
Zahra dan Elang pun akhirnya memasuki rumah dan melihat di ruang tamu di atas lantai yang di lapisi dengan tikar semua anggota keluarga sedang makan dengan lesehan.
" Zahra, Elang ayo makan sekalian," sahut Ratih.
" Hmmm, besok kita akan pulang. Jadi kita makan sama-sama dulu. Makan terakhir di Bali," sahut Oma Wati.
" Mari Zahra jangan diam saja," sahut Rania. Zahra mengangguk dan akhirnya ikut makan bersama, ikut duduk bersama dengan yang lainnya dan Elang juga ikut makan dengan lesehan.
" Anisa mana?" tanya Zahra yang tidak melihat Anisa.
" Katanya tidak enak badan. Jadi memilih untuk istirahat. Ya dari pada besok dia tidak fit biarkan saja Anisa istirahat dulu," sahut Ratih.
" Ohhhh, begitu rupanya," sahut Zahra mengangguk saja.
" Ya sudah kamu makan," sahut Ratih. Zahra mengangguk.
" Perasaan tadi dia baik-baik saja," batin Zahra yang kebingungan dengan Anisa yang mendadak tidak enak badan.
" Hmmm, Nia tidak menyangka akhirnya ulang tahun Nia berjalan dengan lancar dan bahkan double- double dengan bertambah hadirnya keluarga kak Rania," sahut Nia dengan begitu bahagianya. Yang lainnya hanya tersenyum.
" Makasih ya Pak Rudi sudah mau ikut," sahut Nia.
" Iya Nia. Lagian kita juga tidak pernah liburan seperti ini. Jadi apa salahnya sekali-kali untuk mempererat tali silaturahmi di keluarga kita," sahut Rudi.
" Iya pak Rudi. Kak Willo makasih juga ya. Kakak juga sudah ikut. Padahal kakak sedang sakit," sahut Nia dengan lembut.
" Sama-sama. Sama seperti kata papa. Tidak ada salahnya sekali-kali. Lagian anak-anak ku Lulu dan Deddy tidak pernah liburan semenjak aku sakit. Bahkan sebelum aku sakit mereka juga sangat jarang liburan. Jadi tidak ada salahnya untuk sekali-kali," sahut Willo.
" Makasih mama," sahut Lulu dan Deddy serentak dengan senyum lebar mereka.
" Sama-sama sayang," sahut Willo yang lainnya tersenyum dengan kebahagian kecil itu.
" Aku senang jika semuanya ikut. Apalagi Della juga bisa ikut," sahut Nia.
__ADS_1
" Iya kak Nia, aku juga senang kok bisa ikut liburan yang kebetulan aku kan juga libur sekolah. Jadi sekalian liburan," sahut Della.
" Berarti setelah ini kamu akan masuk sekolah Della," sahut Ratih.
" 2 hari lagi Bu Ratih," sahut Della.
" Semoga perjalanan kamu lancar dan kamu sehat-sehat terus di pesantren," ucap Oma Wati.
" Amin," sahut Della.
" Pokoknya ini akan menjadi ulang tahun paling bahagia di dalam hidupku. Dan semua ini karena kakak iparku tersayang," sahut Nia yang begitu bahagianya melihat kearah Rania. Rania tersenyum mendengarnya.
" Kamu itu bisa aja," sahut Rania.
" Memang benar kok. Kalau tidak ada kakak Rania yang cantik ini. Pasti kakak Rendy tidak akan mengijinkanku untuk merayakan ulang tahun di Bali dan semua ini berkat kakak Rania yang cantik ini," ucap Nia yang terus memuji Rania.
" Iya deh," sahut Rania.
" Yang penting makasih untuk semuanya," sahut Nia yang tersenyum lebar dengan penuh kebahagian.
Rendy mengambil sedikit ikan bakar dengan tangannya dan dan mentupkan pada istrinya. Rania dengan senang hati membuka mulutnya menerima suapan itu.
" Hmmm, ulang tahun Nia juga memberikan kebahagian kepadaku. Di mana untuk pertama kalinya aku dan keluargaku bisa liburan bersama. Melihat papa, kak Willo, Della, Lulu dan Dedy yang begitu bahagia dan jelas ini kebahagian yang terbesar untukku. Selain itu suamiku yang juga memberikan kejutan yang romantis tanpa aku duga-duga," batin Rania yang merasa terharu.
