Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 81


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Semua orang menyambut acara aqiqahan anak-anaknya Dewi Kinanti Mirasih dengan suaminya Samuel Abidzar Al-Ghifari.


Mereka berkumpul di salah satu panti asuhan yang tidak terlalu cukup jauh area lokasinya dari rumah mereka. Syam mengundang beberapa majelis ta'lim, ibu-ibu pengajian dan juga ibu-ibu tetangga sekitar kompleks perumahan mereka.


"Alhamdulillah Nak Dewi acara aqiqahan cucu-cucuku berlangsung damai,ramai dan penuh khidmat kekeluargaan dan semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita inginkan, walaupun hanya sebatas tetangga saja yang datang karena kerabat kita tidak memungkinkan untuk datang," imbuhnya Bu Rina Amelia yang mendudukan tubuhnya di atas kursi sebelah kanannya Dewi anak menantunya itu.


Dewi yang sedang duduk sambil memberikan asi satu persatu anaknya karena semakin berkurang tamu undangan yang datang.


"Iya Ma, syukur Alhamdulillah saya sangat bersyukur dan gembira hari ini bisa berjalan lancar dan sukses bahkan melebihi apa yang saya impikan dan harapkan, semua orang berbahagia dengan aqiqah keempat putra putriku," imbuh Dewi yang tersenyum penuh kebahagiaan.


Syam yang baru datang setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan beberapa pengurus panti asuhan segera ikut bergabung dengan kedua wanita yang sangatlah penting dalam kehidupannya, "Dewi sepertinya sebaiknya kalian pulang saja terlebih dahulu diantar Mang Jono, kasihan anak-anak sepertinya sudah kelelahan, biarkan Abang saja yang mengurus semuanya yang tersisa disini," ujarnya Sam yang ikut bergabung dengan mereka.


"Iya Dewi itu ide yang bagus, Papa lihat putrimu Shanum dengan Abyasa sepertinya tidak tenang tidurnya karena mungkin kebisingan dan keributan yang terjadi di sini, serahkan sisanya pada Papa, suamimu dengan Samil juga ada insya Allah urusan yang disini cepat kelar dan selesai," timpalnya Pak Gilang Iskandar.


"Iya Mbak saya dengan Mbak Samia juga ada dan siap bantuin Mas Sam, jadi pulanglah untuk istirahat demi kebaikan anak-anaknya Mbak juga, kasihan mereka masih sangat kecil harus berlama-lama di luar rumah," bujuknya Samil ikut menambahkan.


Dewi tersenyum simpul menanggapi perkataan dari mulut semua saudara,adik, dan kedua orang tua suaminya.


"Alhamdulillah, saya sangat senang dengan kehadiran kalian yang selalu bantuin dan mengerti dengan kondisi saya dengan Abang Sam, kalau begitu saya dengan bibi Juba, Bi Siti balik dulu kalau bi Minah juga kalau masih mau disini enggak apa-apa juga kan pak Edi belum balik," ujarnya Dewi yang menyelipkan candaan di dalam perkataannya.


Bi Minah yang mendengar gurauan Dewi spontan menunjuk ke arah dadanya itu," kenapa dan apa hubungannya mas Edi dengan saya Nyonya Muda," bi Minah mengelak padahal maksud dari perkataannya Dewi sangat dipahaminya itu.


Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Bi Minah. Beberapa orang termasuk Dewi dan rombongannya sudah bertolak untuk pulang ke rumah.


Dewi menatap ke arah suaminya itu diam-diam memperhatikan dengan seksama gerak geriknya Samuel.


Saya yakin ada kegundahan, kegelisahan dan kekecewaan yang mendalam dirasakan oleh Abang Syam.


Hanya saja Abang belum mau dan bukan waktu yang tepat untuk berbicara terus terang padaku.


Tapi aku akan bersabar menunggu hingga Abang Syam siap membicarakan masalah rumah tangganya yang hanya menunggu keputusan ketukan palu dari sidang perceraian di pengadilan agama.


Kehidupan mereka terus berlanjut, ada orang baru yang datang ke dalam kehidupan mereka. Ada yang perlahan pergi meninggalkan kehidupan keluarga kecilnya Dewi. Tiga bulan setelah baby twins kembar empat itu selesai diaqiqah Syamil Khaer Alfarizi dan kakaknya Samia Ananta Asmirandah memilih menetap dan Jakarta, tapi mereka lebih memilih tinggal di rumah mereka masing-masing yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja mereka juga.


Waktu terus berlalu, kedua pasangan mertuanya Dewi sudah kembali ke daerah Jogjakarta. Memang mereka terlahir dan besar dan Jakarta, tetapi pasangan suami istri itu lebih memilih untuk menetap dan berdomisili di Jogja seperti hari terakhir menjabat sebagai anggota tentara republik Indonesia TNI RI lima tahun lalu.

