Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 138 Kejadian Zahra dan Elang.


__ADS_3

Obat yang di minum Elang semakin bereaksi. Membuat suhu tubuhnya malah panas. Niat untuk menenangkan diri. Malah membuatnya tidak terkendalikan. Elang kembali kekamar untuk beristirahat.


Pranggg


Suara pecahan terdengar saat Elang memegang kenopi pintu yang ingin membuka pintu kamar.


" Ada apa itu," lirih Elang melihat ke arah kamar Zahra.


" Apa terjadi sesuatu padanya," batin Elang yang tiba-tiba khawatir. Elang yang terlihat begitu penasaran langsung menuju kamar Zahra yang tidak jauh dari kamarnya.


tok-tok-tok-tok.


" Zahra, kamu tidak apa-apa?" tanya Elang dengan terus mengetuk pintu.


" Tidak!" sahut Zahra dengan suara lemas dari dalam kamar. Elang yang tampak panik langsung membuka pintu kamar. Saat berdiri di depan pintu kamar betapa terkejutnya Elang saat melihat Zahra yang terduduk di lantai dengan gelas yang pecah di sampingnya.


" Zahra!" lirih Elang yang langsung menghampiri Zahra mendekati Zahra berjongkok di depan Zahra.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Elang memegang bahu Zahra. Wajah Zahra sudah begitu pucat.


" Aku hanya ingin minum. Tapi aku terlalu pusing sampai tidak bisa mengambilnya," jawab Zahra dengan napasnya yang tidak teratur. Mendadak dia memang sulit bernapas.


" Aku sudah mengatakan, kalau ada apa-apa, katakan kepadaku," ucap Elang dengan penuh khawatir.


" Tidak apa-apa," sahut Zahra memijat kepalanya yang berusaha untuk duduk. Elang yang tidak bisa melihatnya seperti itu langsung mengangkat tubuh Zahra menggendongnya ala bridal style.


" Elang apa yang kamu lakukan," sahut Zahra panik dengan mengalungkan lehernya ke leher Elang.


" Kamu sakit, kamu tidak sanggup berdiri, aku akan membantumu," ucap Elang membawa Zahra ke atas ranjang dan Zahra tidak bisa mencegah lagi. Dia pun menurutinya. Dengan perlahan Elang membaringkan tubuh Zahra ke atas tempat tidur dengan wajah mereka yang begitu berdekatan.

__ADS_1


" Ada apa denganku," batin Elang yang melihat wajah Zahra begitu intens. Namun Zahra hanya membuka, menutup matanya yang terasa lemas dan pusing. Elang menyadarkan dirinya dan menjauh dari wajah Zahra melepas tangannya dari punggung dan kaki Zahra.


" Aku akan memeriksamu!" ucap Elang. Zahra menganggukkan matanya yang memang dia butuh Dokter agar langsung bertenaga.


Elang keluar dari kamar itu untuk mengambil alat Dokternya. Tidak lama dia kembali memasuki kamar Zahra dan duduk di samping Zahra untuk memeriksanya. Kondisi Elang yang memang di pengaruhi obat semakin merasa suhu tubuhnya tidak normal. Tetapi tetap memaksakan diri untuk memeriksa Zahra.


" Kamu kenapa seperti ini?" tanya Elang.


" Aku tidak tau, aku tadi hanya menemui klien dan setelah itu aku tiba-tiba merasa tidak enak badan dan langsung memilih pulang," jawab Zahra.


" Apa yang kamu rasakan?" tanya Elang.


" Pusing, panas, dadaku juga sesak," jawab Zahra. Zahra yang meremas kemejanya yang terasa sesak, dia bahkan membuka kancing baju bagian atas, supaya bisa bernapas dengan lega.


Elang memeriksanya menggunakan steskop di bagian dada Zahra yang 2 kancing bagian atasnya terbuka. Sementara entah kenapa mata Elang terus melihat wajah Zahra. Wajah Zahra yang di penuhi keringat.


Selesai memeriksa Zahra Elang memberi Zahra obat. Zahra mengangkat kepalanya sedikit agar bisa meminum obat yang di berikan Elang padanya. Setelah obat itu masuk, Elang memberinya air putih.


