Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Epiosede 87 Hari manis.


__ADS_3

Suara lantunan adzan terdengar begitu indah yang membangunkan orang-orang yang ada di desa tersebut. Subuh yang begitu dingin juga sudah membangunkan pasangan suami istri itu. Di mana pasangan suami istri itu sekarang sedang melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk.


Selesai menjalan ibadah sholat seperti biasanya Rania mencium punggung tangan Rendy dan Rendy mencium keningnya. Wajah ke-2nya begitu berbinar, bersih dengan berseri-seri yang terpancar kesejukan.


" Aku mau mengaji, kamu mau ikut?' tanya Rendy.


" Iya tapi di ajari, aku harus mengakui jika aku pasti sudah lupa," ucap Rania yang jujur apa adanya. Rendy tersenyum mengangguk. Rania memang mau belajar dan tidak malu mengatakan jika tidak bisa. Karena Rendy memang tidak pernah memaksa dan me judge buruk.


Layaknya anak kecil Rendy mengajari istrinya itu untuk membaca ayat suci Alquran yang mana Rania sudah banyak ketinggalan. Sangat lembut dan mudah mengerti Rendy benar-benar membimbing Rania kejalan yang benar.


Seperti janji Rendy pada ibu Rania sebelumnya untuk menjaga dan membimbing Rania dan Rania adalah wanita yang sangat mau belajar dan pasti Rania sebenarnya sangat penurut pada Rendy.


*********


Selesai melaksanakan hal yang agamis itu bersama di subuh hari. Rania sekarang berada di dapur. Mungkin dia tidak bisa memasak. Tetapi dia berusaha untuk menjadi istri dan sekarang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya yaitu membuat nasi goreng yang dia tidak tau enak atau tidak.


Rania memang tampak begitu repot sampai membuat banyak hal dari menyiapkan teh untuk Rendy dan juga sangat repot memasak. Sampai Rendy akhirnya keluar dari kamar dan mendapati Rania. Rania, melihat Rendy sebentar.


" Kamu sudah mau pergi ya, ya ampun belum masak lagi," ucap Rania yang buru-buru.


" Pergi kemana?" tanya Rendy heran dengan Rania yang terlihat pontang-panting.


" Mau kerja lah, mau kemana lagi?" tanya Rania.


" Aku libur kan aku sudah katakan sama kamu semalam," jawab Rendy santai. Dan Rania melihat ke arah Rendy. Memang suaminya itu tidak ada tanda-tanda mau menjalankan tugasnya.


" Ohhh, syukurlah kalau begitu," sahut Rania merasa lega. Rendy melihat segelas teh.


" Ini untukku?" tanya Rendy. Rania menoleh kembali ke arah Rendy.


" Iya minumlah!" sahut Rania. Rendy pun mengangguk dan mengambil segelas teh itu. Untuk di nikmati pagi hari yang tampak begitu indah.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Di luar expetasi. Saat meminum teh itu. Rendy langsung batuk-batuk dan membuat Rania kaget.

__ADS_1


" Kamu kenapa?" tanya Rania panik yang langsung menghampiri Rendy. Rendy hanya melihat arah ke gelas teh tersebut.


" Ada apa?" tanya Rania was-was. Rendy menggelengkan kepalanya. Tetapi karena khawatir dan penasaran. Rania langsung meraih dari tangan Rendy dan meminumnya langsung.


Ekspresi wajah Rania berubah kecut. Saat meminum teh itu.


" Kok bisa asin?" tanya Rania pada Rendy. Rendy menggedikkan bahunya ya mana dia tau yang membuatnya siapa.


" Aku kan membuatnya dengan gula. Lalu kenapa sampai asin," ucap Rania kebingungan. Tampak kecewa membuat teh saja tidak bisa. Tiba-tiba Rania dan Rendy sama-sama mendengus seakan hidung mereka mencium sesuatu yang sangat khas.


" Bau apa ini?" tanya Rania.


" Aku juga tidak tau, seperti bau terbakar," sahut Rendy. Rania melotot mengingat sesuatu.


" Nasi goreng ku," teriak Rania yang langsung lari kembali kekompor yang melihat nasi gorengnya yang masih di atas kompor.


