
Abiayasa memutuskan untuk menemui salah satu teman kantornya yang sudah mengirimkan pesan chat kepadanya sekitar sepuluh menit yang lalu.
Tunggu aku Shaista Tanisha, aku akan segera menjemputmu dari sana.
Abiyaza segera meraih kunci mobilnya, dompet serta ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas ranjangnya. Abiyasa menuruni undakan anak tangga satu persatu dengan langkah yang lebar.
Bibi Siti melihat Abiyasa berjalan ke arah pintu keluar, dia segera berjalan ke arah Abyasa. Bibi Siti melihat gelagat aneh yang dilakukan oleh Abiyasa anak tertua di dalam keluarga besar Abidzar Al-Ghifari.
"Tuan Muda Abya!" Teriaknya Bu Siti.
Teriakannya Bu Siti tidak didengar oleh Abiayasa Akhtam yang sudah terlanjur pergi meninggalkan rumahnya.
"Tumben den Abya pergi tanpa berpamitan? Tuan Syam dan Nyonya besar Dewi kan belum balik ke rumah, mereka masih di rumah sakit" cicitnya Bibi Siti kemudian mengarahkan pandangannya ke arah jarum jam yang terpasang di dinding kamarnya.
Bi Siti terkejut melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam sudah pukul kurang lebih lima belas menit pukul dua belas malam.
"Sudahlah mungkin Tuan Muda Abiya akan ke rumah sakit, semoga saja non Arabela Aqila dan Ariela Ziudith baik-baik saja," harapnya Bibi Siti.
Bi Siti kembali memeriksa kondisi kenop pintu apakah sudah terkunci rapat. Ternyata sudah terkunci rapat sehingga dia kembali berjalan ke arah kamarnya itu.
Abiyasa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi di tengah malam buta itu. Untungnya jalan itu sudah tidak terlalu padat sehingga Abiya bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Deringan ponselnya sama sekali tidak dipedulikannya,dia terus mengemudikan mobilnya tak berhenti sedetikpun.
Aku tidak boleh terlambat datang, kasihan Tanisha jika aku terlambat datang. Semoga saja Tanisha baik-baik saja.
Sedangkan di tempat lain yang sudah tidak terlalu jauh dari tempat keberadaan Abyasa. Seorang perempuan muda sedang mondar mandir kesana kemari tak tentu arah. Ia juga sesekali melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Ya Allah kenapa Abya belum sampai juga, sedangkan malam semakin larut. Aku sangat takut ya Allah. Semoga pilihanku ini tepat dan tidak membuatku menikahi pria itu yang dijodohkan oleh mamaku.
__ADS_1
Tanisha menatap ke arah langit dengan tetesan air matanya sudah menetes membasahi pipinya itu.
Semoga saja ini awal kehidupanku yang lebih baik, aku tidak mungkin menikahi laki-laki yang sudah menikah banyak kali itu.
Tanisha semakin mencemaskan keadaannya, karena dia tidak ingin kepergiannya diketahui oleh kedua orang tuanya dan juga pria yang akan menikahinya esok hari.
Tanisha semakin cemas jika mamanya sudah tersadar, jika dia sudah kabur dari dalam kamarnya berkat bantuan dari adik bungsunya itu.
Aku tidak boleh tertangkap basah di sini kasihan Fauzi, jika aku tertangkap lagi.
Tanisha semakin ketakutan dan mencemaskan keadaan adik dan dirinya sendiri. Hingga lampu sorot mobil yang baru saja berhenti membuatnya tersenyum penuh kegembiraan karena penyelamatnya telah datang.
"Alhamdulillah akhirnya sang pahlawan berkuda besi itu muncul di hadapanku menolongku keluar dari masalah besar ini," cicitnya Tanisha.
Tanisha segera berjalan ke arah mobil yang sudah berhenti dan mesin mobilnya sudah mati itu. Abiayasa tergesa-gesa ke arah luar setelah melihat senyuman indahnya perempuan yang membuat hatinya gelisah tidak tenang.
Tanisha berlari cepat ke arah Abiyasa tanpa peduli pada dirinya sendiri dan reflek memeluk tubuhnya Abiayasa.