__ADS_1


Pak Gilang sudah pensiun dari rutinitas sehari-harinya sebagai anggota TNI. Sekarang sibuk dengan pekerjaan sampingnya yaitu membuka toko buku di salah satu ruko yang tidak jauh dari rumahnya itu.


Awal niat kepulangannya ditentang keras oleh Dewi dan Syam. Tetapi kedua pasutri lansia itu bersikukuh dan bersikeras untuk kembali ke Jogja menikmati masa tua mereka di kota pendidikan tersebut.


Dengan berat hati dan sedih tentu saja Dewi terpaksa melepas dan merelakan kedua mertuanya yang sudah seperti orang tua kandungnya sendiri.


"Nak Dewi maafkan Mama yah Nak, Papa juga tidak bisa tinggal berlama-lama dengan kalian Insya Allah nanti lebaran haji idul adha kami akan datang lagi berkunjung untuk keempat cucuku," tuturnya Bu Rina sambil mengecup pipi gembul dan chubby satu persatu cucunya itu.


"Iya Nak, Papa sangat bahagia dengan tawaran dan ajakan kalian berdua untuk tinggal di Jakarta, tetapi papa lebih senang hati tinggal di Jogja kota yang sudah memberikan banyak warna kehidupan untuk Papa, Insya Allah setiap bulannya kami akan menengok cucunya Papa yang ganteng dan cantik ini," ujar Pak Gilang lagi.


Dewi memegangi punggung tangan suaminya itu yang mengerti jika Sam kecewa dengan penolakan kedua orang tuanya itu, "Kami sangat menghargai dan menghormati keputusannya Papa dan Mama, Kalau gitu jangan cegah saya untuk buatkan kalian beberapa jenis kue sebagai oleh-oleh untuk kalian balik ke Jogja," pintanya Dewi yang segera bangkit dari duduknya itu.


Kedua mertuanya hanyalah tersenyum menimpali perkataan dari anak mantunya itu agar Dewi tidak sedih dan berkecil hati dengan kepergiannya. Dewi segera berjalan ke arah dapur setelah menidurkan bayinya ke dalam box bayi mereka masing-masing.


Bu Rina membuka kembali percakapan mereka setelah punggung Dewi tidak kelihatan lagi, "Sam sepertinya kamu belum mengatakan jika kalian akan bercerai dengan Nadia dan segera mengakhiri hubungan pernikahanmu dengan Nadia Yulianti kepada Dewi, kalau menurut Mama berbicaralah dari hati kehati,jujur saja kepada Dewi, memang sih setahu kami Dewi sudah mendengar dan mengetahui kabar berita perceraianmu, tapi dari orang bukan kamu sendiri yang langsung berbicara terus terang," ungkap Bu Rina Ameliya.


"Iya Syam, Ingat dalam rumah tangga itu fondasi kokoh bangunan rumah tangga terletak pada kejujuran dan keterbukaan, tetapi jika kamu menunda-nunda terus menerus untuk berbicara tentang hubungabmu yang akan berakhir dengan Nadia takutnya nanti ada pihak-pihak tertentu yang akan memanfaatkan kesempatan ini," tukasnya Pak Gilang.


Syam hanya terdiam memaknai dan mendengarkan dengan seksama perkataan dari mulut papa kandung dan Ibu sambungnya.


Berselang beberapa jam kemudian, tepatnya sore hari, kedua orang tua itu akhirnya berpamitan dan berangkat ke Jogja bersama supir pribadinya bernama Edi pria yang sempat menyatakan cinta pada Bu Minah perawan tintin diusianya yang sudah 37 tahun itu.


Air matanya Dewi menetes membasahi pipinya melepas kepergian Bu Rina dan Pak Gilang Iskandar. Ia sangat sedih dan merasa kepergian mereka sangatlah menyisakan kesedihan yang mendalam. Karena bagi Dewi mereka sungguh memberikan kasih sayang yang sangat tulus untuk dirinya yang hanya anak menantu saja.


Syam malamnya mengatakan kepada Dewi yang sejujurnya tentang kisruh rumah tangganya bersama Nadia yang tersisa menunggu keputusan dari pengadilan agama saja hingga mereka benar-benar resmi bercerai.


Dewi hanya terdiam dan kebanyakan mendengarkan perkataan dari suaminya itu tanpa berniat untuk menyela penjelasan dari mulut suaminya itu.


Dewi bersyukur karena akhirnya suaminya jujur juga, walau sedikit sedih dan kecewa dengan sifatnya Mbak Nadia madunya i. Tapi, Dewi tidak menampik dan memungkiri jika ada sedikit rasa lega dan bahagia karena Syam dan Nadia sudah bukan suami istri lagi.


