
Setelah pemotongan kue selesai mereka ber-2 melanjutkan dengan makan malam bersama semua makanan adalah kesukaan suaminya. Ke-2nya makan saling berhadapan dengan tatapan mata yang penuh dengan cinta yang sekali-kali mereka juga saling menyuapi.
" Kamu suka Supraise dari aku?" tanya Rania yang belum mendapat penilaian dari suaminya.
" Aku suka. Kamu serius mengerjakan semuanya sendiri?" tanya Rendy.
" Nggak lah, ada bantuan mama, bantuan Nia, kak Willo dan juga papa," jawab Rania.
" Sudah ku duga, syukurlah jika mereka menantumu yang artinya kamu tidak akan lelah," sahut Rendy yang memang sangat khawatir kondisi istrinya. Rania hanya menanggapi dengan senyuman atas apa yang di katakan suaminya.
Mereka melanjutkan dinner mereka. Setelah dinner Rania dan Rendy berdansa di lantai kapal dengan kelopak mawar yang berbentuk love. Ke-2nya berdansa dengan irama selow dengan Rendy memeluk istrinya dari belakang. Dagu Rendy di letakkan di bahu Rania dengan tangannya yang memeluk perut buncit Rania.
Mereka mengikuti irama dansa dengan kebahagian di wajah mereka. Rania juga beberapa kali melihat ke atas indahnya bulan di atas sana yang di kelilingi bintang.
" Aku mencintaimu!" bisik Rendy tepat di telinga Rania.
Rania mengeluarkan senyum lebarnya, " aku juga mencintaimu," jawab Rania yang begitu bahagia malam ini.
" Terima kasih sayang untuk semuanya. Kamu sedang sakit. Tetapi kamu melakukan semua ini untukku. Terima kasih!" ucap Rendy yang bahagia dengan sekalian merasa terharu.
" Sama-sama. Kamu adalah suamiku dan apa yang aku lakukan tidak ada apa-apa nya di bandingkan banyak hal yang kamu lakukan," sahut Rania.
Rania membalikkan tubuhnya, menghadap suaminya dan di lihatnya mata suaminya yang berkaca-kaca. Rania memegang pipi suaminya dengan sentuhan hangat.
__ADS_1
" Katakan kepadaku apa kamu bahagia menikah dengan ku?" tanya Rania dengan menatap intens suaminya itu menatap dalam-dalam mata itu.
" Kamu sudah tau jawabannya. Aku tidak perlu menjawabnya," ucap Rendy.
Rania menganggukkan kepalanya, " aku juga ingin mengatakan kepada kamu jika aku begitu bahagia menikah denganmu. Terima kasih suamiku. Kau telah menjadikan ku orang yang jauh lebih baik. Kau menjadikanku wanita yang meninggalkan dunianya untuk mengejar akhirat. Kau mengajarkan banyak hal dan semua kamu lakukan tidak pernah memaksaku bahkan tidak menyuruhku. Terima kasih untuk semua yang kamu berikan kepadaku. Aku sangat bahagia jika di hidupku pernah merasakan 2 tahun kebahagian menjadi istrimu dengan kedamaian hidup dan juga cinta dari mu. Makasih sudah menjadi imam yang begitu sempurna untukku," ucap Rania mengungkap isi hatinya dengan air matanya yang menetes.
Rendy hanya mengusap air mata itu. Karena bicarapun dia sudah tidak sanggup lagi.
" Maaf kan istrimu ini yang tidak sempurna. Maafkan aku yang terkadang suka marah, suka ngambek, tidak mendengar kamu apa yang kamu katakan, suka bikin kamu khawatir maafkan aku untuk semua itu," ucap Rania dengan linangan air matanya. Rendy hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
Rania meraih tangan suaminya meletakkan di perutnya.
" Hanya ini yang bisa aku berikan kepada kamu. Aku bersyukur dengan Allah yang memberiku kesempatan untuk memberimu keturunan. Jaga anak kita, dia akan menjadi penawar untuk kamu. Katakan kepadanya jika ibunya sangat mencintainya," lanjut Rania lagi.
