
Hari-hari berlalu dan akhirnya setelah melakukan kesepakatan dan akhirnya ada pertemuan keluarga besar Gilang dan Rania setelah 2 kali di tunda dan pasti karena sang mama yang masih ragu dengan Rania yang akan menjadi menantunya.
Dan akhirnya malam ini adalah momen tepat untuk melaksanakan pertemuan ke-2 yang berharap akan ada membahas ke arah pernikahan. Karena memang seharusnya dari pertemuan pertama yang seharusnya menjadi lamaran.
Tetapi tidak. Malah menjadi tanya jawab dan malam mempermalukan Rania. Tetapi sekarang semoga semuanya benar-benar aman-aman saja dan tidak ada lagi acara tanya jawab yang memojokkan Rania dan membuat Iren calon mertuanya menerimanya apa adanya.
Hari ini Gilang, Iren, Jaya, Rendy Tania, Ratih, Zahra dan Anisa juga ikut. Dari pertemuan pertama hanya Oma Wati yang tidak itu, karena sedang tidak enak badan.
Sebenarnya Anisa sudah enek untuk ikut. Tetapi dia penasaran untuk melihat hasil pertemuan keluarga itu.
Dia juga ingin Gilang cepat-cepat menikah dengan Rania. Agar Rania tidak punya kesempatan untuk dekat-dekat dengan Rendy. Walau belakangan Anisa di buat panas dengan Rania yang dekat dengan Rendy dan pasti dengan kejadian yang beberapa hari yang lalu.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu dengan beberapa macam kue yang di hidangkan di meja dan juga minuman sebagai jamuan orang-orang yang berkunjung Kerumah besar itu.
Yang pasti ada Faridah, Rudi, Rania, Della dan pasti Willo juga ada dalam penyambutan tamu itu yang mungkin Willo hanya ingin mencari informasi saja dalam pertemuan itu. Dia memang pasti menginginkan Rania jauh-jauh dari hidupnya.
Tetapi di sisi lain juga pasti ada rasa dengki di dalam dirinya yang jika Rania akan menikah yang mungkin Rania akan bahagia melihat adiknya bahagia. Mungkin menjadi petaka untuknya.
Begitulah kalau sudah memiliki sifat dengki dan iri hati. Jadi tidak akan pernah bisa tenang saat melihat orang lain bahagia.
Terlihat Iren, Faridah, Rudi, Ratih, dan Jaya berbicara serius dan yang lainnya hanya menyimak saja. Dan Rania pasti dek-dekan dengan hasil pembicaraan kali ini. Walau dia tidak berharap banyak. Tetapi apa salahnya dia juga berharap siapa tau harapannya terwujud.
" Jadi apa kita sudah bisa menentukan tanggal pernikahannya?" tanya Faridah yang sudah banyak bicara sedari tadi dan pasti Iren juga sudah banyak bicara dan syukur-syukur kali ini Rania sangat tepat menjawabnya dan tidak terjadi seperti pertemuan awal.
Iren diam sejenak dan melihat ke arah suaminya bergantian ke arah Ratih dan juga Gilang yang mana mereka semua mengangguk.
" Iya baiklah, kita tentukan saja tanggal pernikahannya," sahut Iren yang membuat semua orang bernapas lega yang akhirnya Iren memberi restu pernikahan itu tanpa banyak bicara lagi.
Rania dan Gilang saling melihat tersenyum tipis. Pasti Rania tidak percaya dengan hari yang pernikahan yang mungkin impian setiap wanita. Tetapi Rania tidak mau terlalu mengkhayal tinggi dulu. Karena takut seperti yang sebelum-sebelumnya pernikahan yang tidak jadi di lanjutkan.
__ADS_1
Tetapi kali ini mungkin akan berhasil karena orang tua Gilang banyak memberinya pertanyaan dan mungkin orang tua Gilang benar-benar sudah menerimanya.
" Della ayo sayang ambil kalender!" perintah sang mama.
" Iya ma," jawab Della tersenyum dan berdiri untuk mengambil kalender.
" Semoga semuanya benar-benar diberi kelancaran," batin Rania yang di penuhi banyak harapan.
" Akhirnya mama bisa luluh juga dan memberikan restu untuk pernikahan ini," batin Gilang yang juga ikut bahagia.
" Apa dia merasa sudah menang dengan pernikahan itu. Baru juga penentuan tanggal sudah sesenang itu. Lalu bagaimana nasib selingkuhannya ini," batin Willo tampak sinis dan melihat ke arah Rendy yang menanggapi biasa saja karena Rendy juga tidak peduli.
