
Maut, jodoh rezeki datangnya tak terduga dan tidak ada yang mengetahui persis dengan pasti akan hal tersebut. Semua ketetapan dan keputusan ada di tangan Allah SWT.
Qada dan qadar Allah SWT itu sudah pasti adanya dan mutlak berlaku bagi semua mahluk hidup di dunia ini. Sama halnya dengan kematian setiap hamba-nya akan datang menjemput bagi yang telah genap usianya di permukaan bumi ini.
Dunia hanya tempat persinggahan sementara waktu saja, melainkan alam baqa adalah tempat kekal bagi semua makhluknya.
Jenazah Dewi Kinanti Mirasih pun sudah dimandikan,dikafani dan semua kerabat dekat dan sanak famili mendekati jenazah Dewi untuk melihatnya terakhir kalinya dan memberikan penghormatan kepada beliau.
Termasuk keempat anak-anak kembarnya dan juga saudara-saudarinya serta keponakannya. Tidak ada satupun orang yang tidak menitikkan air mata kesedihan akan kehilangan orang yang mereka sayangi dan cintai itu.
Semua proses sudah dilaksanakan hal selajutnya adalah, mengshalati jenasah mendiang almarhumah Dewi di salah satu mesjid terdekat dari komplek tempat tinggalnya yang kebetulan letaknya tidak berjauhan dengan pemakaman umum.
Shaira dan papanya Syamuel Abidzar dibantu berjalan dipapah ke arah mobil. Semua orang tanpa terkecuali mengantar jenazah Dewi hingga ke peristirahatan terakhirnya itu.
Hanya baby sitter kedua cucu kembarnya Arcenio dan Arcelio yang tidak ikut bersama rombongan yang berbondong-bondong ke tpu terdekat.
"Lailaha illallah, Allahu Akbar, subhanallah, astaughfirullahaladzim,"
Kalimat tauhid terus didengungkan dan menggema selama perjalanan. Mereka sengaja melafalkan dzikir dan kalimat toyiba agar hati mereka lebih tenang, damai dan tenteram sehingga tidak ada timbul niat sedikitpun untuk meratapi kematian salah satu kerabat mereka.
"Ya Allah semua yang bernyawa di dunia ini pasti akan kembali padamu, maka ikhlaskan lah hati kami dan lapamgkanlah hati kami ini yang ditinggal," cicitnya Abyasa.
"Mah, hanya duka air mata kesedihan yang sempat anakmu ini berikan padamu selama hidupmu. Aku belum sanggup untuk membalas kebaikanmu mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik kami hingga seperti sekarang ini. Mah maafkan kesalahan kami anak-anakmu," cicit Aidan Akhtar yang ikut mengangkat keranda yang diatasnya terdapat perempuan yang begitu banyak pengorbanan selama hidupnya.
Adelio menyeka air matanya itu, aku pikir aku yang akan lebih duluan meninggal dunia dengan penyakit yang aku derita Ma,tapi ternyata engkau mendahului kami semua.
__ADS_1
Adelio Arsene, Arion Sneider, Abyasa dan Aidan, Syamil, Taufik, Ahksan Haydar, Ade Nugraha, Fariz Fatahillah kecuali Syam yang tidak ikut mengusung keranda itu karena kondisi mental dan emosi psikis tidak sanggup untuk melakukan hal itu.
Banyaknya kendaraan yang meninggalkan halaman rumah hingga dari pelataran masjid tak terhitung jumlahnya. Saking banyaknya warga masyarakat yang ingin mengantar kepergian Dewi.
Semua orang menyempatkan waktu untuk mengantar Dewi ke peristirahatan terakhirnya dan di dalamnya akan kekal abadi hingga hari kebangkitan.
Tangis histeris dan haru terdengar begitu jelas dan lantang dari arah dalam pemakaman umum itu. Ketika jenazahnya dimasukkan ke dalam liang lahat.
"Mama!" Teriak histeris begitu kencang terdengar terutama dari keluarga paling terdekat.
Shaira hampir saja terduduk di atas pusara makam mamanya ketika lubang kuburan itu ditutupi dan ditimbuni tanah oleh beberapa orang yang mencangkul dan menutupi liang lahat itu.
Adelio dengan cekatan memeluk tubuh istrinya itu agar tidak terjatuh ke atas tanah. Sahnun pun mengalami hal sama, Maryam Nurhaliza, Sanika Tanisha, dan Adisti seperti tiba-tiba tulangnya lunak, karena mereka hampir semuanya tumbang dan terjatuh ke atas tanah secara bersamaan
"Tante Dewi sudah tenang di alam sana, jadi kami mohon kalian jangan ada yang meratapi kepergiannya. Yang patut kita lakukan adalah melapangkan hati dan mengikhlaskan kepergiannya adalah jalan satu-satunya yang paling terbaik,"
Satu persatu menabur bunga di atas pusara makam Dewi yang baru saja tertimbun secara penuh. Air mata yang jatuh bersamaan dengan jatuhnya kelopak bunga-bunga yang begitu cantik. Bunga itu ditabur satu persatu anggota keluarganya maju untuk melakukan prosesi terakhir sebagai penghormatan mereka untuk sanak saudara yang telah berpulang ke Rahmatullah.
