
Semua orang kembali terkejut mendengar kepergian Shaira lusa hari rabu. Syamuel hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk putri bungsunya itu.
Saudara dan saudarinya pun demikian, apa yang sudah diputuskan dan dipilih oleh Shaira adalah yang terbaik untuknya, mereka hanya bisa memberikan masukan, doa restu dan dukungan moril demi kebaikan Shaira Innira kedepannya.
Shaira mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Rumah sakit yang awalnya adalah milik suaminya Adelio Arsene Smith,tetapi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya,dia sudah menulis surat wasiat tentang semua aset kekayaannya atas namanya beralih atas namanya.
Shaira memasuki area parkiran rumah sakit yang sesungguhnya sungguh tidak ingin diinjaknya lagi. Kenangan-kenangan demi kenangan muncul begitu saja dalam benaknya, ketika harus kembali rekaman kebersamaannya dengan suaminya berputar begitu saja.
Air matanya kembali menetes membasahi pipinya itu, bukannya tidak ikhlas atau belum mampu merelakan kepergian mendiang suaminya, melainkan karena terlalu banyak kenangan indah ketika bersama dengan suaminya melewati setiap hari kehidupannya selama beberapa bulan terakhir ini.
"Hanya dua tahun pernikahan kita bang, tapi hati ini seperti dua puluh tahun saja kita bersama, aku sejujurnya enggan untuk datang ke sini, karena aku seolah selalu melihatmu di sekitaran rumah sakit, hingga membuat hatiku kembali sedih," lirihnya Shaira seraya mengusap wajahnya dengan gusar.
Kedatangan Shaira mendapat sambutan hangat dan positif dari semua karyawan rumah sakit, karena kedudukan Shaira sudah diketahui oleh hampir seluruh pegawai rumah sakit.
"Selamat siang Bu Shaira,"
"Selamat datang Bu Shaira."
"Assalamualaikum dokter Shaira,"
Semua orang bergantian menyapa Shaira ketika berpapasan dengan Shaira. Dia hanya membalas sapaan itu dengan senyuman terhangatnya dan mampu menyembunyikan kedukaan dan luka lara hatinya.
"Waalaikum salam, selamat siang juga, makasih banyak." Balasnya Shaira sebelum masuk ke dalam lift.
Lift menuju lantai paling atas rumah sakit itu. Ia berencana untuk menyerahkan surat pengunduran diri sementara waktu kepada adik iparnya itu. Dan juga ingin meminta kepada Andre sebagai orang yang akan melanjutkan estafet puncak pimpinan rumah sakitnya selama,dia pergi melanjutkan pendidikannya dan bekerja di USA New York City.
"Mbak Aida apa Pak Andrew ada di dalam?" Tanyanya Shaira ketika berada di depan meja sekretaris suaminya itu.
Aida Meilani tersenyum ramah menyambut kedatangan Shaira," baru saja Pak Andrew keluar Nyonya Shaira. Katanya nanti sore baru balik ke sini."
__ADS_1
"Oh gitu, kalau gitu saya langsung masuk saja mau simpan ini soalnya ini surat penting, tapi saya minta tolong kalau pak Andrew balik katakan padanya aku datang berkunjung dan suruh baca amplop ini yah," pintanya Shaira sembari memperlihatkan dua amplop putih ke hadapan Aida Meylani.
"Siap Nyonya Muda, amanahnya akan saya sampaikan kalau pak Andrew balik nanti," balas Aida.
Shaira segera melenggang pergi ke dalam ruangan pribadi milik suaminya itu, sama sekali tidak ada yang berubah sedikitpun. Semua tata letak benda-benda dan barang-barang pendukungnya masih tertata di tempatnya seperti sedia kala sebelum suaminya meninggal dunia.
Ya Allah… hati ini sangat sedih, aku tidak sanggup berlama-lama dalam sini, seolah aku menghirup aroma wangi tubuhnya suamiku.
Shaira mengusap kursi kebesaran suaminya itu dengan air matanya yang tak henti-hentinya menetes. Shaira mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut dan bayang-bayang kebersamaannya dengan suaminya tercinta terlintas dengan sangat jelas dipelupuk matanya itu.
Shaira menyimpan dua amplop putih itu kemudian berjalan ke arah jendela besar. Shaira berdiri di depan jendela ruangan itu yang seperti sering dilakukannya bersama dengan suaminya. Ia menyibak tirai jendela dan gordennya hingga terlihatlah hampir keseluruhan ibu kota Jakarta.
Shaira memejamkan matanya itu sambil seolah merasakan kehadiran suaminya yang sedang memeluk tubuhnya itu.
Adelio mendekatkan dagunya di atas pundak suaminya itu,"Shasa kamu harus melanjutkan hidupmu,abang sudah tenang dan bahagia di alam sana. Abang bahagia jika kamu membuka hatimu untuk pria lain,"
Sahira hendak membalas perkataan dari suaminya itu, tapi tiba-tiba bayangan kenangan Adelio menghilang begitu saja seperti tertiup hembusan angin lalu.
