Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 41 hal yang menyedihkan.


__ADS_3

" Apa ada orang di sini?" tanya Rania lagi sedikit menguatkan volume suaranya. Tidak ada yang menjawab. Tetapi langkah kaki itu semakin dekat. Wajah Rania terlihat panik dan Rania langsung melangkah dengan cepat menghentikan pekerjaannya di saat dia benar-benar ketakutan.


Rania berjalan di gudang yang lumayan besar itu seperti di kejar-kejar. Langkahnya semakin cepat dan memang seperti ada yang mengikutinya yang membuatnya kepanikan.


" Siapa, itu," batinnya yang terus melangkah dengan cepat. Dengan cepat juga Rania menolehkan kepalanya melihat apakah ada atau tidak orang di belakangnya. Ternyata memang benar-benar kosong dan membuat Rania semakin panik.


" Kenapa tidak ada orang padahal, aku jelas mendengar suara langkah kaki," batin Rania mengusap lehernya. Ketika bulu kuduknya merinding. Rania langsung kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat.


Dia semakin berjalan cepat dan sekitar 7 meter lagi. Pintu gudang itu sudah di depan matanya dan dengan cepat saat dia merasa lega karena sudah dekat dengan pintu.


Brakk.


Pintu gudang itu terbuka lebar membuat Rania tersentak kaget dan lebih kagetnya lagi ketika yang membuka pintu adalah Bram yang tak lain kakak iparnya.


" Mas Bram," ucap Rania dengan wajah kagetnya. Bram tersenyum dengan seriangi nakal di wajahnya.


" Kenapa mas Bram ada di sini?" tanya Rania sedikit panik dengan wajahnya yang benar-benar ketakutan. Bram hanya menyunggingkan senyumnya.


" Apa yang di lakukannya di sini. Aneh sekali. Dari mana dia tau aku ada di sini," batinnya yang bertanya-tanya.


Rania yang tidak ingin berurusan dengan Bram langsung melangkah ingin keluar dari gudang itu. Saat ingin melewati Bram melewati pintu.


Bram menghadangnya dan bahkan mendorong Rania, membuat Rania dengan perlakuan Bram.


" Mau kemana kamu," sahut Bram mendorong Rania menjauh dari pintu.


" Mas Brama apa yang kamu lakukan! Minggir aku mau keluar," sahut Rania. Bram tersenyum dan langsung menutup pintu membuat Rania kaget dengan perlakukan Bram.


" Mas Bram apa yang kamu lakukan, buka pintunya, kamu jangan aneh-aneh. Biarkan aku pergi," ucap Rania menguatkan Volume suaranya.


" Shuttt," sahut Bram dengan jarinya di bibirnya membuat Rania melotot. Perasaannya semakin tidak enak melihat tingkah Bram yang ada-ada saja. Belum lagi Bram yang tiba-tiba ada di gudang itu yang membuatnya heran.


" Mas Bram apa yang mas lakukan di sini. Sebaiknya, mas Bram pergi dari sini!" teriak Rania menunjuk pintu keluar.


" Tenanglah Rania, jangan berteriak-teriak," sahut Bram melangkah pelan kearah Rania dan Rania semakin panik refleks kaget dengan kelakukan Bram.


" Jangan mendekatiku, kamu pergi dari sini, pergi!!!!" teriak Rania dengan wajahnya yang memucat.


" Tenanglah, kamu jangan panik, jangan takut, jangan panik seperti itu. Santai saja Rania," sahut Bram lagi yang terus maju dan Rania juga terus melangkah.


" Apa yang kamu inginkan, jangan mendekatiku, menjauh dari ku! pergi dari sini!" sahut Rania.


" Rania, kamu jangan galak-galak. Jelas aku hanya ingin kita berdua. Bermesraan di sini. Aku ingin kita menghabiskan waktu di sini. Mumpung Willo tidak ada di sini," sahut Bram dengan seriangi nakal di wajahnya membuat Rania kaget mendengarnya.


" Apa yang kau katakan. Jangan bicara sembarangan. Jangan kurang ajar kepadaku," sahut Rania dengan menekan suaranya.