" Nia benar. Jika bukan karena Rania yang meminta ijin ke Bali mungkin aku tidak akan tau bagaimana Cindy dan ternyata Bali sudah mengubah semuanya, menyadarkan ku dan memperlihatkan kenyataan Cindy yang telah menghiyanatiku. Aku menghancurkan Zahra, menyakitinya hanya mempertahankan yang telah menipuku dan juga menghiyanatiku," batin Elang yang melihat sendu ke arah Zahra yang makan dengan tenang sambil mengobrol dengan yang lainnya.
" Terima kasih ya Allah untuk kebahagian kecil keluarga kami ini," batin Ratih yang melihat senyum satu persatu orang yang ada di depannya itu.
Di mana semua orang begitu bahagia. Apalagi jika melihat Rendy dan Rania. Ratih jelas paling bahagia dan Elang dan Zahra masih penuh banyak harapan untuk Ratih agar pasangan suami istri itu bisa saling mencintai.
************
Perginya ke Bali tidak semua mendapat kebahagian yang pasti juga mendapat kesialan yang tidak di duga-duga. Naas yang tidak terhindarkan yang di timpakan pada Anisa.
__ADS_1
Anisa yang berada di kamarnya yang duduk di atas tempat tidur yang memeluk ke-2 kakinya dengan kepalanya yang menunduk. Di mana masih terdengar suara tangisannya.
Rasa kehancuran itu pasti tidak akan pernah hilang. Tidak akan terlupakan dengan mudah di mana kesuciannya yang sudah hilang dan hancur. Anisa hanya bisa menagisi semua itu.
Lain tempat dengan Agam yang menyetir, Agam juga terlihat tidak seperti biasanya. Agam yang menyetir terlihat sendu, terlihat banyak berpikir.
Pria yang biasa asal-asalan itu dan masa bodo dengan apapun. Tiba-tiba berubah mendadak. Menjadi Pria yang seolah punya beban pikiran. Wajah itu sangat lesu dan bahkan beberapa terdengar hembusan napas yang begitu kasar.
************
Setelah acara makan-makan selesai akhirnya mereka semua kembali untuk beristirahat. Agar besok bisa cepat bangun. Karena besok mereka harus kembali ke Jakarta.
Rania dan Rendy sudah memasuki kamar terlebih dahulu. Di mana ke-2nya sama-sama menaiki tempat tidur dan Rania langsung masuk kedalam pelukan Rendy.
" Selamat malam," ucap Rania mengangkat kepalanya melihat suaminya.
" Selamat malam," sahut Rendy dengan mencium pucuk kepala Rania. Rania mencium pipi Rendy dan lebih memeluk erat suaminya itu. Rendy pun pasti juga memeluknya dan mereka perlahan memejamkan mata.
**********
Sama dengan Elang dan Zahra yang juga sama-sama memasuki kamar. Wajah Elang terus terlihat kusut yang membuat banyak pertanyaan pada Zahra. Tapi Zahra mana berani bertanya.
Ya contohnya seperti tadi bertanya masalah Cindy Elang terlihat tidak menjawab. Jadi Zahra hanya dipenuhi kebingungan saja dan rasa penasaran.
" Kamu istirahatlah, ini sudah malam," ucap Elang yang melihat Zahra yang terus memperhatikannya.
" Iya kamu, juga istirahat," sahut Zahra. Elang hanya mengangguk saja.
Zahra pun menaiki tempat tidur, menarik selimut. Tidak lama Elang pun menyusul, mematikan lampu di sampingnya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Zahra.
" Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa Elang terlihat sangat murung dan sepertinya memang ada yang terjadi," batin Zahra yang terus semakin penasaran.
" Ahhhh, sudahlah Zahra, kamu jangan memikirkannya. Biarkan itu menjadi urusannya. Kamu juga harus tau batasan kamu," batin Zahra yang mencoba untuk tidak memikirkan Elang. Zahra pun memaksa matanya untuk tertidur.
__ADS_1
Bersambung