
Rania, Rendy, Ratih, dan Zahra sedang sarapan bersama, mereka sarapan seperti biasanya.
" Kalian hari ini jadi ke pesantren Della?" tanya Ratih.
" Jadi mah, makanya Anisa harus pagi-pagi sekali ke rumah kak Willo, bantuin kak Willo ngurusi anak-anak, karena pasti kak Willo kewalahan mengurusinya," jawab Rania.
" Pak, Rudi juga jadi ikut?" tanya Ratih.
" Iya mah, papah juga ikut," jawab Rania.
" Ya sudah kamu hati-hati, Rendy kamu jaga istri kamu," ucap Ratih mengingatkan.
" Iya mah," jawab Rendy.
" Mama tidak mau ikut sekalian?" tanya Rania.
" Hari ini Nia selesai menjalankan Study tournya. Jadi mama harus jemput Rania ke Bandara. Mama tidak bisa ikut mama titip salam aja buat Della ya dan nanti jangan lupa makanan yang mama siapkan kamu berikan padanya," ucap Ratih dengan berpesan.
" Iya mah, makasih sudah peduli sama Della," sahut Anisa. Ratih mengangguk saja.
" Oh, iya kalian pulangnya malam!" tanya Ratih.
" Ya, kemungkinan memang kami akan pulang malam," sahut Rendy.
" Ya sudah kalian yang penting hati-hati aja," sahut Ratih. Rania dan Rendy mengangguk.
" Hmmm, Zahra nanti aku minta tolong sama kamu buat kerumah sakit bisa?" tanya Rendy.
" Hmmm, boleh memang mau ngapain?" tanya Zahra.
" Kamu ambilkan tumpukan berkas di meja di ruanganku, kamu bawa pulang," jawab Rendy.
" Oh, ya udah, nanti aku akan ambilkan, hanya itu saja kan?" tanya Zahra.
" Iya hanya itu saja," jawab Rendy.
" Ya sudah jangan khawatir aku akan ambilkan," sahut Zahra.
" Makasih," sahut Rendy. Zahra hanya mengangguk tersenyum.
__ADS_1
" Hmmm, oh iya Anisa di mana ya, kok aku nggak lihat dia seharian," sahut Zahra dengan penuh kebingungan.
" Ya apa mungkin masih di kamar ya, biasanya dia membantu mama memasak, tapi tadi tidak ada," sahut Ratih yang juga penuh kebingungan.
" Tadi malam sih aku melihatnya keluar rumah, tapi aku juga tidak tau di mana Anisa. Aku juga benar-benar bingung dengan," sahut Zahra. Rania dan Rendy sama-sama saling melihat ya mereka lebih tidak tau lagi di mana Anisa.
" Mungkin saja di kamar, sudah nanti mama lihat," sahut Ratih yang berpikiran positif. Yang lainnya mengangguk dan melanjutkan sarapan masing-masing.
*************
Anisa berada di dalam mobil bersama Agam. Di mana Anisa sudah kembali memakai pakaian seperti tadi malam yang lengkap dengan penutup auratnya. Wajah Anisa masih tampak kesal yang sepertinya ingin menerkam orang lain.
" Sial, kenapa aku bisa terjebak dengan dia. Bagaimana ini. Aku malah tidak pulang kerumah lagi. Bagaimana jika Tante Ratih bertanya apa yang harus aku jawab. Issshhh, mana mungkin aku mengatakan aku pergi dari rumah menangis-nangis karena Rendy dan Rania. Dan aku bertemu laki-laki brengsek ini dan membawaku kerumahnya. Issss aku masih waras aku tidak mungkin mengatakan hal gila itu," batin Anisa yang penuh kebingungan.
" Kamu kenapa?" tanya Agam melihat ke arah Anisa.
" Itu bukan urusanmu," sahut Anisa dengan ketus.
" Ohhhh, begitu, hanya bertanya langsung marah-marah," sahut Agam tetap dengan gaya santainya.
" Kenapa wanita ini begitu heboh, hanya perkara pakaiannya aku ganti dia sudah mengeluarkan caci maki dan segala nama-nama binatang belum juga aku melakukan hal-hal yang lain," batin Agam yang merasa Anisa begitu berlebihan.