" Apa yang aku katakan sudah jelas. Rania aku menyukaimu sejak dulu. Kau adik iparku yang paling cantik. Dan mari kita satu kan cinta kita untuk bersenang-senang. Kamu tenang saja Willo tidak akan tau. Mari kita ber-2 bersenang-senang," sahut Bram yang terus melangkah dan Rania sudah tidak bisa mundur. Karena punggungnya sudah terbentur rak yang ada di sana.


" Ayolah Rania cantik, jangan sok jual mahal. Aku tau kamu menyukaiku dari dulu," sahut Bram semakin dekat dengan Rania bicara dengan pedenya.


" Jangan bicara sembarangan, tutup mulutmu itu. Aku tidak pernah menyukai mu. Menjauh dariku," teriak Raina yang terus ketakutan.


" Kamu semakin cantik jika jual mahal seperti itu," sahut Bram dengan seriangi nakal di wajahnya.


" Dia benar-benar, sudah tidak waras. Aku harus pergi dari sini. Tidak ada gunanya bicara dengannya, sepertinya dia juga sedang mabuk," batin Rania penuh ketakutan. Saat hidungnya juga mencium aroma alkohol yang menyengat.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Rania langsung melarikan diri ke kekananyadan membuat Bram kaget. Dan Bram langsung mengejarnya dengan kencang. Sampai akhirnya Bram berhasil menangkapnya degan memeluk pinggangnya dan Rania langsung memberontak semakin ketakutan.


" Lepaskan aku! jangan menyentuhku, lepaskan aku!" teriak Rania terus memberontak.


" Tenanglah Rania, kamu jangan berteriak-teriak, semakin kamu berteriak-teriak, aku semakin sudah tidak sabaran," sahut Bram dengan kurang ajar menciumi rambut Rania. Rania semakin jijik melihatnya. Ketika kakak iparnya itu melecehkannya, bahkan berusaha menciumi tengkuknya dan Rania terus mengelak.


" Tolong! tolong!" teriak Rania. Tetapi tidak ada yang menolongnya. Rania menyikukan perut Bram, sampai akhirnya dia bisa meloloskan diri. Namun dia langsung terjatuh dan Bram menarik kakinya.


Rania kembali berusaha meloloskan diri dengan memegang kaki meja yang ada di sana. Tetapi Bram lebih kuat meski setengah mabuk. Bram mendekatinya naik keatas tubuhnya dan Bram langsung menarik rambut Rania dan menghempaskannya kesisi meja.


" Lepaskan aku, lepaskan!" Rania memegang tangan Bram yang terus menghempaskan dahinya. Sehingga ujung dahinya sudah berdarah.


Tidak sampai di sana Bram yang benar-benar terpengaruh alkohol menjalankan aksinya dengan menindih tubuh Rania dan berusaha untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.


Rania mengelak dengan menggoyang-goyangkan kepalanya kekiri dan kekanan. Sambil tangannya terus memukul-mukul Bram yang benar-benar sudah kesetanan yang ingin memperkosa dirinya.


" Tolong! tolong!" Isak tangis Rania sudah keluar dengan menangis terus menerus memohon pertolongan yang tak kunjung datang.


" Kenapa nasib ku, seperti ini. Lihatlah tuhan kau akan membiarkan ku seperti ini. Kau memang sangat membenciku tuhan. Sehingga kau hanya membiarankan ku, kau menontonku saat Pria ini telah menjamah tubuhku. Apa kau begitu membenciku sampai kau tidak menyelamatkan," batin Felly yang benar-benar pasrah dengan hidupnya.


Dia hanya menangis sesaat Bram terus berusaha untuk menyentuhnya. Rania bahkan sudah tidak bisa mengelak lagi. Kakak iparnya itu benar-benar sudah di rasuki. Sedangkan tidak meminum alkohol saja. Dia kurang ajar kepada Rania apa lagi ini dia sangat tidak peduli kepada Rania yang terus memohon di bawah sana.


