Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 159 Saling mengungkap perasaan.


__ADS_3

Raina berada di dalam kamar bersama dengan suaminya Rendy. Pasangan itu sama-sama berada di atas tempat tidur dengan Rendy yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan Rania yang berada di pelukannya bermanja di dada bidang Rendy satu tangan Rendy berada di punggung Rania yang merangkulnya dengan satu tangannya yang memegang buku.


Mereka memang membaca secara bersamaan di mana mereka membaca buku mengenai kehamilan. Sebagai Dokter sekalian Rendy juga menjelaskan. Walau dia bukan Dokter kandungan. Tetapi pasti adalah yang di ketahuinya.


" Sudah paham?" tanya Rendy melihat ke arah istrinya. Rania tersenyum mengangguk. Rendy pun mencium pucuk kepala Rania.


" Kamu mau makan sesuatu?" tanya Rendy yang menenggelamkan kepala istrinya di bawah lehernya.


" Harus makan apa lagi, mama terus saja memenuhi perutku, sampai sudah tidak bisa untuk mengkonsumsi yang lain," sahut Rania dengan wajahnya yang cemberut.


" Itu karena mama sangat khawatir kepada kamu," sahut Rendy.


" Benarkah?" tanya Rania melihat ke arah suaminya. Rendy mengangguk membenarkan apa yang di pikirkannya.


" Hmmm, kalau begitu syukurlah, jadi aku lega," sahut Rania.


" Lagian apa yang di berikan mama semuanya sehat. Rania ibu hamil itu memang akan banyak mengkonsumsi, vitamin, jamu dan lainnya," ucap Rendy.


" Memang harus seperti itu?" tanya Rania.


" Harus seperti itu," sahut Rendy membenarkan.


" Ya mau bagaimana lagi. Lagian semua itu hanya demi bayi kita dan lagian sebagai ibu harus memberikan yang terbaik pada bayinya," ucap Rania.


" Kamu benar," sahut Rendy.


" Oh, iya Rendy, aku belum ada Dokter untuk USG," ucap Rania.

__ADS_1


" Rania, nanti aku akan Carikan Dokter kandungan untuk kamu, bukan ke-2 kamu akan mulai rutinitas untuk periksa," ucap Rendy.


" Tapi Dokternya harus yang wanita ya," ucap Rania.


" Memang kenapa kalau pria?" tanya Rendy melihat ke arah istrinya.


" Ya aku tidak mau lah, perutku harus di lihat-lihat dan bahkan di pegang-pegang. Kan hanya kamu yang boleh," sahut Rania. Rendy mengendus tersenyum mendengar kata-kata Rania.


" Jadi hanya aku yang boleh?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Aku, hidupku dan seluruh tubuhku hanya milikmu bukan milik orang lain. Jadi aku tidak akan mengijinkan siapa-siapa untuk menyentuhnya atau melihatnya. Makanya kalau aku nanti sakit, suamiku harus menjadi Dokter nya. Aku tidak ingin orang lain," ucap Rania dengan memegang pipi Rendy.


" Kalau sakitnya parah, atau amit-amit Operasi kan tidak mungkin hanya dengan satu Dokter. Lalu bagaimana aku mengatasinya," ucap Rendy dengan menaikkan 1 alisnya.


" Ya kamu harus berusaha bersama Dokter wanita jangan Pria. Aku tidak mau," tegas Rania.


" Rendy makasih ya kamu sudah baik banget sama keluarga aku," ucap Rania.


" Memang apa yang aku lakukan?" tanya Rendy.


" Kemarin pas di rumah papa, aku melihatmu dan papa sholat. Jujur itu pertama kali setelah belasan tahun aku melihat papa sholat," ucap Rania dengan matanya yang berkaca-kaca.


" Benarkah?" tanya Rendy Rania mengangguk.