"Selamat jalan Mbak Dewi,kami juga pasti akan menyusul kepergianmu. Hanya saja entah kapan dan waktunya itu tiba," cicitnya Dina Anelka Mulya sambil menyeka air matanya dengan gusar.
Suara sesegukan dan isak tangis semua orang terdengar begitu nyaring memenuhi seantero tpu.
"Nak Dewi maafkan ibu jika selama ini sudah mengecewakan kamu. Ibu mungkin bukan mertua yang masuk kriteria baik, tetapi ibu selalu menjadi yang terbaik untuk kalian semua. Dewi, Ibu sungguh sangat sedih. Kami berharap semoga kamu tenang di alam sana," lirih Bu Rina Amelia seraya menabur bunga khusus untuk pemakaman.
"Tante Dewi, saya dan saudaraku selama ini telah banyak salah kepada kalian semua. Kami belum sanggup membalas kebaikan-kebaikan yang Tante berikan kepada kami, tapi Allah SWT sudah memanggilmu. Aku hanya berharap semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya Tante dan menerima segala amal ibadahnya semasa hidupnya," lirihnya Ariela Ziudith.
__ADS_1
Arabela Aqila bersama dengan Akhsan ketiga saudara itu anak-anaknya dokter Irwansyah Hatif bersama-sama menaburkan bunga dan merafalkan doa-doa untuk keselamatan perjalanannya Dewi ke tempat yang Abadi.
Shaira mengecup batu nisan yang bertuliskan nama Dewi Kinantii Mirasih. Apa yang dilakukan oleh Shaira Innira tidak jauh beda dengan apa yang lainnya lakukan.
"Selamat jalan Bu Dewi,kami sebagai tetanggamu sangat kehilangan wanita baik sepertimu. Semoga segala kesalahan dan khilafmu diampuni oleh Allah SWT dan segala amal perbuatan baikmu diterima oleh Sang Maha Pencipta," ucap salah satu tetangga Dewi yang ikut mengantar dan datang melayat.
Satu persatu orang-orang pulang dengan tertib sama halnya dengan anak-anaknya Dewi dan yang lainnya. Sam tidak ingin beranjak dari posisi berlututnya sambil menggenggam tanah pusara istrinya yang basah itu.
"Pah, ayo kita pulang. Kita semua sama-sama kehilangan. Tapi, hidup ini terus harus berlanjut dan aku yakin Mama akan sedih melihat papa seperti ini," bujuk Shaira.
Sam mendongak menatap ke arah putri semata wayangnya itu," iya nak. Maafkan Papah yang sudah membuat kalian khawatir," sahutnya Syam yang lemah tak berdaya.
Aidan dan Abiyasa memapah tubuh papanya kembali ke dalam mobil yang awalnya mereka tumpangi ke kuburan tersebut. Suasana kembali tampak hening dan sepi sepeninggal pelayak yang sudah pulang kembali ke rumah masing-masing.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai dun kediaman Dewi dan Sam. Suasana duka nampak terlihat jelas dari rumah yang nampak legan seolah tak berpenghuni saja. Aktifitas biasanya terlihat dari dalam rumah besar itu, tapi seiring berjalannya waktu rumah itu tidak seperti sedia kala.
Syam terduduk di tepi ranjangnya sambil memeluk dan mengecup figura foto mendiang almarhum istrinya itu kekasih pujaan hatinya.
Air matanya kembali jatuh membasahi kaca figura itu, Syam tidak sanggup berkata-kata lagi saking sedih dan kehilangan yang begitu mendalam dirasakannya.
Semua orang nampak lesu dan tidak berdaya seperti orang yang sudah tidak makan selama berhari-hari saja. Suasana duka cita itu dirasakan oleh segenap anggota keluarganya dan para kerabat dan sahabat lainnya.
Sesekali masih terdengar suara isak tangis dari semua penghuni rumah mewah itu disela aktifitas dan kegiatan kesehariannya.
Keesokan harinya, acara akad nikah antara Dina Anelka Mulya dan calon suaminya Syamil Rafiq Algifari dan Ade Nugraha dan calon istrinya Adisti Ulfah Salsabiela serta Fariz Fatahilah sudah nampak kesibukan di dalam gedung perhelatan acara resepsi pernikahan sekaligus akad nikah ijab kabul ketiga pasangan itu.
__ADS_1