
Acara tahlilan pun selesai. Para tetangga sudah berpulangan termasuk bos Rania dan orang-orang kantor lainnya. Iren juga akhirnya menghirup udara kebebasan dan langsung pulang bersama suaminya dan juga Gilang Puttranya.
Gilang yang pulang dalam keadaan luka dia habis bertengkar dengan Rendy. Karena Rendy membela istrinya. Anisa juga pulang dengan cara tidak terhormat. Karena Rendy memberinya teguran karena terlalu memprovokasi suasana yang padahal jelas itu bukan urusan Anisa.
Ya Anisa harus pulang dengan rasa malu dan kecewa. Salah sendiri sih, ikut-ikutan dalam urusan rumah tangga orang. Tetapi tetap saja perkelahian Rendy dan Gilang tidak ada jalan tengahnya atau berdamai. Mereka bahkan tidak saling minta maaf dan Gilang sepertinya memiliki dendam terhadap Rendy.
Rumah mewah itu terasa sangat begitu berbeda. Tidak ada yang tau azal. Wanita yang selalu membela Rania pun tiada dan dia harus merasa kesepian.
Rania berdiri di teras kamarnya. Masih menggunakan pakaian yang di pakainya saat tadi pagi sampai malam, dress putih memanjang dengan lengan panjang. Namun dia sudah tidak memakai pasmina lagi. Ke-2 tangan Rania di letakkan di pagar balkon dengan suaranya yang terisak-isak.
Dia masih menangis. Masih sedih dengan kepergian mamanya. Belum lagi kejadian yang baru saja muncul di mana dia sudah kehilangan mamanya dan baru di kubur.
Gilang mantan kekasihnya kembali melecehkannya, bahkan memakinya dengan mengatai yang tidak-tidak kepadanya dan hal itu membuat Rendy dan Gilang bertengkar hebat dan kegaduhan itu membuatnya kembali di salahkan semua orang memojokkannya.
Hatinya begitu hancur yang mendapatkan banyak kehancuran sampai berkali-kali. Seakan dia tidak ada artinya di dalam dunia itu.
" Mama, lalu bagaimana setelah ini," ucap Rania terisak seakan mengadu pada papanya. Rendy yang mencari-cari Rania sedari tadi dan Della sang adik ipar memberi tahu jika Rania di kamarnya dan Rendy pun mencari Rania kekamarnya.
Rendy tidak melihat siapapun di kamar yang baru pertama kali di masukinya. Namun Rendy melihat pintu teras terbuka dan ternyata ada Rania di sana yang dia bisa melihat dari postur tubuh Rania yang membelakanginya. Bahwa Rania terlihat menangis.
Rendy pun menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu melangkah mendekati istrinya dan tiba Rendy sudah berada di samping istrinya.
" Rania!" lirih Rendy membuat Rania perlahan menghadap Rendy dan Rendy bisa melihat wajah Rania penuh air mata dengan matanya yang bengkak membuat Rendy begitu kasihan dengan istrinya itu.
" Ayo masuk, ini sudah malam, cuacanya sangat dingin kamu bisa sakit," ucap Rendy lembut.
" Apa yang harus aku lakukan. Agar mama bisa berada di surga?" tanya Rania dengan linangan air matanya.
" Tugas seorang anak adalah mendoakan orang tuanya agar di tempatkan di tempat yang baik. Di sisi Allah," jawab Rendy.
" Apa doa ku akan di terima, apa sholat, dan ibadahku akan di terima. Setelah aku lama meninggalkannya dan tiba-tiba berdoa. Apa itu akan di terima?" tanya Rania menyadari tidak pantas meminta.
" Tidak ada ibadah yang tidak di terima. Rania urusan di terima atau tidak. Itu adalah urusan Allah itu bukan urusan kita. Kita sebagaimana hanya melaksanakan kewajiban kita sebagai hambanya," ucap Rendy.
" Kalau begitu bantu aku. Aku ingin menjadi orang yang dekat dengannya, aku ingin membalas kebaikan mama dengan mengirim banyak doa padanya. Aku ingin melakukannya," ucap Rania dengan niat baik.
