
Masih tetap menelpon Rania, tetapi jawaban yang sama yang di dapatkan Rendy. Sampai akhirnya Rendy pun yang tidak bisa tenang sebelum istrinya pulang. Rendy mengambil sweaternya memakainya cepat dan mengambil kunci mobilnya. Mungkin Rendy akan mencari Rania yang pulang tidak biasanya.
Dengan buru-buru Rendy menuruni anak tangga dan saat membuka pintu rumah tiba-tiba Rania sudah di depan pintu yang ingin membuka pintu yang membuat Rendy terkejut. Tetapi Rendy semakin terkejut yang melihat pria yang berjalan di belakang Rania yang tak lain adalah Elang.
" Rendy!" lirih Rania. Namun Rendy diam dan masih melihat Elang yang sudah berada di belakang Rania. Rania heran dan menoleh kebelakang dan melihat Elang.
" Elang, dari mana dia, dia baru pulang juga," batin Rania yang kelihatan dia memang tidak bersama Elang.
" Rendy," sapa Elang tersenyum yang terlihat santai. Rendy melihat Elang serius dan bergantian melihat Rania. Ya tatapan Rendy membuat Rania bingung. Rendy tidak mengatakan apa-apa hanya membuang napas kasar. Lalu memasuki rumah membuat Rania bingung.
" Rendy!" panggil Rania yang langsung menyusul suaminya. Sementara Elang juga terlihat sangat bingung yang tidak mengerti. Elang menggedikkan bahunya dan langsung memasuki rumah.
Apa yang terjadi lagi. Masih di awasi Anisa. Dan apa lagi jika tidak membuat Anisa tersenyum penuh kemenangan.
Sementara Rania memasuki kamar untuk menyusul suaminya itu. Dan tidak tau apa Rendy sudah tiba-tiba mengaji dan membuat Rania tidak bisa bicara. Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Mau kemana Rendy tadi. Apa dia ingin menyusulku. Tapi aku sudah memberitahunya. Aku pulang agak telat," batin Rania yang tidak berani bicara dengan Rendy. Karena Rendy sedang mengaji dan dia tidak berani membahas masalah itu.
Rania menarik napasnya panjang-panjang lagi dan membuangnya perlahan. Lalu Rania menuju lemari, mengambil pakaiannya dan langsung kekamar mandi.
Rendy menoleh kebelakang melihat pergerakan Rania yang memasuki kamar mandi. Mungkin banyak unek-unek di dalam hati Rendy. Tidak ingin setan menguasainya dia memilih untuk mengaji agar lebih tenang dan tidak berpikir yang lain-lain. Walau tidak bisa bohong jika sebenarnya Rendy hanya menghindari pertanyaan atau perdebatan nantinya.
***********
Setelah mandi, Rania keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama dress sepanjang pahanya. Rania melihat Rendy sudah tertidur yang posisinya miring yang membelakangi Rania.
" Kenapa dia cepat sekali tidurnya. Bukannya biasanya jam segini belum tidur," batin Rania yang menatap sendu punggung suaminya itu.
Rania melangkah mendekati ranjang, duduk di pinggir ranjang dan mengambil handphonya di atas nakas yang sedang di cas. Rania melihat kembali pesan-pesan dari wa dan panggilan telon. Rania membuka pesan wa dan banyak pesan dari Rendy yang menayakannya. Namun Rania seketika terkejut.
__ADS_1
" Astaga, aku salah kirim pesan. Aku tidak mengirim pada Rendy. Kalau aku sedang Kerumah sakit. Ternyata aku mengirimnya pada Zahra. Pantasan dia masih bertanya aku kemana," batin Rania yang merasa bodoh karena salah mengirim pesan.
Rendy, aku pulangnya agak telat, soalnya mobilku mogok. Astri lagi di luar kota. Jadi dia tidak bisa membantuku. Tiba-tiba mobilku mogok saat aku pulang dari menjenguk klienku yang baru melahirkan," tulis Rania.
Pesan yang seharusnya di kirim untuk suaminya terkirim pada Zahra. Pantas Zahra tau Rania kemana. Hanya saja Zahra tidak membacakan pesan itu dengan jelas. Padahal jelas-jelas Rania menyebutkan nama Rendy.
Rania menoleh kebelakang melihat kembali punggung suaminya itu.