Rania terus menangis terisak-isak. Saat dia benar-benar pasrah. Tiba-tiba tubuh Bram tertarik dari atas tubuhnya.


Bukk


Rania mendengar pukulan menolehkan kesampingnya. Di mana dia melihat Bram yang sudah tersungkur duduk dan telah di pukuli dan tidak ada perlawanan dari Bram.


" Rendy!" lirih Rania yang melihat Rendy lah yang memukul Bram sampai Bram sudah tergeletak dan napas Rendy naik turun melihat orang yang di pukulnya sudah tidak sadarkan diri.


Rendy menoleh kearah Rania yang masih tergelatak di lantai yang juga melihatnya. Dengan napas yang tersenggal-senggal. Rendy melihat wanita itu benar-benar memprihatinkan di mana wajah Rania benar-benar pucat, dahi berdarah dan air mata yang mengalir.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendy lembut padahal Rendy tau wanita itu sangat hancur. Walau begitu hancur Rania masih menggelengkan kepalanya. Mengatakan jika dia benar-benar tidak apa-apa.


Orang seperti Rania yang sudah hancur jelas sangat perlu pelukan dan Rendy tidak mungkin melakukan itu. Karena dia bukan siapa-siapa Rania dan tidak pantas melakukannya.


" Ayo pergi dari sini!" ajak Rendy. Rania mengangguk dan Rendy berdiri dan membantu Rania berdiri. Saat membantu berdiri. Rania agak tertarik sedikit dan akhirnya berada di pelukannya.


Tadi memang niat ingin memeluk. Ternyata alam semesta merestui. Rendy bisa merasakan bergetarnya tubuh Rania yang benar-benar ketakutan dan bahkan Rania memeluknya dengan memegang kuat kemeja Rendy yang dia membutuhkan orang di sisinya.


Rania kembali menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Pria yang beberapa kali selalu ada menyelamatkannya. Terasa sangat nyaman di pelukan Pria itu. Bahkan kenyamanan itu tidak bisa di katakan dengan apapun.


**********


Falssback.


Setelah menyelesaikan urusannya di rumah sakit. Rendy pun akhirnya menuju Perusahaan tempat Zahra sepupunya bekerja. Di sudah berjanji untuk menjemputnya dan langkahnya sangat baik. Sampai memang bisa menjemput sepupunya itu.


Rendy berada di dalam mobil dan melihat ke arah perusahaan. Kepalanya berkeliling mencari Zahra yang katanya sudah pulang dan sudah menunggu.


Rendy membuka ponselnya ingin menelpon Zahra yang mungkin bertanya Zahra ada di mana. Dan Belum sempat mengetik pesan Zahra mengirim pesan.


... Rendy kamu jemput aku di gudang aja ya. Soalnya tadi tadi nganterin dokumen sama Rania," tulis Zahra dalam pesannya dan sekalian share lokasi....


Rendy pun akhirnya menurut saja dan langsung ke gudang sekitar 5 menit naik mobil dari perusahaan. Tidak dia sampai kegudang itu. Rendy masih menunggu di dalam mobil dan melihat-lihat lagi kearah gudang yang tampak kelihatan sepi dan sama sekali tidak ada orang.

__ADS_1


" Di mana Zahra?" tanyanya kebingungan.


Rendy pun menelpon Zahra dan ternyata nomor handphone Zahra tidak aktif. Rendy semakin bingung di suruh di jemput tetapi orangnya malah tidak ada.


" Tolong!!!!!!" Rendy di kagetkan dengan suara teriakan dari dalam gudang. Suaranya tidak jelas. Namun Rendy kembali mendengarnya.


" Zahra," lirih Rendy punya pikiran itu adalah suara Zahra dan Rendy langsung keluar dari mobil dengan buru-buru memasuki gudang yang suara itu semakin jelas.


Flassaon.


Rendy dan Rania sekarang sudah berada di taman yang tidak jauh dari gudang tersebut. Meraka duduk di atas rumput. Di mana sekarang Rendy sedang mengobati Rania. Mengobati luka di dahi Rania.


Rania sudah mulai tenang, jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena ada Rendy. Jadi dia benar-benar tenang dan sudah tidak takut lagi.


