
Innalilahi wa innailaihi rojiun "Yaitu orang-orang yang ditimpa kesusahan atau musibah, mereka akan mengucapkannya, kenapa kalian harus meratap? memang kematian itu sangat menyakitkan tetapi jangan lah sekali-kali meratap," nasehat sahabatnya Syamuel Pak Harun Yahya.
"Ambillah manfaat dengan dzikir dan mendengarkan nasihat. Seakan-akan kematian telah mencengkram leher kalian dan segalanya harapan telah terputus dari kalian.," sahutnya Bu Maimunah teman pengajian Dewi.
Tiap-tiap, diri ada bersamanya seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat dan seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat yang menggiringnya ke Padang Mahsyar, dan seorang malaikat penyaksi yang menjadi saksi atas segala perbuatannya.
Dewi begitu mendadak sehingga semua orang tidak menyangka jika dalam sekejap mata mereka telah ditinggalkan oleh perempuan yang begitu baiknya dalam kesehariannya.
Mereka masih tidak menyangka jika Dewi telah meninggal dunia untuk selamanya. Syamuel terduduk di samping jenasah istrinya di dalam mobil ambulance.
"Ya Allah Nyonya Dewi, kami tidak mengira jika kedatanganmu ke rumah sakit untuk terakhir kalinya kebersamaan kita, Nyonya engkau wanita yang sangat baik,kamu tidak pernah memperlakukan kami dengan kasar. Ya Allah terimalah segala amal ibadahnya dan ampunilah segala dosa dan kesalahannya," cicit bibi Siti yang ikut dalam mobil ambulance.
Shaira, Aidan dan Abyasa ikut bersama dengan papanya Sam. Mereka tak henti-hentinya menitikkan air mata kesedihannya.
"Aku akan menuntut balas terhadap Bu Karmila. Semua ini gara-gara sikap kasarnya menghina Mama sehingga shock dan akhirnya meninggalkan kita untuk selamanya," sesalnya Aidan.
Ini gara-gara ulahku menikahi wanita ular berbisa itu, sehingga mama jadi korban keegoisan dan kesalahanku.
"Mah, Dede belum berbakti dan membalas kebaikanmu padaku yang telah melahirkanku dan membesarkan aku hingga detik ini tanpa mengeluh sedikitpun. Ya Allah aku tidak sanggup, tapi aku tidak bisa terus meratapi kepergiannya Mama." Shaira mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan tissue yang entah yang kelembar berapa.
Samuel Abidzar sesekali menyeka air matanya yang terus menetes membasahi pipinya itu.
"Dewi kamu sudah berjanji padaku,katanya kamu akan menua bersamaku dan melihat tumbuh kembangnya cucu-cucu kita, aku juga pernah berkata padamu aku yang akan lebih duluan pergi,tapi malahan kamu yang lebih duluan, kamu sudah mengingkari janjimu sayangku," Samuel barulah mengeluarkan kata-katanya selama istrinya dinyatakan meninggal dunia.
__ADS_1
"Aku terlalu sayang padamu mah. Tapi, Allah lebih sayang padamu. Sulit memang aku mengikhlaskan kepergian Mama tapi aku harus tetap berusaha untuk melepaskan kepergian Mama Dewi dengan kesabaran dan keikhlasan." lirih Shaira yang menyentuhkan kepalanya ke atas tubuhnya Dewi yang sudah terbujur kaku.
Tak ada satupun orang yang tidak sedih dan merasa kehilangan atas kepergian Dewi yang seperti mimpi saja. Mereka juga terheran-heran mendengar kematian Dewi disebabkan karena penyakit yang sangat berbahaya.
Semua sanak saudara,kerabat dekat maupun jauh sudah mendapatkan kabar berita kematian Dewi. Mereka semuanya sudah satu persatu berdatangan ke rumah duka untuk melayak dan melepas kepergian Dewi hingga ke peristirahatan terakhirnya.
Shaira memeluk tubuh papanya yang tidak berdaya itu yang sudah terduduk di atas lantai mobil ambulan. Syam menatap ke arah papanya itu dengan tatapan matanya yang sudah memerah dan sembab saking tak berhenti menangis.
Orang-orang berbondong-bondong menjemput kepulangan mayatnya Dewi yang sudah berada di jalan menuju ke rumahnya.
Dina Anelka dan kedua anaknya saling berpelukan, Vela Angelina dan suaminya serta anak dan kedua orang tuanya sudah menunggu kepulangan mereka. Ahksan Haydar yang berada di luar daerah pun sudah datang.
"Kami tidak tau kalau Tante Dewi ternyata mengidap kanker yang sangat kronis dan berbahaya," ucap Vela sambil menggendong putranya yang baru berusia lima bulan.
