
Setelah menginap 2 hari di rumah sakit akhirnya Zahra pun sudah bisa pulang. Rania, Rendy, Anisa, Agam, Ratih dan Nia ikut membantu kepulangan Zahrah.
" Akhirnya bayinya akan ikut pulang," ucap Ratih yang menggendong bayi Zahra dan Elang.
" Makasih ya Tante sudah membantu Zahra banyak," sahut Zahra yang begitu bersyukur memiliki Tante seperti Ratih
" Sama-sama Zahra, kamu ini seperti siapa saja," sahut Ratih.
" Ya sudah sebaiknya sekarang kita pulang. Aku juga menyelesaikan biasa administrasi dan juga yang lainnya," sahut Elang.
" Hmmm, Anisa Agam, kalian ikut kerumah ya. Kita makan malam sama-sama, anggap aja jamuan untuk kedatangan si kecil ini," ucap Ratih. Anisa melihat ke arah Agam. Apakah Agam mengijinkan atau tidak.
" Ya sudah tidak apa-apa. Lagian aku juga sudah lama tidak memakan masakan Tante," sahut Agam yang tampak tidak masalah.
" Ya sudah Alhamdulillah kalau begitu.
" Ya sudah sekarang ayo kita pergi," ajak Ratih. Yang lain mengangguk. Rendy merangkul bahu Rania mengajaknya juga keluar dari ruangan itu. Rania tidak banyak bicara karena merasa tidak sehat dan juga begitu lemas.
***********
Rumah Ratih terlihat ramai dengan kehadiran bayi Pria dari Elang dan juga Zahra yang di terima dengan baik di rumah itu. Mereka juga melakukan makan-makan bersama sambil bergantian menggendong bayi yang tampak sangat tenang itu.
Tetapi Rania tidak ada di sana. Rendy menyuruhnya untuk istirahat agar kondisi istrinya semakin membaik. Dan sekarang Rendy sedang mengambilkan makan untuk Rania. Karena istrinya memang belum makan sama sekali.
" Rendy bagaimana keadaan Rania?" tanya Ratih yang melihat Rendy mengisi piring dengan nasi dan lauk.
" Rania masih istirahat mah, dia tidak apa-apa!" jawab Rendy.
" Ya sudah kalau ada apa-apa nanti panggil mama ya," ucap Ratih.
" Iya ma," jawab Rendy melanjutkan pekerjaannya dan setelah itu Rendy pun akhirnya menuju kamar mereka untuk memberi Istrinya makan.
" Apa kondisi Rania semakin memburuk?" tanya Anisa.
" Rendy mengatakan semalam Rania sempat drop. Tetapi Alhamdulillah hanya sebentar dan sudah tidak apa-apa," jawab Ratih.
" Lalu apa kata Dokter?" tanya Anisa.
__ADS_1
" Rania menolak untuk ke Dokter. Dia tidak mau ke Dokter Anggi. Karena takut Rendy akan terpengaruh," jawab Ratih.
" Jika tidak ke Dokter. Lalu bagaimana untuk mengetahui kondisinya," sahut Zahra dengan wajahnya yang penuh kecemasan.
" Rania akan periksa rutin. Jika Dokter itu bukan Dokter Anggi. Dia mungkin trauma karena Dokter itu pernah membuat dia menyesal mengambil keputusan dan Rania tidak ingin mengulang kesalahan yang sama," jelas Ratih berdasarkan apa yang di ceritakan Rendy kepadanya.
" Dan Rendy menyuruhku untuk mencari Dokter yang Rania mau," sahut Elang yang ternyata sudah mendapatkan amanah dari Rendy.
" Sekarang Rania dan Rendy hanya berjuang sama-sama. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka ber-2. Mereka sudah sepakat dengan keputusan mereka. Mereka tau resikonya. Jadi Tante hanya minta pada kalian terus mendukung Rania. Jangan patahkan semangatnya. Dia tau apa yang terbaik untuknya. Walau jika boleh memilih ada sebaiknya kita mendorongnya untuk merubah keputusannya di kenaikkannya. Tetapi bukan itu yang terbaik baginya. Biarkan dia pada keputusannya dan kita harus mendukungnya memberinya semangat agar dia semakin kuat," ucap Ratih memberi arahan dengan matanya berkaca-kaca.
