
Rania sudah bangun dari pingsannya, sekarang Rania sedang duduk bersandar dan di suapi makan oleh mama mertuanya.
" Kamu makan yang banyak ya, supaya tenaga kamu ada," ucap Ratih.
" Iya mah," jawab Rania yang terus menerima suapan dari mertuanya, " Nia di mana mah?" tanya Rania yang tidak melihat adik iparnya itu.
" Tadi katanya keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan," sahut Ratih.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Rania.
" Rania, kamu kamu lelah atau ada apa-apa. Bilang sama mama ya jangan seperti ini. Kamu jadi pingsan seperti ini. Mama dan yang lainnya jadi panik," ucap Ratih.
" Maaf mah. Rania tidak bermaksud untuk membuat mama dan yang lainnya panik," jawab Rania.
" Ya sudah tidak apa-apa. Intinya. Lain kali. Kamu harus terus jaga kesehatan kamu. Ingat kamu sedang mengandung," ucap Ratih.
" Iya mah," sahut Rania yang langsung mengangguk dan kembali menerima suapan itu.
Tiba-tiba Rendy memasuki kamar dan melihat istrinya sudah bangun dan sekarang sedang makan yang membuat Rendy lega. Rendy langsung menghampiri istrinya dengan mengusap-usap pucuk kepala istrinya.
" Kamu sudah bangun?" tanya Rendy mencium lembut kening itu. Rania menganggu.
" Maaf ya sudah membuatmu khawatir," ucap Rania merasa bersalah.
" Tidak apa-apa sayang. Lain kamu dengarkan aku ya. Kalau tidak bisa jangan di paksa," ucap Rendy. Rania hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Ayo Rania makan lagi. Suapan terakhir," ucap Ratih. Rania membuka mulutnya dan memang makan begitu banyak. Ratih juga memberinya air putih.
" Alhamdulillah kamu makannya banyak. Jadi kamu banyak tenaga. Ya sudah mama keluar dulu ya," ucap Ratih.
" Iya mah. Makasih ya ma," sahut Rania. Ratih hanya mengangguk dan langsung pergi keluar dari kamar.
" Apa ada yang sakit?" tanya Rendy yang begitu khawatir pada istrinya itu.
" Aku tidak sayang," sahut Rania.
" Kamu butuh sesuatu?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
__ADS_1
" Apa? katakanlah?" ucap Rania.
" Jika tidak keberatan kamu di sampingku. Aku ingin bersandar di dadamu," sahut Rania. Rendy tersenyum mendengarnya dan langsung duduk di samping istrinya. Dan Rania langsung memeluk Rendy dengan erat.
" Maaf membuatmu cemas," ucap Rania. Rendy mengusap-usap kepala Rania sembari mencium beberapa kali pucuk kepala itu.
" Tidak apa-apa," sahut Rendy.
" Apa kata Dokter. Apa aku baik-baik saja?" tanya Rania melihat ke arah suaminya.
" Kamu harus di periksa dari lab. Sejauh ini masih baik-baik saja. Ketentuannya dari lab," jawab Ardian.
" Apa ada masalah serius?" tanya Rania tiba-tiba khawatir.
" Kita berdoa saja. Semoga semuanya baik-baik saja," sahut Ardian. Rania mengangguk dan terus memeluk erat pinggang suaminya itu dengan kepalanya yang bersandar di dada suaminya itu.
" Kamu tidak sibukkan?" tanya Rania.
" Tidak memang kenapa?" tanya Rendy balik.
" Aku mau kamu terus di sampingku, memelukku dengan erat dan bercerita kepadaku," sahut Rania.
*************
Rania dan Rendy terus menempel dengan Rendy yang sekarang berada di sampingnya sama-sama bersandar dengan Rania dengan mereka yang sama-sama melihat handphone.
" Mereka terlihat romantis," ucap Rania yang ternyata melihat foto-foto Elang dan Zahra di media sosial.
" Mereka sepertinya sudah saling mencintai," sahut Rendy yang menebak-nebak.