"Setau saya Tante Dewi tidak pernah merasakan sakit atau pun mengeluh. Apalagi kalau dilihat-lihat beberapa hari terakhir ini tidak ada tanda-tanda jika Tante Dewi mengidap penyakit," imbuhnya Amar Alfarizi.
"Mau sakit atau tidak kalau ajal menjemput, semua orang akan mati juga tanpa pandang bulu ataupun bisa dimajukan ataupun ditunda itu tidak mungkin. Karena Allah SWT yang berkehendak atas segala-galanya yang ada di alam semesta," sanggahnya Pak Bayu.
"Iya benar sekali apa yang bapak katakan, kematian terkadang sering kali datangnya tiba-tiba. Ada orang yang kesehariannya terlihat sehat bugar tanpa keluhan penyakit apapun, tapi suatu ketika dia dinyatakan meninggal dunia karena sakit parah dalam sekejap mata," timpalnya seorang ibu-ibu yang duduk tidak jauh dari tempat mereka.
Beberapa ibu-ibu pengajian di dalam rumah bersama-sama yasinan untuk menjemput kedatangan mayat Dewi Kinanti Mirasih. Bahkan keranda pun sudah terletak di depan pekarangan rumahnya Dewi.
Silih orang-orang berdatangan mulai dari teman-teman Samuel, Dewi dan kerabatnya sendiri dan juga tetangga mereka. Teman kantor anak-anaknya serta segenap seluruh karyawan yang bekerja dibawah naungan perusahaan Arion Sneider Oesman dan Adelio Arsene Smith.
__ADS_1
Andrew Parker yang melihat kesedihan dari wanita yang begitu dicintainya, ia ingin menjadikan pundaknya sebagai sandaran untuk Shaira harus ditahannya. Karena tidak mungkin ia lakukan.
Semua orang tanpa terkecuali menangis tersedu-sedu dalam diamnya mereka. Tidak ada yang bisa berkata-kata ketika ambulance memasuki area rumahnya.
Semua orang berbondong-bondong mendatangi ambulan untuk menyambut kedatangan mayat Dewi. Semua orang yang numpang di atas mobil yang mengantar kepulangan Dewi dari rumah sakit, segera turun terlebih dahulu sebelum menurunkan keranda yang diatasnya terdapat Dewi.
Aidan, Abyasa, Arion dan Adelio bergegas ke arah pintu untuk menjemput keranda Dewi dan mengangkat keranda itu. Samuel Abidzar yang awalnya tubuhnya dipapah, ingin ikut mengangkat tubuhnya Dewi sang istri tercinta.
Mereka berlima mengangkat keranda Dewi secara bersamaan,air mata kesedihan menyertai pengangkatan jenasah Dewi. Mereka berusaha untuk nampak tegar, tapi terkadang air mata itu terjatuh juga tanpa aba-aba.
"Kematian bukan akhir dari segalanya,ia hanya jembatan yang harus kita alami agar dapat menuju negeri yang abadi," ucapnya pak Camat yang sempat datang melayat dan memberikan petuah bijak untuk Syam.
Samuel hanya berusaha untuk tersenyum walau hatinya masih belum sanggup untuk melakukan apa yang dikatakan orang yang datang melayat.
Sesekali Aidan menyeka air matanya itu yang terus menetes terkadang berhenti, tapi lebih sering jatuh dengan sendirinya.
Abyasa pun sama,ia berusaha keras untuk kuat dan tabah agar ketiga adik-adiknya dan sepupunya itu kuat menghadapi cobaan yang datangnya mutlak ke setiap ciptaan Allah SWT yang bernyawa.
"Kematian merupakan hal yang pasti akan kita rasakan. Kita hanya menunggu waktu dan giliran saja kapan Allah SWT yang Maha Kuasa memanggil kita," ucapnya ustadz Yusuf yang membawakan ceramah tauziah siang hari itu menyambut kedatangan jenazah Dewi.
Semua orang mendengarkan petuah bijaksana dari pak ustadz Yusuf Mansyur. Hingga hati mereka bisa nyaman dan tenang.
"Bahkan bin Abi Thalib juga menasehati kita untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi kematian, karena niscaya kematian itu akan datang kematian adalah haq."
__ADS_1
Syamil terus mendampingi kakaknya itu yang terduduk lesu tanpa bersemangat untuk ngapain lagi.
"Ingatlah beliau Ali bin Abi Tholib pernah berwasiat kepada orang-orang yang berada di sekitarnya kala itu, Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa mengingat kematian dan mengurangi kelatahan darinya. Bagaimana mungkin kalian melupakan sesuatu yang tidak akan pernah melupakan kalian semua, dan bagaimana mungkin kalian mengharapkan sesuatu sesuatu yang tidak pernah memberikan kesempatan kepada kalian? Itulah pesan moral yang disampaikan oleh beliau, jadi sepatutnya kita bersiap diri setiap saatnya karena kematian datangnya yang sangat rahasia," imbuhnya Pak ustad.