
Rania keluar dari kamar mandi. Sudah 2 hari Rania tidak bersama Rendy. Dia juga bisa di katakan sembuh. Tapi belum terlalu sembuh. Karena masih dalam proses penyembuhan luka.
Rania mengambil handphonenya, lalu duduk di pinggir ranjang dan menscroll ponselnya yang melihat kontak dari Rendy.
" Dia tidak pernah mengabariku. Apa di sana tidak ada singal," gumam Rania yang tampaknya merindukan suaminya tersayang.
" Tetapi mana mungkin tidak mengabari sekalipun. Apa aku tanya mama saja. Mungkin saja Rendy mengabari mama," Rania langsung berdiri memutuskan untuk menemui mertuanya untuk menanyakan ke adaan suaminya.
Rania langsung keluar kamar, menuruni anak tangga dan mencari-cari mama mertuanya. Di mana keberadaannya.
" Iya Rendy aku akan sampaikan," tiba-tiba telinga Rania mendengar suara yang menyebutkan nama Rendy dan langsung membuatnya mencari suara itu yang ternyata berasal dari dapur.
Ternyata Anisa yang sedang menelpon dan beberapa kali menyebutkan nama Rendy.
" Aku tau Rendy. Pasti kamu di sana baik-baik ya. Seharusnya memang aku membawakan lebih banyak cemilan kesukaan mu itu. Tapi waktunya mepet. Ya kamu sih memberi tahuku kelamaan," ucap Anisa dalam telponnya membuat Rania kebingungan dengan pembicaraan Anisa.
" Santai aja Rendy, kamu seperti tidak mengenalku saja. Mama dan adik kamu akan aku rawat dengan baik. Aku adalah wanita yang bisa kamu andalkan," ucap Anisa lagi membuat wajah Rania bertanya-tanya.
" Apa Rendy menghubungi Anisa. Dan kelihatan mereka mereka bicara begitu dekat apa yang mereka bicarakan sebenarnya," batin Rania yang terlihat resah.
" Baiklah, assalamualaikum," sahut Anisa yang menutup telponnya. Tersenyum dengan membalikkan tubuhnya dan melihat Rania berdiri tidak jauh darinya.
" Rania!" sapa Anisa dengan senyum manisnya, " kamu sedang apa di sana?" tanya Anisa.
" Oh. Tidak apa-apa," sahut Rania dengan penuh kebingungan. Rania membuang napasnya perlahan kedepan.
__ADS_1
" Kamu sedang menelpon Rendy?" tanyanya dengan keberanian.
" Bukan aku yang menelponnya. Tapi dia yang menelponku. Menanyakan kabarku, kabar mamanya dan berterima kasih kepadaku. Sudah menyiapkan keperluannya dan juga berterima kasih karena sudah merawat keluarganya. Dia juga mengatakan sangat beruntung sekali. Aku menginap di rumah ini. Saat dia pergi. Jadi dia tidak merasa khawatir pada keluarganya," jawab Anisa panjang lebar. Padahal Rania hanya bertanya singkat dan butuh jawaban iya atau tidak. Tetapi jawabannya sudah 1 lembar polio. Tidak tau benar atau tidak.
" Apa Rendy tidak menelponmu?" tanya Anisa. Rania diam tanpa bisa menjawab langsung.
" Wajar sih dia hanya menelponku. Aku orang yang sangat dekat dengannya. Kami sudah bersama sejak masa sekolah. Kami saling mengetahui dan saling memahami 1 sama lain," ucap Anisa yang tidak di tanya tetapi bercerita dengan banyak. Yang pasti niatnya membuat hati Rania gelisah.
" Dan makanya, kamu jangan heran. Jika aku sangat di terima baik di keluarga ini. Karena kita memang sedekat itu. Bukan hanya aku dengan Rendy. Tetapi aku dengan keluarganya dan juga Rendy dengan keluargaku," lanjut Anisa yang mempromosikan diri sendiri.
" Apa kamu menyukai Rendy?" tanya Rania memberanikan diri bertanya. Anisa tersenyum mendengar pertanyaan itu.
" Bukan hanya aku yang menyukai Rendy. Tetapi Rendy juga menyukaiku. Kami saling menyukai sejak dulu," jawab Anisa dengan menegaskan. Jelas membuat Rania kaget mendengarnya.
