
Rania duduk di samping Rendy dia sudah membuka mukenah nya dan sekarang sedang memberikan Rendy potongan buah pada Rendy dan langsung menyuapi Rendy dengan tangannya.
Rendy terlihat masih sangat lemas dengan wajahnya yang juga masih pucat. Rendy juga bernapas tidak stabil masih merasa ada yang sesak di dadanya. Maklumlah kondisinya memang belum stabil.
" Enak buahnya?" tanya Rania. Rendy mengangguk yang terus melihat Rania. Dia tidak ingin membuang pandangannya ke arah lain.
" Apa tidak gambar rasanya?" tanya Rania.
" Tidak sama sekali," jawab Rendy. Rania memegang dahi Rendy dengan punggung tangannya.
" Apa keadaan kamu jauh lebih baik?" tanya Rania.
" Aku jauh lebih baik Rania, walau masih sesak," jawab Rendy.
" Itu di sebabkan apa, kok bisa sesak?" tanya Rania sambil memberi buah pada suaminya.
" Ada TB di paru-paru ku," jawab Rendy.
" Apa itu?" tanya Rania penasaran, " Ahhhh sudahlah jangan di jawab aku juga tidak akan mengerti. Karena aku bukan Dokter," ucap Rania yang malah tidak bertanya.
Rendy hanya tersenyum tipis padahal dia ingin menjelaskannya. Tapi Rania tidak ingin mendengar penjelasan itu.
" Rania!" tegur Rendy.
" Iya kenapa?" tanya Rania.
" Kamu dapat obat-obatan ini dari mana?" tanya Rendy melihat ke arah nakas di mana obat-obatan yang di berikan Rania kepadanya.
" Hmmm, aku tanyakan Dokter. Kamu sih tidak mau di periksa ya sudah aku tanya Dokter dan tebus di apotik," jawab Rania, " memang kenapa apa obatnya salah?" tanya Rania tampak khawatir.
" Jika obatnya salah, aku tidak mungkin sudah enakan. Jadi obatnya tidak salah sama sekali. Makasih ya kamu sudah banyak berusaha untukku," ucap Rendy lembut.
" Hmmm, kamu sudah mengucapkan terima kasih kepadaku beberapa kali," sahut Rania yang kembali memberikan buah pada Rendy dan Rendy memakannya dengan matanya yang tidak lepas dari Rendy.
" Aku tidak tau, kenapa kamu bisa tiba-tiba drop. Padahal saat kita pulang kamu baik-baik saja. Lagian aku juga baru melihat. Jika seorang Dokter bisa selemah itu," ucap Rania.
" Aku manusia Rania. Jadi sama saja. Dokter juga bisa sakit. Hanya saja kalau dokter sakit dia tidak bisa mengobati dirinya sendiri. Hanya itu perbedaannya," ucap Rendy.
" Ya begitulah memang pada kenyataannya," sahut Rania.
__ADS_1
" Oh, iya Rania, kenapa kamu tiba-tiba mengkunci pintunya?" tanya Rendy melihat ke arah pintu.
" Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin ada yang masuk sesuka hatinya," ucap Rania simpel. Rendy tersenyum tipis mendengarnya dan Rania menangkap senyum itu. Dia mengkerutkan dahinya yang melihat senyum itu.
" Ada apa, kenapa kamu tersenyum apa ada yang lucu?" tanya Rania heran.
" Tidak ada, apa kamu takut. Jika ada masuk tiba-tiba dan melihat kita," ucap Rendy dengan matanya menatap intens Rania membuat wajah Rania memerah.
" Apa maksud kamu," sahut Rania malu dan menundukkan wajahnya.
" Aku hanya tidak ingin Anisa masuk sembarangan, ke kamar pribadi ku," batin Rania.
" Kamu kenapa?" tanya Rendy. Rania mengangkat kepalanya lagi dan melihat Rendy.
" Tidak apa-apa," sahut Rania yang langsung berdiri meletakkan piring buah di atas nakas yang ingin pergi. Namun Rendy menahan tangan Rania membuat Rania kaget.
" Ada apa?" tanya Rania yang terlihat gugup. Rendy membawa Rania kembali duduk di tempat tidur. Duduk di sampingnya dan Rendy bergeser sedikit. Rendy yang berhadapan dengan Rania memegang kedua bahu Rania dan mencium kening Rania.
" Rendy mau ngapain, kenapa jantungku tidak aman seperti ini," batin Rania yang terlihat gugup. Apa lagi mata Rendy terus menatapnya intens yang membuatnya benar-benar dek-dekan.
Rendy membelai rambut Rania membuat Rania merinding dengan sentuhan lembut yang lebih arti itu. Bahkan dia semakin terlihat canggung. Pandangan mata Rendy yang sangat satu itu membuat Rania Benar-benar meleleh.
Di tengah goyahnya, Rendy membaringkan tubuh Rania perlahan dan membuat Rania semakin dek-dekan.
Rendy bahkan berada di atas tubuhnya, wajah mereka yang begitu dekat. Dan hembusan napas itu saling menerpa di wajah masing-masing. Dan suara deru napas Rendy yang tidak beraturan pun terdengar di telinga Rania.
