
Elang dan Zahra berada di dalam kamar yang bersiap-siap untuk tidur. Karena memang sudah malam juga. Elang berbaring di atas ranjang sambil memegang handphonenya, sementara Zahra masih duduk di depan cermin dengan memakai lotion pada kulitnya.
" Akhirnya Anisa menikah juga dengan Agam dengan begitu dia tidak berharap lagi atas Rendy," sahut Zahra. Elang melihat heran ke arah Zahra dengan wajahnya yang mengekerut seakan heran dengan apa yang di katakan Zahra.
"Anisa, Rendy apa itu artinya Anisa menyukai Rendy," sahut Agam menebak-nebak.
" Hmmmm, kamu tidak tau?" tanya Zahrah. Elang menggelengkan kepalanya.
" Hmmm, aku pikir kamu tau. Bukannya kamu datang kerumah ini untuk kembali dengan Rania atas suruhan kakak dari Rania," sahut Zahra.
" Ya, aku memang kembali waktu itu ingin memperbaiki segalanya pada Rania karena ada kesempatan yang di berikan Willo. Tetapi aku tidak tau jika tentang permainan yang terjadi dan malahan aku kaget jika Anisa menyukai Rendy," sahut Elang dengan wajahnya yang memang terlihat sangat kebingungan.
" Iya Anisa itu sama Rendy dari dulu dekat. Dan Anisa mempunyai rasa yang lebih terhadap Rendy. Walaupun Anisa tidak mengatakan langsung tetapi secara gerak gerik ya pastilah aku tau jika Anisa menyukai Rendy. Tetapi Rendy tidak," jelas Zahra yang memang sudah bisa membaca pikiran Anisa
" Hmmm, begitu rupanya. Ya jujur aku kaget sih," sahut Elang.
" Sebenarnya banyak Elang yang terjadi. Segala usaha Anisa untuk bersama Rendy. Walau Rendy sudah menikah dan terutama saat waktu itu yang insiden besar di rumah ini. Ya pokoknya banyaklah nggak bisa di katakan apa-apa lagi. Intinya meski Rendy dan Rania sudah menikah. Tetapi Anisa tetap ingin bersama Rendy. Tapi ya udahlah itu juga sudah berlalu dan aku rasa Anisa sudah berubah. Jadi biarlah itu hanya menjadi masa lalu," sahut Zahra yang tidak mau ambil pusing.
" Ya kamu benar sih. Lagian dia juga pastinya memang ingin membuka lembaran baru. Makanya memutuskan menikah," sahut Elang. Zahra mengangguk dan berlalu dari meja rias dan menghampiri Elang, berbaring di atas ranjang.
" Semoga saja pernikahan mereka di percepat," ucap Zahra.
" Amin," sahut Elang yang mencium perut Zahra.
" Apa dia baik-baik saja di dalam sana?" tanya Elang dengan menatap Zahra. Zahra mengangguk.
" Kenapa aku merasa tidak percaya dengan kamu?" sahut Elang. Zahra mengkerutkan dahinya heran mendengarnya.
" Apa maksud kamu?" tanya Zahra.
" Dia pasti tidak baik-baik saja," ucap Elang.
" Dia baik-baik saja Elang. Aku yang tau," sahut Zahra.
__ADS_1
" Aku tidak percaya. Aku harus melihatnya," sahut Elang dengan menatap nakal Zahra.
" Isssss, dasar modus," desis Zahra yang tau maksud Elang. Elang mendekatkan wajahnya pada Zahra dengan memebelai-belai rambut Zahra.
" Masa iya mau mengunjungi anak sendiri. Harus modus," goda Elang dengan matanya yang tidak hentinya menatap wajah cantik itu.
" Lalu apa namanya kalau bukan modus," sahut Zahra.
" Itu bukan modus," sahut Elang.
" Terserah kamu deh," sahut Zahra.
" Apa ini maksud terserah. Apa itu artinya aku boleh mengunjunginya?" tanya Elang dengan menaikkan 1 alisnya.
Zahra mengendus dengan tersenyum lalu mengalungkan tangannya pada leher Elang dan menarik sedikit wajah Elang lebih dekat dengannya lalu mengecup bibir Elang.
