
Suara azan yang berkumandang membuat Rania dan Rendy sudah sama-sama bangun yang pasti untuk melaksanakan sholat subuh seperti biasanya. Rendy sudah memakai sarung dan pakaian sholatnya. Namun berdiri di depan kamar mandi yang mana yang sepertinya menunggu Rania.
Suara Rania yang mual-mual membuat Rendy begitu khawatir pada istrinya itu. Tidak tau kenapa kondisi Rania memang belakangan sangat menurun. Dia sudah berhenti bekerja demi istirahat total.
Namun gejala mual-mual yang di alaminya sangat parah. Rania seperti telat mengalami masa hamil mudanya yang mana seharusnya dia mual saat-saat hamil pertama. Tetapi sudah memasuki bukan ke-4 malah mual-mual parah.
Ceklek. Rania membuka pintu kamar mandi dan Rendy melihat istrinya yang begitu lemas dan wajah itu begitu pucat.
" Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Rendy yang tidak memegang Rania. Karena wudu nya bisa batal.
" Tidak apa-apa?" jawab Rania dengan pelan.
" Yakin tidak apa-apa?" tanya Rendy panik.
" Hmmm, aku tidak apa-apa. Hanya mual-mual saja," sahut Rania.
" Ya sudah kamu istirahat aja," sahut Rendy.
" Aku akan istirahat setelah sholat subuh," jawab Rania.
" Kamu yakin bisa?" tanya Rendy tidak yakin. Namun Rania mengangguk sangat yakin.
" Kamu sholat duduk aja ya," ucap Rendy.
" Aku bisa berdiri kok," sahut Rania yang tidak akan meninggalkan ibadahnya walau dalam keadaan sakit.
" Baiklah sayang," sahut Rendy yang mengambil mukenah Rania dan langsung memberikannya pada Rania. Rania memakainya. Dia begitu lemas. Namun tetap kekeh untuk melaksanakan kewajibannya.
Setelah memakai lengkap mukenanya. Rania dan Rendy pun akhirnya melaksanakan sholat subuh. Terlihat Rania memang begitu lemas. Bahkan berdiri saja goyang-goyang dan dahinya mengeluarkan keringat yang begitu banyak.
Pandangannya pun begitu rabun. Bahkan suara lantunan ayat-ayat yang di bacakan Rendy terdengar jauh suaranya. Namun tetap Rania sholat.
__ADS_1
Setelah 2 rakaat pelaksanaan sholat itu. Rendy mengucapkan salam. Selesai mengucapkan salam. Rendy mengusap wajahnya dengan tangannya dan menengok kebelakang untuk melihat istrinya. Betapa terkejutnya Rendy yang sudah melihat Rania pingsan.
" Rania," teriak Rendy yang mendekati istrinya memegang ke-2 pipi Rania, wajah itu begitu pucat dengan bibir Rania yang memutih. Tubuh itu sangat panas dengan keringat yang membasahi Rania.
" Sayang bangun kamu kenapa? apa yang terjadi sayang?" tanya Rendy yang panik dengan kondisi istrinya.
Kepanikannya membuat Rendy langsung membuka mukenah Rania dan langsung menggendong istrinya ala bridal style keluar dari kamar dengan langkahnya yang buru-buru dan paniknya dirinya yang melihat kondisi istrinya.
Rendy menuruni anak tangga dan Nia dan Widia kaget melihat Rendy yang membawa Rania.
" Rendy kenapa Rania?" tanya Ratih yang begitu paniknya melihat menantunya yang tidak sadarkan diri itu.
" Aku tidak tau mah apa yang terjadi. Rania tiba-tiba saja seperti ini. Dia pingsan," jawab Rendy yang begitu sulit bicara karena perasaannya yang sudah bercampur-campur.
" Ya sudah ayo kita bawa Kerumah sakit," sahut Ratih yang semakin panik. Rendy mengangguk dan buru-buru membawa Rania memasuki mobil yang di setiri Nia.
Rendy memang begitu terkejut dengan keadaan Rania. Dia tidak tau kapan Rania pingsan. Mungkin saja saat masih pelaksanaan sholat dan saat itu Rendy tidak sadar.
