Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 24 menceramahi suami


__ADS_3

Faridah memasuki kamarnya menyusul suaminya dan melihat Rudi yang duduk di pinggir ranjang. Wajah Rudi pasti selalu dalam penyesalan. Tetapi tetap saja tidak pernah bijaksana dan apa-apa selalu main tangan dengan Rania dan hanya Rania bukan dengan yang lainnya.


Makanya terkadang Rania merasa hidup yang di dapatkannya sangat tidak adil. Apa yang di berikannya tidak sesuai dengan perlakukan yang di dapatkannya.


" Apa harus mas harus menampar Rania lagi," ucap Faridah yang beberapa kali melihat Rania mendapat perlakukan tidak baik dari suaminya dan selama ini dia hanya diam saja.


" Anak itu kurang ajar dan jika di biarkan mulutnya akan tetap seperti itu, jadi wajar dia mendapatkan itu," sahut Rudi tampak biasa dengan menunduk sedikit dengan tangan yang saling mengatup di antara kakinya yang terbuka sedikit.


" Lalu apa dengan menampar Rania. Apa semuanya akan selesai. Tidak mas. Apa setiap mas menamparnya dia akan berubah dan masalah akan selesai tidak ada bedanya. Semakin kamu keras dengan Rania dia hanya akan semakin membenci kamu," ucap Faridah menegasakan.


" Lalu kenapa jika dia membenci orang tuanya sendiri. Rania berani bicara itu karena dia menjadi penguasa. Dia merasa kita semua bergantung padanya makanya dia bicara selalu melewati batasnya," sahut Rudi.


" Tapi apa yang di katakan rania. Jelas tidak ada yang salah. Jelas itu kenyataannya dan kita tidak bisa pungkiri hal itu," sahut Faridah


" Jadi kamu mendukung apa-apa yang di katakan anak itu. Pantas saja dia meraja Lela. Apa kamu mau di jadikan babu oleh anak itu. Jika kamu hanya diam saat dia bicara dia akan semakin menunjak," ucap Rudi bertambah emosi.


" Memang apa yang di katakan Rania. Rania tidak akan mengatakan apa-apa jika tidak terpancing dan tadi sangat jelas Willona yang mencari masalah, bukannya Rania," ucap Faridah menegasakan.


" Willo tidak akan bicara seperti itu dia tidak akan membuat onar, jika suaminya tidak membanding-bandingkannya dengan Rania," sahut Rudi yang tetap setia membela Willo.


" Apa itu berarti kamu juga seakan mengganggap Rania sebagai perusak rumah tangga Willo dan Bram?" tanya Faridah yang juga ingin mendengar jawaban suaminya.


" Aku tidak mengatakan apa-apa," sahut Bram.


" Mas. Apapun itu. Kejadian tadi di sebabkan oleh Willo bukan Rania dan. Bukannya kita seharusnya sebagai orang tua mengerti perasaan Rania. Bukan malah memojokkannya dan malah kamu memukulnya," sahut Faridah yang benar-benar angkat tangan dengan suaminya yang terus tidak bisa bijaksana.


" Apa lagi kamu tau kamu memukul Rania di depan tamu kita. Apa pikiran dia ketika melihat seorang ayah sanggup memukul anak perempuannya," ucap Faridah yang jelas melihat Rendy saat tangan suaminya melayang ke pipi Rania.


" Aku sudah mengatakan aku terpancing dengan Rania dan masalah tamu melihatku. Aku pasti menyesalkan hal itu," sahut Rudi.


" Tetapi tetap saja kamu salah dan tidak bijaksana dan hanya bisa menyakiti Rania," sahut Faridah.


" Sudahlah, aku tidak ingin membahas masalah itu. Aku capek. Aku istirahat dulu, kamu juga sebaiknya istirahat. Jika kita terus membahas masalah itu. Tidak akan ada selesainya," sahut Rudi yang tidak mau menanggapi istrinya dan memilih membaringkan diri di atas ranjang tanpa mempedulikan istrinya.

__ADS_1


Farida memijat kepalanya yang terasa berat dengan banyaknya masalah yang terjadi.


" Mas kenapa kamu seperti ini. Apa kamu tidak memikirkan nasib Rania. Masa depan dia. Jika kamu saja tidak bisa adil dan bijaksana. Bagaimana nasib Rania. Semua laki-laki yang melamarnya pergi begitu saja. Hanya karena kita. Apa kamu tidak sadar jika Rania dan juga hidupnya sudah hancur di tangan kita," batin Faridah dengan hatinya yang ikut terluka melihat suaminya yang cuek-cuek saja.


Sebagai ibu dia jelas memikirkan putrinya yang beberapa kali gagal dalam pernikahan dan hanya karena keegoisan keluarga itu dan suaminya tidak menyadari bahwa Rania begitu sabar menerima semuanya.


" Ya Allah, bagaimana nasib Rania selanjutnya. Aku mohon pertemukan anak itu dengan pria yang benar-benar menerima dia apa adanya," batin Faridah yang jelas mengkhawatirkan putrinya dan hanya bisa berdoa. Berdoa tidak sholat sama saja.


*********


Akhirnya Gilang dan yang lainnya sampai di rumah Rendy.


