Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 117 Tidak berdaya


__ADS_3

Willo berdiri di depan kamar Rania dan sudah melihat Rania dan Elang berada di atas tempat tidur. Di mana Rania tertidur dengan lelap membelakangi Elang yang juga tidak sadarkan diri yang berbaring.


" Hitungan menit, obat itu akan bekerja dan kamu Rania bersiaplah. Kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa," batin Willo menyunggingkan senyumnya. Willo yang memegang handphone menyunggingkan senyumnya dan terlihat sedang menelpon seseorang.


Sementara di kediaman rumah Rendy. Suasana semakin tegang. Rendy sama sekali tidak bicara apa-apa dengan semua kata-kata Anisa dan Sarah yang mengkompor-kompori.


Dratt Dratttt Dratttt.


Handphone Sarah tiba-tiba bergetar di tengah ketegangan itu. Sarah tersenyum miring yang melihat panggilan video call dari Willo.


" Akhirnya," batin Sarah.


" Kenapa Willo, kakak Rania tiba-tiba menelpon," sahut Sarah yang membuat semua orang melihat serius kepadanya.


" Langsung angkat saja mah, siapa tau ada yang penting," sahut Anisa. Sarah mengangguk dan mengangkat panggilan Vidio call tersebut.


" Ada apa Willo?" tanya Sarah.


" Aku hanya ingin memberitahu keluarga kalian untuk mengajari menantu kalian etika. Di saat papa ku sakit. Dia malah enak-enakkan berduan dengan pria lain," ucap Willo yang membuat orang terkejut.


" Apa maksud kamu Willo jangan bicara sembarangan," sahut Sarah sok bersandiwara.


" Aku tidak bicara sembarangan. Lihat itu," sahut Willo yang mengarahkan kamera ke arah Rania dan Elang yang berada di atas tempat tidur yang sama.


" Astagfirullah Al Azdim," sahut Sarah belahan sok kaget dengan menutup mulutnya.


" Ada apa mah?" tanya Anisa pura-pura penasaran.


" Sungguh, keterlaluan. Lihat apa yang di lakukannya," sahut Sarah yang menunjukkan apa yang di perlihatkan Willo.


" Astagfirullah," lirih mereka yang benar-benar terkejut minatnya. Di mana Rania dan Elang berada di tempat tidur yang sama.


" Rendy lihatlah Rania," ucap Sarah yang menunjukkan apa yang terjadi. Namun Rendy mengangkat tangannya. Seakan tidak ingin melihatnya.


" Kalian lihat menantu kalian, sungguh hina. Jadi bawalah dia pergi dari sini," ucap Willo yang langsung mematikan telponnya.


" Astagfirullah, anak benar-benar. Apa yang di lakukannya. Anisa benar ternyata. Elang dan Rania berhubungan diam-diam," sahut Darah langsung marah. Ratih terlihat tidak bisa bicara apa-apa.


" Ini sangat keterlaluan. Kenapa Rania sampai bisa melakukan itu," sahut Oma Wati yang pasti tidak percaya apa yang terjadi.

__ADS_1


" Oma, bukannya keluarga Rania adalah keluarga bebas. Mungkin tidur sekamar dan berhubungan tanpa ikatan adalah hal biasa. Jadi mungkin Rania itu hal yang biasa," sahut Anisa semakin memperkeruh suasana.


" Rendy, lihat istri kamu. Semua orang melihatnya berada 1 ranjang dengan Pria yang bukan muhrimnya. Dan kita tidak tau apa yang mereka lakukan selanjutnya," sahut Sarah.


Rendy yang mendengarnya tampak tidak bisa mengendalikan dirinya dan akhirnya memilih untuk pergi.


" Rendy mau kemana kamu!" panggil Ratih melihat Rendy yang keluar rumah.


" Ya, episode terakhir akan di mulai," batin Anisa, menyunggingkan senyumnya saling melihat dengan sang mama yang juga sama-sama tersenyum.


Sementara, Ratih, Nia dan Zahra panik. Mereka walau sudah melihat apa yang terjadi. Tetapi mereka tampak tidak percaya.


Rendy memasuki mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Rendy menyetir di tengah hujan yang deras dengan matanya yang memerah.


Sepenjang menyetir Rendy. Lintasan Rania dan Elang terbayang di pikirannya. Bagaimana istrinya itu saling menatap. Beberapa kali Rendy menangkap Rania dan Elang berduaan dan bahkan tangan Rania sampai di pegang. Tidak tau Rendy marah atau cemburu. Tetapi jelas dia adalah suami dan pantas untuk jika ada rasa itu.


