
" Zahra tunggu!" panggil Elang mengejar Zahra yang ingin membuka pintu kamar. Elang jauh lebih cepat di bandingkan Zahra dan menahan Zahra untuk tidak keluar, menutup pintu berdiri di depan pintu.
" Minggir!" usir Zahra dengan Elang yang menghalangi jalannya.
" Tunggu dulu. Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Kamu tiba-tiba marah, jutek dan sekarang kata-kata kamu yang sangat tidak masuk akal. Apa maksud kamu. Bukannya sebelumnya kita baik-baik saja," ucap Elang yang membutuhkan penjelasan dari Zahra.
" Iya kamu benar sebelumnya kita memang baik-baik saja. Akan baik-baik saja jika aku tidak tau. Aku akan melakukan semuanya dengan baik. Layaknya seorang istri sampai setahun kedepan. Semua akan baik-baik saja. Karena aku masih percaya kepadamu. Tapi aku sekarang merasa. Jika aku sangat bodoh. Aku kembali berhasil di tipu oleh Pria pembohong seperti kamu," ucap Zahra yang mengeluarkan isi hatinya dengan menunjuk-nunjuk Elang.
Wajah Elang tetap memperlihatkan ekspresi kebingungan yang seolah-olah benar-benar tidak tau apa yang terjadi.
" Apa kamu katakan Zahra bicara dengan jelas," sahut Elang.
" Semua sudah jelas Elang. Jika kamu Pria penghiyanat yang tidak bisa menepati janjinya. Kamu sudah berjanji dengan Tante Ratih tidak akan berhubungan dengan Cindy selama kita menikah. Tetapi apa. Kamu tetap berhubungan dengannya!" teriak Zahra yang menunjukkan rasa kecewanya.
" Apa maksud kamu. Aku tidak berhubungan dengannya. Aku berani bersumpah, aku tidak pernah menghubunginya, komunikasi dari telpon atau wa, pesan dan sebagainya. Apa lagi menemuinya. Aku tidak mengingkari janjiku. Karena aku menghargai keluarga ini," sahut Elang membantah Zahra kepadanya.
" Kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan. Kamu pikir aku sebodoh itu. Mana mungkin aku kamu tidak berhubungan dengan Cindy. Lalu kenapa dia bisa ada di Bali!" teriak Zahra. Elang kaget mendengar kata-kata Zahra.
" Apa kamu bilang Cindy ada di Bali?" sahut Elang terlihat kebingungan.
" Jangan pura-pura bodoh Elang. Aku muak melihat wajah penuh sandiwara mu itu," sahut Elang dengan matanya berkaca-kaca.
" Apa yang kamu bicarakan Zahra. Mana mungkin Cindy ada di Bali. Sebelum aku menikah denganmu Cindy sudah terbang ke Jerman melanjutkan pendidikannya kurang lebih 1 tahun. Itu juga yang menjadi alsannku menerima syarat dari Tante Ratih dan selama pernikahan aku tidak berhubungan dengannya. Apa lagi seperti apa yang kamu pikirkan. Jika aku dan Cindy janjian di Bali. Itu sangat tidak mungkin," jelas Elang apa adanya.
__ADS_1
" Cindy ada di Jerman. Jadi maksud kamu aku salah lihat begitu. Mataku ini masih normal Elang," sahut Zahra yang tetap kekeh dengan pernyataannya.
Elang mengambil ponselnya dan mengeluarkannya memperlihatkannya pada Zahra.
" Kamu lihat ini. Aku sendiri yang memesankannya tiket ke Jerman. Lihat benar-benar. Tanggalnya kapan. Di berangkat sebelum kita menikah dan kamu lihat pesan ku dengannya. Aku tidak pernah menghubunginya sama sekali. Terakhir kali dia memberi tahu bahwa dia sampai itu kami terakhir berkomunikasi dan ke esokannya kita menikah," ucap Rendy yang menunjukkan semuanya dengan jelas.
Bahkan semua pesan yang benar-benar kosong. Dia benar-benar tidak berhubungan dengan Cindy sama sekali.
" Mana mungkin aku salah lihat," sahut Zahra yang masih membantah.
" Kamu hanya salah lihat. Cindy ada di Jerman dan mana mungkin ada di Bali," sahut Elang.
