
Syam memeluk tubuh rampingnya Dewi yang mulai berisi itu, "Alhamdulillah Mas sudah mengetahuinya dari Dian, dia menghubungi nomor hpnya Mas mengatakan kamu masuk rumah sakit dikarenakan hamil anakku, makanya aku segera ke kota S untuk melihatmu langsung dan kamu perlu mengetahui jika aku sangat bahagia dengarnya jika kamu juga hamil, Mas tanpa banyak pikir langsung meminta ijin kepada CEO Mas untuk ke sana tapi, apa yang aku dapatkan malah kamu pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun padaku, Mas hubungi nomor hpnya kamu berulang kali bahkan ribuan kali tapi tidak tersambung dan selalu tidak aktif aku seperti orang gila Dewi, aku sangat takut kehilanganmu," jelas Syam panjang lebar.
Dewi mengecup sekilas bibirnya Syam dengan tersipu malu setelah melakukan itu semua. Syam yang diperlakukan seperti itu sangat bahagia karena Dewi untuk pertama kalinya berinisiatif lebih dulu mengecup bibirnya. Dewi sangat bahagia dan gembira mendengar penuturan dari Syam yang bahagia dan antusias menyambut berita kehamilannya. Senyumannya selalu merekah di sudut bibirnya itu.
"Maafkan Dewi ya Mas, insya Allah lain kali tidak akan terjadi seperti ini lagi kedepannya, saya janji kok," tutur Dewi yang mengalungkan tangannya ke lehernya Syam.
"Tapi,kamu baik-baik saja kan sayang? Ngomong-ngomong kok bisa sampai disini dan saling kenal dengan Nadia dan kenapa juga kamu kerja di rumahku jadi koki tukang masak, kenapa enggak cari rumah lain untuk kamu tinggali kamu tahu kan kalau Nadia juga Istriku apa kamu sanggup melihat kedekatan kami, dan aku juga tidak mungkin melukai, nyakitin hatimu dengan kedekatan yang aku lakukan dengan Nadia," Syam memainkan bibir kenyal dan seksinya Dewi.
"Insya Allah saya bisa bersabar dengan semua ini Mas yang paling penting saya bisa bersama Mas selamanya,saya sudah cukup bahagia karena saya ingin meraih surganya Allah jika saya bisa mengabdikan diriku dan kehidupanku untuk Mas seorang, saya sanggup kok Mas jadi tidak perlu khawatir dan mencemaskan keadaan ku, kita bisa berhubungan seperti ini kan yang penting Mas bahagia," imbuh Dewi.
"Begitu mulia hatimu sayang, tapi aku pasti tetap merisaukan kondisi kamu apalagi sedang hamil, apakah kamu sudah siap mental hadapi kedepannya pernikahan kami dengan Nadia?" Tanyanya Syam.
"Saya sudah memantapkan hatiku untuk melakukan semua itu dengan tulus dan ikhlas, Abang tidak perlu khawatir yah karena saya baik-baik saja kalau memang kedepannya saya tidak sanggup pasti saya akan pergi dari sini tanpa Abang minta, lagian saya kasihan dengan Mbak Nadia yang katanya sangat menyukai masakannya Dewi dan juga saya senang bersama dengan Mbak Nadia kok Abang,"
__ADS_1
"Ya Allah sungguh mulia hatimu istriku, tapi bagaimana jika Nadia mengetahui hubungan kita ini, insya Allah dia tidak akan mengetahuinya kok, yang paling penting Abang bisa jaga baik-baik hubungan kita ini tanpa menyakiti Mbak Nadia dan pintaku bersikap adillah Abang dengan kami berdua karena hanya itu cara agar kami bisa hidup berdampingan dengan aman dan nyaman," harapnya Dewi.
Syam tersenyum lebar ketika mendengar perkataannya Dewi,ia kemudian hendak mencium bibirnya Dewi tapi tiba-tiba suara perutnya berbunyi keroncongan membuat keduanya tertawa lepas di dalam area dapur yang untungnya Nadia tidak mungkin terbangun lagi jika sudah tertidur pulas.
"Ya elah gagal lagi kalau seperti ini, kenapa juga perut ini tiba-tiba bunyi segala padahal aku sangat merindukan istriku," kesalnya Syam yang didengar langsung oleh Dewi.
Dewi yang masih mengalungkan tangannya ke lehernya Syam malah tertawa cekikikan melihat reaksinya Syam sungguh lucu menurutnya.