Rania sibuk dengan pemikirannya dan kembali mencium lembut kening Rania. Ciuman itu juga turun pada kelopak mata Rania, kiri dan kanan berpindah pada pipi Rania dan menatap lama bibir yang sudah candu untuknya. Rendy langsung mencium dalam bibir itu membuat Rania memejamkan matanya dengan tangannya yang memegang baju Rendy.
Ciuman lembut itu terlihat di nikmati Rania terlihat begitu tulus. Selang beberapa detik. Rendy melepas ciuman itu memberikan ruang untuk Rania bernapas.
Mata ke-2 saling beradu pandang dengan sama-sama mengambil napas. Sangat terlihat jelas gairah di mata Rendy. Dia adalah laki-laki normal. Jadi wajar jika dia begitu bergairah. Beberapa detik menatap sang istri. Rendy pun kembali meraih bibir Rania. Namun hanya sebentar ciuman dari bibir itu turun pada leher Rania.
" Apa Rendy akan melakukannya," batin Rania yang semakin dek-dekan. Dia memang sudah siap untuk melakukan itu. Karena memang itu adalah kewajibannya sebagai istri yang melayani suaminya secara batin.
Namun di tengah-tengah Rendy yang mencumbunya bahkan tangan Rendy terlihat menarik ikatan piyamanya Rania mengehentikannya sesaat.
Rendy mengangkat kepalanya dan menatap Rania seolah bertanya ada apa.
" Rendy, kamu sedang sakit!" lirih Rania menatap dalam-dalam Rendy. Rania memegang pipi Rendy dan mencium kening Rendy dengan lembut.
__ADS_1
" Kita istirahat saja, kamu sangat kesulitan bernapas. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Rania yang lembut.
Dia bukannya menolak Rendy yang pasti tujuannya mengarah pada hak itu. Tetapi dia tidak ingin kondisi Rendy sakit harus melakukan itu. Karena melihat Rendy juga sangat kesulitan mengatur napasnya.
" Maafkan aku tidak bermaksud melakukannya," ucap Rendy dengan suara seraknya.
Rania tersenyum mendengar kata maaf itu. Ya bagiamana dia tidak semakin jatuh cinta pada Rendy. Bisa-bisanya harus meminta maaf.
" Tidak ada yang perlu di maafkan," sahut Rania. Rendy tersenyum dan mencium lembut kembali kening Rania.
Lalu perlahan menjatuhkan tubuhnya di samping Rania. Terlihat Rendy yang menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
Rania duduk dan menarik selimut lalu mendekatkan diri pada Rendy bahkan memeluk Rendy dengan menempel pada bidang dada Rendy dan Rendy pun semakin menariknya pada pelukannya dengan mencium pucuk kepala Rania.
" Apa kamu marah?" tanya Rania yang merasa tidak enak pada Rendy.
" Kenapa harus marah. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kamu marah melakukannya?" tanya Rendy.
" Tidak aku tidak marah, aku hanya dek-dekan," jawab Rania jujur dengan perasaannya. Rendy mendengarnya tersenyum.
" Sama aku juga dek-dekan, aku tidak tau kenapa. Tetapi saat aku menciummu. Pasti perasaanku tidak karuan," sahut Rendy. Rania mendengarnya tersenyum lebar. Hatinya begitu berbunga-bunga.
" Ya ampun Rendy. Kenapa kamu sangat lucu sekali. Kamu begitu manis. Jika kamu dek-dekan. Atau ada sesuatu dengan perasaanmu. Lalu kenapa tidak menyatakannya," batin Rania yang sepertinya menginginkan ungkapan cinta dari Rendy. Karena jelas dia sudah mencintai suaminya itu.
" Kamu kenapa diam, apa aku salah bicara?" tanya Rendy.
" Tidak! kamu tidak salah bicara. Aku hanya senang mendengarnya," sahut Rania.
" Ya sudah, kita istirahat saja, mungkin besok pagi aku pasti sudah sembuh dan kita bisa melanjutkannya," ucap Rendy membuat mata Rania melotot mendengarnya.
" Ya Allah, serius, apa benar besok akan menjadi...." batin Rania tampak panik.
Dia memang sudah merelakan dirinya. Tapi dia juga tidak membayangkan betapa canggungnya hari itu besok.
" Selamat malam!" ucap Rendy.
" Ma_ malam," jawab Rania gugup. Rendy semakin memeluknya erat. Sangat nyaman memeluk istrinya.
Rendy malah tersenyum melihat kejadian beberapa menit yang lalu. Di mana dia yang sangat bergairah ingin menyentuh istrinya. Namun gagal, karena memang dia terkesan memaksa. Tetapi hal itu membuatnya kegelian sendiri.
__ADS_1
Ya pedekate setelah menikah itu memang rasanya sangat berbeda dan lebih terlihat manis. Ya lebih baik menikah dulu baru perpacaran. Seperti Rendy dan Rania yang terlihat sangat menggemaskan di tengah-tengah hubungan mereka.
Bersambung