" Tidak, aku tidak mungkin salah lihat. Aku jelas-jelas melihat Cindy di Bali. Tetapi apa di katakan Elang juga benar. Cindy pergi ke Jerman dan mereka tidak berkomunikasi sama sekali. Lalu ngapain Cindy di Bali dan mana mungkin aku salah lihat," batin Zahra yang malah kebingungan sendiri.
" Zahra!" tegur Elang memegang pundak Zahra. " Percayalah kepadaku, sungguh aku tidak mengingkari janjiku. Aku tidak menghiyanatimu. Aku masih punya hati akal pikiran yang benar. Kau masih memikirkan perasaanmu. Sungguh Zahra aku tidak bohong," ucap Elang dengan lembut yang memegang ke-2 bahu Zahra meyakinkan Zahra.
" Zahra!" tegur Elang membuat Zahra melihat ke arah Elang. " Aku benar-benar tidak pernah membohongimu. Aku mohon percayalah kepadaku. Aku jelas-jelas tidak pernah berkomunikasi sedikitpun dengan Cindy. Percayalah," ucap Elang dengan tulus mengatakannya kepada Zahra.
" Aku minta maaf," sahut Zahra yang sekarang sudah tenang dan bahkan mengakui kesalahannya dan berbesar hati meminta maaf. Hal itu membuat Elang tersenyum tipis dengan menggangguk.
" Kamu sedang hamil dan aku sangat paham dengan hormon ibu hamil. Kamu hanya salah lihat dan membenarkan penglihatan kamu yang salah. Karena kecurigaan kamu kepadaku dan aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan," ucap Elang. Zahra hanya diam yang sekarang tidak bisa bicara apa-apa lagi.
" Sudah ya jangan marah-marah lagi. Semuanya sudah jelas bukan," sahut Elang. Zahra mengangguk.
__ADS_1
" Ya sudah kamu duduk sana. Aku akan mengambil minum. Suara mu sampai hilang karena marah-marah terus," ucap Elang dengan lembut. Zahra mengangguk saja. Elang mengusap-usap pucuk kepala Zahra. Lalu keluar dari kamar.
" Mana mungkin aku salah lihat. Pasti ada yang aneh. Dan jika Elang tidak tau. Berarti Cindy pergi sendirian," batin Zahra yang pikirannya menjadi bertambah.
*************
Di kamar Rania dan Rendy sama-sama mengeluarkan pakaian mereka dari dalam koper. Rania duduk di atas ranjang dan Rendy berdiri di depan lemari mengambil pakaian yang di berikan Rania kepadanya. Mereka sangat kompak dalam menyusun pakaian.
" Aku senang akhirnya keluarga kita bisa liburan bersama," ucap Rania dengan wajah tersenyum bahagianya. Rendy hanya tersenyum dengan kebahagian istrinya.
" Makasih ya sayang, kamu sudah memberikan kesempatan untuk keluarga kita sama-sama liburan bersama," sahut Rania.
" Sama-sama. Aku melakukannya. Agar kamu bahagia. Jika itu kebahagian kamu, maka aku rasa tidak ada alasan untuk tidak memberikannya kepadamu," sahut Rendy.
" Kamu sungguh yang terbaik," sahut Rania.
" Kamu juga yang terbaik," sahut Rendy.
" Hmmmm, andai mama masih hidup," sahut Rania yang tiba-tiba begitu sedih. " Aku yakin dia akan sangat bahagia. Aku jadi ingat perjuangannya yang sangat besar untuk membuatku menikah, dari pria yang satu ke yang satu. Dia selalu berusaha. Sampai akhirnya dia menitipkan ku kepadamu. Mama harus tau Pria yang di percayai nya memberikan aku banyak kebahagian. Mama juga harus tau kalau kak Willo papa itu sudah berubah. Jika mama ada di sini pasti dia sangat begitu bahagia," ucap Rania mengingat sang mama membuat matanya bergenang.
Rendy mendekati istrinya dan memeluk Rania. Di mana Rania yang tetap duduk memeluk pinggang suaminya yang berdiri.
" Mama sudah bahagia. Ada dan tidak adanya dia. Dia sudah di surga," ucap Rendy mengusap-usap pucuk kepala istrinya. Rania tersenyum dengan mengangkat kepalanya.
__ADS_1
" Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus," ucap Rania. Rendy menganggukkan matanya dengan mengusap-usap pucuk kepala istrinya.
Bersambung