Elang sedikit menunduk agar mempermudah pekerjaannya. Jarak yang dekat antara wajah Zahra dan Elang membuat Elang tiba-tiba merasakan hal yang aneh. Perasaan Elang tidak menentu. Menatap wajah Zahra dengan berbeda mengamati dengan jelas. Seakan ada gejolak di dalam hatinya yang tidak tau apa artinya.


Mata Elang pun turun pada bibir Zahra. Sementara Zahra hanya gelisah dengan kepalanya miring kesamping dan kekanan. Tidak tau apa yang ada di pikiran Elang membuat Elang memegang pipi Zahra dan bahkan mengusapnya lembut.


Zahra yang merasakan sentuhan dari Elang membuat tubuhnya menggelinjang seperti ada arus listrik yang menyetrumnya. Zahra melihat ke arah Elang dan membuat mata mereka saling bertemu.


Tidak lama menendang Elang semakin menundukkan kepalanya ke wajah Zahra, semakin mendekat dan mengecup bibir Zahra sekilas. Zahra tidak tau apa yang terjadi dengannya membuatnya diam seribu bahasa. Sementara Elang sudah semakin menjadi-jadi dengan sesuatu yang menggebu-gebu di dalam sana yang akhirnya membuat Elang kembali mencium Zahra.


Seolah mendapat izin dan tidak ada penolakan ciuman itu berlanjut dan semakin dalam. Gairah membuat ke-2nya tidak bisa terkendalikan. Mungkin ke-2nya sama-sama terpengaruh obat yang akhirnya membuat ke-2nya terbawa suasana.


Tidak tau apa yang terjadi malam itu. Kamar Zahra yang awalnya begitu rapi. Kini berantakan. Pakainnya sudah berserakan di lantai bersamaan dengan pakaian Elang.

__ADS_1


Dan Zahra menangis dengan dengan memeluk ke-2 lututnya, beberapa kali menyibak rambutnya kebelakang yang menagis masih dengan selimut. Karena Zahra belum memakai pakaian sama sekali.


Sementara Elang duduk di pinggir ranjang dengan yang membelakangi Zahra dengan memijat kepalanya. Elang juga masih dengan telanjang dada.


Elang menengok kebelakang melihat Zahra yang terus menangis dengan kehancuran yang dia dapatkan.


" Maafkan aku Zahra!" lirih Elang yang merasa bajingan yang bisa-bisanya hanya mengatakan maaf. Hati Zahra semakin hancur saat mendengar suara berat Elang yang membuat air matanya semakin deras.


" Kenapa semuanya seperti ini. Seharusnya kamu tidak ada di sini, hiks, hiks," ucap Zahra yang menagis sengugukan.


" Aku tidak tau Zahra. Jika akan seperti ini jadinya. Maafkan aku!" ucap Elang lagi.


" Apa itu artinya, semuanya sudah berantakan," sahut Zahra.


" Aku, tidak bisa mengendalikan diriku Zahra dan kami sendiri juga dalam pengaruh obat Afrodisiak, kita sama-sama tidak terkendalikan," ucap Elang.


" Jadi kamu menyalahkanku. Kamu yang kemarku, aku sudah mengatakan aku bisa sendiri tapi kamu," sahut Zahra yang bertambah marah.


" iya, kamu benar ini memang salahku. Maafkan aku, aku yang salah, aku tidak seharusnya berada di dekatmu," ucap Elang mengakui kesalahannya.


" Lalu apa maaf itu berguna sekarang?" tanya Zahra menguatkan volume suaranya.


" Aku akan bertanggung jawab. Tapi beti aku waktu," sahut Elang merasa bersalah dengan apa yang di lakukannya.


" Pergi kamu dari kamarku, pergi!" usir Zahra yang sudah benar-benar frustasi dengan apa yang terjadi padanya.


" Kenapa kamu masih di sini. Pergi dari sini!" usir Anna dengan penuh emosi


" Baiklah, aku mohon Zahra tolong kamu kendalikan diri kamu tenangkan diri kamu. Ini kesalahan ku. Aku yang bertanggung jawab untuk semua ini," ucap Elang.

__ADS_1


Zahra tidak menanggapi lagi dan Elang yang tidak mau membuat Anna semakin frustasi dia memilih keluar dari kamar itu dan Anna menangis semakin menjadi-jadi meratapi dirinya yang kehilangan kesuciannya.


Bersambung


__ADS_2