
Elang semakin menjadi-jadi yang mencium bibir Zahra yang semakin dalam yang bahkan sama sekali tidak terkontrol oleh Elang. Zahra bahkan kesulitan bernapas dengan Elang yang sama sekali tidak berhenti.
Tidak sampai di situ Elang bahkan membuka pintu kamar mandi dan mendorong pelan-pelan mundur Zahra dengan ciuman yang tidak terlepas. Di mana Elang yang akhirnya membuat Zahra berada di atas tempat tidur.
Gairah, emosi, kemarahan bercampur menjadi satu yang membuat Elang tidak bisa mengontrol dirinya yang sudah menindih tubuh Zahrah dengan menciumi leher jenjang Zahra. Zahra tidak menikmati sama sekali.
Elang yang seperti itu malah membuatnya aneh dan hanya berusaha untuk menghentikan Elang. Tetapi tenaga Elang jauh lebih kuat di bandingkan dirinya.
" Kau menyakitiku Elang!" ucap Zahra dengan suara beratnya. Elang menghentikan aksinya mengangkat kepalanya dengan melihat wajah Zahra yang ternyata Zahra meneteskan air matanya.
" Aku tau aku istrimu dan dalam perjanjian tidak larangan atau harus melakukan itu. Tetapi bukan pelacur yang kau perlakukan seperti ini. Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Tetapi kau melampiaskannya kepadaku," ucap Zahra yang menatap dalam-dalam Elang.
Napas Elang naik turun. Kata-kata Zahra seakan menyadarkannya jika dia memang salah dan bahkan sangat gila yang tidak bisa mengontrol dirinya.
" Hah,hah hah," suara napas berat Elang membuatnya beralih dari tubuh Zahra dan menghempaskan di samping Zahra. Zahra memejamkan matanya dengan membuang perlahan napasnya.
" Maafkan aku Zahra," ucap Elang dengan suara beratnya. Zahra memiringkan tubuhnya membelakangi Elang dengan menarik selimut menutupi tubuhnya.
" Tidak seharunya aku melakukan itu kepadamu. Sungguh Zahra aku tidak bermaksud. Aku benar-benar minta maaf. Jika perbuatan ku menyakitimu. Aku tidak bisa mengontrol diriku dengan baik. Maafkan aku Zahra," ucap Elang lagi yang mengakui kesalahannya.
" Lupakanlah kejadian itu, sekarang mandilah. Kamu akan demam. Jika tidur dengan tubuh basah seperti itu," ucap Zahra yang memberi ingat.
" Baiklah, sekali lagi aku minta maaf," ucap Elang yang mencoba menetralkan perasaannya. Elang menarik napasnya panjang dan dan membuangnya perlahan kedepan. Melihat Zahra sebentar. Lalu bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk kembali menetralkan perasaannya.
" Apa yang terjadi padanya kenapa dia bisa seperti itu. Dia pulang dalam keadaan berantakan dan tiba-tiba seperti orang kesetanan dia benar-benar begitu sangat hancur," batin Zahra yang sangat penasaran dengan Elang.
***********
Suara air kamar mandi telah terdengar di kamar mandi Elang. Di mana Elang yang mandi di bawah guyuran shower. Pikirannya yang tidak tenang, membayangkan kebersamaannya dengan Cindy dan juga membayangkan dia dan Zahra. Apa yang terjadi barusan juga melintas di pikirannya dan bagaimana dia yang harus melampiaskan kemarahannya pada Zahra yang sama sekali tidak tau apa-apa.
Elang menggosok-gosok kepalanya dengan kuat. Dan tidak tau berapa lama dia telah berada di dalam mandi itu. Sampai akhirnya Elang selesai mandi. Elang keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian yang sudah di siapkan Zahra tadi kepadanya.
__ADS_1
Elang keluar dari kamar mandi dan melihat Zahra yang sudah tertidur. Elang berdiri di samping Zahra dengan menatap nanar wajah Zahra yang terlihat tenang. Elang lebih merasa bersalah ketika melihat wajah itu.
" Maafkan aku Zahra. Aku tidak pernah belajar dari kesalahanku dan mungkin ini karma untukku. Izinkan aku Zahra untuk memperbaiki semuanya. Mungkin ini takdir untuk kita ber-2," batin Elang yang terus melihat wajah itu.
