
Dewi Mirasih menatap satu persatu beberapa orang yang berjalan memasuki kamar perawatannya. Tubuhnya langsung gemetaran ketakutan, wajahnya langsung pucat pasi. Dewi segera berteriak histeris tanpa terkendali dengan spontan menarik selang infus terpasang di pergelangan tangan kirinya itu.
Untungnya salah seorang perawat melihat apa yang dilakukan Dewi, sehingga segera dicegah dengan secepatnya.
"Mbak Dewi stop! Kami mohon jangan dilepas selang infusnya!" Cegahnya dua perawat yang segera melakukan gerakan cepat agar Dewi tidak nekat melakukan kesalahan yang cukup fatal.
Tetapi, karena Dewi berontak dengan kekuatan yang cukup besar sehingga perawat itu mampu lengah dan dia berhasil selangnya tertarik dari tiangnya. Tetapi perawat itu gesit juga dengan terus memegangi tiang selang infus sehingga infusnya Mirah masih terpasang walaupun sedikit longgar.
Walaupun sudah ada darah segar yang mengalir di dalam selang tersebut. Dewi sama sekali tidak peduli dengan kondisinya.
Dewi menatap nyalang ke arah kedatangan beberapa orang seraya meraih sebuah botol air mineral kemasan yang kebetulan tergeletak di atas meja nakas, "pergi!! Jangan mendekat, saya mohon pergi dari sini aku sama sekali tidak punya salah dengan kamu, hiks… hiks… tolong… tolong!!" Teriaknya Dewi yang berhamburan memeluk tubuhnya Samuel.
Bruk!!
Dewi tidak berhenti sedikitpun untuk melempari benda-benda yang mampu dijangkau oleh tangannya.
Prang!!
Suara botol air itu terlempar mengenai pintu karena ibunya Heri Bu Salma bergerak cepat untuk menghindar, sehingga terbebas dari amukannya Dewi. Tidak terkecuali dengan bantal pun menjadi sasaran amukan dari Dewi.
"Aku mohon pergi dari sini, kalian berusaha untuk menyakitiku!! Tolong aku pak polisi mereka ingin menyakiti dan mencelakaiku." Dewi semakin beringas untuk melampiaskan amarahnya itu.
Semua orang dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dewi. Apa yang dilakukan oleh Dewi bersamaan dengan pintu terbuka lebar di tengah malam buta itu.
__ADS_1
Seorang pria dengan beberapa wanita tua berjalan masuk menghampiri Dewi yang linglung tanpa disadarinya memeluk tubuh pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Bu Salma tercengang melihat Dewi yang memeluk erat tubuh pria yang sama sekali tidak dikenalnya, "Astaghfirullah aladzim, Dewi! apa yang kamu lakukan?" Kesalnya Bu Salma.
Heri yang melihat kejadian tersebut segera sekuat tenaga menarik tangannya Dewi dari dalam pelukannya Syam. Heri sangat marah melihat Dewi memeluk tubuh pria asing, sedangkan dia menyentuh tangannya Dewi pun kalau bukan karena terpaksa ia tidak berani karena Dewi selalu menolak.
"Dewi ternyata kamu itu perempuan munafik,sok suci dan tidak bisa dipercaya, aku sungguh menyesal telah memilihmu menjadi calon istriku! Lihatlah perempuan itu dan prianya mereka berpelukan padahal bukan lah suami istri, Dewi aku telah salah nenilaimu!" Geramnya Heri yang terbakar api amarah.
Semua yang hadir di dalam ruangan itu tidak mau ikut campur dengan urusan internal keluarga mereka. Hingga kedua bibi dan paman serta adiknya sudah datang karena mendapatkan informasi dari salah satu tetangganya.
Subuh itu menjadi pertunjukan adu mulut dan ketegangan terjadi begitu saja dengan pemicunya adalah Heri yang sebenarnya sengaja mencari sebab untuk lepas dari pertunangan dengan Dewi karena sangat murka melihat Dewi dengan anteng dan tenangnya memeluk pria asing.
Sekedar merangkulnya saja, Dewi tidak mau apalagi memeluknya dengan sengaja tidak pernah diijinkan oleh Dewi sendiri. Bukannya munafik atau sok suci hanya saja seperti itulah didikan yang dia dapatkan dari kedua bibi dan pamannya.
