
"Sebaiknya kita berpisah saja, aku terlalu lama sudah memberikan kesempatan kepada kamu untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah kamu perbuat, tapi aku sudah menyerah dan muak dengan semua kemunafikan yang telah kamu perbuat, jadi maafkan aku pernikahan kita harus berakhir," ucapnya tegas Syamil.
Karina berjalan ke arah suaminya itu karena tidak percaya jika suaminya memintanya bercerai.
"Apa katamu ha! Jangan bercanda! Kamu berani menceraikan aku!? Itu tidak mungkin kamu tidak bisa menceraikan aku dengan semudah membalik telapak tangan!" Teriaknya Karina Ranau yang memukul-mukul dadanya Syamil.
Syamil segera memegangi kedua tangannya Karina, ada kesungguhan yang tersirat di dalam matanya Syamil.
Baru kali ini aku melihat dia serius dan tegas serta bersikap kasar padaku. Padahal selama ini selalu patuh dan tunduk pada semua perkataan dan pengaturan yang aku buat.
"Aku serius dan kali ini tidak bercanda lagi, apalagi aku sudah lama memikirkan yang terbaik untuk kalian semua terutama untuk masa depan anak-anakku, walaupun aku bukan Papa kandungnya tapi aku setiap saat memikirkan kebaikan dimasa depan mereka, walau hari ini mencoreng nama baik keluarga ku, tapi mereka tetap anak-anakku," ujarnya Syamil yang tidak ada keraguan sedikitpun di setiap perkataannya.
"Apa kamu bilang mas? Kamu menganggap putri kita Adisti adalah bukan anakmu ha!? Apa kamu sudah gila yah! Dia itu darah dagingmu sendiri kenapa kamu bilang bukan putrimu?" Teriak Bu Karina.
Karina tidak lagi peduli dimana dia berada dan dengan siapa saja yang menemaninya dalam suatu ruangan.
Padahal banyak orang yang kebetulan berada di dalam kamarnya Adisty yang masih pingsan tak sadarkan diri lagi.
Dewi terduduk di atas ujung tepi ranjang Adisti dan segera tubuhnya dipeluk oleh Shaira. Sedangkan Syam tidak menyangka jika pernikahan adiknya yang adem ayem itu ternyata hari ini tabir kepalsuan telah terbuka lebar di depan pelupuk matanya itu.
__ADS_1
"Karina stop! Aku mohon diamlah dan jangan banyak bicara! Karena semakin kamu berbicara maka semua orang-orang akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya, dan aku pertegas dan perjelas padamu jika aku tidak mungkin bisa memiliki keturunan karena aku divonis oleh dokter pria mandul," tegasnya Syamil.
Semua orang kembali menutup mulutnya mendengar fakta baru terucapkan dari mulutnya Syamil langsung.
Syamil menangkupkan kedua tangannya ke arah depan dadanya,"jadi aku mohon, hentikan semua kebohongan besar ini, karena apapun yang kamu katakan, kebohongan besar apapun yang kamu ucapkan semua itu tidak ada artinya dan tidak akan pernah merubah kenyataan yang ada," ungkapnya Syamil yang sudah pasrah untuk membongkar rahasia besar pernikahan, rumah tangga dan rahasianya sendiri di depan seluruh anggota keluarganya malam itu.
Karina tidak ingin mempercayai jika suaminya telah mengetahui apa yang sudah ditutupinya rapat-rapat selama dua puluh tahun lamanya.
"Apa yang mas katakan? Ke-na-pa berbicara seperti ini mas Syamil, kenapa kamu mengatakan jika Adisti adalah bukan putrimu?" Tanyanya Karina yang mengelak akan kebenaran tersebut.
Karina mulai menampakkan siapa jati dirinya sebenarnya,dia pun yang meninggikan suaranya saking kesalnya dan marahnya tapi,dia juga heran dalam waktu yang bersamaan jika suaminya sudah mengetahui segalanya.
"Karina Ranau mulai malam ini, kamu bukan lagi istriku dan maaf jika aku sudah banyak salah dan kekurangan selama kita menikah, aku talaq tiga padamu dan aku mohon kembali kamu ke rumah orang tuamu," ucapnya Syamil yang segera berjalan meninggalkan kamar putri sambungnya.