" Aisss gosong," ucap Rania dengan cepat mematikan kompor dan Rendy langsung menyusul Rania dan melihat nasi goreng itu sudah penuh asap.


" Mau ngapain?" tanya Rania dan Rendy langsung mencicipinya membuat Rania kaget dengan tingkah Rendy.


" Ini sebenarnya enak, tidak asin dan rasanya pas hanya saja gosong," ucap Rendy yang begitu menghargai masakan istrinya.


" Tapi tetap tidak bisa di makan," sahut Rania yang semangatnya hilang.


" Tidak apa-apa, berarti kamu bisa memasaknya. Masakan gosong itu biasa dan itu salahku. Karena tadi aku membuatmu harus menghampiriku dan membuat makanan itu gosong karena kamu meninggalkannya," ucap Rendy.


" Aku akan membuatnya lagi," ucap Rania yang kembali semangat.


" Tidak usah, nanti saja," sahut Rendy menolak.


" Lalu kamu sarapan pakai apa?" tanya Rania.


" Pakai roti saja," jawab Rendy.

__ADS_1


" Aku akan membuatnya," sahut Rania yang langsung bergerak cepat mengambil roti tawar dan dengan cepat mengolesinya dengan selai. Rendy pun duduk dan memperhatikan repotnya Rania yang berusaha melayani Rendy dengan baik.


" Nih," ucap Rania memberikan Rendy roti tersebut.


" Makasih," sahut Rendy yang langsung menikmatinya membuat Rania tersenyum.


" Kalau kamu libur, kamu akan kemana?" tanya Rania.


" Ada acara di desa, acara santunan, kita bisa mengikuti acaranya dan ada siraman rohaninya. Lumayan untuk menambah ilmu," jawab Rendy.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Rania.


" Kamu ikut kan?" tanya Rendy. Rania mengangguk-angguk. Rendy tersenyum dan melihat Rania yang terus melihatnya makan. Sampai pada akhirnya Rendy mengarahkan roti yang di makannya pada Rania.


Dan dengan spontan Rania membuka mulutnya pada akhirnya Rendy yang menyuapi Rania membuat Rania tersenyum begitu pun dengan Rendy yang sama-sama tersenyum.


********


Rania dan Rendy pun berbaur pada warga untuk mengikuti acara. Di mana Rania memakai dress putih memanjang dengan tangan balon dan dan di bagian pinggangnya di berikan belt merah maron. Dengan pasmina yang sedikit menutupi rambutnya.


Rania bergabung dengan ibu-ibu yang mendengarkan ceramah ustad duduk di lapangan terbuka yang beralaskan tidak di mana laki-laki dan Pria yang duduknya terpisah.


" Kita sebagai suami tugasnya dalam membingbing istri. Ingat para lelaki kalian lah nanti yang akan menanggung dosa istri kalian. Makanya bimbinglah istri kalian sayangi dia cintai sepenuh hati," ucap ceramah pak ustadz tersebut yang pasti di simak oleh Rendy.


" Lalu istri bagaimana. Wahai kalian kau wanita. Jangan terlalu banyak mengeluh. Lihat suami kalian yang sudah bekerja dan tanggung jawabnya lebih banyak lagi. Apa yang harus kalian lakukan. Layani suami kalian dengan baik. Melayani seperti apa. Bukan hanya melayani dengan menyiapkan pakaian, makanan. Tetapi paling utama melayaninya secara batin," ucap Pak ustadz.


" Jangan kalian merasa istri yang sempurna. Jika tidak memberikan pelayanan pada suami kalian dan kalian para pria kalian harus mengetahui kalian juga harus memberikan nafkah lahir batin pada istri kalian. Karena itu adalah kewajiban," tegas Pak ustadz tersebut.


Rania seolah tertampar dengan kata-kata ustad tersebut yang mana itu adalah dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.


" Benar, aku berusaha melakukan hal lain. Tetapi aku tidak sadar. Kewajiban utamaku adalah memberikan apa yang seharusnya di miliki Rendy. Aku dan dia sudah menikah 2 bulan.Tetapi aku tidak kunjung memberikan haknya. Ini bukan masalah siap atau tidak. Tetapi masalah kewajiban dan juga hak," batin Rania yang mulai sadar diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2