Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Bab 186 Hadiah.


__ADS_3

Rendy dan Rania masih betah bermesraan di atas kapal. Yang sekarang Rendy malah memotret Rania yang berpose asal di atas kapal. Rania memang terlihat begitu cantik dengan gaun merahnya sampai mata anak kakinya dengan lengan rumbai dan Ardian yang memakai kemeja putih. Mereka sudah seperti merayakan hari kemerdekaan saja.


Tiupan angin membuat rambut panjang Rania menari-nari. Hal itu sangat bagus untuk berfoto terlihat natural. Rendy dan Rania bahkan bergantian untuk mengambil foto masing-masing.


Dengan gaya Rendy yang pasti datar-datar saja. Karena memang tidak suka berfoto. Tidak jauh beda dengan Rania. Namun Rania masih lumayanlah dengan senyumnya yang indah. Dan karena begitu bahagia Rania bahkan berputar-putar. Mereka juga tidak lupa berfoto bersama. Saling bahagian dan melakukan ke-nya bersamaan.


Banyak yang mereka habiskan di atas kapal. Makan bersama dengan saling suap-suapan, dengan pasti beberapa kali Rendy mencium kening Rania. Ya layaknya orang pacaran. Pacaran halal setelah menikah.


Setelah selesai makan Rendy dan Rania berdiri di pinggiran kapal yang di beri pagar. Di mana Rendy memeluk Rania dari belakang. Menghirup udara dalam-dalam yang menikmati pemandangan indah itu. Rania menghadap Rendy. Tersenyum dengan mengamati wajah Rendy.


" Apa mereka tidak akan mencari kita?" tanya Rania.


" Mereka juga tau apa yang kita lakukan. Jadi mereka tidak akan bertanya-tanya," jawab Rendy dengan membelai-belai rambut Rania yang terus menari-nari.


" Aku ingin berlama-lama di sini," ucap Rania.


" Aku juga," jawab Rendy.


" Kapan kita akan kemari lagi?" tanya Rania.


" Kapan kamu mau. Aku akan siap mengajakmu kemari," ucap Rendy.


" Terima kasih sayang sudah terus ada untukku. Memberikan ku kebahagian. Aku sangat mencintaimu," ucap Rania.


" Aku juga mencintaimu Rania. Kau adalah cinta pertamaku dan yang akan menjadi cinta terakhirku," ucap Rendy.


" Kemarin aku tanya. Kamu bilang bukan aku cinta pertamamu. Kenapa sekarang mengakuinya," sahut Rania. Rendy tersenyum dengan mengusap-usap pipi Rania dengan lembut.


" Aku ingin membuatmu penasaran. Tapi ternyata aku tidak tahan. Aku tidak tahan untuk mengatakan, jika kamu adalah cinta pertamaku," sahut Rendy membuat senyum itu semakin lebar.


" Aku ada sesuatu untukmu," ucap Rania tiba-tiba. Rendy mengkerutkan dahinya yang penasaran.


" Apa itu?"


" Tutup matanya sebentar!" titah Rania. Rendy pun melakukannya menutup matanya.


" Jangan mengintip!" ucap Rania.


" Hmmmm," sahut Rendy dengan deheman.


" Baiklah, sekarang buka," sahut Rania. Dengan perlahan Rendy membuka mata itu dan Rania memberikan setangkai mawar merah. Membuat Rendy menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


" Ini hadiahnya?" tanya Rendy. Rania mengangguk. Setangkai mawar itu terdapat gulungan kertas yang di berikan pita.


" Bukannya ini mawar yang aku berikan tadi malam kamu mencopotnya," ucap Rendy.


" Hanya 1. Kamu baca suratnya," sahut Rania. Rendy pun mengambil mawar itu.


" Kamu itu benar-benar tidak punya modal. Memberikan hadiah yang telah aku berikan," ucap Rendy.


" Kenapa cerewet sekali. Buka dulu suratnya," sahut Rania dengan geram. Rendy pun akhirnya membuka surat kecil itu.


..." Aku mencintaimu sayang. Terima kasih untuk malam yang bahagia ini. Ini salah satu kebahagian yang tidak pernah aku bayangkan. Aku benar-benar sangat bahagia. Aku telah menjadi wanita yang sempurna di matamu. Aku sangat mencintaimu," tulis Rania dengan kata-kata romantis. Rendy melihat Rania dengan menaikkan alisnya....


