Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 252 Baikan dalam pelukan.


__ADS_3

Setelah mendapat pencerahan dari mamanya. Akhirnya Rendy memasuki kamar dan melihat Rania yang Merapi-rapikan tempat tidur. Rendy menutup pintu perlahan dan berdiri di depan pintu melihat kegiatan istrinya yang membuat Rania menyadari bahwa Rendy sedang melihati dirinya.


Namun Rania bingung dengan melihat Rendy dari ekor matanya yang mana Rendy yang terus melihatnya yang membuatnya juga akhirnya salah tingkah. Rendy menarik napasnya perlahan dan membuangnya kedepan, lalu melangkah mendekati Rania.


Rania sendiri yang sudah selesai beres-beres langsung berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian. Dia pun melewati Rendy begitu saja dan Rendy juga tidak melakukan apa-apa dan hanya melihat terus kegiatan istrinya di dalam kamar yang menyibukkan diri.


Rania pun kembali ingin melewati Rendy. Namun kali ini Rendy menahan tangannya dan membuat Rania berhenti di depannya.


" Kenapa tidak menegurku sama sekali?" tanya Rendy dengan lembut dengan Rania berdiri di depannya yang masih menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Rendy.


" Rania!" tegur Rendy memegang dagu Rania, mengangkatnya yang membuat wajah Rania akhirnya melihat Rendy.


" Kenapa diam?" tanya Rendy lembut.


" Bukannya kamu membenciku. Kamu marah padaku, karena keputusanku. Kamu kecewa dan membenciku. Bukan aku tidak mau menegurmu. Tapi kamu yang marah padaku dan tidak ingin bicara sama sekali kepadaku," ucap Rania dengan pelan dengan wajahnya yang begitu sedih dan mata itu bahkan berkaca-kaca.


" Apa aku ada mengatakan. Jika aku membencimu?" tanya Rendy.


" Kamu memang tidak mengatakannya. Tetapi aku bisa melihat kemarahanmu membuatmu membenciku," ucap Rania. Rendy memegang ke-2 bahu Rania dengan ke-2 tangannya.


" Kamu suudzon kepadaku. Aku memang marah, kecewa dengan keputusan kamu. Tapi aku tidak membencimu. Aku mana mungkin membenci istriku sendiri," ucap Rendy dengan lembut.


" Jika tidak marah kepadaku. Lalu apa namanya. Kemarin kamu begitu kesal kepadaku. Kamu juga tidak membaca suratku dan malah membuangnya, pergi begitu saja dan aku bangun kamu sudah tidak ada. Lalu kamu juga tidak mau melihatku apa lagi namanya jika tidak kamu pasti muak denganku," ucap Rania dengan matanya yang berkaca-kaca. Membuat Rendy mengusap-usap lembut pipi Rania dengan jarinya.


" Maafkan aku Rania jika apa yang aku katakan kemarin membuat kamu terluka. Jika sikapku membuat kamu kepikiran. Rania aku membaca suratmu dan sama sekali tidak aku buang. Maafkan aku jika hal-hal yang aku lakukan membuat kamu salah paham. Aku hanya mencoba untuk memahami semuanya dan sama sekali tidak ada sedikitpun untuk membenci istriku," ucap Rendy dengan lembut yang membuat Rania akhirnya melihat mata suaminya itu.


" Jadi kamu sudah tidak marah lagi kepadaku?" tanya Rania. Rendy mengangguk.

__ADS_1


" Meski aku benar-benar tidak akan mengubah keputusanku," ucap Rania pelan yang bicara dengan hati-hati. Rendy meraih kedua tangan istrinya dan mencium tangan itu.


" Aku bertanya dulu kepada kamu. Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Rendy. Rania mengangguk dengan cepat.


" Kamu taukan resikonya?" tanya Rendy lagi. Rania mengangguk tetap tidak akan mengubah keputusannya.


" Baiklah jika kamu benar-benar yakin. Aku tidak akan melarangnya sama sekali. Tetapi satu syaratnya," ucap Rendy.


" Apa?" tanya Rania.


