
Rendy menemui Dokter Anggi Dokter kandungan istrinya. Kemarin istrinya sudah di periksa dan hasilnya akan keluar hari ini. Rendy duduk di depan Dokter Anggi di mana mereka berhadapan dengan pembatas meja.
" Ini hasilnya Dokter," ucap Dokter Anggi yang memberikan amplop putih pada Rendy dan Rendy dengan langsung membukanya dan melihat hasilnya dengan kepalanya menunduk.
Tangan Rendy bergetar melihat hasil dari lab istrinya, napasnya seolah berhenti dengan mata yang berkaca-kaca yang terlihat schok dengan dengan apa yang di lihatnya. Rendy mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dokter Anggi yang juga terlihat sendu.
" Istri saya mengalami kanker rahim," lirih Rendy dengan suara berat suara yang tidak ingin di keluarkannya.
Dokter Anggi menganggukkan kepalanya membenarkan hasil pemeriksaan itu. Air mata Rendy langsung jatuh saat tau kenyataan yang terbesar dalam hidupnya. Selembar kertas hasil tes istrinya tersebut langsung jatuh dari tangannya dan Rendy menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan sikunya yang menempel pada meja.
" Terdapat gumpalan di rahim Bu Rania dan apa yang di alaminya belakangan ini adalah gejala dari kanker rahim dan bukan karena beliau sedang mengandung," jelas Dokter dengan singkat. Rendy mengusap kasar wajahnya yang masih tidak bisa menerima dengan apa yang terjadi pada istrinya.
" Lalu apa yang harus kita lakukan. Bagaimana caranya supaya istri saya sembuh," sahut Rendy yang begitu panik dan wajahnya penuh rasa khawatir.
" Kembali lagi Dok sembuh hanya milik sang pencipta. Namun kita hanya berusaha. Kondisi Bu Rania juga sangat parah dan parahnya karena Bu Rania sedang mengandung yang membuat kondisinya setiap saat akan menurun dan rasa sakit yang di alaminya akan semakin parah," jelas Dokter.
" Apa maksud Dokter?" tanya Rendy.
" Kita harus mengambil keputusan besar untuk kesembuhan Bu Rania dengan untuk tidak mengandung selama proses kesembuhannya," ucap Dokter dengan berat hati mengatakannya. Rendy begitu kaget mendengar pernyataan Dokter tersebut.
" Maksud Dokter, kita...."
" Hanya itu cara satu-satunya Dokter Rendy, kita harus mengangkat janin di dalam kandungan Bu Rania untuk pemulihan baginya. Jika tidak kondisi Bu Rania akan semakin parah. Kalau kita mempertahankan janin itu. Dokter Rendy bukan hanya kehilangan bayi. Tetapi juga kehilangan Bu Rania," jelas Dokter yang langsung memberikan resiko terbesarnya.
__ADS_1
Air mata Rendy kembali jatuh dengan wajahnya yang benar-benar terkejut. Dadanya semakin sesak dengan pilihan yang terberat dalam hidupnya.
" Mana mungkin Dokter, bayi itu adalah impian istri saya," sahut Rendy dengan suara seraknya.
" Semua ada di tangan Dokter dan juga Bu Rania. Keputusan ada pada kalian. Dan Dokter juga seorang Dokter yang pasti tau mana yang terbaik. Ini di sarankan untuk mencegah hal terburuk pada Bu Rania. Jika tidak kondisinya akan terus semakin parah dan Bu Rania hanya akan tersiksa," jelas Dokter Anggi yang menyarahkan semua keputusan pada Rendy.
" Saya mengerti perasaan Dokter. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya di angkat. Apa lagi ini anak pertama Dokter dan juga Bu Rania. Tapi kita hanya berserah diri pada yang kuasa jika Allah berkehendak. Jika Bu Rania sudah sembuh total. Allah pasti akan menitipkan kembali apa yang sudah di ambilnya," ucap Dokter Anggi memberikan saran dan masukan pada Rendy.
