
Nadia menatap nyalang dan tidak percaya, jika perempuan yang dianggapnya paling jujur,baik hati, sholeha, perhatian, pengertian dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya ternyata adalah orang yang telah mengambil perhiasan emasnya.
Ya Allah kenapa bisa kotak perhiasannya Mbak Nadia ada di bawah ranjang ku, ada apa ini apa yang terjadi sebenarnya?
Berbagai macam jenis pertanyaan muncul di dalam benaknya Dewi. Ia sama sekali tidak menduga dan mengerti serta mengetahui dari mana asal usul perhiasan emas itu sehingga berada di dalam kamarnya. Dewi menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat sebuah kotak buludru berwarna merah di dalam tangannya Mang Udin.
Semuanya tidak menyangka jika itu terjadi dan dilakukan oleh Dewi. Mereka tidak bisa percaya begitu saja, mengingat Dewi dalam bekerja tidak pernah bermain-main,tak pernah memperlihatkan kelakuan yang janggal, bertutur kata lemah lembut dan sopan. Hal itu lah yang mendasari jika Dewi bukanlah pelakunya, tetapi semua bukti mengarah kepada Dewi seorang.
Nadia berjalan ke arah Dewi sambil memegangi perutnya yang terasa sakit itu tapi,dia menutupinya agar tidak kelihatan lemah di depannya Dewi dan yang lainnya.
Plak!!!
Tamparan keras itu mampu membuat Dewi terhuyung ke arah belakang. Untungnya ada Narendra Afiq yang menolong Dewi agar tidak terjatuh ke atas lantai keramik.
Dewi memegangi pipi bagian kanannya yang terkena tamparan yang cukup keras dan tiba-tiba datangnya tanpa dipresentasikan sebelumnya, sehingga Dewi tidak bisa mengelak, menghindari ataupun mencegahnya.
"Dewi dasar wanita lucknut loh, tidak tahu diri! Tidak tahu balas budi aku sudah terima kamu dengan baik di dalam rumahku ini, aku sudah anggap kamu sebagai adikku sendiri dan saudariku, tapi malah ini balasan yang aku dapatkan darimu! Sungguh tega dirimu melakukan hal ini padaku!!" Kesalnya Nadia.
"Kamu tidak apa-apa kan Dewi?" Afiq bertanya kepada Dewi karena sepertinya tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.
Dewi segera melepas pegangan tangannya Afiq dari atas tubuhnya itu seraya mencoba untuk tersenyum tipis walau hatinya sedih dan kecewa diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Nadia kamu sudah menamparku, padahal bukan saya pelakunya, lagian bukti ini tidak menjamin jika saya pelakunya saya memang pernah melihat kamu memakai kalung mahalmu, tapi Ingat saya bukan pencuri saya masih punya harga diri dan tidak bakalan melakukan hal serendah yang kamu tuduhkan!" Sanggahnya Dewi.
Nadia tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari mulutnya Dewi yang menyangkal apa yang dituduhkan kepadanya oleh Nadia.
"Kamu sudah terbukti bersalah masih saja ngeyel, membela diri dan sok suci di hadapanku! Aku heran baru kali ini melihat maling yang sudah ketahuan dengan beberapa bukti yang kami dapatkan tapi, malah berkilah dan menyanggah terus menerus bukti yang sudah ada di depan mata kami!" Sarkasnya Nadia.
"Apa yang Mbak Nadia katakan seperti itu lah kenyataannya yang saya katakan sebelumnya jika saya bukan pencuri, walau saya miskin Mbak tapi saya masih punya harga diri untuk memakai ataupun mengambil milik orang lain!" Balasnya Dewi.
"Dewi Kinanti Mirasih kamu memang wanita lihai dan pintar bermain kata sehingga mampu mengelabui siapapun, tapi hari itu tidak berlaku disini, saya akan menuntut pertanggungjawaban kepadamu atas kehilangan barang-barang pribadi yang sangat penting milikku ini!" Tegasnya Nadia sambil menyodorkan kedepannya Dewi kotak perhiasannya.
Bibi Siti dan Mang Udin tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan kedua mata mereka.
Mang Udin pun menyahut," iya benar sekali Nyonya saya memang belum lama mengenal Dewi tapi, menurut saya ini pasti kekeliruan semata dan bukan Dewi yang melakukannya karena Dewi itu perempuan baik-baik dan jujur jadi itu…" perkataannya Mang Udin terpotong karena segera dicela oleh Nadia.
"Haha! jadi menurut kalian saya ini keliru sudah salah menuduh Dewi sedangkan barang buktinya ada di dalam sini kamarnya Dewi atau mungkin kalian berfikir jika aku sengaja menaruh milikku di dalam sini agar Dewi seperti kelihatan mencuri ha!! Coba kalian pikir apa untungnya bagiku, apa tujuannya aku melakukan itu semua sedangkan saya butuh tenaganya untuk masak makanan bergizi untukku, walaupun beberapa hari ini aku memang kurang menyukai sifatnya Dewi yang seolah sengaja cari perhatian pada suamiku mas Syam! Tapi itu tidak mungkin aku lakukan," geramnya Nadia yang malah dituduh melakukan hal yang tidak baik.
