
Awalnya Dewi enggan untuk angkat kaki dari rumah suaminya. Tapi,dia juga tidak ingin dituduh dan dilaporkan ke pihak berwajib jika dia mencuri perhiasannya Nadia istri kedua suaminya.
Bukan berarti saya pergi dari sini karena saya bersalah, tapi karena demi kebaikan kita bersama kedepannya. Biarlah saya yang mengalah, insya Allah jika Abang Syam datang pasti mengerti dengan keadaanku ini.
Dewi dan Bu Siti mengemasi barang-barang pentingnya Dewi yang hanya tidak seberapa banyaknya itu. Bu Siti iba dan kasihan melihat Dewi yang diusir dari rumah itu tanpa diberikan uang sepeserpun gajinya bulan ini.
Dewi berjalan melewati Nadia yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya itu," semoga ini yang terakhir kalinya aku melihat pencuri yang bersembunyi dibalik tampang polos dan lugunya yang sok suci dan sok menjadi wanita shoelah!" Cibirnya Nadia.
Dewi hanya membalas nyinyiran Nadia dengan senyuman termanisnya, karena dia tidak bersalah sehingga bisa bernafas lega dan meninggalkan rumah itu tanpa sepatah katapun.
"Maaf yah Mbak Dewi saya hanya ngantarnya sampai di depan jalan sini saja, takutnya Nyonya Nadia marah-marah jika saya antar lebih jauh lagi," keluhnya Bu Siti Aminah yang takut dengan amarah dan amukan Nadia yang kelewat batas itu.
Dewi tersenyum ramah ke hadapannya Bu Siti," tidak apa-apa kok bi, saya memakluminya lagian insha Allah saya tahu kok jalan ke terminal, bibi sudah cukup baik yang sudi mengantarku hingga ke sini," balasnya Dewi sambil memegangi lengannya Bu Siti.
"Alhamdulillah kalau seperti Mbak, kamu baik-baik yah dengan bayi kembarnya kamu, kabari Bibi kalau kamu sudah sampai di kampung," nasehatnya Bu Siti sebelum meninggalkan Dewi yang berdiri di halte busway menunggu kedatangan bis yang bisa mengantarnya ke stasiun kereta api.
Awalnya Nadia hanya ingin naik bis ke ke kampung halamannya,tapi mengingat perjalanan yang cukup jauh dengan perutnya yang buncit dan besar itu sehingga ia memutuskan untuk naik kereta api saja.
Dewi ingin bersantai menikmati perjalanannya sehingga tidak memilih memakai pesawat terbang sebagai transportasi alternatif pilihannya itu.
Dewi menatap sendu ke arah rumah suaminya yang ditempatinya beberapa bulan yang lalu. Air matanya luruh seketika mengingat kebahagiaan yang pernah dilaluinya bersama suaminya tercinta di dalam rumah itu.
Semoga saja Abang Syam segera mengetahui kepergian ku dan tidak terhasut dan terprovokasi dengan hasutan dan segala macam perkataan dari Mbak Nadia jika saya mencuri perhiasan emasnya.
Narendra Afiq memperhatikan kepergian Dewi dengan seksama," maafkan saya yang sudah melakukan semua ini kepada Mbak,saya tidak tega kedepannya melihat Mbak tersakiti kedepannya, jika Mbak Nadia mengetahui hubungan kalian, hanya ini jalan satu-satunya yang terbaik yang mampu aku pikirkan dan lakukan, semoga Mbak kelak mengerti dengan apa yang aku perbuat,"
__ADS_1
Nadia membuka tirai gorden jendela kamarnya itu dengan senyuman sinisnya," akhirnya kamu angkat kaki juga dari rumahku Dewi Kinanti Mirasih, aku tidak menyukai jika kamu berdekatan dengan suamiku yang sok manja dan lebai, sayangnya kamu tidak aku laporkan ke pihak kepolisian jika tidak kamu akan mendekam selamanya di dalam tahanan, tapi adikku dan pembantuku malah mati-matian membelamu wanita sialan!"
Segala macam umpatan, sumpah serapah dan makian Nadia ucapkan melepas kepergian Dewi dari rumahnya.
Disini setiap malam, bahkan setiap saat saya mencuri waktu untuk bertemu dengan Abang Sam dan terkadang was-was dan waspada jika saya bertemu dengan Abang. Tapi, hari ini saya akan pulang kampung dan meninggalkan kebiasaan itu.