***********
" Ya ampun aku senang sekali papa, kak Rania, kak Willo dan yang lainnya bisa menemuiku, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Della dengan wajahnya yang penuh kebahagian.
" Kaka juga senang Della, bisa menemui kamu," sahut Rania.
" Hmmm, apa lagi sebentar lagi Della juga akan punya keponakan," sahut Della yang begitu bahagia dengan kabar kehamilan Rania.
" Jadi maksud kamu, selama ini kamu belum punya keponakan gitu," sahut Willo.
" Nggak siapa bilang, maksudnya keponakan Della akan bertambah," sahut Della yang mengubah dengan cepat kata-katanya sebelum kalanya mengamuk.
" Sudah-sudah jangan diributin masalah keponakan, Della kamu doain saja supaya kakak kamu sehat," sahut Rudi.
" Kalau itu pasti dong pah," sahut Della yabg tersenyum penuh kebahagian.
" Oh iya Della, ini kakak juga bawain kamu makanan yang sudah di buatkan mama Ratih," ucap Rania yang langsung memberikan amanah dari sang mama.
__ADS_1
" Ya ampun Tante Ratih baik sekali mengingat Della, sampaikan ya sama mama Ratih makasih untuk semuanya," sahut Anisa.
" Iya kamu tenang saja nanti kakak akan sampaikan yang penting makanan ini harus kamu makan. Agar mama Ratih tidak kecewa dan sekali lagi mau membawakan kamu makanan," ucap Rania menegaskan.
" Pasti dong kak, ini sangat sayang jika tidak di makan," sahut Anisa. Rendy, Rania dan yang lainnya sama-sama tersenyum yang lainnya juga tersenyum. Della begitu bahagia yang mendapat kunjungan dari keluarga dekatnya yang mana pasti Della tidak menyangka dengan hal itu.
Apa lagi sebelumnya papanya juga menceritakan hubungan Rania yang semakin membaik dengan Willo. Karena Willo memang sangat banyak berubah. Jadi kebahagian Della doubel-double. Di juga harus mengakui semua itu berkat Rendy kakak iparnya yang menjadi pengaruh baik dalam kehidupan mereka.
************
Akhirnya Anisa dan Agam sampai di depan rumah Rendy. Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah itu. Anisa dengan buru-buru membual sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
" Kamu mau kemana?" tanya Agam mencegah Anisa.
" Pakai tanya lagi, ya mau kedalam lah, mau ngapain lagi," sahut Anisa kesal.
" Kamu turun begitu saja tanpa basa-basi berterima kasih gitu," sahut Agam.
" Heh, apa yang harus aku terima kasihkan. Justru aku begitu kesal dengan dirimu yang berani-beraninya kurang ajar kepadaku. Jadi tidak ada yang harus di terima kasihkan," tegas Anisa dengan penuh emosi dan langsung pergi keluar dari mobil itu.
" Kenapa sih dia itu marah-marah terus," ucap Agam geleng-geleng kepala.
***********
Anisa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu memasuki rumah dengan melihat kekiri dan kanannya yang tidak ada orang sama sekali.
" Anisa!" tegur Ratih yang berhasil menghentikan langkah Anisa. Anisa menelan salavinanya dengan Ratih yang sudah berada di hadapannya.
" Tante!" lirih Anisa.
" Kamu habis dari mana?" tanya Ratih.
" Hmmm, tadi subuh Anisa olahraga, keasyikan jadi pulangnya sampai siang," jawab Anisa dengan gugup dengan penuh kebohongan.
" Hmmm, begitu rupanya. Pantesan kamu tadi tidak ada waktu sarapan," sahut Ratih.
" Hmmm, iya Tante," sahut Anisa yang merasa lega.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu Anisa naik dulu ya Tante, mau mandi, soalnya berkeringat," ucap Anisa.
__ADS_1
" Hmmm, ya sudah naiklah, kamu juga sarapan ya," ucap Ratih. Anisa mengangguk dan langsung menaiki kamarnya yang merasa lega yang mana dia tidak di curigai sama sekali.
Bersambung