" Kamu tau dari mana?" tanya Rania heran.
" Aku bisa melihat dari cara mereka saling melihat. Jika sudah ada cinta di antara ke-2nya," sahut Rendy.
" Coba lihat mataku. Apa kah ada cinta di mataku?" tanya Rania yang melihat suaminya.
" Sangat banyak. Sangat banyak cinta di sana untukku ku," sahut Rendy menatap dalam-dalam mata istrinya itu yang membuat Rania tersenyum lebar.
__ADS_1
" Aku juga melihat banyak cinta di matamu untukku," sahut Rania. Rendy semakin merangkul istrinya itu dan mencium kening Rania lembut.
" Aku sangat mencintaimu Rania," ucap Rendy.
" Kau juga mencintaimu Rendy," sahut Rania yang mencium pipi Rendy. Rendy tersenyum.
************
Elang dan Zahra kembali ke hotel setelah selesai melakukan ibadah umroh dan juga jalan-jalan tadi sebentar. Zahra juga terlihat sudah mandi dan sudah mengganti pakainnya dengan pakaian tidurnya. Sementara Elang masih berada di kamar mandi yang pasti belum selesai mandi.
Tidak lama Elang keluar dari kamar mandi yang menggunakan handuk di lilit di tubuhnya dengan melap-lap rambutnya yang masih basah. Elang melihat Zahra yang membersihkan tempat tidur.
Elang mendekatinya dan berdiri di belakang Zahra. Yang sama sekali Zahra tidak menyadari jika Elang sudah ada di belakangnya. Zahra tiba-tiba membalikkan badannya dan kaget dengan keberadaan Elang dengan ke-2 telapak tangan Zahra berada di dada Elang.
" Kamu ngagetin aja," ucap Zahra pelan yang terlihat begitu gugup di depan Elang. Jarak mereka begitu dekat dan bagaimana tidak Zahra gugup. Belum lagi Elang telanjang dada yang membuatnya pasti lebih gugup.
Zahra yang begitu gelisah tiba-tiba ingin pergi. Namun Elang menghalang dengan tubuh kekarnya yang tetap berada di depan Zahra yang membuat Zahra semakin gugup.
" Kamu mau kemana?" tanya Elang dengan suara seraknya.
" Hmmm, mau, mau, tidak mau kemana-mana sih. Hanya mau tidur," sahut Zahra dengan gugup.
" Lalu kenapa pergi dari hadapanku?" tanya Elang yang semakin mendekati Zahra yang membuat Zahra semakin gugup refleksi mundur dan hampir jatuh dan untung saja Elang sigap menahan pinggang Zahra dengan tangannya.
Yang akhirnya membuat mereka saling melihat. Dan hal itu membuat Zahra semakin gugup. Dengan tatapan Elang yang tiba-tiba begitu inti membuat Zahra semakin canggung.
Elang pun langsung mengangkat tubuh Zahra ala bridal style yang membuat Zahra seketika panik mendadak. Namun dua tidak menolak. Atau memberontak sama sekali.
Elang langsung membaringkan tubuh Zahra di atas tempat tidur dengan perlahan dengan matanya yang tidak henti-hentinya menatap.
" Tidak apa yang Elang mau lakukan. Hal itu tidak mungkin," batin Zahra yang pikirannya sudah entah kemana-mana.
Zahra sampai tidak berani menatap Elang yang ada di depannya. Elang perlahan mendekatkan wajahnya pada Zahra dan mencium lembut kening Zahra, membuat Zahra memejamkan matanya.
" Istirahatlah," ucap Elang selesai mencium kening itu dan ternyata hanya mencium kening saja. Lalu Elang bangkit dari ranjang yang membuat Zahra membuang napasnya lega.
Elang pun menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Zahra sudah seperti di gosting saja yang berharap sangat banyak tadi. Tetapi ternyata Elang tidak melakukan apa-apa kepadanya yang mungkin memang Zahra juga sangat gugup dan belum siap jika hal itu akan terjadi. Mungkin masih butuh waktu untuk siap.
__ADS_1
Bersambung.