Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 104. Hal manis.


__ADS_3

Rendy dan Raina memasuki kamar. Rania langsung menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti milik dia dan juga mengambil sekalian untuk Rendy. Setelah mendapatkannya. Rania langsung menghampiri Rendy.


" Kamu ganti duluan saja," ucap Rania. Rendy mengangguk dan mengambilnya. Tiba-tiba Rendy melihat ke arah jam yang mengantung di dingding yang melihat angka pukul 10 malam.


" Kamu lihat apa?" tanya Rania heran.


" Masih, jam segini ternyata," ucap Rendy yang langsung pergi kekamar mandi sementara Rania masih penuh dengan pertanyaan.


" Apa maksudnya. Kenapa dia mengatakan masih jam segini. Atau jangan-jangan Rendy memang menunggu hal itu," gumam Rania yang tampak panik dengan wajahnya yang melotot.


" Ya ampun bagaimana jika benar, Rendy menunggu hal itu. Aku harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan," Rania seketika menjadi panik.


Dari gelagat Rendy. Memang Rendy tampak memberi-beri kode pada Rania. Makanya Rania kepanikan.


Setelah bersih-bersih Rania kedapur untuk mengambil makan malam. Ya dia sama Rendy belum makan sama sekali dan Rendy meminta untuk makan di kamar. Rendy memang rada-rada manja makan pun harus di ambilkan.


Rania mengambil piring dan mengisi nasi kedalam piring.


" Kamu belum makan Rania?" tanya Ratih yang tiba-tiba datang dan datang bersama wanita bermuka 2.


" Belum ma," jawab Rania sembari mengisi piring dengan lauk.


" Lalu mau makan di mana?" tanya Anisa tampak sinis.


" Makan di kamar, Rendy minta makan," jawab Rania dengan santai.


" Memang harus makan di kamar. Apa gunanya meja makan," ucap Anisa dengan iri dan dengkinya. Rania tersenyum mendengarnya.


" Aku tidak tau kenapa. Kamu bisa tanya sama Rendy. Kenapa dia ingin minta makan di kamar," jawab Rania. Anisa hanya melihat dengan penuh kekesalan.


" Jika itu untuk Rendy, untuk kamu mana Rania kenapa hanya mengambil untuk Rendy?" tanya Ratih yang mengalihkan pembicaraan agar Anisa dan Rania tidak ribut.


" Aku sepiring dengan Rendy ma, kita kebiasaan makan bersama, jadi harus makan bersama," jawab Rania sambil melihat Anisa. Tampaknya Rania ingin memanas-manasi Anisa. Dan memang berhasil wajah Anisa terlihat marah.


" Hmmm, iya deh, namanya juga sudah menikah, ya makan sepiring itu memang bagus. Mama juga dulu seperti itu, sering makan sepiring dengan alm papanya Rendy," sahut Ratih senyum-senyum.


" Hmmm, pantesan Rendy suka minta makan sepiring ber-2. Rupanya meniru dari papa," sahut Rania yang semakin melebarkan suasana panas itu.

__ADS_1


" Hmmm, Anisa, nanti kalau kamu menikah. Kamu juga seperti itu ya. Makan sepiring dengan suami kamu," sahut Rania dengan tersenyum mengejek pada Anisa.


" Kurang ajar kamu Rania, kamu berani-beraninya menghinaku," batin Anisa menahan amarahnya. Namun tersenyum untuk menutupi kemarahannya.


" Pasti Rania, aku akan makan satu piring dengan pria yang aku cintai yang kamu juga tau siapa pria itu," sahut Anisa dengan menatap sinis.


" Ya mencintai itu jelas sangat bagus. Asal jangan mencintai suami orang," sahut Rania dengan sindiran penuh dan membuat Anisa terdiam.


" Hmmm, ya sudah ma, aku kekamar dulu. Kasian Rendy sudah menungguku!" ucap Rania.


" Iya, pergilah," sahut Ratih. Rania tersenyum melihat Anisa. Lalu pergi membawa sepiring nasi dan segelas air putih.


" Kenapa sih, dia itu selalu saja usaha untuk mendekati Rendy. Apa matanya buta. Jika aku dan Rendy sudah menikah. Seperti tidak ada laki-laki lain saja," batin Rania yang lama-kelamaan dongkol dengan Anisa.