" Kamu harus berjanji kepadaku. Jika kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Kamu maukan berjanji padaku?" Rania bertanya lagi dan hanya anggukan dengan air mata yang di berikan Rendy sebagai jawaban.
Rania mendekati suaminya dengan mencium kening suaminya dengan lembut, setelah itu Rania mencium bibir Rendy sekilas dan mata mereka saling bertemu dengan wajah yang begitu dekat hidung yang bersentuhan.
" Setelah melahirkan aku tidak akan bisa mendapatkan pahala dari melayanimu dan malam ini aku ingin melakukannya untuk hadiah ulang tahun suamiku. Setelah itu kamu juga akan mendengarkan hapalan ku yang sudah sempurna dan kita shalat tahajud untuk yang terakhir. Izinkan aku mendapatkan semua pahala itu. Karena ketika selesai melahirkan aku masa nifas yang tidak bisa melakukannya dan mungkin juga aku tidak tau masih ada atau tidak dan takut tidak sempat melakukannya. Sayang kamu maukan memberiku kesempatan untuk melakukan semuanya?" tanya Rania, Rendy lagi-lagi hanya mengangguk pelan.
Rania mengukir senyum dan langsung mencium bibir suaminya dengan ke-2nya yang pasti sama-sama menangis dengan ciuman yang lembut semakin dalam dengan penuh air mata.
Rania mungkin tau apa yang terjadi pada dirinya sampai dia benar-benar ingin melayani Rendy walau posisi hamil besar. Rania memang menyiapkan kamar di dalam kapal itu layaknya kamar pengantin baru.
__ADS_1
Di mana pasangan suami istri itu sekarang sedang memadu kasih di atas tempat tidur. Melakukan hubungan suami istri dengan penuh cinta dan juga kesedihan. Yang mana Rania yakin jika ini tugas terakhirnya.
Tidak lama saling bermesraan di dalam kamar pengantin itu. Mereka ber-2 bahkan sudah sama-sama keramas dan Rendy sekarang menyisir rambut sang istri dengan senyuman yang menggambarkan luka.
Sesuai dengan apa yang di katakan Rania. Suaminya harus mendengarkan hafalannya. Di mana Rania yang sudah bersih duduk di atas tempat tidur membaca Alquran yang di dengarkan suaminya.
Suara indah itu mampu membuat air mata Rendy terus menetes. Rania memang begitu kekeh ingin hafal Alquran dan tidak menyangka dia memang bisa hafal selama 2 tahun, selama menikah dengan suaminya. Dia banyak belajar kehidupan yang di iringi dengan pendalaman Agama dan lagi-lagi semuanya tanpa di suruh atau di paksa Rendy .
Hafalan itu selesai di perdengarkan Rendy. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Di mana mereka berdua melanjutkan dengan sholat tahajud. Rendy mengimami istrinya yang Rania memang sholat harus duduk. Karena hamil tua berdiri tidak mampu.
Air mata pasangan suami istri itu mengiringi 2 rakaat sholat malam itu yang biasa mereka lakukan. Sampai salam di ucapkan dan Rendy pasti akan berdoa setelah selesai sholat. Mengadahkan tangan ke atas meminta kepada penciptanya.
" Aku pasrahkan ya Allah semuanya kepadamu. Aku dan istriku sudah berusaha semampu kami. Hanya engkau yang tau apa yang terbaik. Jika ke Ikhlasan ku adalah kebahagiannya. Maka aku ikhlas," ucap Rendy dalam doanya yang di lantunkan di dalam hatinya.
Rendy mengucap amin dengan mengusap wajahnya dengan tangannya. Lalu berbalik untuk mencium istrinya.
Rendy di kagetkan dengan Rania yang sudah terbaring miring di atas sajadahnya yang membuat Rendy panik dan mendekati Rania.
" Sayang," ucap Rendy membangunkan Rania yang wajah itu pucat dan terlihat darah keluar dari hidungnya.
" Sayang bangun! sayang! sayang!" Rendy dalam tangisnya membangunkan Rania.
" Rania!!!!!!!!" teriak Rendy
__ADS_1
Bersambung