Saking paniknya Rendy melupakan dirinya sebagai Dokter yang padahal bisa langsung memeriksa istrinya. Namun itu tidak di lakukannya dan langsung membawa istrinya ke rumah sakit untuk di tangani Dokter yang padahal dia juga yang akan menanganinya nanti.
**********
Akhirnya mereka sudah sampai di rumah sakit dan Rania sekarang sudah berada di ruang perawatan. Punggung tangannya di lilit selang infus dengan hidungnya juga yang terdapat alat pernapasan.
Rendy memang yang akhirnya menangani istrinya. Namun tidak ada yang serius. Sampai Dokter kandungan Rania ikut menanganinya dan sampai sejauh itu tidak ada yang serius.
Rendy berdiri di samping Rania dengan mengusap-usap pucuk kepala Rania dengan beberapa kali mencium kening istrinya yang belum sadar itu. Rendy sedikit lega dengan Rania yang tidak apa-apa sama sekali. Namun tetap dia begitu khawatir pada istrinya itu.
" Rendy biar mama dan Nia yang jaga istri kamu. Bukannya Dokter ingin bicara dengan kamu. Temuilah Dokter," ucap Ratih.
" Iya kak Rendy biar kami aja yang menemani kak Rania," sahut Nia yang menambahi.
__ADS_1
" Baiklah mah. Titip Rania," ucap Rendy. Ratih mengangguk. Rendy kembali mencium kening istrinya itu.
" Aku pergi sebentar ya sayang," bisik Rendy di telinga istrinya itu. Lalu pergi keluar dari ruang perawatan Rania. Ratih sangat mengerti tentang apa yang di rasakan putranya itu.
" Kenapa kak Rania tiba-tiba pingsan ya ma?" tanya Nia yang kelihatan khawatir.
" Mama juga tidak tau Nia. Tetapi belakangan Rania begitu jarang keluar dari kamar. Mama juga bingung kenapa dia seperti itu," ucap Ratih yang penuh kebingungan.
" Semoga saja kondisi kak Rania baik-baik saja. Begitu juga dengan bayinya," sahut Nia yang menatap nanar Rania yang masih tidak sadarkan diri itu.
" Amin. Kita berdoa saja yang terbaik untuknya," sahut Ratih yang mengusap-usap rambut Rania.
" Iya mah. Ya sudah Nia menghubungi keluarga kak Rania dulu ya," ucap Nia yang pamitan.
" Iya Nia, kamu bicaranya pelan-pelan ya. Supaya mereka tidak kaget," ucap Ratih menyarankan.
" Iya ma," jawab Nia mengangguk.
************
Sementara Rendy sedang menemui Dokter kandungan istrinya. Di mana Dokter dan Rendy sudah duduk berhadapan.
" Bagaimana istri saya Dokter. Apa ada sesuatu pada kandungannya?" tanya Rendy yang langsung tembak kearah sana. Karena memang merasa firasatnya yang mengarah pada sana.
" Kita lakukan pemeriksaan khusus pada rahim Bu Rania. Karena seperti yang Dokter katakan kondisi lainnya sangat normal. Untuk memastikannya kita cek rahimnya dan menunggu hasil lapnya," sahut Dokter tersebut.
" Apa akan ada hal yang serius?" tanya Rendy.
" Ya kalau dari ciri-ciri yang di alami Bu Rania. Sangat normal untuk ibu hamil. Tetapi kita tidak tau kejelasannya. Kita hanya bisa melihat dari hasil lap dan semoga saja. Tidak ada yang terjadi," jawab Dokter yang tidak bisa menjelaskan apa-apa.
" Dokter. Dokter jangan khawatir. Bu Rania tidak akan apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja," sahut Dokter yang memberikan semangat untuk Rendy. Rendy hanya mengangguk yang berusaha untuk tenag.
__ADS_1
" Ya Allah apa yang terjadi pada istriku. Kenapa perasaanku tidak enak. Ya Allah berikan lah dia kesehatan dan jauhkan dari penyakit. Berikan kesehatan kepadanya dan juga pada calon anak kami," batin Rendy yang wajahnya terlihat begitu khawatir dengan hal terburuk yang nanti akan terjadi pada istrinya.
Bersambung