" Kamu itu suka sekali menulis surat. Padahal bisa mengatakannya langsung," sahut Rendy. Dengan mengusap-usap pipi Rania kembali.


" Supaya kamu punya kenangan untuk di simpan," sahut Rania.


" Ada-ada saja. Memang kamu mau kemana," sahut Rendy.


" Issss, kenapa jadi protes sih. Nggak suka dengan suratku," sahut Rania mendadak kesal.


" Aku menyukainya sangat menyukainya. Terima kasih istriku tercinta yang sudah menuliskan kata-kata indah ini. Aku sangat mencintaimu," ucap Rendy yang langsung membuat Rania kembali tersenyum lebar.


Rania langsung mencium bibir Rendy dengan lembut. Mengecup sebentar, menatap suaminya itu dengan intens. Namun Rendy memegang kedua pipi Rania dan langsung mencium bibir Rania. Membalas kecupan itu dengan ciuman romantis.


" Auhhhh," tiba-tiba Rania melepas ciuman itu dan menunduk dengan memegang perutnya.


" Kamu kenapa?" tanya Rendy panik melihat istrinya.


" Perut aku tiba-tiba sakit," keluh Rania yang menunduk. Rendy terlihat cemas dengan kondisi istrinya yang tiba-tiba.


" Di bagian mana nya yang sakit?" tanya Rendy dengan memegang lengan Rania. Rania mengangkat kepalanya.


" Sudah tidak apa-apa kok. Hanya tiba-tiba perih saja," sahut Rania yang merasa jauh lebih baik.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Rendy khawatir. Apa lagi ketika melihat istrinya mendadak berkeringat.


" Tidak apa-apa kok. Tadi hanya tiba-tiba sakit saja," jawab Rania.


" Ya sudah kalau begitu kita pulang saja. Sampai di Jakarta nanti. Kamu periksa kandungan dulu. Kamu belum pernah cek kandungan," ucap Rendy menyarankan. Rania mengangguk.


" Kamu istirahat di kamar ya. Sembari menunggu kita sampai didaratan," ucap Rendy.

__ADS_1


" Hmmm, tapi gendong," ucap Rania dengan manja. Rendy tersenyum mengangguk dan langsung menggendong Rania ala bridal style. Rania mengalungkan tangannya ke leher Rendy dan mencium lembut pipi Rendy.


Tidak sekali bahkan beberapa kali yang sengaja menggoda Rendy. Nanti di cium tiba-tiba sakit perut. Rania benar-benar tingkahnya semakin lama semakin menjadi-jadi.


************


" Jadi besok kita baru pulang?" tanya Nia yang ikut duduk bersama dengan keluarganya di belakang Vila yang mengawasi anak-anak berenang.


" Hmmm, Rendy bilang seperti itu. Maka seperti itu," sahut Widia.


" Hmmmm, kak Rendy mah. Diajak aja rada-rada malas banyak alasan dan lain sebagainya. Sekarang aja lihat dia pengen pulang lama-lama," ucap Nia.


" Biarin ajalah Nia," sahut Oma Wati.


" Hmmm, kak Elang sama kak Zahra mana?" tanya Nia.


" Paling masih di kamar," sahut Widia.


" Kak Anisa?" tanya Nia yang juga tidak melihat Anisa.


" Mama juga tidak tau," jawab Widia.


" Aku melihatnya pagi-pagi sekali tadi sudah pergi," sahut Willo yang tidak sengaja melihat Anisa.


" Pergi kemana?" tanya Oma Wati.


" Aku kurang tau. Tetapi aku hanya melihat di jemput mobil," jawab Willo.


" Hmmm, mungkin Anisa jalan-jalan, biarin ajalah," sahut Ratih.


" Assalamualaikum," sapa Rendy dan Rania yang akhirnya pulang.


" Walaikum salam," jawab semuanya serentak.


" Enak ya jalan-jalan mulu," sahut Nia yang terlihat Sewot. Rendy dan Rania hanya tersenyum saja.


" Kamu itu itu aja," sahut Ratih.


" Siapa yang iri," sahut Nia.


" Ya sudah, aku sama Rania mau kekamar dulu ya," sahut Rendy.

__ADS_1


" Hmmm, sana tuh berduaan mulu," sahut Nia. Rendy dan sama Rania hanya geleng-geleng mengangguk dengan kelakuan bocah tersebut yang begitu iri.


Bersambung.


__ADS_2