**********


Rania sudah berada di kamar dan Rendy sedang makan duduk di atas karpet. Hanya Rendy yang makan dan Rania memang tidak makan dan itu hanya alasannya saja untuk memanas-manasi Anisa. Makanya mengatakan makan berdua. Padahal dia memang tidak lapar.


" Kamu nggak makan?" tanya Rendy yang melihat Rania duduk di depan cermin dengan memberi locion pada kulitnya.


" Acihim," tiba-tiba Rania barsim dengan menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya. Barsim berkali-kali.


Melihat istrinya seperti itu. Rendy langsung menghampiri Rania.


" Kamu pilek?" tanya Rendy. Rania mengangguk. Achim, achim. Rania kembali barsim-barsim dan Rendy langsung dengan cepat membuka laci dan mengambil obat pilex, untuk Rania.


" Kamu minum obat dulu," ucap Rendy yang langsung memberikan.


" Makasih," sahut Rania dan langsung menelannya dan Rendy juga memberi air putih untuknya.


" Ini pasti karena hujan-hujanan. Tubuhmu juga terlihat menggigil," ucap Rendy mengusap lengan Rania yang begitu dingin.


" Iya ini karena hujan," sahut Rania.


Rendy berlalu dari hadapan Rania, menuju lemari yang mana Rendy mengambil blezer rajut dengan juga syal.


Rendy langsung memakaikan pada tubuh Rania dan juga memasang syal di leher Rania.

__ADS_1


" Supaya kamu lebih enakan," ucap Rendy. Rania mengangguk saja.


" Kamu istirahat lah, agar kondisi kamu lebih baik," ucap Rendy.


" Iya, aku juga memang mengantuk," sahut Rania.


" Hmmm, tapi tunggu," ucap Aditya tiba-tiba.


" Ada apa?" tanya Rania.


" Ini bukan akal-akalan kamu kan," ucap Rendy melihat Rania dengan menaikkan 1 alisnya.


" Apa yang kamu pikirkan," sahut Rania spontan memukul lengan Rendy, karena Rendy menuduhnya tiba-tiba.


" Aku jelas pilek, aku memang tidak enak badan. Kamu pikir aku kenapa emangnya. Aku tidak alasan," sahut Rania tampak kesal.


" Aku hanya bercanda, kamu langsung marah-marah," ucap Rendy yang tersenyum puas.


" Ishhhh," desis Rania yang langsung berdiri dari duduknya dan langsung ketempat tidur merebahkan dirinya.


" Jika aku sakit, dia menolak karena hal itu. Lalu sekarang dia sedang tidak enak badan. Kalau terus seperti itu. Kapan jadinya," batin Rendy geleng-geleng dengan tersenyum. Rendy kembali melanjutkan makannya yang tertunda.


Tidak lama Rendy yang sudah selesai makan. Rendy membereskan piring-piring itu. Lalu mengecilkan suhu AC, agar Rania tidak kedinginan.


Rendy pun menaiki ranjang dan Rania memang sudah tertidur. Rendy menarik Rania kedalam pelukannya. Yang kelihatan Rendy sudah terbiasa tidur memeluk Rania. Tidak memeluk guling lagi. Rendy mematikan lampu dan mempererat pelukannya pada Rania dan sembari mencium kening Rania.


Rania ternyata belum tidur, dia malah tersenyum di pelukan suaminya itu. Apa lagi mendapat kecupan hangat di keningnya. Dia juga di peluk dan jelas dia begitu bahagia.


" Rendy, kenapa tidak melakukannya saja. Aku siap kok," batin Rania yang tampaknya sudah siap lahir batin.


Rania memang angin-anginan. Saat Rendy serius nanti. Dia malah kepanikan dan sekarang malah mengatakan siap. Aneh memang sungguh aneh.


" Ya Allah berikan kebahagian untuk aku dan istriku. Mudahkan aku dalam segala hal untuk memberikan istriku kebahagian. Wanita yang telah engkau kirim kepadaku. Mampu membuatku jatuh hati padanya," batin Rendy yang sudah mengakui perasaannya. Tapi Tuhannya lah yang menjadi teman curhatnya.


Hubungan Rendy dan Rania selama 2 bulan lebih pernikahan. Mana mungkin tidak saling jatuh cinta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2