Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 79 membutuhkan suaminya.


__ADS_3

Karena lukanya yang terbentur yang akhirnya membuat Rania menahan sakit di kamarnya. Dengan memegang perutnya.


" Apa aku kerumah sakit saja," gumamnya dengan suara lirihnya yang menahan sakit bahkan sampai keringat dingin.


" Aku sebaiknya Kerumah sakit. Aku minta minta temani Nia saja," ucapnya langsung berdiri dan perlahan keluar dari kamarnya.


" Nia," panggil Rania yang mencari-cari Nia, menuruni anak tangga memanggil-manggil Nia. Tetapi tidak ada respon dari Nia sama sekali.


" Nia kamu di mana," panggil Rania lagi yang sudah sampai di ruang tamu.


" Bu Rania!" sapa asisten rumah tangga yang melihat Rania tampak kesakitan dengan memegang perutnya.


" Bi, apa bibi melihat Nia?" tanya Rania.


" Non Nia, pagi-pagi sekali sudah ke kampus," jawab bibi.


" Oh, begitu rupanya," sahut Rania merasa sedikit kecewa.


" Lalu mama mana?" tanya Rania.


" Kepasar sama Anisa," sahut tiba-tiba suara wanita sedikit lantang dan ternyata itu adalah Iren.


" Tante Iren," lirih Rania.


" Kamu ini ya Rania, jadi menantu tidak ada beresnya. Makanya kamu itu bangun pagi. Jangan mertua kamu yang mengurusi semuanya untung ada Anisa yang membantunya," ucap Iren yang menceramahi Rania yang sudah berada di depan Rania. Rania tidak mau menanggapinya. Karena menahan perutnya yang perih.


" Bu Rania tidak apa-apa?" tanya asisten rumah tangga tersebut.


" Tidak apa-apa bi perut saya hanya sakit," ucap Rania yang terus menahan sakitnya.


" Oh, jadi kamu mencari mertua kamu. Untuk mengurusi kamu gitu. Kamu itu ya benar-benar nggak bisa ngapain-ngapain, hanya menyusahkan saja," ucap Iren yang terus memarahi Rania.


" Bu Rania butuh sesuatu?" tanya Bibi lagi.


" Tolong ambilkan saya air putih," ucap Rania dengan suara seraknya.


" Baik Bu," jawab bibi.

__ADS_1


" Nggak usah, biar dia ambil sendiri," sahut Iren membuat langkah bibi berhenti.


" Kamu kembali melakukan pekerjaan kamu. Dia bukan urusan kamu," tegas Iren membuat bibi serba salah. Dan Rania seolah tidak mau mencari ribut dengan Iren karena dia juga sangat kesakitan.


" Bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi. Biar saya yang mengambilnya," ucap Rania yang tidak mau ribut.


" Baik Bu," sahut Bibi yang langsung pergi. Rania pun melangkah kedapur.


" Rania!" panggil Iren dan Rania tidak peduli dan melanjutkan langkahnya dan kelihatan Iren sangat panas dan langsung menghampiri Rania dan malah mendorong bahu Rania.


" Kamu tidak mendengar saya memanggil kamu hah!" ucap Iren.


" Tante mohon, saya tidak ingin mencari ribut. Jadi mohon. Tolong biarkan saya pergi," ucap Rania membuat Iren tersenyum.


" Kamu pikir kamu siapa!" bentak Iren.


" Kamu wanita tidak tau diri. Kamu hanya pembawa sial untuk Rendy dan keluarga ini. Kenapa kamu jadi wanita tidak sadar diri. Kamu menjadi menantu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tidak bisa ini, itu dan hanya menyusahkan saja," maki Iren pada Rania dan Rania hanya diam menahan sakit pada lukanya.


" Kamu lihat Anisa. Apa kamu tidak malu dengan Anisa. Anisa yang terus merawat keluarga ini. Dia melakukan semuanya layaknya sebagai seorang menantu. Apa kamu tidak tau malu dengan diri kamu yang tidak bisa apa-apa. Kamu hanya wanita yang tergila-gila dengan harta dan kekayaan. Orang tua kamu benar-benar gagal mendidik kamu," lanjut Iren yang terus menghina Rania.


" Cukup Tante!" bentak Rania.


