Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 171 Meminta izin.


__ADS_3

Nia sedang berada di kamar kakaknya Rendy yang mana sepertinya Nia sedang membujuk-bujuk kakaknya. Nia duduk di pinggir ranjang dengan Rendy di sampingnya yang juga duduk di dekatnya. Sedangkan Rania duduk di meja kerjanya dengan memeriksa beberapa berkas yang tidak sempat di periksanya di kantor tadi.


Nia tampaknya begitu nempel-nempel pada Rendy yang membujuk-bujuk Rendy.


" Ayo dong kak please Nia pengen di rayain ulang tahun di Bali. Ini kan hanya sekali-sekali," ucap Nia yang membujuk-bujuk Rendy.


" Nia kamu ulang tahun bukan hanya sekali. Lagian apa-apaan sih harus di Bali segala," sahut Rendy yang tampaknya menolak permintaan Nia.


" Ya memang ulang tahun tidak sekali-kali. Tetapi kan Nia pengen kali ini ulang tahunnya di rayain di Bali," ucap Nia dengan memegang lengan Rendy dengan kepalanya yang manja nempel-nempel pada lengan Rendy.


Sementara Rania hanya tersenyum geleng-geleng dengan matanya fokus pada berkas-berkas yang di periksanya. Ya begitulah kalau ada seorang adik yang ada maunya. Pasti akan mengeluarkan jurusnya untuk membujuk kakak yang di hormati.


" Kakak please, boleh ya kak," bujuk Nia lagi dengan suara manjanya.


" Nggak bisa Nia, lagian kalau kesana harus naik pesawat. Kakak kamu itu lagi hamil. Itu berbahaya untuk kandungannya. Kalau kamu mau pergi kamu aja sana. Kakak nggak ikut," ucap Rendy.


" Kak Rendy bisa kok kak. Orang Dokternya bilang bisa kok," sahut Nia.


" Tau dari mana kamu?" tanya Rendy.


" Kemarin pas Dokter Tasya datang kerumah kita. Nia sudah tanya dan Dokter bilang nggak apa-apa kok," ucap Nia.


" Kamu sampai nanya Dokter," sahut Rendy yang tampak kaget. Rania pun tidak tau hal itu sampai heran melihat Nia. Usaha Nia memang sangat banyak sampai harus bertanya pada Dokter.


" Iya kak, dan benaran kak, bisa kok," ucap Nia.


" Tetap aja kakak tidak mau kesana," sahut Rendy.


" Isss, ini berarti kakak yang tidak mau. Alasan kakak aja pake bawa-bawa nama kak Rania. Hanya 2 hari di Bali apa susahnya sih kak," ucap Nia yang mulai kesal.


" Nia ulang tahun ya ulang tahun aja. Ngapain harus ke Bali. Lagian di Bali kamu lihat sendiri tempatnya, banyak bule-bule pakai pakaian yang tidak siap kamu mau seperti itu, mereka tidak menggunakan pakaian dan hanya memakai bekini. Kamu ini hanya membuat mata kotor kesana," jelas Rendy.


" Hmmmm, jadi hanya masalah itu kakak tidak mau kesana," sahut Nia lemas. Rania tersenyum dengan melihat suaminya dengan ekor matanya. Suaminya itu memegang the best tidak mau melihat-lihat wanita seksi.


" Jangan seperti itu dong kak Rendy, kan kita ngga perlu melihat mereka," ucap Nia dengan wajah cemberutnya.


" Kalau tidak mau melihat mereka. Maka di sini saja. Kalau sudah di sana mana mungkin tidak melihat. Di mana-mana ada seperti itu. Masa iya kalau jalan harus tutup mata," sahut Rendy. Rania begitu cemberutnya dengan Rendy yang menolak permintaannya.

__ADS_1


Rania menoleh kebelakang dan melihat wajah Nia yang begitu di tekuk. Rania rasanya sangat iba dengan Nia yang pasti sudah merencanakan ulang tahun di adakan di Bali. Rania menarik napasnya panjang dan bangkit dari tidurnya menghampiri Rendy dan Rania di pinggir ranjang.


" Nia, memang kamu benar-benar ingin ulang tahun di rayakan di sana?" tanya Rania lembut.


" Iya kak Rania, lagian Nia hanya mau kita-kita aja. 1 keluarga besar. Kita kan tidak pernah liburan," jawab Nia.


" Yang kamu ke Jepang apa namanya kalau bukan liburan," sahut Rendy.


" Lain dong kak Rendy, itukan tugas kampus. Ya walau sekalian liburan. Tetapi kan nggak bareng keluarga," sahut Nia yang ada saja jawabannya.


" Itu sama saja," sahut Rendy.


