Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 252 Curhat


__ADS_3

Akhirnya mereka semua sudah ada di puncak untuk merayakan ulang tahun Ratih. Merek menginap hanya 1 malam saja dan kebetulan besok juga weekend jadi bisa sama-sama liburan walau hanya sebentar saja.


Malam ini juga mereka seperti biasa hanya baberque di belakang Vila. Nia, Ratih, Rania, Rendy, Zahra, Elang, Anisa dan Agam sama-sama menikmati malam itu dengan indah sambil baberque dan juga makan pastinya.


Terlihat suami-suami tampan sedang mengobrol. Elang, Rendy dan Agam yang duduk dengan meja bulat di tengah dan mengobrol sambil makan yang pasti bukan menggibah, para suami itu pasti hanya membicarakan masalah pekerjaan yang berbeda Profesi.


Elang dan Rendy yang Dokter pasti ingin tau juga dengan Agam yang sebagai pengusaha perhotelan. Ya kalau laki-laki yang di bahas paling seputaran itu saja.


Zahrah, Ratih, dan Nia dan Rania terlihat masih sibuk membakar-bakar daging. Sementara Anisa duduk sendiri di ayunan dengan tangannya di dadanya yang hanya melihat-lihat ke sekitarnya dan sekali-kali melihat ke arah Agam yang tampak dekat dengan Elang maupun Rendy.


Rania yang melihat Anisa sendirian membuat Rania langsung menghampirinya dengan membawa hasil bakarannya.


" Ehem!" Rania berdehem yang berdiri di depan Anisa.


" Rania, ayo duduk!" ajak Anisa menggeser ke pinggir dan Rania pun duduk di samping Anisa.


" Kamu belum makan dagingnya?" tanya Rania yang menawarkan apa yang di bawanya.


" Tadi sudah kok di makan sedikit," jawab Anisa.


" Aku lupa kamu lagi Hamil pasti tidak boleh banyak-banyak ya," ucap Rania. Anisa mengangguk.


" Apa hamil kamu rewel?" tanya Rania.


" Tidak terlalu hanya mual-mual sedikit," jawab Anisa.


" Hmmm, begitu, sama dengan hamilku dulu. Seperti tidak orang hamil. Tetapi begitu memasuki bukan ke 4 malah seperti orang baru hamil muda. Di kiriain kenapa. Rupanya ada penyakit," ucap Rania dengan tersenyum.


" Rania pasti sedih dengan kehilangan bayinya. Kenapa dunia selalu terbalik. Aku saja tidak menginginkan anak ini. Karena hamil di luar nikah. Tetapi tuhan tetap mempertahankannya di rahimku sama dengan Zahra. Dia juga hamil sama sepertiku. Tetapi tetap bertahan di rahim kami. Sementara Rania jelas menikah, saling mencintai tetapi Allah malah mengambil anak mereka. Apa ini adil untuknya," batin Anisa yang melihat Rania dengan wajah sendu yang begitu kasihan dengan Rania.


" Kamu kenapa Anisa?" tanya Rania yang melihat Anisa hanya diam saja.

__ADS_1


" Tidak apa-apa Rania. Aku hanya berdoa, semoga hamilku menular kepada kamu. Semoga saja kamu di berikan keturunan," ucap Anisa dengan tulus berdoa.


" Amin," sahut Rania dengan semangatnya yang mengucapkan amin. Anisa tersenyum mendengarnya.


" Hmmm, kamu sendiri kenapa bete. Aku minat kamu murung terus dari tadi," ucap Rania.


" Tidak apa-apa?" jawab Anisa.


" Mana mungkin tidak ada apa-apa. Orang aku melihat wajah kamu terlihat banyak pikiran. Apa kamu memikirkan Tante Sarah," tebak Rania.


" Ya, mungkin itu salah satunya. Tetapi jika memikirkan mama. Aku rasa tidak ada habisnya. Karena jika sudah seperti itu. Maka akan tetap seperti itu. Aku sekarang lebih fokus membangun hubunganku dengan Agam. Agar jauh lebih baik. Walau belakangan ini kami tidak baik-baik saja," ucap Anisa yang tanpa iya sadari sudah bercerita kepada Rania alasannya menjadi murung.