" Aku suamimu, itu kewajiban ku," sahut Rendy. Air mata Rania kembali jatuh mendengar kata kewajiban.
" Rania apa yang kamu miliki hanyalah sementara semuanya hanya titipan yang tidak akan kita bawa mati. Tetapi ibadah, amalan itu lah yang abadi. Itu yang akan kita bawa sampai mati. Kamu tidak pernah gagal .enjadi seorang anak. Kamu anak yang sudah memenuhi kewajibanmu memberikan kebahagian pada mamamu selama dia di dunia ini. Dan sekarang kamu juga mempunyai kewajiban untuk memberikan tempat terindah untuknya dengan cara kamu mengirimkan doa kepadanya," jelas Rendy dengan lembut memberikan arahan pada istrinya.
Rania diam dan hanya menangis yang kembali menyadari kesalahannya.
__ADS_1
" Percayalah kepadaku Rania. Kehidupan yang damai bukan karena apa yang kita miliki. Tetapi kehidupan yang damai saat kita dengan pencipta kita yang jelas juga memberikan semua yang kita mau," lanjut Rendy lagi.
Rendy mendekati Rania yang menangis senggugukan dengan perlahan tangan Rendy mendekati pipi Rania dan mengusap air mata Rania membuat tubuh Rania bergetar dengan sentuhan Rendy yang pertama kali di rasakannya.
" Kamu boleh menangis, itu hakmu. Tetapi menangis terlalu sering juga tidak baik, kamu bisa sakit. Jadi jangan menagis lagi," ucap Rendy.
Setelah Rendy menghapus air matanya tangan Rania memegang pipi Rendy. Mengusap luka di wajah Rendy menatap dengan penuh penyesalan.
" Maafkan aku," ucap Rania, " Aku sudah menyebabkan mu terluka, maafkan aku," ucap Rania. Rendy memegang tangannya yang masih memegang pipinya.
" Aku tidak apa-apa dan itu adalah tugasku untuk memberi pelajaran orang yang kurang ajar kepadamu," ucap Rendy. Tangan Rania perlahan turun ke dada Rendy. Tangan itu bisa merasakan getaran jantung Rendy dan pasti Rendy juga heran kenapa Rania melakukan itu.
" Hatimu terbuat dari apa. Kenapa kamu begitu baik kepadaku?" tanya Rania dengan menatap dalam-dalam ke-2 bola mata Rendy dan Rendy juga menatapnya.
Namun Rania yang tampak lelah, pandangan matanya mulai rabun, kakinya mulai lemas dan akhirnya Rania tergurai lemas yang ingin jatuh dan Rendy dengan sigap memeluknya menahan pinggang Rania yang hampir jatuh kelantai dan di lihatnya Rania sudah tidak sadarkan diri.
" Rania!" panggil Rendy dengan lembut. Namun mata itu memejam dengan air mata yang masih saja keluar. Rendy tidak membangunkannya lagi dan langsung menggendong Rania ala bridal style melangkah memasuki kamar dia tau Rania pasti sangat lelah sampai tubuhnya tidak kuat menerima banyaknya cobaan yang di terimanya.
Perlahan Rendy membaringkan tubuh Rania di atas tempat tidur. Melihat wajah Rania yang benar-benar sangat terpukul. Pasti Rendy sangat simpatik dengan keadaan istrinya itu. Tetapi dia bisa tau apa yang terjadi pada istrinya itu. Dia sangat memaklumi apa dengan keadaan istrinya.
Rendy pun menarik selimut sampai ke dada Rania dan melihat dalam-dalam Rania. Lalu Rendy pergi membiarkan istrinya untuk beristirahat. Dan tidak ingin mengganggunya sama sekali.
***********
Pagi ini Rendy menemani Rania Ziarah ke makam sang mama dengan menggunakan dress panjang berwarna nude dengan tangan balon yang panjang dan dengan belt merah di bagian pinggangnya membuat Rania tampil cantik dengan rambutnya yang gerai namun di berikan pasmina untuk menutup sebagian kepalanya.