Dede kalian harus tenang,anteng dan baik-baik di dalam sana yah, bunda tunggu tiga bulan lebih kita akan bertemu dan menjalani kehidupan di rumah kita sendiri. Insya Allah bunda akan kuat dan tegar hidup tanpa didampingi setiap hari oleh ayah kalian.
Dewi mengelus puncak perutnya yang semakin membuncit setiap harinya karena dia hamil anak kembar.
Bi Siti yang baru saja masuk ke dalam rumahnya Nadia Yualianti terkejut mendengar teriakannya Nadia dari dalam ruangan dapur.
"Ahhh!!" Teriaknya Nadia yang suaranya cukup melengking tinggi memenuhi seluruh sudut penjuru ruangan rumahnya itu.
Bu Siti segera mempercepat langkahnya menuju ke arah dalam dan membanting pintu masuk karena saking buru-burunya. Ia tidak peduli dengan pintunya mau rusak atau tidak itu urusan belakangan yang terpenting melihat apa yang terjadi d dalam dapur.
Mang Udin yang baru saja selesai mencuci mobil tuannya terkejut melihat apa yang dilakukan oleh istrinya menautkan kedua alisnya saking keheranan melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
Kenapa istriku berlari terbirit-birit seperti seolah sedang dikejar depcolektor saja?
Mang Udin pun segera menyimpan beberapa perlengkapan dan peralatan mencucinya di dalam gudang tempat penyimpan sebelumnya dan ikut berlari kecil ke arah dalam rumah itu.
Bi Siti melihat Nadia terduduk di atas lantai keramik rumahnya dengan kondisi yang cukup mengenaskan.
"Astagfirullahaladzim Nyonya Muda Nadia!" Pekiknya Bu Siti.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Dewi kembali beraktifitas normal seperti sebelumnya. Tapi, untuk kali ini selama kehamilannya dia memilih resign dari swalayan tempat ia bekerja.
Kedatangan Dewi segera tersiar kabar tersebut keseluruh telinga anggota keluarganya dan juga kedua sahabatnya itu.
Dian Mayang Sari dan Nur Hayati segera menuju rumahnya Dewi, setelah mendengar kabar dan informasi tersebut saking bahagianya mendengar kabar baik itu. Untungnya hari itu bertepatan dengan hari minggu sehingga mereka bebas pergi kemanapun yang mereka datangi dan kunjungi.
Dian mematikan mesin motornya itu dan segera membuka pengait helmnya, "Alhamdulillah sampai juga,"
"Saya kangen banget loh dengan Dewi, Alhamdulillah banget dia selamat dan tidak kenapa-kenapa seperti yang selalu kita khawatirkan selama ini," imbuhnya Haya.
"Emangnya hanya kamu yang kangen dengan bumil satu itu, tapi ngomong-ngomong gimana dengan kabar kondisi kehamilannya Dewi yah,semoga saja dalam keadaan yang baik-baik saja," harapnya Dian yang sangat antusias dan bahagia ingin berjumpa dengan sahabat masa kecilnya hingga sekarang.
"Insha Allah mereka baik-baik saja Mbak, tapi aku akan serang banyak pertanyaan nih karena dia pergi tanpa pamit pada kita sehingga buat kita semua khawatir dan mencemaskan keadaannya," tukasnya Hayati.
"Kamu pendendam banget, aku yakin Dewi pasti punya alasan khusus sehingga dia pergi tanpa pamit,tapi kok nomornya enggak aktif-aktif yah apa jangan-jangan rusak atau dicuri lagi?" Tebaknya Dian.
Keduanya berjalan ke arah dalam pekarangan rumahnya Dewi yang kebetulan sore itu terbuka lebar karena sedang menerima tamu yang cukup banyak kunjungan dari beberapa kerabatnya yang bersuka cita menyambut kepulangannya kembali setelah kepergiannya hampir lima bulan.
Terkadang mereka bercanda bersama saking bahagianya hendak bertemu dengan sahabat terbaik mereka yang dikira menghilang tanpa kabar sedikitpun.
Mampir baca juga novel baru aku judulnya:
Pamanmu adalah Jodohku
Belum Berakhir
__ADS_1