*********


Elang yang berada di samping Rania mulai bangun dengan memijat kepalanya. Obat yang di berikan Willo sudah mulai beraksi dan membuatnya bangun.


" Apa yang terjadi di mana aku," ucapnya yang melihat-lihat ke langit-langit kamar dan saat menoleh kesamping Elang kaget dengan melihat punggung seorang wanita. Membuat Elang langsung memiringkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berada di sampingnya.


Elang yang mau pergi dari kamar itu. Namun tiba-tiba lemas dan malah terjatuh pada Rania. Di mana tangan Elang memegang bahu Rania dan mata Elang menatap wajah Rania dalam-dalam.


" Rania!" lirih Elang dengan mengusap pipi Rania yang tiba-tiba Elang bergairah melihat Rania. Namun merasakan ada yang menyentuhnya membuat Rania tersentak dan langsung melihat siapa yang menyentuhnya dan ternyata adalah Elang. Rania kaget dan langsung mendorong Elang dengan spontan.


" Apa yang kamu lakukan!" teriak Rania.


" Rania aku, aku," sahut Elang yang juga kebingungan. Rania yang sudah duduk panik dengan keberadaan Elang.


" Kenapa kamu bisa di kamarku Elang. Dan kamu ngapain?" tanya Rania panik. Elang yang merasa kepanasan kebingungan dengan apa yang harus di jawabnya.


Brukkkk.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka kuat, Rania dan Elang sama-sama tersentak dan melihat siapa yang membuka pintu kamar.


Rendy yang berdiri di depan pintu kamar dan melihat istrinya dengan Pria lain di atas ranjang dan Elang yang membuka pakaiannya. Mata Rendy melotot dengan napas yang tiba-tiba sangat berat.


" Rendy!" lirih Rania yang tidak percaya dengan hadirnya Rendy yang tiba-tiba.

__ADS_1


" Rania, apa-apaan ini? tanya Rendy dengan suaranya yang tertahan.


" Rendy, kamu salah paham," sahut Rania. Rendy menatap tajam Elang. Namun langsung pergi.


" Rendy tunggu!" panggil Rania langsung berlari mengejar Rendy.


Dengan langkah yang cepat Rendy menuruni anak tangga dan langsung berhadapan dengan Willo.


" Lihat kan, kelakuan istri kamu," ucap Willo.


" Rendy tunggu!" panggil Rania yang berhasil mengejar Rendy.


" Lihat dia, bisa-bisanya dia tidur dengan pria lain," ucap Willo.


" Tidak Rendy itu tidak benar, aku tidak melakukan apapun," sahut Rania yang langsung membela diri dengan memegang tangan Rendy. Namun Rendy menepisnya dan langsung pergi. Karena dia tidak mau lagi mendengar apa-apa dari Willo yang pasti akan membuat amarahnya akan memuncak.


" Rendy tunggu!" teriak Rania yang kembali mengejar suaminya sampai ke depan rumah. Di mana Rendy memasuki mobil ditengah hujan deras dan Rania menyusulnya dan lagi-lagi menghentikan tangan suaminya itu.


" Rendy tunggu!" ucap Rania menghentikan.


" Pulang kamu!" ucap Rendy dengan suara dinginnya.


" Dengarkan penjelasan ku dulu. Kita akan pulang ketika kita bicara. Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Rania yang sudah menagis.


" Aku bilang pulang. Aku tidak ingin membuat ribut di rumah orang lain," sahut Rendy.


" Tapi Rendy....


" Pulang Rania!" bentak Rendy, membuat Rania tersentak kaget.


Semenjak menikah ini pertama kalinya Rendy membentak Rania dan jelas Rania kaget. Lagi dan lagi terlihat Rendy menyesal melakukannya yang tidak bisa menahan dirinya. Rendy menarik napasnya panjang.


" Ayo pulang!" ucap Rendy dengan suara rendah yang akhirnya masuk mobil.


Rania dengan tetasan air matanya pun akhirnya menurut. Dia memasuki mobil mengikuti suaminya.


Tidak lama mobil itu pun melaju. Dan ternyata Rudi yang di dalam kamarnya melihat dari jendela pertengkaran anak dan menantunya di luar rumah.


" Maafkan papa Rania. Papa tidak bisa melakukan apa-apa. Papa memang bukan orang tua yang baik. Kamu harus mengalami semua ini. Semoga saja kamu dan Rendy bisa menyelesaikan masalah kalian," batin Rudi dengan matanya yang bergenang yang tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2