"Alhamdulillah kamu sudah datang, aku kira kamu tidak akan datang, karena sama sekali tidak membalas chatku hanya membacanya saja," ucapnya Tanisha dalam pelukannya Abiyasa.
Sedangkan Abiyasa sama sekali tidak membalas pelukannya Tanisha gadis yang kabur dari perjodohannya itu.
"Hiks aku kira kamu tidak akan datang, aku sangat takut, aku tidak ingin menikah dengan pria tua itu, aku hanya ingin menikah denganmu Abiyasa," ucapnya Tanisha yang sudah meneteskan air matanya.
Abiyasa terkejut mendengar perkataan dari wanita yang dianggapnya sebagai sahabatnya itu.
Astaughfirullahaladzim apa aku salah dengar saja atau mungkin Tanisha salah bicara saja. aku tidak boleh salah paham dengan ucapannya Tanisha yang bisa saja hanya salah bicara saja.
"Aku sangat bahagia melihatmu, tolonglah bawa aku pergi dari sini aku takut jika mamaku akan datang bersama dengan pria itu, please aku mohon jangan menunda lebih lama lagi!" Rengeknya Tanisha seraya memegangi lengannya Abiyasa Akhtam yang berdiri mematung tanpa berbicara sepatah katapun.
__ADS_1
Abiyasa segera menarik tangan kirinya Tanisha ke arah dalam mobilnya dan bergegas meninggalkan tempat itu dengan tatapan matanya yang sulit diartikan itu.
"Masuklah, kita akan segera pergi dari sini yaitu ke rumahku," pintanya Abiyasa Akhtam.
Tanisha memandangi wajahnya Abiyasa dengan tatapan yang penuh bahagia.
Alhamdulillah aku tidak menyangka jika pria yang terlihat cuek, dingin, cool dan irit bicara ternyata akan membawaku pulang ke rumahnya, tapi aku tidak boleh terlalu senang dulu.
Takutnya aku terlalu kegeeran dan berfikiran aneh-aneh saja sedangkan Abiya sama sekali tidak mencintaiku.
Abiyasa menatap intens ke arah Tanisha sekretarisnya di perusahaan tempat ia bekerja selama beberapa bulan terakhir ini. Salah satu cabang perusahaan dari adik iparnya itu Adelio Arsene Smith.
"Kamu mau terus berdiri di luar saja atau mau ikut bareng denganku!" Ketusnya Abyasa yang sudah mulai memasang sabuk pengamannya itu ke tubuh kekarnya itu.
Tanisha segera mempercepat gerakannya untuk masuk ke dalam mobil itu, tapi karena terlalu terburu-buru dan sangat antusias sehingga keningnya kejedot pintu mobil.
Bugh!
"Augh! sakit," keluhnya Tanisha yang mengeluh kesakitan sambil memegangi jidatnya yang cukup sakit dan perih itu.
Abyasa hanya mendelikkan matanya melihat tingkahnya Tanisha yang kekanak-kanakan.
"Makanya berhati-hatilah supaya keningmu itu tidak terantuk pintu, memang sejak awal kita ketemu selalu saja ceroboh dan tidak berhati-hati, aku terkadang heran dengan sikapmu yang seperti bocah kecil saja!" sarkasnya Abiyaza.
Abyasa segera memutar stok kontak mobilnya dan segera melajukan mobilnya itu. Tanisha kembali mendapatkan masalah, karena belum siap untuk duduk Abiayasa sudah mulai melajukan mobilnya tanpa aba-aba sedikitpun.
"Auhhh! aahh! tidak!" pekik Tanisha yang tubuhnya terlempar ke arah dasbor mobilnya Abyaza.
Abiyasa sama sekali tidak perduli dengan Tanisha yang belum siap untuk berangkat, karena baru saja menutup pintu mobilnya sedang Abyasa segera mengemudikan mobilnya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi itu.
__ADS_1
"Makanya jangan banyak pikiran, kamu harus fokus dengan apa yang akan kamu lakukan saat ini, bukan berfikiran aneh-aneh!" cibirnya Abyasa.