
Dinar berdiri tepat di depan Syamuel calon suami dari kakaknya, "Maaf kalau masalah Mbak Dewi membuat mas punya banyak beban pikiran dan harus menghadapi masalah yang cukup rumit, saya adiknya Mbak Dewi saya kesini hanya ingin mengatakan sesuatu hal dan semoga Mas Syam tidak keberatan dengan permintaanku nantinya," Dinar berbicara agak sungkan karena melihat raut wajahnya Syam seperti orang yang tidak bersahabat.
Dinar adalah adik satu-satunya yang dimiliki Dewi berniat untuk bertemu langsung dengan Syam tanpa sepengetahuan dari yang lain.
Syam menatap jengah ke arah Dinar,"Ooh kau adiknya Dewi, kalau ada yang ingin kamu katakan cepatlah! karena saya ingin ke suatu tempat ada pekerjaan yang sangat penting harus aku selesaikan!" Tegasnya Samuel.
"Mas Syam hanya Mbak Mirah yang aku miliki di dunia ini, aku mohon jangan sia-siakan Mbak Mirah, walaupun kalian nantinya menikah atas dasar tanpa cinta, tapi aku berharap jangan sakiti Mbak Dewi dan lindungilah dia selayaknya istrinya Mas, aku hanya berharap Mas Syam walaupun harus LDR-an dengan Mbak Dewi tetaplah menjadi seorang suami yang berlaku adil terhadap kedua istrinya Mas," harapnya Dinar dengan sungguh-sungguh.
Syam hanya terdiam mendengarkan perkataan panjang lebar dari Dinar tanpa menyela pembicaraannya, "Apa bicaranya sudah selesai?" Aiman hanya menanggapi perkataan Dinar dengan menohok.
Dinar cukup terkejut mendengar balasan dari Samuel calon suami kakaknya itu.
"Kalau sudah selesai sudah dulu saya masih punya banyak urusan yang lebih penting dari pada mendengarkan ocehanmu!" Ketusnya Syam seraya membuka pintu mobil dinasnya.
Suara deru mesin mobil terdengar begitu nyaring di telinganya Dinar, ia hanya mengelus dadanya berusaha untuk sabar menghadapi sikapnya Syam.
Dinar hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Syam yang diluar dugaannya, "Ya Allah… lepas dari calon suami tidak berguna, kurang ajar dan brengsek sekarang malah Mbak Mirah bertemu dengan calon suami yang cukup judes dan dingin, tapi aku berharap Mas Syam bersikap seperti ini karena hanya tertekan dengan permasalahan keduanya, apalagi Mas Sam dihadapkan dengan pernikahannya dua hari lagi pasti terbebani dengan cobaan ini,tapi aku tidak mungkin merelakan Mbak Dewi hidup dalam trauma yang berkepanjangan tanpa pendamping hidupnya," gumam Dinar yang melepas kepergian Syam.
Waktu terus berlalu, sore harinya semua persiapan pernikahan Dewi sudah selesai dipersiapkan. Syam dan Dewi rencananya akan menikah di kantor urusan agama setempat.
Dengan bantuan terapi dan pengobatan alternatif dari dokter Irwansyah sahabat sewaktu Samuel kuliah dulu, Dewi sudah tidak histeris lagi dan bisa berbincang-bincang walaupun terkadang masih sering mencemaskan dan ketakutan sendiri jika ada seorang pria yang mendekatinya.
__ADS_1
Pak Hamid Bambang berjalan masuk ke dalam kamar inap perawatan Dewi, "Husnah, bagaimana dengan persiapan acara ijab qobulnya Dewi dengan Syam apa semuanya sudah beres?" Pak Bambang langsung bertanya kepada adik ketiganya setelah Bu Husnah muncul ke dalam kamar perawatannya Dewi.
Ibu Husnah mendudukkan bokongnya terlebih dahulu ke atas kursi, sebelum menjawab pertanyaan dari kakak sulungnya itu.
Bu Husnah Aminah tersenyum simpul menyambut kedatangan kakak sulungnya itu, "Alhamdulillah sudah hampir seratus persen persiapannya, beberapa saksi dan tamu sudah mengetahui acaranya dan berjanji akan hadir di acara tersebut, bagaimana dengan persiapan Dewi dan Syam Mas, apa mereka sudah siap?" Tanyanya Bu Husnah sambil menaikkan ke atas sebuah paper bag yang berisi pakaian gaun pengantin yang akan dipakai oleh Dewi.