" Ya, tapi seperti yang aku bilang. Kami saling memahami dan saling mengerti. Walau Rendy menikah dengan mu. Aku tidak keberatan. Karena aku tau siapa Rendy. Dan Rendy hanya menjelaskan singkat saja aku sudah mengerti. Karena memang itu lah pentingnya saling memahami," lanjut Anisa lagi.
" Rania jelas Rendy menikahimu bukan karena cinta. Tapi hanya kasihan dan Rendy sangat peduli dengan kehormatan keluarga besarnya. Dia hanya tidak mau permasalahan mu dengan Gilang menghancurkan nama keluarganya dan dia berkorban untuk menikah dengan mu dan aku mengerti semuanya dan memahaminya," jelas Anisa dengan wajah seriusnya.
" Lalu apa maksudnya, kau mengerti semuanya," sahut Rania bertanya lagi.
" Ya karena Rendy menyakinkan ku. Jika pernikahan mu hanya sementara. Setelah itu dia akan mengakhirinya dan pasti kami saling menyukai, saling mencintai akan hidup bersama. Dan makanya kamu jangan heran jika aku berada di rumah ini. Karena walau tidak menikah dengan Rendy. Aku tetap dia anggap sebagai menantu," jelas Anisa membuat Rania kaget mendengarnya.
Jujur matanya sampai bergenang mendengar kata-kata Anisa dan tidak tau kenapa hatinya di dalam sana tampak tergores. Yang merasa perih seketika.
" Aku hanya meminta pada mu Rania, jangan menyiksa Rendy. Kembalikan hidupnya dengan normal. Karena dia tidak ada hubungannya dengan masalahmu. Jangan membuatnya berantakan," lanjut Anisa lagi dengan menegaskan pada Rania.
__ADS_1
" Aku rasa sudah cukup memberi penjelasan kepadamu. Status hanya sebagai istri sementara dan kau juga bukan siapa-siapa," tegas Anisa melangkah mendekati Rania yang berdiri dengan tubuh bergetar.
" Lepaskan Rendy, biarkan dia hidup tenang," ucap Anisa pergi dan menyenggol bahu Rania. Sampai Rania bergeser kesisi meja dan bahkan perutnya terkena pinggiran meja yang membuatnya langsung kesakitan memegang perutnya.
" Auhhhh," lirihnya meneteskan air matanya. Yang merasa sakit di perutnya. Juga ada di hatinya yang terasa lebih perih.
Anisa yang berada di pintu dapur membalikkan tubuhnya dan melihat Rania membungkuk menahan sakit.
" Itu pembalasan karena kemarin kau sudah mempermalukan ku. Dengan apa yang aku katakan tadi. Kau akan sadar jika kau hanya sebagai benalu di sisi Rendy. Kau sungguh tidak bisa apa-apa dan hanya menyusahkan," batin Anissa menyunggingkan senyumnya yang sangat puas dengan apa yang di lakukannya.
************
Sementara Rendy juga baru pulang dari tugasnya dan malam hari dia langsung pulang ke penginapannya. Penginapannya rumah panggung yang tidak terlalu besar yang terbuat dari kayu.
Rendy memasuki kamarnya membuka kemejanya. Rendy melihat di atas nakas kotak permen coklat yang di berikan Rania padanya. Rendy tersenyum lalu mengambil kotak itu dan duduk di pinggir ranjang.
Rendy membuka kotak itu dan melihat permen coklat yang banyak bentuk itu. Ada bulat, bentuk bunga, bentuk hati, bentuk bintang, bulan sabit dan sangat menggiurkan dan Rendy langsung mengambilnya lalu menggigit ujungnya.
" Enak," gumamnya yang terlihat sangat menikmatinya.
Rendy mengambil handphonenya di atas nakas.
" Tidak ada sinyal, bagaimana aku menghubungi mama, dan juga Rania," gumamnya yang memang kesulitan untuk menghubungi keluarganya dan istrinya.
" Apa dia sudah sembuh, apa dia sudah masuk kerja?" tanyanya penasaran dengan ke adaan Rania yang sudah di tinggalkannya 2 hari.
__ADS_1
" Hmmm, nanti saja aku menghubunginya. Aku akan mencari sinyal agar bisa berkomunikasi dengannya," batin Rendy yang memang pasti ingin menghubungi Rania untuk menanyakan keadaannya. Karena dia juga sangat berat saat meninggalkan istrinya dan ingin berbicara pada istrinya.
Bersambung