" Iya aku sangat tau. Rania begitu bekerja kerasa untuk kehamilannya. Jika dia saja berjuang mati-matian. Maka kita tidak punya hak untuk mematahkan semangatnya," sahut Zahra dengan wajahnya yang sendu.
" Semoga Allah memberikan Rania kekuatan yang jauh lebih besar agar dia bisa kuat dalam menghadapi semua ini," sahut Anisa.
" Amin," sahut semuanya serentak.
" Kasihan kak Rania dia terus saja mendapatkan ujian. Ya Allah jika akhirnya kak Rania harus berakhir dalam perjuangannya. Kau yakin engkau pasti sudah menempatkan surga untuknya," batin Anisa yang menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
***********
" Kamu sedang apa?" tanya Rendy duduk di samping Rania. Rania tersenyum menutup buku itu dan meletakkan di atas meja.
" Menulis surat?" tanya Rendy.
" Tadi iya. Ini," sahut Rania memberikan amplop pink untuk Rendy. " Aku menulisnya tadi, tapi sudah selesai dan yang aku tulis barusan bukan surat," ucap Rania.
" Lalu apa?" tanya Rendy.
" Hanya tulisan iseng-iseng saja," sahut Rania.
" Baiklah kalau begitu, nanti aku akan baca surat dari istriku. Tetapi sekarang ada baiknya istriku makan dulu," ucap Rendy. Rania mengangguk kepalanya dengan cepat dan Rendy langsung menyuapinya.
" Anisa dan Agam sudah pulang?" tanya Rania.
" Mereka belum pulang. Aku dengar mereka menginap di sini," jawab Rendy.
" Hmmm, begitu rupanya. Lalu bayi Zahra sudah tidur?" tanya Rania lagi.
__ADS_1
" Sudah tidur. Tetapi masih tetap di oper-oper mama dan yang lainnya," jawab Rendy yang terus menyuapi istrinya.
" Ya ampun kasihan sekali," sahut Rania dengan wajah manyunnya yang mengunyah makanan itu.
" Mau bagaimana lagi sudah seperti itu," sahut Rendy.
" Hmmm, oh iya sayang, kamu besok sibuk tidak?" tanya Rania.
" Tidak terlalu memang kenapa?" tanya Rendy.
" Hmmm, bagaimana kalau besok kita foto," sahut Rania.
" Foto," sahut Rendy heran.
" Iya kita kan tidak pernah foto, kita foto studio, out door katak prewedding gitu, yang klasik-klasik pokonya yang keren-keren," ucap Rania.
" Untuk apa?" tanya Rendy heran.
" Ya nggak untuk apa-apa. Hanya ingin foto-foto saja. Biar ada kenang-kenangan," ucap Rania yang bicara dengan lancar. Mendengar kata itu membuat Rendy melihat Rania dengan serius. Darahnya berdesir kala kata itu sampai di telinganya.
" Kenangan untuk apa Rania?" tanya Rendy dengan dada sesak yang seperti menahan sesuatu.
" Ya kenangan aja," sahut Rania dengan santai.
" Memang kamu mau kemana?" tanya Rendy.
" Mau ke surga," jawab Rania dengan cepat membuat Rendy langsung terdiam. Namun Rania langsung tertawa lebar.
" Aku bercanda," sahut Rania mengubah jawabannya. " Lagian aku tidak salah mengatakan itu bukan. Bukannya orang baik akan pasti ke surga dan aku insyallah adalah orang baik dan baik karena suamiku yang membuatku menjadi baik. Jadi pasti aku akan di tempatkan di tempat yang terbaik sama dengan kamu nantinya. Karena ketika ada yang lahir maka ada juga yang akan mati, bukannya begitu," ucap Rania yang bicara dengan santai. Namun Rendy hanya melihat dan mendengar saja istrinya yang bicara.
" Jangan membahas masalah kematian. Kamu makan lagi," ucap Rendy yang tidak mau mendengar kata-kata Rania.
" Tapi janji dulu. Besok kita akan foto," sahut Rania yang ingin kepastian.
" Iya, kita akan foto-foto," sahut Rendy membuat Rania tersenyum lebar dengan kebahagiannya yang akan melakukan sesi foto bersama suaminya besok.
Bersambung
__ADS_1