" Aku juga ingin kamu mengunjunginya," ucap Zahra. Elang tersenyum dengan kata-kata Zahra.
" Mau berapa lama?" tanya Elang sembari tangannya membelai-belai pipi Zahra.
" Kamu mau menantangku?" tanya Elang. Zahra mengangkat ke-2 bahunya.
" Kamu sungguh nakal menantangku," sahut Elang yang langsung menggelitiki Zahra.
" Elang apa yang kamu lakukan. Geli Elang, Elang heli!" berontak Zahra yang menggeliat karena di gelitik oleh Elang. Elang stop, stop Elang," keluh Zahra yang tidak di beri ampun oleh Elang. Sampai akhirnya Elang menghentikannya dengan menatap wajah Zahra dalam-dalam. Napas Zahra saling memburu karena perbuatan Elang.
" Kamu benar-benar ya jahat," keluh Zahra. Elang mendekatkan wajahnya dan langsung meraih bibir Zahra.
Dengan senang hati Zahra menerima ciuman yang penuh sensasi itu bahkan mereka saling membalas dengan penuh keromantisan dan saling menikmati dengan penuh kebahagiaan dan pasti akan berlanjut pada hal-hal lainnya dan tau itu berapa lama hanya Zahra dan Elang. Siapa yang bertahan dalam permainan mereka.
*************
Hari ini Anisa dan Agam yang di temani Ratih dah Sarah pergi ke Butik untuk menjadi gaun pengantin yang akan di pakai Anisa saat pernikahan nanti.
__ADS_1
" Ini gaunnya yang cocok di pakai untuk hijab," sahut salah satu pelayan butik yang menunjukkan beberapa model gaun.
" Masyallah semuanya begitu cantik dan indah," sahut Ratih yang takjub melihat gaun-gaun itu.
" Anisa kamu coba pilih yang mana yang ingin kamu coba," sahut Sarah.
" Iya mah," sahut Anisa yang memilih-milih dan Agam juga ikut memilih-milih yang pasti dia juga punya selera yang tinggi.
" Coba yang ini aja," sahut Agam yang memilih salah satu gaun yang bervolume di bagian bawahnya gaun putih yang begitu indah.
" Pilihan Agam bagus. Coba aja dulu," sahut Ratih yang setuju dengan pilihan Agam.
" Ya sudah aku mencoba dulu. Kalau tidak cocok. Aku akan mencari yang lain," sahut Anisa.
" Pasti cocok. Seleraku mana mungkin tidak tepat," sahut Agam percaya diri. Anisa tidak menanggapi lagi apa yang di katakan Agam dan diapun langsung pergi untuk mencoba gaun itu yang di temani oleh pelayan.
" Bapak juga silahkan mencoba Jasnya," sahut pelayan yang satunya.
" Hmmm, baiklah," sahut Agam.
" Mari ikut saya," sahut Wanita itu yang langsung pergi dan Agam pun mengikutinya Ratih dan Sarah menunggu duduk di salah satu sofa yang ada di butik tersebut.
************
Anisa pun berada di ruang ganti yang sekarang mencoba gaun itu dengan Anisa yang melepas jilbabnya agar mudah memakainya. Tangan Anisa terlihat kesulitan untuk meraih res belakang itu.
" Aduh mana sih mbak itu malah pergi aja," keluh Anisa yang berusaha untuk menarik res gaun yang tak kunjung sampai itu.
Ceklek. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di buka.
" Mbak tolong bantu saya untuk meredakannya," sahut Anisa. Anisa tidak tau jika yang masuk bukan pelayan butik melainkan adalah Agam dan Agam langsung mendekati Anisa berdiri di belakang Anisa tanpa Anisa sadari.
" Mbak tolong!" titah Anisa yang tidak sadar juga dan sibuk dengan merapikan bagian tangannya. Agam pun langsung melakukan apa yang di perintahkan Anisa dengan meres memegang ujung res gaun itu dan menarik perlahan keatas. Anisa tetap tidak sadar dan membiarkan Agam melakukannya.
__ADS_1
Bersambung