Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 22


__ADS_3

Syam bukan pria bodoh yang begitu saja menyerahkan istrinya yang begitu baik, sholehah, penuh pengertian, penyayang dan penyabar direbut pria lain.


Syam tersenyum penuh maksud menatap punggung kepergiannya Irwansyah," kamu tidak akan bisa merebut dan memisahkan saya dengan istriku, kalau perlu saya akan membawa Dewi ke Jakarta, mencarikan dia rumah yang aman dari gangguan pria lain," langkahnya semakin panjang ke arah tempat kasir untuk membayar semua belanjaannya Dewi.


Dewi tersenyum lembut menyambut kedatangan suaminya itu, ia pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat suaminya itu.


Dewi meraih gagang trolinya, tapi tangannya Dewi ditepis oleh Syam, "Maafkan saya yah Abang sudah merepotkan Abang, seharusnya saya yang mengerjakan semua ini, bukannya Abang," sesalnya Dewi yang merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan oleh Syamuel.


"Saya merasa tidak pernah direpotkan oleh istriku asalkan itu istriku sendiri bukan perempuan lain," sanggahnya Syam yang memperlihatkan senyuman lebarnya.


Dewi untuk pertama kalinya melihat senyuman pria yang sudah menikahinya sekitar kurang lebih empat bulan lalu. Dewi gembira melihat senyuman itu yang sangat jarang melihat senyuman itu terbit dari sudut bibirnya Syam.

__ADS_1


"Subhanallah… betapa indahnya senyuman suamiku, andaikan aku bisa egois aku ingin melihat setiap hari senyuman indahnya suamiku, mungkin aku lah istri yang paling beruntung, bersyukur di dunia ini memiliki suami yang ganteng," batinnya Dewi yang memuji ketampanan yang dimiliki oleh suaminya.


Dewi yang menyadari bahwa ia memuji maha karya ciptaan Allah SWT di atas pahatan wajahnya Syam,ia segera tersadar dan menggelengkan kepalanya itu. Untungnya Syam tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Dewi, karena kebetulan Syam sedang membalas pesan chat dari salah satu temannya.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah menyelesaikan pembayaran semua barang-barang kebutuhan pokok yang dibeli oleh Dewi.


"Kamu lapar gak?" Tanyanya Syam tanpa mengindahkan matanya dari layar hpnya itu.


"Dewi Kinanti Mirasih, saya juga lapar tadi pagi saja saya makan, sampai sekarang belum makan lagi, makan kamu juga belum," ucapnya Samuel.


"Maaf pasti ini semua gara-gara saya yah jadi Abang belum makan juga,kalau gitu saya yang akan traktir Abang makan, kebetulan tadi itu saya gajian dari tempat kerja, apa Abang mau ditraktir pakai gajiku nggak?"

__ADS_1


Samuel segera melirik ke arah Dewi," serius kau mau traktir abang? Tapi saya kalau makan itu enggak makan makanan yang murah, apa kamu sanggup bayarnya?" Tanyanya Syam.


Dewi juga tersenyum penuh arti ke arah suaminya itu, "Insya Allah saya bisa bayarnya, lagian kalau enggak cukup kan ada ATM ini," ujarnya Dewi sembari memperlihatkan sebuah kartu ATM yang beberapa bulan ini selalu ada di dalam dompetnya yang belum pernah dipakainya sepeserpun uang yang ada di dalamnya.


Kartu atm-nya tidak pernah dipakai untuk belanja keperluan sehari-harinya hanya dipakai untuk ambil modal usaha untuk pamannya Pak Hamid Bambang dan juga Bu Husnah.


"Kalau gitu Abang tidak boleh protes jika saya bawa Abang ke tempat resto pilihanku," ujar Dewi yang berjalan beriringan dengan Syam menuju tempat parkiran.


Belanjaannya sudah berada di dalam mobilnya, beberapa karyawan swalayan yang mengantar semuanya, sehingga kedua pasangan suami istri itu bisa bersantai tanpa terbebani dengan banyaknya belanjaannya Dewi malam itu.


"Saya mau lihat apakah Dewi akan traktir saya makan di tempat mahal bintang lima atau warung makan yang harganya terjangkau, aku mau lihat bagaimana sikapnya Dewi dalam membelanjakan uangnya yang setiap bulan aku berikan," Syam memperhatikan dengan diam-diam suaminya itu.

__ADS_1


"Itu hakmu, jadi kamu mau pakai apapun uang itu, Abang tidak akan larang kok, asalkan dipakai yang bener saja, Abang tidak akan mempermasalahkannya, yang paling penting kamu bahagia itu sudah cukup buat Abang," imbuh Syam.


__ADS_2