Elang merapikan selimut Zahra dan dengan refleks dia mencium kening Zahra. Hal yang baru di lakukannya setelah mereka menikah. Kecupan di kening itu terlihat begitu berbeda yang seakan memiliki arti yang tidak bisa di jelaskan.
Setelah itu Elang pun merebahkan dirinya di samping Zahra. Perlahan memejamkan matanya yang mencoba untuk menenangkan perasaannya. Yang berharap besok pagi masalah benar-benar sudah selesai dan dia juga bisa melupakan Cindy wanita yang menghiyanatinya. Penghiyanat yang di hiyanati.
*************
Pagi hari kembali tiba. Hari yang cerah dengan sinar mata hari yang begitu cerah. Ternyata tadi malam Rendy itu membawa Rania di atas kapal.
Rania juga baru menyadari keberadaannya setelah pagi hari. Di mana sekarang pasangan suami istri itu sudah duduk di teras kapal bagian ujung di mana Rendy duduk di belakang Rania.
Biasa tadi malam habis romantis-romantisan jadi sekarang Rendy yang di belakang Rania sedang mengeringkan rambut istrinya dengan Hair Drayer. Mereka berdua terlihat romantis dengan kapal yang berjalan yang tidak tau tujuannya di mana. Yang jelas mereka berada di tengah lautan.
" Kita mau kemana?" tanya Rania.
" Hmmm, mau kesurga," jawab Rendy asal. Rania tersenyum mendengarnya, lalu menengok suaminya itu yang sibuk mengeringkan rambutnya.
" Kalau aku meminta surga dunia apa masih boleh?" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya.
" Jika itu surga makan mana mungkin tidak boleh," sahut Rania dengan mencium bibir Rendy dengan lembut.
" Kalau gitu ayo!" sahut Rendy menantang. Rania langsung tertawa.
" Kenapa apa yang lucu?" tanya Rendy.
" Kamu pantang di pancing langsung konek," sahut Rania mengalihkan pandangannya kembali kedepan.
" Jika yang memancingnya bidadari seperti ini mana mungkin tidak langsung konek," sahut Rendy. Rania hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
" Sudah selesai," ucap Rendy selesai mengeringkan rambut istrinya. Lalu dia mendekatkan dirinya pada Rania dan memeluk erat Rania dari bekang. Memeluk dengan gemas yang tidak ingin kehilangan Rania.
" Apa kamu bahagia?" tanya Rendy yang menempelkan pipinya di pipi Rania.
" Saking bahagianya. Aku tidak bisa berkata apa-apa," jawab Rania.
" Aku juga sangat bahagia," sahut Rendy, tangan Rendy mengusap perut Rania yang masih ramping.
" Dia juga menambah kebahagian kita," ucap Rendy.
" Hmmm, aku tidak sabar jika akhirnya selain menjadi istri juga akan menjadi ibu. Jika anak kita lahir aku ingin dia memanggilku ibu," ucap Rania.
" Kenapa ibu?" tanya Rendy.
" Itu akan terlihat sangat manis. Aku membayangkan di saat dia dewasa dia memanggilku ibu. Mungkin aku akan menjadi seorang wanita yang paling bahagia," jawab Rania, " Kalau kamu pengen di panggil apa?" tanya Rania.
" Jika kamu ibu maka aku akan di panggil ayah," sahut Rendy yang mencium pipi istrinya.
" Kita akan menjadi orang tua sebentar lagi," ucap Rania. Rendy mengangguk tersenyum.
" Hmmm, kamu benar, kebahagian kita akan semakin lengkap dengan kehadiran anak kita," ucap Rendy.
" Kamu sudah punya nama untuknya?" tanya Rania.
" Nama. bukannya janinnya masih kecil. Kita juga belum tau jenis kelaminnya apa," sahut Rendy.
" Tapi aku sudah punya nama untuk anak kita. Jika anaknya perempuan aku sudah menyiapkan nama," sahut Rania.
" Oh, iya apa namanya?" tanya Rendy penasaran.
" Adadeh, kamu tidak boleh tau," sahut Rania yang membuat suaminya penasaran.
__ADS_1
" Kamu ini," geram Rendy yang memeluk erat istrinya lagi semakin gemas.
Bersambung