Tapi,apa yang dia dapatkan, hanya kehampaan dan kekosongan ruangan itu, karena hanya dia yang ada di dalam sana. Dia segera berlari cepat menuju ke arah pintu keluar. Ia tidak tahan dengan bayang-bayang semu milik suaminya sendiri.
Dua hari kemudian, sebelum Shaira berangkat ke Amerika Serikat,ia menyempatkan waktunya untuk berziarah ke makam Adelio. Setelah dari makam mamanya, tiba gilirannya ke makam suaminya itu.
Shaira membawa dua buket bunga mawar yang cukup besar, mawar berwarna putih dan merah khusus untuk suaminya yang memang sangat menyukai bunga mawar.
Shaira berjalan perlahan menuju tanah makam suaminya itu, hingga sudut netra hitamnya melihat siluet seorang pria yang sudah sangat dikenal dan dihafalnya.
"Andrew," beonya Shaira yang terus melangkahkan kakinya menuju ke pusara makam suaminya itu.
Andrew Parker yang menyadari kedatangannya segera menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Shaira.
__ADS_1
"Shaira," ucapnya Andrew yang langsung bangkit dari posisi jongkoknya.
Shaira menyimpan dua buket bunga yang dibawanya itu ke atas tanah pusara yang masih sedikit basah. Shaira hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari Andrew
"Assalamualaikum Bang Adelio," lirih Shaira.
Syaira Innira kemudian dalam hatinya mengirimkan doa-doa khusus untuk almarhum mendiang Adelio dan surah Al-fatihah. Andrew memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Shaira wanita yang sejak bertemu dengannya sudah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Alhamdulillah mas Andre ada di sini, pasti mas sudah mendapatkan dan membaca surat pengunduran diriku kan," ucap Sahira.
"Kalau kamu tidak ingin menjalankan amanahnya bang Adelio, kenapa harus meski pergi jauh-jauh ke luar negeri? Aku saja yang akan pergi,kamu tetaplah di tanah air," imbuhnya Andrew.
Shaira berusaha untuk tersenyum walau hatinya sangat sakit dan sedih," tidak apa-apa kok Mas. Bukan karena gara-gara itu aku ingin pergi, tapi karena aku sedari dulu sudah menunggu kesempatan langka ini untuk mendapatkan beasiswa dan kesempatan untuk bekerja di rumah sakit terbesar di Amerika, masalah itu maafin aku mas, aku sungguh tidak sanggup menerima dan menjalankan amanahnya bang Adelio," ucapnya sendu Shaira.
"Tidak apa-apa kok kalau kamu tidak bisa, aku tidak mungkin memaksakan kehendakku padamu, tapi kamu perlu tau jika sampai kapanpun aku akan menunggumu hingga kamu bersedia menikah denganku walau aku harus menunggu sampai akhir hayatku, apalagi usiaku baru 27 tahun,kamu 24 masih muda dan insha Allah masih banyak waktu," ujarnya Andre dengan optimis.
"Kalau gitu aku pamit mas, pesawat terbang yang akan berangkat, aku pamit dan kalau memang kita berjodoh pasti sesulit apapun pasti kita akan bertemu kembali dalam keadaan dan waktu suasana yang lebih baik dari hari ini, assalamualaikum," ucapnya ketika berpamitan dan sebelum pergi Shaira mengecup batu nisan makam suaminya itu.
Andrew menatap nanar kepergian Sahira dari hadapannya,air matanya yang sedari tadi berusaha untuk ditahannya akhirnya tumpah ruah juga beranak sungai di sudut pelupuk matanya itu.
"Selamat jalan cintaku, aku yakin kamulah jodohku di dunia hingga ke akhirat, sesulit apapun aku akan menunggumu sampai kamu kembali, empat tahun bukan waktu yang lama bukan waktu yang singkat juga, karena kamu adalah bidadari surgaku."
Shaira sama sekali tidak menoleh kearah belakang lagi. Semua saudaranya mengantar kepergian Shaira ke bandara internasional Soekarno Hatta.
Semuanya sedih karena harus kembali berpisah dengan kakak-kakak dan adik sepupunya itu serta keponakan dan iparnya.
"Jaga dirimu baik-baik dek, insha Allah kalau kami punya waktu kami akan menjenguk kamu sekalian liburan," ucapnya Abyasa.
Satu persatu berpelukan dengan Shaira Innira, Syam tak kuasa menahan laju air matanya melihat kepergian putrinya yang begitu disayanginya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bye," Shaira berjalan buru-buru pergi ke arah dalam pintu keberangkatan karena hatinya tidak rela pergi melihat semua wajah sanak familinya.
Mampir Baca yuk Novel Baruku yang Judulnya Terpaksa Menjadi Orang Ketiga.