"Sabar suamiku, setelah makan saya akan membuat suamiku bahagia dan saya berjanji akan menebus beberapa hari yang telah Abang lewati dengan susah payah dan sekuat tenaga penuh perjuangan jadi sekarang Abang makan dulu supaya ada tenaganya," ujarnya Dewi dengan santai yang masih tersenyum manis menanggapi perkataan dari suaminya itu.
Syam dengan senang hati berjalan bergandengan tangan menuju meja makan. Syam duduk dengan patuh seraya memperhatikan Dewi menyiapkan makanan untuk makan malamnya yang sudah kelewat waktu. Karena jam yang terpasang di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Dewi dengan cekatan dan terampil segera menyiapkan makanan untuk suaminya itu. Semua masakan sudah terhidang di atas meja dan menu khusus dimasaknya dengan menu asal nebak saja berbahan dasar ikan itu sudah siap disantap dan dinikmati.
__ADS_1
Awalnya Dewi memasak makanan itu sama sekali tidak mengetahui jika suami dari Nadia suka makan ikan masak santan bumbu kepala kakap merah dan juga woku. Dewi hanya masak menu itu teringat ketika mereka di kampung.
Mbak Siti yang ditanya juga tidak mengerti dengan menu masakan yang disukai oleh Samuel Abidzar Al-Ghifari saja. Dewi asal nebak saja,iya penuh keyakinan jika masakannya pasti disukai oleh suaminya Nadia awalnya.
"Alhamdulillah setelah dua bulan lebih enggak makan makanan ini lagi akhirnya aku bisa makan enak, pengennya Abang setiap hari kamu yang masakin Abang, insya Allah kalau begini Abang tidak akan repot-repot mesan makanan dari luar atau ke warung, bosan aku makan makanan masakan orang lain padahal pengennya aku setiap hari makan masakan istri sendiri, tapi tahulah Nadia pegang pisau dan nyalakan kompor saja kagak bisa dan risih ke dapur," keluhnya Syam sambil menyantap makanan tersebut.
"Kalau gitu saya janji tidak akan balik ke kampung lagi dan akan masakin Abang sesuai dengan yang Abang inginkan," imbuhnya Dewi sambil menarik kursi untuk menemani suaminya makan.
Kedua bola matanya Syam berbinar-binar terang saking bahagianya mendengar perkataan dari mulut istrinya itu yang menyatakan kesediaannya untuk Dewi masak makanan setiap hari untuk dirinya. Tapi Syam bingung dan tidak setuju jika Dewi menetap bersama dengan Nadia dirumah yang sama untuk selamanya.
Syam menatap intens ke arah istrinya itu," walaupun Abang menginginkan setiap harinya makan masakanmu tapi, Abang tidak mungkin bisa mengijinkan kamu satu atap dengan Nadia kalian itu sama-sama istriku dan aku sangat yakin dan mengerti jika pasti ada rasa cemburu yang kamu rasakan jika mengingat aku berduaan dengan Nadia, aku tidak mungkin melihat kamu harus sedih, hidup dalam cemburu karena itu hal wajar istri cemburu melihat madunya, apa kamu sanggup setiap hari bahkan setiap saat melihatku berduaan dengan Nadia di depan matamu sendiri, Abang tidak tega dan rela melihatmu menderita, abang sangat tidak ingin kalian kecewa dan sedih dan Abang takut jika kelak Nadia mengetahui hubungan kita ini,"
Dewi kembali menyentuh bibir seksinya Syam," suamiku jangan pernah takut dengan hal-hal yang belum terjadi dan juga jangan dzuzon karena Allah SWT maha penyayang dan maha pengasih kepada semua umatnya yang bersabar dan bertakwa," imbuhnya Dewi.
__ADS_1
"Dewi Kinanti Mirasih saya sangat bahagia bisa menikah denganmu, jujur pilihan terbaik selama hidupku adalah menikahi dengan wanita terbaik dan tercantik sepertimu dirimu yang bukan hanya cantik parasnya tapi hatimu begitu mulia," pujinya Syam.
"Abang jangan terlalu memuji saya karena saya hanya manusia biasa yang punya banyak salah dan kekurangan dalam hidup ini, yang saya inginkan sekarang adalah mendapatkan ridhonya Allah melalui jalan yaitu bersabar untuk tulus dan ikhlas berbagi suami dengan Mbak Nadia Yulianti, saya hanya ingin seperti itu Abang tidak lebih dan saya berusaha untuk tidak egois dan selalu menekan rasa iri hati melihat kedekatan kalian dan paling penting semoga saja kelak Mbak Nadia bisa menerima hubungan kita ini," harapan dan keinginan terbesarnya dalam kehidupannya itu.