Dewi yang tertarik sekuat itu tubuhnya sedikit terlempar ke arah tembok hingga punggungnya terantuk ke dinding, karena tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari pria yang begitu dicintainya dengan tulus.
Buk!!
"Auhh sakit!" Keluhnya Dewi.
Semua orang melototkan matanya saking tidak percayanya dengan penglihatan mereka semua.
"Heri stop!! Jangan sekali-kali kamu coba kasari keponakanku, apa kamu lupa kalau dia sedang sakit! Dimana pikiran dan otakmu kamu simpan?" Geramnya Pak Bambang yang melihat keponakannya langsung dengan kedua pasang matanya yang menjadi saksi tindakan kriminal yang dilakukan oleh Heri.
__ADS_1
"Anak muda, apa yang kamu lakukan terhadapnya akan menambah beban berat pikirannya dan memperparah kondisi kesehatan mentalnya," kesalnya Pak Arsyad yang segera menolong Mirah yang merintih kesakitan.
Beliau tidak menyangka dan menduga, jika seorang pria yang mengaku tunangannya datang-datang tanpa bertanya ataupun mengklarifikasi berita yang dia dapatkan langsung menghakimi Dewi dengan tindakan kekerasan.
"Kamu tunangannya atau algojo sih!? Datang-datang langsung bertindak kasar bukannya membantu menenangkan Mbak ini malah bertindak tolol seperti orang kesurupan setan saja!" Sarkasnya Pak Adi.
"Hey orang baik! kami saja yang melihat keduanya berpelukan di jalan raya tetapi, tidak menghakiminya dengan memukulinya, Bapak heran apa jangan-jangan kamu ini bukan tunangannya!" Cibir Pak Amir.
"Bapak ini diam saja,saya sebagai calon ibu mertuanya pun sangat malu mendengar berita, jika dia digrebek sedang berpelukan dengan pria lain yang bukan suaminya ataupun saudara kandungnya sendiri, kalau saya diposisinya anakku, aku pasti akan batalkan pernikahanku dengan perempuan murahan seperti dia tidak perlu menunda dan menunggu apapun!" Tunjuknya Bu Salma Ibu kandungnya Heri.
Dewi terus meringkuk di sudut ruangan kamar bangsal puskesmas. Air matanya terus menetes membasahi pipinya dan tidak peduli dengan perdebatan orang-orang sekitarnya.
"Hiks… hiks sakit… tolong aku mohon jangan sakiti aku lagi, aku tidak punya salah sama kamu!" Ratap Dewi yang menutupi tubuh dan wajahnya bergantian dengan kedua tangannya itu.
"Ya Allah… Heri, bibi tidak menyangka jika kamu sangat kejam! Nak aku sangat tidak percaya dengan apa yang Bibi lihat, bibi sayangnya datang terlambat jika tidak bibi tidak akan segan memberikan kamu pelajaran yang sangat pantas untuk kamu dapatkan," Bu Husnah marah dan murka melihat sikapnya Heri.
Dewi terus meringkuk di sekitar pintu yang seolah berlindung dari orang-orang yang dianggapnya akan menyakitinya.
Dewi mengayunkan tangannya ke arah Bu Hasnah yang berusaha untuk membujuk menenangkan dirinya Dewi, "Jangan mendekat! Aku tidak mau ikut bersamamu!" Jeritnya Dewi yang berontak ketika hendak disentuh oleh Bu Hasnah.
Pak Arsyad selaku kepala RT setempat pun langkahnya spontan ia lakukan, karena takut menambah kemarahan Dewi, walau niatnya itu tulus membantu.
"Suster bawa ke sini suntikan obat penenang itu, cepat!" Perintah Dokter Irwansyah sembari menunjuk ke arah kotak obatnya.
__ADS_1
Suster segera memenuhi perintah dari dokter tanpa menunggu lama segera menjalankan perintahnya. Syam iba melihat ketidakberdayaan dari Dewi,ia segera berjalan perlahan mendekati Dewi dan terus waspada, takutnya jika Dewi bertindak nekat dan anarkis lagi.l seperti yang dialami oleh Heri dan Bu Salma.