
Rania dan Rendy masih sama-sama berpelukan dengan erat. Namun di tengah pelukan itu tiba-tiba Rania merasakan sakit di bagian perutnya yang membuatnya seketika. Rasa sakit itu sempat membuatnya berdesis dengan matanya yang terpejam. Tetapi masih terlihat seperti menahannya. Rendy yang merasa ada yang aneh langsung melepas pelukan dari istrinya dan melihat Rania memegang perutnya.
" Ada apa sayang?" tanya Rendy dengan wajah paniknya dengan memegang ke- pipi istrinya yang mana sudah terdapat air mata di sana.
" Sakit, aku merasa ada sesuatu yang keluar," ucap Rania yang sampai membungkuk merasakan nyeri. Rendy semakin panik melihat kondisi istrinya tersebut.
Rania yang memang merasa kurang nyaman dan merasa ada sesuatu gumpalan keluar langsung berlari kekamar mandi..
" Sayang!" panggil Rendy yang menyusul istrinya kekamar mandi. Namun Rania menutup pintunya sampai Rendy tidak bisa masuk.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Rendy.
" Ahhhhhhh," terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi yang membuat Rendy panik dan langsung memasuki kamar mandi untuk memastikan apa yang terjadi pada istrinya dan melihat istrinya yang sudah terduduk dengan melihat darah mengalir di paha Rania.
" Sayang!" pekik Rendy panik yang langsung berjongkok di depan Rania. Melihat darah itu membuat Rendy panik dan belum lagi Rania yang menagis dan seperti ketakutan.
" Bayiku tidak apa-apa kan. Katakan jika bayiku tidak apa-apa, dia tidak apa-apa kan?" tanya Rania yang ketakutan terjadi sesuatu pada bayinya. Bahkan rasa sakit sudah tidak terasa lagi karena Rania melihat darah yang mana pikiran Rania sudah kemana-mana.
" Kita kerumah sakit, kamu tenang ya dia akan baik-baik saja," ucap Rendy yang juga harus tenang agar istrinya juga tenang. Dia tidak ingin istrinya panik. Rendy langsung menggendong Rania ala bridal style yang buru-buru keluar dari kamar mandi.
" Ma! mama! mama!" Rendy berteriak-teriak menuruni anak tangga. Ratih dan Nia langsung muncul dan shock melihat Rendy menggendong Rania dan melihat ada darah.
" astagfirullah Al Azdim, Rendy apa yang terjadi!" pekik Ratih panik.
" Tidak tau mah, ayo kita bawa Rania ke rumah sakit," jawab Rendy panik dan terus berjalan cepat keluar. Nia dan mamanya pun mengikuti dengan buru-buru.
Bahkan Nia langsung berlari untuk membukakan pintu mobil bagian belakang dan Rendy memasukkan istrinya di sana yang mana dari pintu sebelah Ratih ada di sana dan merangkul Rania langsung agar Rania bisa tenang.
Rendy dan Nia menaiki bangku paling depan dan Rendy buru-buru langsung menyetir dengan berusaha tenang. Di juga tidak mau buru-buru yang nanti justru akan membahayakan mereka semua yang ada di dalam mobil itu.
__ADS_1
" Mah, bayi Rania tidak akan apa-apa kan?" tanya Rania dengan tangisnya yang begitu takut kehilangan bayinya.
" Tidak nak, bayi kamu akan baik-baik saja. Kamu harus tenang sayang. Percaya pada mama semuanya akan baik-baik saja," ucap Ratih yang memberikan Rania kekuatan.
" Aku percaya, aku tidak sampai kehilangannya. Tidak apa-apa. Aku yang pergi. Asal jangan bayi ini," ucap Rania.
Apa yang di katakan Rania justru hanya membuat Rendy yang menyetir panik dan terus melihat dari kaca spion untuk memastikan kondisi istrinya. Dia jelas khawatir dan takut istri dan anaknya sampai kenapa-kenapa.
" Ya Allah aku mohon berikan kekuatan kepada istriku, aku mohon ya Allah," batin Rendy yang terus berdoa..
