Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 31 kenyataan yang tidak ingin di lihat.


__ADS_3

Malam hari Rania masih berada di dalam ruang kerjanya. Dengan menggunakan dress panjang berwarna hitam dengan lengan panjang yang transparan sehingga menunjukkan putih mulusnya lengannya.


Rania tampak lelah dengan menyusun berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya itu dengan melihat arloji di tangannya yang jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


" Ya ampun aku lembur lagi, huhhh memang kamu ya Rania," ucapnya geleng-geleng dengan dia yang ketagihan bekerja sampai lupa waktu.


Rania menyusun berkas itu dengan buru-buru dan melihat ponselnya yang melihat panggilan masuk dari sang mama yang begitu banyak. Mungkin fokus bekerja sampai dia mengabaikan ponselnya.


Rania pun membuka pesannya dari sang mama.


..." Rania, kamu pulang dong. Jangan lembur terus. Ingat pernikahan kamu tinggal hitungan hari. Kamu harus istrirahat. Jangan kerja terus," tulis sang mama yang tampak bawel akhir-akhir ini karena keras kepalanya Rania. Rania menerima pesan itu tersenyum. Seakan bahagia melihat sang mama yang khawatir membuatnya begitu di perhatikan....


" Maaf ma, sudah membuat mama cemas. Mama tenang saja. Rania sudah selesai kok, Rania akan pulang," ucapnya dengan tersenyum geleng-geleng.


Rania tidak lagi membalas pesan sang mama. Karena dia memang akan pulang. Seakan lelahnya hilang ketika mendapat peringatan dari mamanya.


Memang jarang perhatian itu di dapatkannya. Belakangan ini mamanya memang sedikit bawel padanya dan itu membuatnya sangat bahagia. Karena merasa layaknya seperti manusia biasa yang selalu di tegur dan di beri ingat. Kebahagian Rania sesimpel itu. Tetapi yang sesimpel itu pun sangat sulit untuk di dapatkannya.


" Akhirnya selesai juga. Mama Rania akan pulang, maaf sudah membuat cemas," gumamnya mengambil tas dan ponselnya dan keluar dari ruangannya.


Rania keluar dari perusahaan itu dengan langkahnya yang cantik dengan heels yang tingginya 7 cm. Dengan tasnya yang di gandeng di lengannya.


" Tidak di sangka sebentar lagi aku akan menikah," ucapnya dengan perasaan berbunga-bunga melangkah menuju mobilnya.


Begitu hampir sampai di dekat mobilnya. Rania menekan kunci mobilnya dan lampu mobil itu menyala-nyala.


Rania pun langsung memasuki mobilnya. Meletakkan tasnya di sampingnya saat ingin menyalakan mesin mobil. Notif pesan masuk. Rania langsung mengambil ponselnya mengundurkan dirinya untuk menarik gas mobilnya dan minat notif pesan itu.


Rania terlihat heran yang dengan notif pesan yang masuk dengan no yang tidak di kenal yang membuatnya bingung.


" Siapa ini tumben-tumben sekali mengirim pesan," batinnya yang langsung membuka pesan itu.


Wajah Rania tampak terkejut sampai matanya ingin keluar dan dahinya yang mengkerut, melihat pesan itu yang ternyata berupa gambar yang memperlihatkan Gilang yang terlihat berjalan dengan wanita yang bagian belakangnya hanya terlihat dan Gilang tampak merangkul pinggang wanita itu.


" Gilang," ucapnya dengan napas beratnya yang begitu terkejut melihat Gilang.


Bukan hanya satu foto bahkan terlihat beberapa foto kemesraan Gilang dengan wanita yang sama yang wajah wanita itu belum juga bisa di lihat entah siapa.


Berpelukan dengan mesra yang hanya menunjukkan wajah Gilang. Rania melihat lokasi tempat tersebut berada di depan hotel.

__ADS_1


" Bima Jaya," lirihnya membaca tulisan dari hotel tersebut.


" Siapa wanita itu. Kenapa Gilang terlihat begitu romantis dengan wanita itu. Ya Tuhan apa lagi ini," batinnya mengusap dadanya yang pikirannya sudah mulai tidak tenang.


" Tidak Rania. Mungkin itu hanya kebetulan, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tidak ada yang terjadi Rania," ucapnya seakan tidak melihat apa yang barusan di lihatnya.


Rania pun mengetik pesan dengan jarinya yang begitu lincah.


..." Kamu di mana?' tanya Rania yang pengirim pada Gilang....