" Tapi belum tentu sih, dia akan menikah dengan Gilang. Siapa tau aja. Keluarga Gilang masih ragu," batin Willo yang terus berdoa yang jelek-jelek.
" Syukurlah. Jika Rania dan Gilang menikah. itu berarti memang Rendy tidak akan dekat-dekat lagi dengan Rania," batin Anisa yang mencari keuntungan tersendiri.
Tidak berapa lama akhirnya Della sang adik datang juga dan akhirnya Della pun memberikan kalender untuk penentuan tanggal pernikahan itu.
" Baiklah, akhirnya kita sepakat pernikahan itu akan di adakan, 3 Minggu berikutnya," sahut Faridah memutuskan setelah melakukan diskusi beberapa kali.
" Hmmm, baiklah jika begitu. Semoga saja harinya lancar, dan tidak terjadi sesuatu," sahut Iren yang tampak belum lewes memberikan restu.
" Amin," sahut semuanya serentak.
" Akhirnya, Rania menikah juga. Semoga saja Gilang memberinya kebahagian, semoga semuanya lancar sampai harinya tiba," batin Faridah. yang ikut bahagia dengan pernikahan putrinya.
Rania melihat ke arah Zahra dan Zahra langsung tersenyum lebar.
" Selamat," ucap Zahra tanpa suara dan Rania menganggu menerima ucapan selamat itu.
__ADS_1
" Syukurlah, jika tanggal pernikahan Rania dengan Gilang tinggal sebentar lagi. Jadi Rendy dan Rania tidak punya perlu dekat-dekat lagi ," batin Anisa lagi yang juga senang dengan pernikahan itu. Ya pasti karena ada maunya.
" Kali ini aku berharap. Benar-benar di berikan kelancaran. Jika Gilang memang di takdirkan untuk .enjadi suamiku maka berikanlah kelancaran tanpa ada hambatan," batin Rania tersenyum tipis yang juga terus berdoa.
" Willo, aku mohon jangan ceraikan aku, Willo sayang, aku mohon tetap bersamaku," tiba-tiba terdengar suara Pria yang tampak bicara dengan suara yang tidak jelas.
Membuat semua orang kaget dan serentak melihat ke arah suara tersebut yang melihat Bram yang memasuki rumah dengan sempoyongan dan dengan memegang botol minuman beralkohol di tangannya yang bisa di tebak jika Bram sedang mabuk karena berjalan saja sudah tidak beres.
Mata yang melihatnya begitu kaget dan sampai tamu-tamu Farida berdiri melihat pemandangan yang sangat tidak bermoral itu.
" Astagfirullah Al azdim," sahut mereka mengucap Istighfar melihat perbuatan dosa di depan mata mereka.
Bagi keluarga Rendy hal itu memang sangat lazim. Karena mereka hidup dengan agama yang sangat kental dan hal-hal seperti itu sangat jauh dari hidup mereka.
" Mas Bram," batin Willo yang schok melihat suaminya.
" Kenapa suaminya. Kak Willo sampai mabuk seperti itu," batin Rania yang benar panik. Dia juga langsung melihat ekspresi Iren yang schok
" Ya ampun kak Brama. Kenapa juga harus datang di waktu yang salah," batin Della yang ikutan panik dengan apa yang terjadi.
" Astaga, Bram, kenapa kamu sampai seperti ini. Kenapa kamu harus datang di waktu yang salah," batin Faridah yang khawatir semua ini akan mempengaruhi pernikahan putrinya.
" Siapa laki-laki ini. Willo, bukannya itu kakaknya Rania," batin Anisa penasaran.
" Willo, aku berjanji tidak akan berselingkuh lagi," sahut Bram dengan suara mabuknya yang semakin mendekati ruang tamu. Membuat aroma alkohol semakin menyengat dan Para tamu itu harus mengipas-ngipas hidung mereka.
" Siapa itu kak?" tanya Tania memegang lengan Zahra yang tampak takut dengan apa yang di lihatnya. Karena memang dia tidak pernah berhadapan dengan orang mabuk.
" Kakak juga tidak tau," jawab Zahra pelan yang memang tidak mengenali Bram.
__ADS_1
" Bram, apa yang kamu lakukan. Kamu tau tidak di mana tempat kamu," sahut Farida dengan menggertakkan menantunya itu.
Bersambung