Sementara Rendy hanya menggunakan kemeja putih lengan panjang yang di masukkan kedalam celana panjangnya.
Rania meletakkan boucket mawar di atas pusarah makam sang mama, menyiram mesan itu dengan sebotol air yang di bawanya dan menabur kembang di atas makam itu.
Dan Rendy yang berjongkok di sampingnya memimpin doa untuk ibu mertuanya itu yang juga Rania ikut berdoa. Mereka berdoa dengan khusyuk.
" Amin," ucap Rendy menghisap wajahnya setelah selesai mengirim do yang mana Rania juga melakukannya.
" Rania, pulang dulu ma," ucap Rania pamit pada mamanya. Dia tidak menangis lagi. Hanya matanya berkaca-kaca. Mungkin dia sudah terlalu sering menangis.
Rania ingin mengusap mesan sang mama yang ternyata bersamaan dengan Rendy yang pada akhirnya membuat tangan pasangan itu saling menimpa di mesan itu dan alhasil hal itu membuat Rania dan Rendy sama-sama saling melihat.
Pasangan itu saling menatap dengan posisi tangan yang masih sama, dengan getaran jantung di dalam sana yang tidak menentu seperti gemuruh, sangat tidak normal. Ke-2nya bisa merasakan debaran itu. Bahkan bola mata yang bertemu terlihat begitu sangat tulus. Saling memandang.
Pandangan dan sentuhan tangan itu jelas halal karena mereka adalah pasangan suami istri. 2 orang yang menikah tanpa saling mencintai dan mungkin juga belum terlalu saling mengenal. Namun terasa begitu sangat damai dan sangat tenang.
__ADS_1
Setelah selang beberapa detik saling menatap. Akhirnya mereka sama-sama saling sadar dan menjauh tangan itu dengan cepat dari mesan itu.
" Maaf," ucap Rendy.
" Tidak apa-apa," sahut Rania terlihat gugup dan Rendy juga sama terlihat canggung dan juga gugup.
" Hmmm, ya sudah ayo kita pulang," ucap Rendy mengajak Rania.
" Iya ayo," sahut Rania gugup dan ingin mengambil kanting tempat kembang tadi. Namun Rendy juga sama ingin mengambilnya dan kembali membuat ke-2nya saling melepas dari benda itu.
" Biar aku yang bawa," ucap Rendy.
" Ha, I-iya," sahut Rania salah tingkah dengan kegugupannya. Bahkan terlihat membuang napasnya perlahan yang tidak mengerti perasaannya.
" Ayo!" ajak Rendy berdiri. Rania menganggu dan menyusul Rendy yang berjalan terlebih dahulu.
" Kamu kenapa sih Rania, aneh banget," batinnya bingung dengan dirinya sendiri.
Rendy dan Rania sudah tiba di parkiran dan Rendy menghadap Rania.
" Kamu mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Rendy.
" Hmm, makan juga boleh," jawab Rania.
" Ya sudah kita makan dulu," ucap Rendy. Rania mengangguk dengan tersenyum tipis.
Mereka hanya menikmati makanan di pinggir jalan, memesan bubur ayam dan makan di dalam mobil.
Tetapi ke-2nya makan dengan sangat canggung, bahkan mereka tidak bicara sama sekali. Ya tidak tau apa yang membuat ke-2nya mendadak diam seperti itu.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk
Rania batuk-batuk dan Rendy dengan sigap mengambil botol air mineral membukakan tutupnya dan langsung memberinya pada Rania.
" Makasih," ucap Rania langsung mengambilnya dan langsung meminumnya.
" Makan pelan-pelan," ucap Rendy.
Rania mengangguk menunduk dia memang merasakan aneh dengan hari ini tampak salah tingkah jika di dekat Rendy. Padahal mereka sering bersama. Namun Rendy lebih terlihat sangat santai.
" Ya ampun Rania apa yang terjadi dengan mu kenapa kamu bisa sangat gugup seperti ini," batin Rania tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung