
Beberapa orang gadis muda yang berada di tempat dimana Shaira dan beberapa teman-temannya berada.
"Ya Allah… pria ini ganteng banget yah? Ngomong-ngomong ada hubungan apa dengan Shaira?"
"Masya Allah tampannya… siapa sih cowok yang begitu gagahnya menentang perkataannya Ariela Ziudith?"
"Hemmph, kalau dilihat-lihat dari penampilannya aku yakin laki-laki ini adalah anak sultan,"
Berbagai pujian diberikan oleh beberapa perempuan muda itu setelah kedatangan sosok pria yang sangat dikenal oleh Shaira.
Pria itu menatap tajam ke arah Ariela, "Tolong tarik kembali perkataan Anda! Perempuan yang Anda anggap gadis tua republik Indonesia atau gasturi adalah calon istriku?" Tegasnya pria itu yang sudah berdiri di depannya Shaira.
Ariella menatap tidak percaya ke arah pria tersebut," i-tu ti-dak mungkin pasti Anda hanya membual dan omong kosong saja!" Cibirnya Ariella yang tergagap saking tidak percayanya dengan apa yang dikatakan oleh Adelio.
"Pak Adelio Arsene Smith!" Beonya Shaira.
"Baiklah kebetulan Anda semua hadir disini saya akan membuktikan semua perkataanku, apakah saya hanya membual atau omong doang saja!" Tegas Adelio.
Adelio segera berlutut di hadapannya Shaira sambil mengambil setangkai bunga mawar merah yang terselip di dalam jasnya dengan sebuah kotak kecil buludru berwarna merah.
Apa yang dilakukan oleh Adelio menjadi pusat perhatian dari semua tamu undangan. Malahan perhatian mereka teralihkan oleh aksi dari Adelio. Satu persatu tamu undangan yang penasaran ingin mengetahui dan melihat langsung apa yang sedang terjadi di area pojokan gedung perhelatan acara resepsi pernikahan antara Desta Alamsyah dengan Arabella Aqila.
"Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari apakah kamu bersedia menikah denganku?" Tanyanya Adelio dengan posisi kakinya satu bertumpu di atas lantai.
Shaira terbelalak mendengar perkataan dari pria yang tiga hari lalu diketahuinya adalah pemilik rumah sakit swasta terbesar di Jakarta itu tempatnya bekerja.
Bukan hanya Shaira yang terkejut bukan main, tapi semua orang yang hadir di dalam sana yang menyaksikan langsung insiden lamaran dadakan yang diterima oleh Shaira sedangkan Adelio sudah memantapkan niatnya itu.
"Aira terima saja, tidak banyak loh pria dengan tipe pria seperti ini yang berani mengungkap perasaan dan keinginannya di depan orang banyak," ucapnya Vani.
"Iya Aira aku yakin pria ini serius sama kamu,kalau aku jadi kamu pasti akan aku terima langsung tanpa berfikir panjang kali lebar," ujarnya Susan.
__ADS_1
"Kalau dipikir-pikir sih pria yang berlutut di depan kakak sepupuku jauh banget bedanya dengan mantan tunangannya yang direbut oleh kamu Ariela, lihat saja dari ujung kaki hingga ujung rambutnya aku yakin Pria ini lebih baik dari Hansal Abdul Djailani," sarkasnya Adisty.
"Aira terima dong permintaannya babang tampan ini kasihan loh sudah lama berlutut sedang kamu hanya terdiam melototi apa yang sedang dilakukan oleh pria ganteng ini yang wajahnya mirip Zain Malik loh," cercanya Jasmine.
Shaira hanya menatap nanar ke arah Adelio,ia tidak menduga jika pria yang selama beberapa bulan terakhir itu dekat dengannya selama masih di London UK Inggris.
Apalagi baginya Adelio tidak pernah mengatakan secara langsung niatnya untuk menikah atau melamar Shaira. Mereka hanya sekedar teman biasa saja.
Kenapa pak Adelio bisa sampai segininya membelaku, padahal ini tidak perlu dilakukan oleh pak Adelio.
Banyak cara kok untuk menghadapi perkataan julid ataupun hinaannya Ariella, tidak mesti dengan lamaran seperti ini juga.
"Tidak!! Adikku tidak akan menikah dengan pria yang jelas-jelas berbeda keyakinan dan kepercayaan dengan kami! Itu sangat mustahil terjadi!" Teriaknya Aidan Akhtar.
Abyasa Akhtam juga berjalan berdampingan dengan Amar Alfarizi dan pak Samuel Abidzar yang terkejut mendengar keributan dan kegaduhan orang-orang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Adelio dan yang lainnya segera mengalihkan perhatiannya ke arah kedatangan saudara-saudaranya itu. Dewi Kinantii Mirasih, Shanum Inshira, ibu Rina Amelia, Karmila ibunya Amar, dan Syafiq Fatahillah papanya Amar dan pun sudah datang.
