"Perkenalkan Saya Gina Bu," ucapnya perempuan yang bernama Gina sambil mengulurkan tangannya ke arah Dewi.

__ADS_1


"Dewi Kinanti Mirasih Abidzar Al-Ghifari," balasnya Dewi disertai dengan senyumannya itu.


Bu Siti yang keheranan dengan ruangan tengah yang sudah kosong melompong segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.


Ya Allah orang-orang pada kemana? Biasanya kalau sudah selesai makan atau minum pasti langsung memanggil, tapi ini tidak, apa yang terjadi?


Bibi Siti segera berjalan ke arah depan pintu setelah mendengar suara orang berbicara dari arah pintu.


"Mereka sepertinya ada di depan semua termasuk Shanum dan yang lainnya," langkah kakinya Bu Siti semakin cepat ketika melihat semua orang berdiri di depan ambang pintu.


Hingga kedua bola matanya membulat sempurna melotot saking terkejutnya melihat siapa orang yang dikerumuni oleh kedua majikannya dan keempat anak-anaknya.


Astaughfirullahaladzim itu kan Gina, kenapa bisa dia mengetahui tempat anaknya berada.


Apa dia mencari tahu keberadaan putrinya sehingga ia mendapatkan informasi mengenai anak semata wayangnya itu.


"Gina!" Sapanya Bu Siti.


Hubungan apa yang terjadi di antara keduanya. Kenapa aku berasa Bu Siti dan perempuan cantik ini memiliki hubungan yang spesial.


Gina segera berjalan ke arah Bu Siti dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari sudut bibirnya itu. Perempuan yang disapanya Gina segera berjalan cepat ke arah Bu Siti.


Apa yang dilakukan oleh kedua perempuan itu membuat semua saling bertatapan satu sama lainnya dengan banyak pertanyaan yang muncul dalam benak mereka.


"Ya Allah kenapa perempuan itu wajahnya seperti pernah aku kenal dan lihat, tapi dimana?" Shanum berusaha untuk mengingat beberapa kepingan memorinya agar mengetahui siapa perempuan itu yang memeluknya erat tubuhnya.


"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Shanum, lihatlah dari mata, wajahnya bahkan mereka seperti kembar saja, apa dia ibu kandung Shanum yang segera mengambil hak asuhnya Sahnum dari tanganku ini," Dewi menatap intens ke arah Bu Gina.


"Ya Allah Mbak Siti akhirnya kita bertemu kembali lagi, aku sangat bahagia bertemu dengan Mbak," ucapnya Gina dalam pelukannya bi Siti.


Bibi Siti Aminah tidak menyangka setelah dua empat puluh tahun akhirnya kembali juga dan muncul langsung di hadapan Bu Siti kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan begitu saja, Gina tidak boleh mengatakan jika dia adalah ibu kandungnya Shanum, karena aku yakin Shanum akan sangat sedih jika mengetahui jika Gina adalah mama kandungnya sendiri yang telah membuang bahkan meninggalkan putri kandungnya sendiri."


Bu Siti segera menarik tangannya Gina dengan sekuat tenaga untuk keluar dari depan teras rumahnya Dewi. Mereka akan bertanya masalah Shaira dan Shanum yang dulunya ditukar oleh Dina yang menyebabkan kekacauan yang cukup besar.


Semua orang kembali terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Bu Siti.


"Bu Siti mau kemana? Kenapa harus ditarik seperti itu tamunya Bu Siti?!" Teriaknya Syam.


"Bi Siti dia itu adalah tamu kita, kenapa ditarik seperti itu bagaikan pencuri saja!" Ketusnya Aydan yang kurang menyukai sikapnya Bu Siti asisten pembantu rumah tangganya itu.


Bu Siti segera menarik tangannya Gina adik sepupunya dengan kuat, "Saya tidak akan izinkan kamu mengacau kebahagiaan mereka, untuk apa kamu datang kembali? Putrimu tidak ada di sini sejak kamu buang dulu!" Sarkasnya Bu Siti.


"Mama yakin ada alasan khusus kenapa Bu Siti bertindak seperti itu, jangan ada yang dzuudzon dulu dengan sikapnya bi Siti. kita kenal Bi Siti bukan kemarin satu bulan atau dua tahun, tapi sejak kalian masih dalam kandungannya ibu beliau sudah bekerja bersama dengan kita disini seperti Bibi Minah," tuturnya Dewi yang berusaha untuk menenangkan diri anak-anaknya.


"Kalau gitu Abang dan kakak Sha kita tunggu Bi Siti di dalam saja yuk, kalau balik baru kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi," bujuknya Shaira yang tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah orang lain kecuali masalah genting barulah mereka akan ikut campur.


Dewi menatap ke arah Bu Siti," entah kenapa aku merasa perempuan itu ada kaitannya dengan putriku Shanum, apa jangan-jangan dia adalah mamanya Shanum, ya Allah kalau mamanya apa yang harus aku lakukan jika mamanya Shanum ingin mengambil putriku," Dewi mulai nampak gelisah dan panik.


Ketakutan mulai menghampiri benak dan hatinya Dewi semenjak kedatangannya Gina di rumahnya.


Apapun yang terjadi aku tidak akan ikut dengan kedua orang tua kandungku. Aku akan selamanya bersama dengan papa Syam dan mama Dewi.


Kenapa sekarang mereka berlomba-lomba datang mencari hak asuh dan mengakui jika aku adalah anak kandung mereka.


Dimana selama 24 tahun ini, disaat aku sedih, sakit, kesepian dan menghadapi masalah mereka sama sekali tidak muncul di hadapanku merangkul dan memeluk serta menyeka air mataku dan menyediakan pundaknya untuk aku bersandar.


Ya Allah bukannya aku tak ingin mengakui mereka sebagai orang tuaku, hanya saja bagiku dari dulu hingga nanti papa Sam dan mama Dewi yang terbaik.


Syam yang melihat istrinya tidak baik-baik saja semenjak kedatangan Bu Gina segera memeluk tubuhnya Dewi.


"Istriku kamu baik-baik saja kan?" tanyanya Syamuel.

__ADS_1


Dewi mendongakkan kepalanya ke arah Samuel," Alhamdulillah saya baik-baik saja kok Abang, hanya saja kepikiran dengan nasibnya Vela dan Amar," kilahnya Dewi yang menutupi kenyataan yang ada.


__ADS_2