
Raina pun akhirnya mengikuti suaminya rumah sakit untuk pertama kali dia mengikuti sang suami untuk bekerja. Raina dan Rendy berjalan berdampingan memasuki rumah sakit. Beberapa suster yang berpapasan dengan Rendy menyapa Rendy dengan senyuman manis dan Rendy pun membalas senyuman itu.
Mereka juga tersenyum manis pada Rania. Beberapa dari mereka juga berbicara mengenai Rania yang mengagumi sosok Rania.
" Dokter Rendy, tidak pernah pacaran atau bawa-bawa cewek. Bahkan terlihat tenang. Eh tau-taunya sudah menikah," ucap seorang suster yang mulai bergosip.
" Benar sudah itu istrinya cantik lagi. Aku juga dengar istrinya itu seorang wanita karir. Ya jodoh itu memang cerminan diri. Kalau prianya bagus ya wanita juga harus bagus," sahut temannya yang juga seorang suster.
Rania hanya mendengar selintingan yang membicarakan dirinya. Orang-orang mugkin berpikir dia wanita Perfect. Padahal dia adalah wanita yang banyak kurangnya. Makanya Rania selalu merasa tidak pantas menjadi istri Rendy yang sempurna minta ampun.
" Ayo masuk!" ucap Rendy. Ketika mereka sudah berada di depan pintu dan Rendy sudah membuka pintu ruangan itu. Rania mengangguk dan mengikuti suaminya itu masuk kedalam ruangan Rendy.
Rania memasuki ruangan itu dengan kepalanya berkeliling melihat seisi ruangan. Meski ruangan Dokter yang pasti identik dengan bau obat. Tetapi tidak dengan ruangan Rendy yang sangat harum sama seperti di kamar mereka. Mungkin memang Rendy menyukai aroma terapi tersebut.
" Kamu duduklah!" ucap Rendy mempersilahkan Rania untuk duduk di salah satu sofa panjang. Rania mengangguk dan dengan gugup mulai duduk.
" Kamu istirahat di sini saja. Kalau butuh apa. Kamu tinggal telpon aku," ucap Rendy.
" Iya," jawab Rania.
" Aku keluar sebentar, ada pasien yang harus aku tangani," ucap Rendy pamit. Raina mengangguk dan Rendy mengambil peralatannya lalu pergi.
Rania pun langsung berdiri dan melihat-lihat isi ruangan itu. Sangat simpel tetapi terkesan rapi dan sangat bersih. Rania berjalan kemeja Rendy. Di meja itu juga hanya ada susunan buku, komputer. Rania mengambil bingkai foto yang di dalamnya ada Bu Ratih, Nia Rendy dan seorang pria yang Rania bisa menebak itu adalah papa Rendy.
" Mirip dengannya. Pasti beliau juga sangat baik sama seperti mama Ratih," ucap Rania dengan tersenyum tipis. Lalu kembali melihat-lihat sekitar ruangan itu. Membaca-baca buku yang pasti berhubungan dengan dunia kedokteran.
Rania pasti tidak mengerti. Namun Rania tetap membacanya. Karena dia memang sangat hobi membaca. Rania kembali melihat-lihat buku-buku yang di sana dan melihat salah satu buku menarik perhatiannya. Yang mana wanita dengan gambar ibu hamil.
Rania tersenyum lalu mengambilnya dan membaca buku tersebut. Rania menghabiskan waktu kosongnya duduk di sofa tersebut sambil membaca buku tersebut.
__ADS_1
Tidak tau sudah berapa lama Rendy meninggalkannya di ruangan tersebut. Rendy baru saja datang dengan membawa paper bag kecil yang tidak tau apa isinya. Saat memasuki ruangan tersebut. Rania sudah tertidur di sofa terlentang lurus dengan wajahnya tertutup buku. Mungkin dua ketiduran saat membaca buku.
Rendy mendengus tersenyum saat melihat Rania yang tertidur. Lalu Rendy duduk di samping Rania dan mengambil buku tersebut. Dia juga tersenyum. Saat Rania melihat Rania tertarik membaca masalah kehamilan.
" Itu kode untuk kakak, mama sudah pengen punya cucu," tiba-tiba lintasan ingatan kata-kata adiknya teringan di pikirannya dan malah membuatnya tersenyum.
Rendy menarik napasnya panjang, membuang perlahan merasa ada yang aneh dengan dirinya.