" Sekecil apapun sakit yang kamu alami. Kamu harus katakan langsung kepadaku. Jangan ada yang di tutupi sama sekali. Aku tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa. Jadi aku mohon untuk menceritakan hal sekecil apapun kepadaku," ucap Rendy dengan wajahnya yang serius.


" Iya aku akan mengatakannya," jawab Rania dengan cepat.


" Kamu janji?" tanya Rendy memastikan. Rania menganggukkan kepalanya.


" Apa itu artinya. Jika nanti aku hamil. Maka akan boleh dan tidak akan ada cerita seperti kemarin?" tanya Rania memastikan. Rendy mengangguk membuat Rania tersenyum dan langsung memeluk Rendy dengan erat saking bahagianya.


" Makasih sayang, makasih dengan semua. Makasih," ucap Rania begitu bahagianya. Rendy yang memeluknya mengusap-usap punggung Rania yang pasrah dengan semuanya.


" Mungkin sudah ini takdir yang engkau berikan. Aku hanya meminta kepadamu ya Allah untuk menghilangkan rasa sakit pada istriku dan apakah aku menjadi suami yang jahat yang meminta jangan sampai istri ku mengandung," batin Rendy yang sebenarnya begitu berat menyetujui keputusan Rania.


Sampai dia berdoa agar Rania tidak hamil dan Rania berdoa agar hamil.


" Aku adalah seorang wanita. Aku akan berjuang walau sesakit apapun. Demi memberi kebahagian untuk Pria yang selalu memberiku kebahagian yang mencintaiku yang mementingkanku dari pada dirinya sendiri. Aku akan memberikan kebahagian yang banyak untukmu suamiku," batin Rania yang terus memeluk erat Rendy.


Akhirnya mereka berdamai. Saling memeluk erat melepas rindu menurunkan Ego masing-masing dan Rendy yang mengalah walau berat. Tapi dia juga tidak ingin membuat Rania sedih. Dia hanya pasrah pada ilahi dengan semua ujian yang di berikan kepada keluarga kecil mereka.

__ADS_1


***********


Anisa duduk di meja rias dengan mengikat rambutnya yang ingin memakai hijabnya. Dan Agam di yang juga sedang memakai kemejanya.


" Kamu tidak ajak mama?" tanya Agam.


" Untuk apa. Nanti mama yang ada nya bikin ulah. Lagian mama juga pasti tidak mau ikut. Karena masih sakit hati dengan Rendy yang mengusir mama, jadi biarin ajalah mama tidak usah ikut," ucap Anisa yang mulai memasang hijabnya.


" Nanti mama ngambek lagi. Kalau tidak kamu ajak," sahut Agam mengingatkan.


" Mama Memang selalu seperti itu. Soal ngambek memang pasti ada aja menjadi alasannya. Tapi Tante Ratih mengajak kita ikut untuk menambah keramaian dan memberi kebahagian. Bukan sebaliknya. Nanti kalau mama di ajak. Kalau bikin ulah. Aku yang tidak enak dengan keluarga Tante Ratih," ucap Anisa.


" Ya sudahlah terserah kamu juga. Kamu yang tau," sahut Agam yang tidak bisa berbuat apa-apa. " Lalu kalau mama nanti bertanya. Kita mau kemana kamu bilang apa?" tanya Agam.


" Bilang aja ke puncak, kalau di tanya ini itu lagi. Sudah tidak usah di jawab. Nanti ceritanya tambah panjang," ucap Anisa yang kelihatan sudah lelah dengan mamanya dan dia juga sudah hapal dengan mamanya itu.


" Baiklah, terserah kamu aja," sahut Agam. Anisa mengangguk dan melihat suaminya dark cermin.


" Kamu sudah selesai?" tanya Anisa.


" Aku tinggal Makai sepatu," jawab Agam.


" Ya sudah aku turun duluan ya. Sekalian pamit sama mama," ucap Anisa yang sudah selesai berkemas, lalu bangkit dari duduknya.


" Ya sudah, sebentar lagi aku selesai kok," sahut Agam. Anisa mengangguk dan langsung pergi keluar dari kamar terlebih dahulu.


" Hmmm, kasian Anisa, dia pasti lelah menghadapi mamanya," batin Agam yang kasihan pada istrinya tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2