" Beda dong kak Rendy," sahut Nia. Rania geleng-geleng dengan kakak adik yang tumben-tumbennya. Tidak ada yang mau kalah.


" Bedanya di mana. Tetap sama," sahut Rendy lagi memutuskan.


" Ishhhh, pokoknya tetap beda," sahut Nia.


" Sudah-sudah kenapa pada berantem sih. Rendy tidak apa-apa sekali-kali, lagian Nia juga ingin kumpul-kumpul keluarga. Kita juga belum pernah liburan dan hanya 2 hari di sana. Aku rasa tidak ada masalah," ucap Rania yang sepertinya mendukung Nia. Nia tersenyum dengan kakak iparnya yang best itu.


" Rania," sahut Rendy yang tampak menolak.


" Hmmm, ya sudah. Tolongin Nia ya kak. Kukuhkan hati kakak ku yang ini," ucap Nia. Rania mengangguk tersenyum.


" Semoga berhasil," ucap Nia. Rania menganggukkan matanya. Dan Nia langsung keluar dari kamar kakaknya itu.


Rania mengusap pundak suaminya dengan menatap suaminya itu.


" Kamu ingin membujukku seperti Nia tadi?" tanya Rendy dengan menaikkan alisnya. Rania menganggukkan kepalanya.


" Mendengar Nia yang mengatakan Bali. Aku jadi terbayang berada di satu Kapal dengan kamar yang begitu indah. Kamar yang di lapisi kaca, langitnya juga kaca yang bisa langsung melihat keindahan langit dan dingdingnya kaca yang bisa melihat sekitaran lautan. Aku pasti merasa berada di tengah laut. Jadi aku jadi kepingin tiba-tiba ke Bali," ucap Rania dengan wajahnya yang penuh khayalan.


" Tidak harus ke Bali Rania, banyak tempat selain itu," jawab Rendy.


" Hmmm, benar sih. Tetapi tiba-tiba aku rasanya ingin juga ada di sana. Lagian kan hanya sebentar saja. Apa salahnya. Aku juga ingin liburan. Benar kata Nia. Kita tidak pernah liburan bersama. Sekalian aku ingin ajak papa, ajak kak Willo, ajak lulu dan dedi dan kebetulan della juga lagi liburan. Kapan lagi kita bisa liburan bersama," ucap Rania yang ikut-ikutan membujuk suaminya.


" Jadi kamu juga ingin liburan?" tanya Rendy. Rania mengangguk lagi.

__ADS_1


" Bukannya itu juga bagus untuk Elang dan Zahra. Jadi tidak ada salahnya kita semua benar-benar liburan bersama," ucap Rania. Randy tampak berpikir-pikir dengan apa yang di katakan istrinya.


" Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Rendy.


" Aku berani mengajukan diri. Itu karena pasti semuanya sudah aman," sahut Rania dengan mengedipkan matanya.


" Yakin tidak akan ada masalah?" tanya Rendy memastikan.


" Yakin sayang," sahut Rania.


" Baiklah kalau begitu. Kalau memang itu mau kamu. Kita liburan bersama," sahut Rendy yang langsung setuju-setuju saja.


" Kamu serius?" tanya Rania dengan wajahnya yang begitu semangat.


" Jika kamu sudah meminta. Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya," sahut Rendy.


" Benarkah? Rania. Rendy mengangguk.


" Makasih sayang," sahut Rania yang langsung memeluk Rendy yang ternyata sangat mudah membujuk suaminya.


" Kamu bilang apa tadi?" tanya Rendy.


" Bilang apa aku tidak bilang apa-apa," sahut Rania heran. Rendy melepas pelukan itu dan menatap istrinya dengan dalam-dalam.


" Kamu tadi menyebutkan satu kata," ucap Rendy.


" Apa yang aku sebutkan. Kayaknya tidak ada," sahut Rania dengan wajahnya yang berpikir-pikir.


" Ada, kamu jangan bohong. Aku jelas mendengarnya, katakan apa yang kamu katakan tadi," ucap Rendy.


" Aku hanya keceplosan," sahut Rania.


" Bohong, mana mungkin keceplosan, ayo katakan sekali lagi," desak Raihan. Rania mengalungkan ke-2 tangannya ke leher Raihan.


" Sayang, aku memanggil mu sayang. Apa boleh?" tanya Rania meminta izin. Rendy tersenyum mendengarnya.


" Boleh tidak?" tanya Rania memastikan.

__ADS_1


" Boleh, kamu harus memanggilku setiap hari dengan kata-kata itu," ucap Rendy. Rania mengangguk tersenyum dan kembali memeluk suaminya. Rendy mengusap-usap pundak sang istri.


Bersambung


__ADS_2