Sama dengan Nia yang juga berdoa di dalam hatinya yang pasti ingin keselamatan untuk kakak iparnya itu agar kakak iparnya tidak kenapa-kenapa.
********
Rumah sakit.
Rania akhirnya di tangani oleh Dokter yang pasti ada Rendy di sana yang juga menangani dirinya. Hal yang paling berat yang di alami Rendy selama menjadi Dokter adalah saat beberapa kali sudah menangani istrinya yang membuatnya tidak bisa profesional sama sekali.
Kanker rahim studium 3 dalam kondisi hamil bisa di katakan tua yang mana ini kondisi terparahnya Rania dan Rendy sendiri pasti sudah tau resiko-resiko apa yang akan di dapatkannya.
*********
Hampir 3 jam menangani Rania yang akhirnya tim Dokter selesai menangani Rania dan Rania sudah di pindahkan keruang perawatan.
Sementara Rendy sedang berbicara dengan Dokter di ruangan Dokter.
" Kembali lagi keputusan di tangan Dokter dan juga Bu Rania," ucap Dokter.
" Tolong Dokter, tolong istri saya. Saya sudah berjanji kepadanya untuk mempertahankan anak itu. Jadi tolong jangan memberikan pilihan itu lagi. Karena tidak mungkin saya mengingkari janji itu," ucap Rendy dengan suara seraknya.
__ADS_1
" Saya hanya Dokter yang memberikan pilihan untuk Dokter juga. Sebelumnya Dokter juga tau apa yang terjadi. Dokter juga tau bagaimana Bu Rania dan apa resikonya. Dan jika sekarang kondis semakin parah, jangankan untuk menyelamatkan nyawa Bu Rania kita juga akan kehilangan bayinya," sahut Dokter.
" Dan Dokter pasti tau sampai kapan semua ini. Kandungan Bu baru saja memasuki 22 Minggu dan Dokter mengerti maksud saya," ucap Dokter.
" Saya mengerti Dokter dan saya juga kali ini berperan bukan hanya sebagai Dokter tetapi juga sebagai suami yang mana juga harus melakukan yang terbaik dan apa yang di ingin istri saya," ucap Rendy yang tidak akan mengubah keputusannya.
" Baiklah Dok. Saya tidak bisa memaksakan keputusan Dokter. Seperti yang saya katakan Dokter tau segalanya dan tapi kali ini Bu Rania harus di rawat inap beberapa Minggu kedepan untuk memastikan kondisinya. Jika Dokter ingin kekeh mempertahankan janin di kandungan Bu Rania," ucap Dokter memberikan saran.
" Baik Dokter saya akan melakukan hal itu," jawab Rendy.
" Rania aku juga ingin melakukan yang terbaik untukmu, jika kamu terus berusaha untuk melakukan yang terbaik padaku. Maka aku juga akan melakukannya," batin Rendy yang lebih pasrah pada Allah atas semua yang terjadi.
********
Rendy keluar dari ruangan Dokter dan ternyata Ratih menunggu putranya di depan ruangan itu.
" Mah," lirih Rendy
" Apa Rania baik-baik saja?" tanya Ratih.
" Dia baik-baik saja. Rania pendarahan kecil yang dan Alhamdulillah bayinya masih selamat," ucap Rendy.
" Alhamdulillah kalau begitu. Lalu kamu kenapa nak, apa lagi yang di katakan Dokter?" tanya Ratih.
" Masih sama mah, semua saran Dokter masih tetap seperti itu. Tetapi seperti yang Rania katakan. Rendy harus menutup telinga saat dokter-dokter itu terus mengatakan hal yang sama," ucap Rendy tersenyum.
Ratih mengusap-usap pundak Rendy untuk memberi kekuatan.
" Ayo kita sholat, kita berdoa agar istri kamu terus di berikan kekuatan," ucap Ratih. Rendy mengangguk. Hanya itu yang akan menjadi penenang.
__ADS_1
Bersambung