
" Tapi apa perlu mama harus mengatakan itu kepadaku. Aku tau perbuatan ku salah. Tapi aku sudah bertaubat," sahut Anisa yang pada akhirnya harus menangis.
" Nggak usah sok suci pakai bertaubat segala. Kami pikir mama tidak tau apa yang kamu lakukan hah! kamu itu sama saja dengan Agam yang begitu menjijikan. Anak tidak tau malu dan hanya membuat orang tua marah," maki Sarah dengan menunjuk-nunjuk tepat di wajah Anisa yang sama sekali tidak melihat mamanya.
" Mama lah yang jauh lebih menjijikkan," sahut Anisa dengan mengangkat kepalanya menatap tajam orang tuanya itu.
" Apa katamu!" sahut Sarah dengan darah tingginya yang naik.
" Mama yang menjijikkan, yang selalu mengaturku dan membuatku terus berbuat dosa. Mama lupa dengan perbuatan mama yang terus saja menggunakanku untuk menghancurkan rumah tangga Rania dan suaminya. Apa mama lupa melakukan itu. Dan mama harusnya sadar jika yang terjadi padaku adalah karma atas perbutan ku dan juga mama. Yang terjadi padaku adalah imbas dari kekejaman Mama," teriak Anisa yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
Plakkkkkkk Sarah langsung menampar Anisa membuat pipi itu langsung kesamping yang tertutup rambut panjang Anisa. Karena dia memang tidak menggunakan hijabnya.
" Anak kurang ajar kamu. Berani sekali kamu menyalahkan mama atas perbuatan menjijikkan yang kamu lakukan itu hah! kamu sudah mencoreng kesucian keluarga kita dengan kamu berzina dengan Pria tidak benar itu," ucap Sarah.
Anisa hanya tersenyum dengan menatap tajam mamanya, " kesucian keluarga kita sudah hilang semenjak hati busuk mama memanfaatkanku," sahut Anisa yang tidak takut pada Sarah sampai membuat Sarah naik pitam dan ingin menampar lagi.
" Anak kurang ajar!" Sarah yang ingin mengangkat tangannya untuk menampar Anisa lagi kali ini tidak mengenai wajah Anisa melainkan punggung Agam yang datang tepat waktu dan langsung melindungi istrinya yang mendapat amukan dari mertuanya itu.
" Apa yang mama lakukan. Jangan memukul istriku," tegas Agam yang sudah berdiri di depan Dania yang siap melindungi istrinya.
" Jangan memanggilku mama, aku bukan mamamu. Aku juga tidak sudi menganggapmu sebagai menantu yang sudah membuat Anisa hidup dengan pergaulan bebas," sahut Sarah yang semakin naik darah jika harus bertemu dengan Agam.
" Aku tau mama membenci aku dan juga Anisa dengan apa yang terjadi. Tapi aku mohon jangan sakiti Anisa, jika marah dan memukul maka aku yang pantas mendapatkannya," sahut Agam dengan suara rendah yang mana dia menahan emosinya dengan kata-kata mama mertuanya yang pantasnya di maki kembali.
" Cuihhh," dengan kejinya Sarah meludahinya wajah Agam. Membuat Anisa kaget. Namun Agam hanya diam dengan mata terpejam yang pasti emosi saat itu.
__ADS_1
" Jangan belagak sok suci di depanku. Kau anak brengsek yang sudah merusak hidup Anisa. Kau hadir dan merusak semua rencanaku. Kau tau kau itu tidak ada apa-apa nya di bandingkan Rendy. Karena Rendy jauh lebih baik dan pantas untuk Anisa di bandingkan laki-laki brengsek seperti kamu!" maki Sarah.
" Cukup mah!" bentak Anisa.
" Diam kamu!" sahut Sarah yang tidak kalah membentak dengan suara yang menggelegar.
" Kamu dengar Agam laki-laki kurang ajar. Anak haram itu sudah mati dan itu artinya kamu dan Anisa bercerai setelah ini. Karena dia harus bersama laki-laki yang pantas untuknya!" tegas Sarah.