" Kenapa aku merasa kamu begitu dingin kepadaku. Rendy apa kamu marah. Aku pulang terlambat. Lalu kenapa tidak menegurku. Kamu langsung tidur tanpa kita bicara dulu," batin Rania.
Rania pun menaikkan seluruh tubuhnya pada ranjang dan mendekati Rendy. Rania mengintip apakah suaminya sudah tidur atau belum. Dan mata itu memang terpejam.
" Rendy!" tabur Rania lembut dengan memegang bahu Rendy. Yang tampaknya Rania ingin bicara pada Rendy.
" Rendy!" ucapnya lagi yang membangunkan suaminya itu. Dengan perlahan Rendy membuka matanya.
" Kamu kenapa cepat tidurnya?" tanya Rania.
" Ini sudah jam 11 lewat Rania. Bukannya seperti biasanya aku tidur seperti ini. Kamu pulangnya terlalu lama. Makanya kamu merasa jika ini terlalu cepat," jawab Rendy dengan suara dinginnya.
" Aku tadi hanya....!"
" Tidurlah Rania, ini sudah malam," sahut Rendy memotong pembicaraan Rania yang kelihatan tidak ingin mendengarkan Rania bicara.
" Tapi Rendy, bukannya kita harus bicara," sahut Rania.
" Aku capek. Jadi istirahatlah," sahut Rendy.
" Ya sudah," sahut Rania pasrah.
__ADS_1
Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Rania pun menggeserkan dirinya dan kembali ke posisinya, dia mengalah dan tidak ingin mengganggu Rendy. Walau Rania merasakan ada sesuatu.
Rania masih melihat Rendy yang masih tetap pada posisinya dan akhirnya Rania pun merebahkan dirinya dan memiringkan tubuhnya yang juga membelakangi Rendy.
" Kenapa tidak ingin bicara denganku," batin Rania yang merasa kecewa. Namun Rendy yang masih membuka matanya membuang napasnya perlahan.
Ekor matanya hanya menoleh kebelakang saja untuk melihat istrinya. Namun Rendy langsung berbalik badan melihat Rania yang tertidur miring dengan meringkuk dan sama sekali tidak menutup diri dengan selimut.
Rendy pun duduk dan menarik selimut menutupi tubuh Rania sampai kedadanya dan Rania menyadari hal itu. Namun tetap diam pada posisinya. Karena Rendy mengatakan capek dan pasti tidak mungkin bicara dengannya.
Tiba-tiba Rendy memeluk tubuh Rania dari belakang yang membuat Rania kaget dengan apa yang di lakukan Rendy yang tadi sangat dingin dan sekarang kembali hangat.
" Bukannya kamu juga pasti lelah. Jadi mari bicara besok. Ini waktunya untuk istirahat," ucap Rendy dengan lembut. Sampai napas Rendy menerpa telinga Rania. Rendy juga mencium pucuk kepala Rania.
" Kita tidur ya," ucap Rendy. Rania mengangguk dengan tersenyum, membalikkan tubuhnya dan memeluk Rendy, yang sekarang lengan Rendy di jadikannya bantal.
" Aku minta maaf," ucap Rania. yang merasa bersalah.
" Iya, besok kita bahas. Ayo tidur," ucap Rendy lagi. Rania mengangguk lagi dan sekarang jauh lebih tenang yang bisa tidur dengan merasa kehangatan dari Rendy.
" Aku tidak ingin ada salah paham di antara kita. Besok aku akan menceritakan semuanya. Kamu laki-laki yang baik Rendy. Aku tidak ingin menutupi apapun dari mu," batin Rania yang memejamkan matanya perlahan yang merasa sangat lega.
" Maafkan aku Rania. Aku kurang dewasa untuk menghadapi semua ini. Mungkin aku kaget dengan krikil di dalam rumah tangga kita. Sampai aku tidak berani bertindak. Aku hanya berharap kamu tidak menutupi apapun dari ku," batin Rendy yang lagi mencium kening istrinya.
Rendy adalah Pria yang sangat jarang mungkin hanya ada satu dari 1000 pria. Meski kecewa dakit hati dan pasti banyak kemarahannya dengan kejadian hari ini.
Tetapi saat menyadari sikapnya justru menyakiti istrinya membuat Rendy mengalah dan tidak tega bersikap seperti itu kepada Rania dan langsung memeluknya agar istrinya bisa tenang dan tidak memikirkan apa-apa dalam tidurnya.
Bersambung
__ADS_1