" Hmmm, jadi Agam alasannya," sahut Rania dengan tersenyum dan Anisa menjadi panik yang tiba-tiba keceplosan.


" Tidak seperti itu Rania," sahut Anisa.


" Tidak apa-apa Anisa. Bukannya kita sudah sama-sama menikah. Selagi masalah itu tidak terlalu private dan membutuhkan saran. Apa salahnya bertukar pikiran. Aku dan Rendy juga suka ribut-ribut kecil," ucap Rania yang tampaknya kepo dengan masalah Anisa dan Agam.


" Memang masalah kamu berlarut-larut..Aku melihat kamu dan Agam baik-baik saja," sahut Rania.


" Ya kami baik di luar. Tapi merasa ada yang kosong dari pernikahanku dan pasti ini semua juga karena kesalahanku," ucap Anisa.


" Memang ada apa?" tanya Rania semakin kepo.


" Kamu tau tidak Rania. Jika sudah lama sekali tidak menyentuhku," ucap Anisa yang jujur dengan Rania.


" Kok bisa?" tanya Rania semakin kepo.


" Bermula dari aku yang menolaknya. Saat itu aku ingin pergi kerumah memberi kabar kehamilanku dan di sana Agam meminta yang membuatku risih dan sampai akhirnya kami bertengkar dan salah paham terjadi. Masalah semakin banyak dengan mama datang kerumah. Tetapi Alhamdulillah tampaknya Agam sudah belajar untuk semuanya dan dia jauh lebih dewasa dan seperti suami pada umunya," jelas Anisa yang sangat jujur pada Rania.


" Lalu?" tanya Rania.

__ADS_1


" Ya aku pikir dengan kami yang sudah baik-baik saja sampai melewati, hari Minggu dan bulan. Tetapi aku merasa aneh dengan Agam yang tidak pernah menyentuhku dan aku juga akhirnya mempertanyakannya dan alasannya tidak masuk akal. Aku berpikiran jika dia tidak mau melakukan itu. Karena tersinggung dengan penolakan waktu itu," ucap Anisa.


" Kamu jangan berpikiran buruk dulu, siapa tau aja dia memang ada alasan tertentu," sahut Rania yang berpikir positif.


" Alasannya pasti hanya itu saja," ucap Anisa.


" Ya sudah, kalau memang dia tidak mau menyentuhmu. Ya sudah kamu saja yang memulai," ucap Rania.


" Maksudnya?" tanya Anisa heran.


" Anisa jaman sekarang mana ada cerita gengsi dan tidak ada harus Pria yang terlebih dahulu. Kamu tau tidak aku pernah bertengkar dengan Rendy dan aku mendapat saran dari kakakku. Hmmmm langsung manjur," ucap Rania dengan mengedipkan sebelah matanya.


" Aku tidak mengerti apa maksudnya?" tanya Anisa bingung.


" Kamu hanya mempermasalahkan Agam tidak menyentuhmu. Ya kamu yang memulai. Kamu dandan cantik, pakai pakaian seksi dan goda saja dia. Siapa juga tidak mau pada akhirnya. Dengan begitu aku yakin dia akan takluk kepadamu. Hmmm nggak akan mau lepas," ucap Rania yang memberi saran.


" Masa iya aku harus melakukan itu," ucap Anisa ragu.


" Kenapa kamu gengsi?" tanya Rania. Anisa mengangguk jujur.


" Aku sudah mengatakan jangan gengsi. Lagian pahala istri yang meminta duluan bukannya jauh lebih besar. Ayo kamu sudah dapat pahala, dapat cinta lagi. Masih mikirin gengsi dengan bonus-bonus yang di berikan," ucap Rania yang membuat hati Anisa bergejolak.


" Kamu yakin cara itu akan berhasil?" tanya Anisa yang ada niat untuk mencobanya.


" Ya yakinlah, masa tidak," sahut Rania.


" Hmmmm, baiklah, jika kamu pernah melakukannya dan berhasil ya maka aku akan mencobanya. Aku rasa tidak akan salah," sahut Anisa yang setuju. Dan Rania tersenyum mendengarnya yang mana Anisa menyetujui sarannya.


" Makasih ya," ucap Anisa. Rania mengangguk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2