Anisa dan Agam mendengar kata cerai membuat ke-2nya kaget.
" Apa yang mama bicarakan," sahut Anisa menekan suaranya.
" Kamu tidak tulikan. Jika kalian berdua harus bercerai. Karena aku tidak Sudi di jadi menjadi menantuku," tegas Sarah.
" Aku tidak menceraikan Anisa," sahut Agam.
" Tetapi aku tetap tidak akan menceraikannya," sahut Agam memastikan hal itu tidak akan terjadi.
" Terserah apa yang mau kau katakan. Aku bilang bercerai maka akan bercerai," tegas Sarah menatap Anisa dan Agam dengan tajam.
" Membatu hina," maki Sarah dan pergi dari ruangan itu.
Agam membuang napasnya perlahan dan menghadap istrinya duduk di depan istrinya dengan memegang kedua pipinya yang masih mengeluarkan air mata dan pipi itu masih memerah karena karena tamparan pertama Sarah.
" Maafkan aku. Karena aku datang terlambat," ucap Agam yang merasa bersalah. Anisa geleng-geleng dengan mengusap wajah suaminya. Masih ada bekas ludah mamanya di sana.
__ADS_1
" Aku yang minta maaf. Seharusnya ini terjadi. Maafkan aku," ucap Anisa yang merasa bersalah pada Agam.
" Tidak ini tidak salah kamu. Semua permasalahan terjadi karena aku. Jadi aku yang harus di salahkan. Kamu hanya korban," ucap Agam. Anisa yang menagis senggugukan langsung memeluk Agam dengan erat.
Dia sangat hancur kehilangan bayinya dan sekarang mamanya berkata yang tidak-tidak bahkan menghina suaminya dan lebih parahnya meludahi suaminya dan menyuruhnya bercerai. Ya lagi-lagi Anisa merasa masalah yang terjadi pada dirinya adalah sebuah karma untuknya.
************
Anisa dan Agam sama-sama menenangkan diri mereka dengan berada di atas tempat tidur yang mana Anisa berada di dada bidang Agam yang berada di sampingnya yang sama-sama rebahan dengan Agam memeluk istrinya.
" Amarah mama tidak akan padam dan dia tidak akan mengalah. Dia pasti menyuruh kita untuk bercerai," ucap Anisa yang masih menagis yang takut hal itu akan terjadi.
" Yang menikah itu kita Anisa dan yang menjalaninya adalah kita. Kamu jangan khawatir mama tidak akan melakukan itu lagi," ucap Agam yang sejak tadi hanya berusaha membuat Anisa tenang dan tidak berpikir apa-apa.
" Tapi bagaimana jika mama melakukannya lagi. Aku tidak mau bercerai dari kamu," ucap Anisa yang memang takut hal itu.
" Sama Anisa aku juga tidak ingin sama sekaki melakukan itu. Kamu jangan takut ya kita serahkan pada Allah. Kamu pikirkan kesehatan kamu dulu. Kamu harus sembuh total. Masalah mama jangan di pikirkan. Itu tidak lantas kamu pikirkan," tegas Agam.
" Aku tau bagaimana mama. Jika sudah mendapat cela akan menggunakan kesempatan itu," sahut Anisa yang masih takut-takut.
" Anisa jika mama sudah kelewatan. Aku akan bertindak. Karena kamu ini masalah rumah tangga kita yang tidak seharusnya di campuri mama. Aku akan mempertahankan apa yang harus aku pertahankan. Kamu jangan khawatir," ucap Agam yang terus menyakinkan Anisa.
" Maafkan mama ku Agam," ucap Anisa merasa bersalah.
" Ini bukan kesalahan kamu jangan berpikir apa-apa. Kamu harus tenang. Kita akan tetap menjalankan rumah tangga kita. Jika perlu kita tinggal tidak satu negara dengan mama," ucap Agam yang pasti akan melakukan apapun demi istrinya. Anisa hanya mengangguk saja dan semakin memeluk istrinya dengan erat.
__ADS_1
Bersambung