" Jika Dokter setuju maka bisa menandatangani operasi pengangkatan janin Bu Rania dan kita akan serius menangania trapi pemulihan untuk Bu Rania yang itu juga Bu Rania tidak boleh mengandung sampai dia sembuh total," jelas Dokter lagi.
Rendy hanya diam dengan deraian air matanya yang manapun yang di katakan Dokter bukanlah pilihan untuknya.
*********
Mengetahui apa yang terjadi pada istrinya. Rumah tangga mereka yang kembali di uji. Hanya Allah tempat untuk Rendy mengadukan semua yang terjadi pada istrinya.
Sampai Rendy berlutut dengan menadahkan tangannya ke atas untuk memohon petunjuk pada sang penciptanya.
" Ya Allah, kenapa harus istri hamba yang mengalami semua ini. Jangan dia ya Allah. Hamba saja. Limpahkan penyakit ke pada hamba, jangan biarkan dia merasa sakit ya Allah, biar hamba yang merasakannya. Hamba sangat mencintainya dan tidak ingin melihatnya kesakitan sedikitpun. Ujian ini sangat berat ya Allah. Hamba tidak tau apa yang terjadi nanti jika istri hamba mengetahui jika anak kami akan pergi terlebih dahulu," ucap Rendy dalam doanya yang mengadu dengan penuh Isak tangis.
" Hamba mohon ya Allah angkat penyakitnya. Hamba mohon ya Allah jangan biarkan dia merasa sakit apa-apa, biarkan hamba yang merasakan semua itu," batin Rendy yang terus berdoa.
Air matanya tidak hentinya mengalir deras, mengadu pada sang penciptanya. Rendy bersujud yang penuh dengan tangisan.
__ADS_1
**********
Lumayan sedikit tenang jika sudah meminta petunjuk pada penciptanya. Rendy memasuki kamar perawatan Rania dan melihat Rania yang sedang memakai mukena yang sedang mengaji. Rendy tersenyum melihatnya dan langsung menghampiri istrinya itu.
" Shodaqollahul Azdim," ucap Rania berhenti mengaji saat suaminya itu datang. Rendy duduk di sampingnya dan dengan mencium kening Rania lembut sambil tersenyum yang menutupi sesuatu.
" Suara kamu sangat indah saat mengaji," puji Rendy.
" Kamu, bisa saja, padahal aku tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu," sahut Rania.
" Siapa yang mengatakan hal itu. Kamu mengaji sangat indah," ucap Rendy duduk di samping Rania yang merangkul istrinya itu.
" Kamu yang mengajariku dan aku bisa seperti ini. Karena kamu," ucap Rania.
" Itu karena kamu mau belajar," sahut Rendy. Rania tersenyum dan meletakkan kepalanya di dada suaminya Rendy mengusap-usap pundak Rania yang mana sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi belum siap untuk mengatakannya.
Rania meletakkan tangan Rendy di perutnya, hal itu membuat Rendy menjadi sedih kembali.
" Aku ingin anak kita nanti menjadi anak yang Sholeh dan Sholeha. Makanya aku mengajarinya saat dia masih ada di kandunganku," ucap Rania.
" Kamu juga menginginkan hal seperti itu kan?" tanya Rania melihat kearah suaminya. Rendy mengangguk pelan.
" Rania jika Allah menghendaki itu bisa terjadi. Tetapi kembali lagi anak itu hanya titipan. Di suatu saat kita akan bisa kehilangannya," ucap Rendy yang seakan memberikan kode untuk Rania. Rania mengangkat kepalanya dan melihat suaminya yang mana terlihat mata Rendy yang bergenang yang membuat perasaan Rania menjadi tiba-tiba tidak enak.
__ADS_1
" Apa terjadi sesuatu?" tanya Rania yang seakan mempunyai firasat buruk dan dari cara Rendy bicara seakan sudah menjelaskan hal itu.
Bersambung