" Rania," ucap Rendy membangunkan Rania dengan lembut dan Rania yang mendengar suara lembut itu langsung membuka matanya yang ternyata adalah Rendy.
" Hmmm," lirih Rania yang perlahan duduk menurunkan kakinya dari sofa, " maaf aku ketiduran," ucap Rania yang masih mengumpulkan nyawanya.
" Tidak apa-apa, ayo makan siang dulu," ucap Rendy. Mendengarnya Rania mengkerutkan dahinya seolah kaget.
" Makan siang," ucap Rania. Rendy mengangguk dan dengan cepat Rania melihat jam di hanphonenya yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.
" Aku ketiduran selama itu," ucapnya kaget.
" Ya ampun kayaknya aku ngantuk, sampai tidak ingat waktu," ucap Rania menepuk jidatnya dengan tangannya.
" Ya sudah sana cuci tangan dulu, lalu kita makan!" titah Rendy. Rania mengangguk dan langsung pergi ke kamar mandi yang ada di dalam sana untuk mencuci tangannya. Sementara Rendy mengeluarkan makanan yang di belinya tadi dan tidak lama Rania pun sudah tiba lagi.
" Duduklah!" perintah Rendy. Rania mengangguk dan duduk di samping Rendy.
" Aku tidak tau apa yang kamu mau, jadi aku hanya membeli ini. Aku berharap kamu menyukainya," ucap Rendy. Mata Rania turun pada makanan itu.
" Aku suka kok, aku tidak pemilih dalam makanan, jadi santai aja. Ini enak kok," jawab Rania.
" Baguslah kalau begitu, makanlah," ucap Rendy. Rania mengangguk dan mulai memakan, makanan yang di belikan Rendy.
__ADS_1
" Kamu akan setiap hari makan di luar. Kalau siang?" tanya Rania sembari mengunyah makanannya.
" Tidak, kadang-kadang saja. Kadang Nia mengantarkan makan siang. Kadang aku beli di luar dan makan di sini. Di rumah sakit juga ada kantin. Ya di mana selaranya kalau mau makan. Tapi yang paling enak pasti yang di bawakan Nia. Karena masakan dari rumah," jawab Rendy dengan sedikit penjelasan.
" Memang sih masakan rumah yang paling enak," ucap Rania. " Yah, aku juga sudah tidak tau kapan terakhir memakan masakan mama. Aku pikir aku masih punya kesempatan untuk menikmatinya. Tapi ternyata tidak mama sudah pergi terlebih dahulu," ucap Rania dengan wajah sedihnya mengingat almarhum mamanya.
" Allah lebih sayang Bu Faridah, jadi kamu jangan sedih," ucap Rendy. Rania mengangguk tersenyum.
" Hmmm, oh ya Rania, aku ingin bicara penting dengan kamu," ucap Rendy dengan wajah seriusnya.
" Bicara apa?" tanya Rania penasaran.
" Hmmm, aku dapat tugas dari rumah sakit. Di mana aku akan di tunjuk ke daerah untuk menjadi menjadi Dokter relawan di sana," ucap Rendy yang seolah meminta izin.
" Lama?" tanya Rania yang tampaknya sedih mendengarnya. Rendy mengangguk.
" Memang kemana?" tanya Rania.
" Daerah Kalimantan," jawab Rendy.
" Oh, begitu rupanya," sahut Rania yang tampaknya semangatnya hilang mendengar hal itu.
" Hmmm, masalah luka kamu nanti aku akan berikan suster untuk membantu kamu," ucap Rendy.
" Tidak perlu Rendy. Aku sudah baik-baik saja kok, jadi tidak ada masalah," sahut Rania yang tau apa yang di khawatirkan Rendy.
" Tidak apa-apa kan, kalau aku pergi," ucap Rendy menanyakan dengan pasti.
" Memang kalau bilang jangan pergi. Kamu tidak akan pergi apa?" sahut Rania melihat Rendy dan Rendy diam tanpa bisa menjawab.
__ADS_1
" Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku mencegahmu bukankah itu tugasmu sebagai Dokter," sahut Rania tersenyum dan kembali melanjutkan makannya begitu juga dengan Rendy. Walau Rania pasti sangat berat melepas kepergian Rendy. Padahal hubungan mereka lagi rapat-rapatnya. Namun sudah terpisah.
Bersambung