Apa yang dikatakan oleh Abang Aidan benar sekali, saya tidak mungkin bisa menikah dengan pria yang berbeda kepercayaan.
"Abang, Papa," cicitnya Shaira.
Samuel Abidzar hanya menatap ke arah Adelio bergantian dengan anak-anaknya itu.
Dewi dan semua saudari perempuannya sudah berdiri di sekitar Sahira. Mereka masih bingung dengan situasi dan kondisi yang terjadi.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh adikku Aidan, sekaya, sesukses dan seganteng apapun pria yang hendak melamar Putriku jika dia berbeda keyakinan, budaya kami pasti saya sebagai papanya tidak bakalan memberikan restuku untuknya!" Ungkapnya Syamuel.
"Ohh jadi pria ini non muslim yah, kalau begitu mereka tidak bakalan bersatu, sayang sekali yah padahal prianya ganteng dan tajir melintir," tampiknya seorang perempuan paruh baya.
"Shaira kamu sangat tahu dengan jelas bagaimana dengan keluarga kita, jadi berfikir lah dengan baik sebelum kamu memutuskan untuk menerima lamarannya," cercanya Bu Rina Neneknya Shaira.
__ADS_1
Dewi segera berjalan ke arah Adelio untuk membantu calon menantunya itu dengan senyuman teduhnya dan ramah.
"Bangunlah Nak, tidak baik dalam posisi seperti ini enggak enak dilihat orang-orang," bujuk Dewi yang membantu Adelio berdiri.
Abyasa menunjuk ke arah Adelio yang sudah berdiri di samping mamanya itu, "Mama pria ini sampai kapanpun tidak akan bersatu dengan adikku Shaira yang sangat berharga dan penting dalam keluarga kita, aku sudah sejak dulu dan jauh-jauh hari untuk mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan pernah kami ijinkan dan restui mempersunting adikku jika dia masih berbeda dengan kita!" Imbuhnya Abiyaza.
Adelio pun angkat bicara dan tidak ingin desas desus tidak baik tidak sesuai dengan kenyataan dan faktanya semakin berkembang.
Hahaha! Ini tontonan yang cukup seru! Aku pikir awalnya akan dapat calon suami yang lebih baik dari mas Hans ternyata itu sangat sungguh mustahil terjadi!
Dewi menatap sendu wajahnya Adelio," Astaughfirullahaladzim semoga saja ada jalan keluar dari permasalahan ini, aku ingin melihat adikku juga segera menikah."
Shanum mengeratkan genggaman tangannya melihat Irwansyah yang tersenyum merendahkan diri adiknya," Cukup sudah dia dihina oleh keluarga Om Irwan dengan merebut calon suaminya oleh Ariella."
"Ada drama apa lagi yang terjadi di dalam pesta pernikahan anakku Arabela, apa kalian pikir disini adalah tempat pertujukan opera drama kolosal rumtang, perlu kalian ketahui kalau saya mengundang kalian bukan untuk melihat kekonyolan dari anak-anak kembarnya Samuel Abidzar Al-Ghifari tapi melihat betapa megah dan mewah serta meriahnya acara resepsi pernikahan putri bungsuku!" Sarkasnya Irwan yang menghina Sam.
"Bismillahirrahmanirrahim, Abya dan Aidan insha Allah saya sudah siap memenuhi tantangan yang kalian berikan untukku, apa kah saya harus membacakan surah Al-Baqarah lengkap dengan artinya di sini saja ataukah di dalam masjid yang kakak ipar pilih," tuturnya Adelio.
Semua orang kembali mengalihkan pandangannya ke arah Aidan dan Abyasa putra kembarnya Dewi dan Syam itu.
"Kalau disini kita tidak mungkin bisa melakukannya, takutnya menganggu kenyamanan tuan rumah dan para tamu undangan," tukasnya Aidan.
Biarkan saja disini pria bule itu mengaji, karena aku yakin dia akan mempermalukan diri sendiri dan juga Samuel yang sangat sombong dan congkak itu.
Ya Allah bagaimana kalau pria itu tidak bisa mengaji pasti akan mempermalukan dirinya dan kami semua. Semoga saja Paman Irwan tidak menyetujui permintaan dari pak Adelio.
Adisty ikut bareng prihatin melihat apa yang terjadi pada pria blasteran Inggris Indonesia itu.
Itukan pemilik rumah sakit tempat saya bekerja selama ini, kemarin saya sempat melihatnya ketika rapat para dokter.
Lututnya mulai gemetaran ketakutan jika Andrew Parker akan memecatnya sehingga mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan dari Aidan dan Abyasa anak musuh bebuyutannya.
__ADS_1
"Bagaimana Pak Irwansyah apa kah Anda setuju untuk melaksanakan dan mendengarkan tantangan yang diberikan oleh anggota keluarga sang calon istri dari kakakku ini? Kalau tidak setuju kebetulan di depan jalan sana ada masjid besar," tanyanya Andrew Parker Smith yang menatap intens ke arah Irwansyah.