Bu Karina semakin terperosok kedalam jurang penyesalan. Dia sangat marah dan murka, tapi dia tidak mungkin bisa meluapkan kekesalannya lebih banyak lagi di hadapan keluarga suaminya.
"Tunggu Syamil, jangan seperti ini dek, seharusnya kita bicarakan baik-baik dek masalah rumah tangga kalian,tapi Mas minta jangan sekali-kali untuk bercerai," bujuknya Syamuel sambil memegangi tangan kanan adik semata wayangnya itu.
Syamil menghentikan langkah kakinya sejenak untuk membalas perkataan dari kakaknya itu.
__ADS_1
"Maafkan saya mas, keputusanku sudah final dan saya bukan mengambil keputusan dengan gegabah,sepihak maupun terburu-buru tanpa berfikir, tapi saya sudah tidak sanggup lagi untuk hidup dengan wanita yang sama sekali tidak pernah menghargai dan mengharapkan kehadiranku," balas Samil sembari melepas perlahan pegangan tangannya kakaknya itu.
Adelio, Abiayasa, Aidan, Sahnum, Shaira dan Adisti Ulfah sendiri menjadi saksi dari kehancuran rumah tangga adik satu-satunya dari papanya itu.
"Dik Syamil, mungkin kamu butuh istirahat dan berfikir tenang terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, kamu ini dalam keadaan marah alangkah tidak baiknya jika kamu tenangkan pikiran terlebih dahulu, karena anak-anakmu butuh kamu," nasehatnya Dewi.
Bu Karina segera bangkit dari duduknya itu sebelum menimpali percakapan dari kakak iparnya.
"Hahaha! Kamu tidak perlu sok baik dan sok perhatian kepada keluargaku, karena aku yakin kau pasti bahagia melihat kehancuran rumah tanggaku! Ini kan yang kamu inginkan!" Jerit Karina yang menunjuk ke arah Dewi.
"Tante Karina stop! Apa yang Tante katakan, apa Tante sadar dengan semua yang Tante katakan!? Aku mohon jangan sekali-kali Tante mengucapkan perkataan kasar dan tidak baik lagi untuk mamaku yang begitu mulia hatinya!" Teriak Shanum yang tidak menyukai mendengar perkataan dari mulut tantenya itu.
"Haha! Kau itu terlalu mencintai dan menyayangi perempuan kampung, perempuan tidak berpendidikan seperti dia ini! Kalau aku jadi kalian aku sungguh malu dengan memiliki seorang ibu seperti Dewi Kinanti Mirasih!" Hinanya Karina.
"Tante apa salahnya Mama sehingga Tante tega mengucapkan perkataan yang sangat kasar di depan kami? Mamaku begitu baik sekalipun tidak pernah mengatakan hal buruk tentang orang lain termasuk Tante! Lagian apa salahnya kalau mamaku terlahir dengan pendidikan rendah dan berasal dari desa? Walaupun Mama kami dari kampung dan hanya lulusan SMA, tapi bagi kami dia luar biasa bahkan hatinya dan pola pikirnya mengalahkan sarjana lainnya," tegas Shaira yang mulai tersulut emosinya mendengar segala hinaan untuk mamanya.
"Tante kami yang ada di dalam kamar ini sekalipun tidak ada yang pernah yang ingin melihat kehancuran kelurga dan rumah tangganya Tante Karina, andaikan kami ini ingin melihat kehancuran itu mana mungkin Mama dan papa mencegah dan menasehati paman Syamil untuk tidak menceraikan Tante," kesalnya Aidan.
"Astaughfirullahaladzim, sungguh picik pikiran dan hatinya Tante Karina! aku sungguh tak percaya dengan sikapnya Tante malam ini, semua yang kami lihat dan dengar beberapa tahun ini sangat berbeda jauh dengan hari ini, kami sungguh tidak menyangka jika hati dan jiwanya Tante sangat picik dan kotor," sarkasnya Abiyaza.
__ADS_1
"Mama mohon stop! jangan berkata seperti itu Nak, tantemu mungkin hanya dalam keadaan emosi sesaat saja," nasehat Dewi yang sedih melihat perdebatan mereka.