" Pokoknya kamu jangan menikah dengan wanita itu," tegas Iren yang langsung mengambil keputusan membatalkan pernikahan itu. Semua orang yang ada di sana jelas kaget mendengar keputusan Iren.


" Apa maksud mama," sahut Gilang.


" Apa kamu tidak mendengar apa kata mama. Mama sudah mengatakan jangan menikah dengannya. Jadi jangan tanya lagi apa maksud mama," sahut Iren menekankan.


" Tidak ma. Gilang sudah berkomitmen untuk menikah dengan Rania dan tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan pernikahan itu," tegas Gilang yang membantah keputusan itu.


" Gilang tidak mau melawan mama. Tidak ada alsan untuk membatalkan pernikahan itu," sahut Gilang menegaskan sekali lagi.


" Jadi kamu akan tetap menikahi wanita yang tidak beres itu. Kamu bisa lihat sendiri keluarga mereka seperti apa. Keluarga yang sangat gelap. Keluarga bebas yang tidak mempunya akhlak dan juga tata Krama. Bahkan keluarga yang sangat dekat dengan perbuatan dosa," jelas Iren dengan marah.


" Belum tentu semuanya seperti itu mbak," sahut Ratih yang memihak pada Rania.


" Belum tentu bagaimana. Bukannya kalian ada di sana dan lihat menantunya datang dengan peteng-tengkan membawa minuman beralkohol dan berbicara tidak bermoral. Belum lagi anaknya yang dari awal bicaranya sangat sombong," sahut Iren.


" Tapi kan Rania tidak seperti. Kakak dan kakak iparnya memang mungkin seperti itu. Tetapi Rania pasti tidak," sahut Zahra yang mengenal Rania cukup dekat.


" Apa bedanya. Jika keluarga itu sudah sangat familiar dengan alkohol yang itu berarti satu rumah memang tidak beres dan untuk Rania. Apa kamu tidak dengar Gilang bagaiamana dua. Dia menjadi duri dalam rumah tangga kakaknya. Wanita liar yang suka keluyuran. Wanita bebas yang tidak tau aturan. Apa itu yang ingin kamu nikahi," bentak Iren yang benar-benar ilfil dengan Rania dan keluarganya.


" Aku tau siapa Rania dan dia tidak seperti itu," sahut Gilang yakin.

__ADS_1


" Jadi maksud kamu. Kamu mau mama tetap memberikan kamu restu menikahi dia. Itu yang kamu inginkan?" tanya Iren.


" Iya. Karena dengan kejadian tadi tidak akan mengubah apapun. Aku akan tetap menikha dengannya. Sesuai dengan tanggal yang sudah di tentukan sebelumnya," ucap Gilang menegaskan.


" Permisi!" ucap Gilang pamit membuat Iren melotot mendengar keputusan Gilang yang benar-benar membantahnya.


" Gilang!" teriak Iren memanggil Gilang dengan suara yang kuat.


" Kamu tidak bisa menikah dengan dia. Jika mama tidak memberikan kamu restu," teriak Iren lagi yang tidak di pedulikan Gilang.


" Ahhhhh, anak itu benar-benar sudah di racuni oleh wanita itu," geram Iren yang tidak bisa mengendalikan Gilang.


" Sabarlah mah, sabar," ucap Jaya mengusap-usap pundak istrinya yang menenangkan istrinya.


" Sabar bagaimana. Lihat semuanya. Wanita itu sudah merusak anak kita dan kamu masih bilang sabar," ucap Iren yang malah memarahi suaminya. Dan suaminya pun memilih untuk diam dari pada mendapat semburan lagi dari istrinya.


***********


Kejadian malam ini cukup membuat Rendy lelah. Dia juga tidak tau apa yang di kerjakannya. Tau-tau aja. Dia sudah lelah. Rendy memasuki kamarnya membuka jasnya dan melonggarkan dasinya.


Rendy duduk di sisi ranjang dengan membuka sepatunya. Tiba-tiba saja Rania yang mendapat tamparan terlintas dalam pikirannya.


" Kenapa Pak Rudi sampai bermain tangan padanya," batin Rendy yang tampaknya ada rasa simpatik kepada Rania.


" Lalu kenapa kakaknya harus mempermalukannya di depan semua orang. Kenapa dia sampai mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu di katakan," ucapnya lagi yang seakan tidak percaya jika apa yang di katakan Willo adalah kebenarannya.


**************


Mentari pagi kembali tiba. Apapun yang terjadi Rania harus tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Rania keluar dari kamarnya dengan menggunakan dress panjang i jengkel dari mata kakinya dengan lengan panjang.


Rania tampak cantik dan elegan dengan dress berwarna pastel yang di beri belt di pinggangnya yang membuatnya layaknya seperti seorang model.


Pasti dia tidak semangat seperti biasanya. Karena apa yang terjadi tadi malam jelas membuat moodnya benar-benar hilang.

__ADS_1


Rania menuruni anak tangga dan langsung pergi tanpa sarapan pagi yang di meja makan sudah ada mama, papanya dan Della. 2 keponakannya dan tidak ada Willo si perusuh entah di mana. Rania juga tidak peduli jika tidak melihat Willo.


Bersambung


__ADS_2