Bu Halimah segera memeriksa gaun pengantinnya Dewi dengan seksama," bajunya cantik yah Mbak, pantesan harganya juga mahal karena kualitasnya bagus sekali, saya yakin pasti kalau Dewi yang memakainya akan semakin bagus kelihatannya," ujarnya Bu Halima yang memuji kualitas dari pakaian pengantinnya Dewi.
"Kalau kecantikan Dewi tidak diragukan lagi, ia memang cantik sejak kecil, pakai pakaian model apapun pasti tetap kelihatan aura cantiknya, saya hanya berharap semoga Syam menyukainya dan mereka bisa hidup dengan tenang dan bahagia," harap Bu Husnah.
Pintu berderit sehingga ketiga orang itu mengakhiri percakapannya karena kedatangan sekitar tiga orang dari salon terkemuka di kabupaten tempat tinggalnya Dewi. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya dengan dibarengi senyuman yang hangat mereka perlihatkan.
Bu Hasna berdiri setelah melihat beberapa orang yang memasuki kamar itu, "Assalamualaikum, apa kalian tim make-upnya Dewi Mirasih dari salon Monalisa?" Tanyanya Bu Hasna.
"Benar sekali Mbak, saya sendiri Dewi," jawab Dewi.
Dewi menjawab pertanyaan dari perempuan itu yang mendahului kedua bibi dan pamannya menjawab pertanyaan perempuan itu yang menenteng sebuah tas yang kemungkinan berisi perlengkapan makeup.
Ibu Halima, Bu Husnah, Pak Bambang dan Bu Siti Hasnah terkejut melihat reaksi tak terduga dari Dewi yang sedari tadi hanya duduk dengan tatapan matanya yang kosong. Bu Husnah meneteskan air matanya saking bahagianya dan bersyukur keponakannya sudah membaik dari satu hari sebelumnya.
Kedua pasang bola matanya Bu Husna berbinar terang saking gembiranya melihat keponakannya mulai membaik, "Syukur Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah keponakanku sudah berangsur membaik, semoga saja kedepannya lebih baik lagi dari sekarang," gumam Bu Husnah seraya menyeka air matanya itu.
__ADS_1
Bu Hasnah berjalan tergesa-gesa menuju ranjangnya Dewi untuk membantu memapahnya.
"Kamu baru saja sembuh, jadi kamu harus berhati-hati Nak, kamu harus banyak istirahat jadi jangan terlalu banyak bergerak," cegahnya Bu Hasnah.
Dewi hanya terkekeh melihat sikap dari bibinya itu yang terlalu over protektif.
"ya Allah bii, saya ini bukan perempuan penyakitan yang menderita penyakit berbahaya, sehingga berjalan saja harus dibantu oleh Bibi," candanya Dewi.
Semua orang tertawa mendengar perkataan gurauan dari Dewi, tidak ada satupun orang di dalam kamar tersebut yang tidak bahagia dengan kesembuhan dari Dewi akibat dari defresi ringan dan trauma yang dialaminya.
Bu Husnah memegangi kedua tangannya Dewi sembari mengamati berulang-ulang tubuhnya Dewi dari ujung hijabnya sampai kakinya.
"Kamu baik-baik saja kan, enggak ada yang sakit atau mungkin kepalamu yang pusing atau mungkin lapar Nak? Bibi sangat khawatir dengan kondisimu, kalau ada yang kamu keluhkan atau sakit ngomong saja tidak perlu dipendam," Cercanya bu Husnah yang memberondong pertanyaan untuk keponakannya itu.
Dewi bersyukur karena dikelilingi keluarga dan orang-orang yang baik, ia pun tersenyum simpul," insha Allah aku baik kok Bi, kalau nggak baik pasti akan berbaring terus di ranjang," sanggahnya Dewi.
"Tapi Nak,apa kamu sudah tahu kalau kamu akan menikah dengan…," ucapannya Pak Bambang terpotong karena pintu kembali terbuka lebar.
Mereka mengarahkan pandangannya ke pintu,dimana masuklah seorang pria memakai jas almamater kebesarannya berwarna putih dan seorang pria berpakaian santai tanpa mengurangi kadar ketampanannya.
Dewi tidak menyembunyikan kebahagiaannya melihat kedatangan keduanya itu,dia menatap mereka satu persatu dan spontan tersenyum melihat kedatangan kedua pria itu.
__ADS_1
"Dokter Irwan, Mas Samuel!" Beonya Dewi yang nampak bahagia melihat kedatangan kedua pria itu.