" Tolong pegangkan!" ucap Rendy menyuruh Rania menegangkan perban yang sudah berada di dahinya. Rania mengangguk dan memegangnya. Lalu Rendy mengambil perekat dan menggunting perekat itu. Lalu langsung merekatkan pernah dengan begitu lembut.


Dekatnya Rendy pada Rania membuat Rania gugup dan dengan ragu Rania melihat Rendy yang wajah Rendy sangat dekat di wajahnya. Sampai napas Rendy menerpa wajahnya.


" Sudah selesai," sahut Rendy yang melihat ke arah Rania. Dan mereka ber-2 akhirnya saling menatap. Tetapi Rendy langsung mengalihkan pandangannya dan menjauh dari Rania.


" Bagaimana perasaanmu. Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Rendy.


" Iya. Aku sekarang merasa, jauh lebih baik. Terima kasih kamu sudah menolongku. Aku tidak tau bagaimana nasibku jika kamu tidak ada," sahut Rania kembali meneteskan air mata.


" Bukannya dia adalah kakak iparmu?" tanya Rendy yang ternyata mengingat Pria yang tadi di pukulinya.


" Iya kamu benar," jawab Rania.


" Dia memang adalah kakak iparku. Dia dan kakak ku sedang dalam masalah perceraian dan aku yang di salahkan dalam masalah keluarga mereka. Aku tidak tau kenapa kakakku bisa punya pikiran seperti itu. Aku tidak tau kenapa dia bisa seperti itu. Dia selalu menyalahkanku, menuduhku yang tidak-tidak dengan suaminya. Padahal suaminya yang terus berusaha untuk mendekatiku," jelas Rania yang mencurahkan isi hatinya.


" Jika kamu terus di ganggu, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya kepada keluargamu?" tanya Rendy.


" Aku tidak tau apa aku sejahat itu. Sampai jika apapun yang aku katakan tidak akan ada yang percaya kepadaku. Percuma aku menceritakan semuanya. Aku juga yang akan tetap di salahkan. Bukannya malah membelaku. Yang ada mereka akan terus mencariku," sahut Rania menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.


" Jika tidak mengatakannya. Kejadian pasti akan terulang lagi," ucap Rendy.


" Itu mungkin sudah takdirku dan aku tidak akan tau kapan itu berakhir," sahut Rania yang terlihat pasrah.


" Memang sangat aneh, permasalahan di dalam keluargaku. Selalu aku yang menjadi penyebabnya. Padahal jelas aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak tau apa yang aku lakukan. Tetapi semuanya salah. Mungkin aku memang sehina. Itu sampai aku orang-orang terus mengutukku. Mereka membenciku sampai aku tidak pernah mendapatkan keadilan untuk diriku sendiri," ucap Rania.


Rendy hanya menyimak perkataan Rania. Kasihan jelas sangat kasihan dengan Rania. Dia bukan hanya mendengarkan apa yang di katakan Rania. Tetapi jelas dia beberapa kali menyaksikan sendri. Wanita yang menangis di sampingnya itu terus mendapat perlakukan yang kurang baik.


Rania menarik Isak tangisnya dan mengusap air matanya dengan tangannya.


" Maaf, aku terlalu banyak bicara. Aku tidak bermaksud untuk mengambil waktumu. Maafkan aku," sahut Rania merasa tidak enak. Rendy hanya mengangguk dengan matanya.


" Ya sudah, aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku," ucap Rania yang bergegas ingin berdiri.


" Mau kemana kamu?" tanya Rendy.


" Aku mau kembali kekantor, ini sudah hampir malam. Nanti malam ada acara di perusahaan aku akan kembali kesana," jawab Rania.


" Aku akan mengantarmu," sahut Rendy menawarkan.


" Tidak usah, aku bisa sendiri," sahut Rania.

__ADS_1


" Tidak apa-apa," jawab Rendy. Dan Rendy langsung berdiri dan Rania mengangguk menurut saja dan akhirnya mereka pergi bersama.


Bersambung


__ADS_2