" Tapi itu bukan pertama kali Rania, aku dan papa jika bertemu dan kebetulan datang waktu ibadah. Kita sering sholat berjamaah. Jadi itu bukan yang pertama kali dan kamu harus tau aku tidak pernah menyuruh papa untuk sholat. Tetapi papa yang justru mengajakku dan menyuruhku imam yang sepertinya papa sedang mengujiku apakah aku memang pantas untuk menjadi menantunya atau tidak itu hal yang biasa yang di lakukan oleh mertua," ucap Rendy menjelaskan.


" Ya apapun itu aku sangat berterima kasih kepada kamu. Karena semua itu adalah karena kehadiran kamu. Rendy aku wanita yang biasa yang telah di istimewakan olehmu. Sekarang aku mengerti kata derajat itu bukan berdasarkan harta maupun tahta. Tetapi kata derajat itu mencakup seluruhnya dan kamu telah mengangkat derajatku, menjadikan ku wanita yang di hargai, kamu benar-benar imam yang di kirimkan untukku. Aku benar-benar sangat bahagia yang bisa menjadi istrimu kamu sudah tertulis dalam imam ku," ucap Rania yang dengan tulus yang mengungkap isi hatinya kepada suaminya.

__ADS_1


Rendy mendekatkan wajahnya pada Rania dengan mengusap lembut pipi Rania menatap mata Rania yang berkaca-kaca. Hatinya yang lembut memang membuat dia sangat mudah untuk menagis.


" Jika aku yang tertulis dalam imam mu, maka kamu yang juga sudah di tulis dalam Makmum ku," ucap Rendy yang dengan tulus bicara dengan menatap Rania dalam-dalam.


" Aku akan selalu menjadi makmum mu, aku akan terus mengikuti imanku, kemanapun dan apapun yang di katakannya. Aku akan terus melakukan itu," ucap Rania dengan. Rendy menganggukkan matanya dengan mencium lembut kening Rania.


" Rania kamu terus berterima kasih kepadaku. Tapi kamu harus tau aku yang jauh lebih berterima kasih kepadamu dengan semua yang kamu berikan kepadaku. Kamu bidadari yang berhati malaikat yang di hadirkan untuk mengisi kekosongan dalam hidupku. Jadi bukan kamu yang beruntung tapi aku yang bersyukur memiliki wanita seperti kamu," ucap Rendy dengan yang terus bicara lembut pada Rania.


" Aku sangat bahagia dengan pernikahan ini Rania," ucap Rendy.


" Aku juga bahagia dengan pernikahan ini," sahut Rania.


" Aku tidak pernah mencintai wanita manapun atau meletakkannya sedikitpun di hatiku. Kecuali kamu yang menjadi pertama wanita yang aku cintai dan menjadi satu-satunya yang berada di dalam hidupku," ucap Rendy lagi dengan kata-kata romantisnya.


" Aku juga telah menjadikanmu satu-satunya Pria yang ada di dalam hidupku," ucap Rania.


Rendy tersenyum dan langsung meraih Rania kedalam pelukannya. Memeluknya erat dengan penuh kebahagian yang luar biasa. Tidak ada waktu untuk tidak saling berucap cinta dan mereka sama-sama saling mengucap cinta dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang mereka dapatkan.


Ya di setiap ada keromantisan Rendy dan juga Rania di sana juga pasti ada si penguntit Anisa yang tidak puas jika tidak menguping. Tapi apa yang di dapatkannya hanya air mata yang menetes yang di dapatkannya.


Sudah berapa kali meneteskan air mata hanya demi kebahagian orang lain dan itu juga tidak pernah jera-jeranya. Ya kembali lagi semuanya akan di bawa kedalam tangisan.


Anisa menyeka air matanya dan langsung pergi dari depan kamar itu berlari menuruni anak tangga dengan mengingat kata-kata Rendy yang jelas mengatakan tidak ada wanita yang di cintainya selain Rania yang juga hanya yang pertama di cintainya yang membuat Anisa harus terluka kembali.


Salah sendiri mencintai suami orang yang hanya akan membuatnya terluka ya siapa suruh mencintai suami orang. Apa yang di dapatkan dari mencintai suami orang hanya kecewa, sakit hati dan bahkan membuat dosa semakin banyak.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2