Dewi berulang kali beristighfar kepada Allah SWT atas kebahagiaannya yang dirasakan diatas luka, duka kesedihan dan kehancuran rumah tangga perempuan lain.


"Astaghfirullah aladzim," cicitnya Dewi.


Syamuel mengecup sekilas keningnya hingga turun ke bibir mungilnya Dewi yang selalu membuatnya lupa daratan, " jika boleh aku berbicara akulah pria yang paling beruntung di dunia ini, karena mendapatkan istri yang cantik, sholeha, lembut,baik hati, penyayang,setia, penyabar dan yang paling penting adalah cantiknya luar dalam," pujinya Syam.

__ADS_1


Dewi mengalungkan tangannya ke lehernya suaminya, "Aku sangat sangat bersyukur bisa hidup bersama dengan Mas, mungkin aku lah perempuan yang paling bahagia bisa menikah dengan pria sebaik penuh pengertian, penyayang, seganteng dan setajir dan sekaya suamiku dan paling anti cemburuan," pujinya Dewi yang keluar sisi matrenya itu sambil bercanda.


Syam tersenyum smirk menanggapi perkataan dan pujian dari mulut istrinya itu yang membuatnya semakin melambung tinggi hingga ke ujung langit tertinggi.


Pasangan suami istri kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum tuntas itu setelah sama-sama memuji karateristik dan sifat masing-masing.


Malam itu pun menjadi malam penyatuan kedua pasangan suami istri setelah tiga bulan menganggur dan berpuasa. Syam sangat bersyukur karena akhirnya bisa mengakhiri puasanya yang cukup berat dan melelahkan itu.


Malam itu rutinitas dan kegiatan panjang mereka sungguh membuat keduanya kelelahan dan sangat menguras tenaga. Dewi terkadang agak takut dengan jahitan di perutnya itu bekas operasi cesarnya.


"Kamu tidak perlu takut sayang, Abang akan pelan-pelan kok, kamu cukup tenang diam dan menikmati pekerjaan Abang," tutur Syam yang sudah tidak bisa menahan gejolak dari dalam hati dan pikirannya itu.


Satu minggu kemudian, setelah kepergian kerabatnya dari dalam rumahnya itu. Usia keempat bayinya itu ternyata tumbuh kembangnya sungguh cepat dan Dewi bersyukur karena sudah jalan lima bulan anak-anaknya, tapi salah satu diantara mereka tidak ada yang rewel sehingga membuat pekerjaan baru Dewi sebagai ibu muda terbilang santai saja.


Sore itu Dewi selesai memandikan satu persatu anak-anaknya. Mereka berencana akan menikmati senja sore itu di gazebo belakang rumahnya sambil menyantap makanan ringan dan beberapa cemilan khas buatannya Bu Siti.


Tetapi, tiba-tiba bel pintu rumahnya terdengar begitu nyaring bunyinya yang tak hentinya ditekan oleh tamu yang datang berkunjung ke rumahnya tersebut.


"Bu Minah coba buka pintu dan lihat siapa yang datang, kalau Abang Syam ayahnya si kembar itu tidak mungkin, karena sudah tentu bawa kunci cadangan,"


"Baik Nyonya," Bu Mina segera berjalan ke arah depan rumahnya dimana bel terus berbunyi.


Hingga pintu berdaun dua itu terbuka lebar dan terlihatlah dua orang beda jenis kelamin berdiri tepat di depan matanya Bu Minah.


"Assalamualaikum Mbak, apa benar ini rumahnya Bu Dewi dan pak Syam?" Tanyanya perempuan yang hampir seumuran dengan Dewi itu.


"Waalaikum salam, benar sekali Bu, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya balik Bu Minah.


"Apa ibu bisa panggilkan Mbak Dewi? Katakan padanya kalau saya…" ucapannya perempuan itu terpotong karena Dewi sudah datang dengan mendorong stroller bayi nya yang di dalamnya ada Abysa dan Shanum.


Sejak kecil mereka sangat dekat dibandingkan dengan saudara saudari nya yang lain. Kelak akan menjadi ujian untuk Dewi dan Syam di kemudian hari.


"Dina!!" Teriaknya Dewi yang sangat bahagia melihat kedatangan adik satu-satunya itu.


Tapi, kebahagiaan itu terganggu dengan kehadiran seseorang yang sama sekali tidak disangka dan diduganya di dalam rumahnya.

__ADS_1


Ingat minggu terakhir bulan ini masih ada pembaca setia yang akan dapat give away kecil-kecilan pulsa sikit yah. jadi pantengin terus Satu Atap Dua Hati. Readers akan terpilih sesuai dengan kerajinannya untuk mampir, syaratnya hanya like, baca, komentar setiap hari.


__ADS_2