" Tante jangan terus membandingkan ku dengan Anisa. Jika Tante ingin menjadikan Anisa sebagai menantu. Maka jadikan lah dan jangan menceramahiku. Apa lagi menyebut nama orang tuaku," ucap Rania yang tidak tahan untuk tidak melawan kata-kata Iren yang begitu sakit.


" Lihatlah, dirimu yang sangat menyedihkan. Di beri tahu. Tetapi malah melawan dan tidak terima. Itu lah pentingnya kamu harus mendapat didikan yang benar. Kamu harus mengetahui. Keluarga sangat sial kehadiran wanita seperti mu," bentak Iren dengan menunjuk tepat di wajah Rania. Rania sudah mengepal tangannya yang jujur merasa sakit dengan kata-kata Iren.


Rania yang tidak tahan pun akhirnya memilih pergi. Tanpa bicara apa-apa lagi.


" Kamu mau kemana aku belum selesai bicara heh! kamu mau kemana. Kamu hanya pembawa sial untuk keluarga ini. Kamu hanya pembawa sial. Kamu tidak pantas berada di rumah ini. Rumah ini ternodai karena perempuan liar seperti kamu," teriak Iren yang terus memaki Rania dan Rania hanya diam tanpa bisa membalas apapun yang di katakan Iren kepada-nya.


**********


Rania memasuki kamarnya dan duduk di lantai dengan pipinya menempel ke ranjang. Air matanya mengalir deras dengan apa yang di dapatkannya. Penghinaan Iren padanya dan belum lagi kata-kata Anisa yang menjadi beban pikiran untuknya.


Tidak ada Rendy di sisinya membuatnya begitu banyak terluka baik dari perkataan dan sekarang, fikis dan segalanya. Dia seakan menjadi orang yang serba salah.


" Kenapa nasib ku seperti ini. Kenapa Tante Iren bicara seperti itu. Dia selalu menghinaku. Menyalahkan ku dalam setiap hal. Dia tidak tau jika anaknya lah yang bersalah. Anaknya yang sudah membuat masalah sampai semuanya seperti ini," batin Rania dengan air matanya yang mengalir terus.

__ADS_1


Jika ada Rendy pasti dia tidak akan seperti ini. Tetapi Rendy malah pergi dan Rania sedang di uji mentalnya tanpa suaminya.


************


Tidak melihat menantunya keluar dari kamar. Membuat Ratih memasuki kamar membuka pintu kamar dan melihat Rania yang tertidur di lantai. Membuat Ratih kaget dan dengan cepat langsung menghampiri Rania..


" Rania!" tegur Ratih dengan lembut memegang lengan Rania berusaha untuk membangunkan Rania.


" Rania bangun!" ucap Ratih dan merasa tubuh Rania begitu hangat.


" Astagfirullah, apa Rania demam," ucap Ratih yang kelihatan langsung panik dengan ke adaan menantunya.


" Rania!" ucap Ratih lagi membangunkan menantunya itu. Perlahan Rania membuka matanya dan melihat ibu mertuanya.


" Rania, kamu sudah bangun nak," ucap Ratih. Rania menganggu dan perlahan duduk dengan memijat kepalanya yang terasa berat. Ratih langsung memegang kening Rania dengan punggung tangannya.


" Kamu demam?" tanya Ratih.


" Tidak apa-apa ma, Rania hanya sedikit tidak enak badan," ucap Rania dengan suara lemasnya.


" Kita ke Dokter ya," ucap Ratih.


" Tidak usah ma, aku tidak apa-apa kok," jawab Rania menolak.


" Tidak apa-apa bagaimana. Kamu jelas sakit," ucap Ratih.


" Rania hanya perlu istirahat saja ma," ucap Rania.


" Ya sudah, ayo mama bantu naik ke tempat tidur. Jangan tidur di lantai," ucap Ratih. Rania mengangguk dan Ratih pun akhirnya langsung membantu Rania untuk berdiri dan menaiki ranjang, Rania berbaring perlahan.


" Mama akan buatkan kamu jus ya. Supaya kamu lebih segar," ucap Ratih mengusap pucuk kepala Rania.


" Iya ma," sahut Rania. Ratih tersenyum lalu keluar dari kamar itu.


" Apa yang kamu pikirkan Rania. Mertuamu adalah mama Ratih bukan Tante Iren. Apa pun yang di katakan Tante Iren jelas itu tidak ada urusannya," batin Rania yang mencoba menenangkan dirinya. Yang tidak mau terkocceh dengan kata-kata Iren ataupun Anisa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2