"Maafkan, kami tidak bermaksud sengaja melakukan hal itu Nyonya, kami sudah salah," ucapnya mang Udin yang memegangi tangan istrinya yang ingin berbicara menyanggah perkataan dari Nadia.
Bi Siti yang melihat tatapan mata kode yang diberikan oleh suaminya sembari menggeleng kepalanya ke arah by Siti agar tidak melanjutkan perkataannya dan menentang terus menerus apa yang dikatakan oleh Nadia Yualianti.
"Kalian diam!! Jika masih berbicara dan ikut campur aku akan memenjarakan kalian bersama dengan perempuan tidak tahu diri itu!" cibirnya Nadia seraya menunjuk ke arah Dewi.
__ADS_1
Saya tidak nyangka jika kejadian seperti ini terjadi, walau tadi pagi saya sempat Mbak Nadia menutup pintu kamarnya Nyonya muda tapi, saya yakin dengan sangat jika pelakunya Dewi.
Afiq segera hubungi nomor polisi jika perempuan ini masih saja mengelak dan tidak mau berkata jujur! Saya ingin dia merasakan hukuman akibat perbuatan jahatnya!" Perintahnya Nadia.
Aku tidak mungkin mengijinkan hal itu terjadi dan terlaksana lagian disini bukan Mbak Dewi pelakunya, ini semua sudah direncanakan dengan baik dan matang agar kejadiannya seperti kecurian dengan satu alasan.
"Mbak Nadia sekalipun Anda bisa penjarakan saya, tapi jawabanku masih seperti semula bahwa bukan saya maling atau pun pencuri perhiasannya Mbak Nadia, silahkan saja telepon polisi karena jawabanku masih seperti awalnya bukan saya pelakunya!" Ketegasan diperlihatkan oleh Dewi.
Afiq iba melihat apa yang dialami oleh Dewi perempuan yang jelas-jelas diketahuinya bukan dia yang bersalah di dalam masalah ini, "Mbak Nadia kalau menurut aku sebaiknya tidak perlu repot-repot melaporkan Mbak Dewi ke pihak yang berwajib, cukup usir saja dari sini daripada berurusan dengan polisi yang pasti akan berbuntut panjang, jalan terbaik menurut aku usir saja dan jangan berikan gajinya untuk bulan ini karena perhiasannya Mbak juga kan sudah balik, kalau menurut aku sih seperti itu Mbak jalan keluar dan solusi terbaiknya," usulnya Afiq yang merasa kasihan dengan Dewi kalau berurusan dengan kepolisian.
Afiq menatap sendu Dewi yang berdiri mematung menjadi terdakwa dari Nadia. Sedangkan Nadia menatap mencemooh ke arah Dewi.
"Pasti kamu melakukan semua ini dengan sengaja karena alasannya kamu pasti cemburu melihat aku mendapatkan banyak hadiah dari suamiku sedangkan suamimu yang miskin itu tidak mampu memberikan barang-barang mahal,iya kan makannya kamu berniat untuk mengambil punyaku, untungnya kamu segera ketahuan jika tidak pasti akan kamu bawa kabur!" Hinaannya Nadia ke arahnya Dewi.
Dewi hanya terdiam mendengarkan perkataan dan hinaan dari mulutnya Nadia tanpa berniat untuk membalas lagi. Karena hal itu percuma dia lakukan tidak ada juga gunanya ia membela diri ujung-ujungnya Nadia tidak percaya dengan semua penjelasannya.
"Baiklah kalau begitu kamu harus pergi dari rumahku dan angkat kaki segera dari sini sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan kamu ke polisi, Bibi Siti tolong dampingi dan awasi terus dia mengemasi semua barang-barangnya agar tidak mengambil secuil pun milikku!" Nadia tidak ingin menatap ke arah Dewi lagi karena emosinya akan mudah tersulut jika melihat tampang wajahnya Dewi yang sama sekali tidak bersalah itu.
"Baik Nyonya besar," balas Bu Siti yang segera menuntun Dewi untuk mengemas semua barang-barang penting miliknya Dewi.
Maafkan saya kamu harus mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang lain, ini semua aku lakukan demi kebaikan kalian berdua agar hubungan pernikahanmu tidak ketahuan. Semoga kelak kamu bisa mengerti dengan tujuan apa sebenarnya yang aku perbuat hari ini. Aku sudah mengetahui segalanya dan cukup aku saja yang tahu rahasia besar kalian berdua. Aku berharap kamu bisa balik ke kampung halamanmu dan mulailah hidup dengan baik dan aku yakin Abang Syam akan memperlakukan kamu dengan adil dan baik pula.
__ADS_1