..." Aku sedang di rumah, memang ada apa? balas Gilang. Rania tampak sendu melihat balasan yang jelas berbohong karena Rania melihat keberadaan Gilang di tempat lain....


..." Rania ada apa?" tanya Gilang yang tidak mendapat jawaban dari Rania....


..." Tidak apa-apa," jawab Rania yang sudah tidak menjawab apa-apa lagi....


" Tidak Rania, kamu jangan berpikiran yang aneh. Ingat pernikahan kamu tinggal hitungan hari. Kamu jangan membuat ulah yang menyebabkan semuanya berantakan," batin Rania yang harus melawan perasaannya yang ingin mengetahui kebenaran. Tetapi menutup matanya untuk tidak mengetahui hal itu.


Huhhhhhh......


Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan dengan dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia seakan sadar jika ada penghiyanatan. Tetapi Rania seakan menutup matanya untuk tidak melihat hal itu karena pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Yang tidak mungkin di batalkannya.


Belum melihat dengan kenyataan tetapi seakan ada kehancuran di dalam sana yang tidak dapat


********


Gilang memang berada di hotel Bima jaya. Hotel langganannya bersama Monica dan sekarang Gilang sedang duduk di salah satu sofa yang ada di sofa dengan memegang ponselnya.


" Aneh sekali, kenapa dia bertanya tiba-tiba," batin Gilang merasa aneh dengan Rania yang bertanya..Tetapi tidak menjawab.


" Sayang," tegur Monica yang berdiri di samping Gilang yang membuat Gilang sedikit kaget.


" Hey, sayang," sahut Gilang.


" Kamu sedang mikirin apa?" tanya Monica melihat pacarnya tampak sendu.


" Tidak apa-apa," jawab Gilang memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya. " Hmmm, bagaimana kamu sudah pesan kamarnya?" tanya Gilang.


" Nih, sudah," sahut Monica tersenyum dengan menunjukkan kartu kamar yang di pesannya.

__ADS_1


" Ya sudah, ayo kita kesana," sahut Gilang yang langsung berdiri dan merangkul pacarnya.


" Kamu sudah tidak sabaran ya!" goda Monica menatap curiga pacarnya.


" Mana mungkin aku tahan. Jika sudah bersamamu," sahut Gilang.


" Ishhh, kamu ini," sahut Monica geram dengan mencubit perut Gilang dan mereka tertawa-tawa dengan bahagia dengan berjalan-jalan menuju kamar yang tadi di pesan oleh Monica.


Ya mereka mungkin akan menghabiskan waktu bermalam di sana lagi.


***********


Mobil Rendy tiba di depan Hotel Bima jaya di mana salah satu pasiennya ada di sana. Rendy membuka seat beltnya dan langsung keluar dari mobilnya dengan kemeja putih lengan panjang yang di masukkan kedalam celananya.


Saat mematikan mesin mobilnya dengan kunci mobil dan ingin melangkah memasuki Hotel itu. Langkahnya terhenti ketika melihat mobil yang terparkir di sampingnya yang sepertinya Rendy mengenali mobil itu.


" Gilang, bukannya ini mobil Gilang," gumamnya yang mengingat jelas mobil itu.


" Kenapa apa ada di sini," batinnya kebingungan.


" Mungkin saja Gilang sedang ada meeting di sini," batin Rendy yang berpikiran positif.


Rendy pun akhirnya pergi karena tidak ingin berpikiran apapun mengenai Gilang. Karena jelas itu bukan urusannya. Urusannya adalah pasiennya yang mungkin sedang menunggunya.


Gilang dan Monica berjalan dengan tangan Gilang yang terus berada di pundaknya yang di mana Monica terus bermanja dengan Gilang sambil berjalan.


Mereka pun memasuki lift menuju kamar yang tadi sudah di pesan Monica. Di dalam lift hanya ada mereka ber-2 tanpa ada orang lainpun.


Karena hanya ada mereka berdua Gilang langsung menghimpit tubuh Monica kedingding lift.


" Sayang kamu mau ngapain?" tanya Monica dengan suara manjanya.


" Aku merindukan bibirmu yang manis itu, aku ingin berada di sana," jawab Gilang mendekatkan wajahnya namun Monica menghindar kesamping dengan tertawa manja yang sengaja mempermainkan Gilang.


" Kamu nakal sekali," ucap Gilang gemes dengan pacarnya itu.


" Nanti dulu sayang, sebentar lagi kita sampai kok," ucap Monica. Mencoba menahan Gilang yang di penuhi hasrat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2