
Rania harus kembali keruangan Rendy dengan merasa bersalah setelah mendengar apa yang di bicarakan Dokter dan juga Rendy suaminya. Wajah Rania tampak begitu lesu dengan air mata yang menetes di pipinya.
" Jadi dia tidak menyentuhku karena masalah itu. Lalu sampai kapan semuanya seperti itu. Apa aku sungguh jahat. Kenapa? kenapa aku tidak bisa menjadi istri ya baik," batin Rania dengan ke-2 tangannya berada di wajahnya dan mengusap wajah itu.
Ceklek pintu ruangan Rendy terbuka tiba-tiba dan membuat Rania buru-buru menyeka air matanya.
" Sayang kamu mencariku?" tanya Rendy.
" Hmmm, oh iya tadi aku mencarimu," sahut Rania yang tersenyum menutup kesedihannya. Rendy memperhatikan wajah istrinya yang sepertinya menurutnya sangat aneh.
" Kamu kenapa?" tanya Rendy yang seolah tau jika istrinya tidak baik-baik saja.
" Hmmm, aku, aku tidak apa-apa, memang aku kenapa," sahut Rania yang berusaha menutupi apa yang di pikirkannya.
" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Rendy. Rania mengangguk dengan membenarkan bahwa dirinya memang tidak apa-apa sama sekali.
" Hmmm, ya sudah kita cari makan yuk," ajak Rendy.
" Hmmm, ayo," sahut Rania yang langsung berdiri. Rendy menggengam tangan istrinya dan membawanya pergi.
**********
Rendy dan Rania berada di dalam mobil dan terlihat Rania begitu murung yang hanya melihat keluar jendela yang tidak tau apa sebenarnya yang di pikirkan Rania. Namun Rendy melihat hal itu dan meraih tangan istrinya dan menggengamnya dengan erat.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya Rendy dengan meletakkan tangan Rania di pahanya.
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa," jawab Rania yang tidak ingin memberi tahu suaminya jika dia memang sedang memikirkan sesuatu.
" Mana mungkin kamu tidak apa-apa. Aku melihat kamu seperti ada sesuatu," sahut Rendy yang tidak bisa di bohongi Rania.
" Hmmmm, aku mau kemakam anak kita," ucap Tanisa tiba-tiba. Hal itu sungguh mengejutkan untuk Rendy dengan permintaan Rania yang tiba-tiba ingin kemakam.
" Kamu yakin?" tanya Rendy.
" Hmmm, aku yakin. Aku ingin melihat makam anak kita. Aku sudah siap dan bukannya memang seharusnya aku kesana," sahut Rania yang benar-benar yakin akan pergi berkunjung Kerumah putrinya, " kamu mau kan menemaniku?" tanya Rania melihat kearah Rendy. Mata Rania menunjukkan kesedihan yang tidak siap untuk melihat makam anaknya. Namun dia hanya berusaha untuk siap melihatnya.
" Sayang kamu kenapa diam. Kamu tidak mau mengantarkanku?" tanya Rania.
" Iya Rania aku akan mengantarkan mu. Kita akan pergi bersama-sama. Kita akan menemuinya," ucap Rendy. Rania tersenyum tipis dengan mengangguk. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu Rendy pun mencium pucuk kepala Rania.
***********
Suaminya di sampingnya mengusap-usap pundak Rania untuk memberikan Rania kekuatan agar tidak sedih lagi.
" Sayang kamu tunggu Ibu di surga. Kita pasti akan bertemu. Maafkan Ibu yang tidak memberi kamu kesempatan untuk membuka mata di dunia ini. Maafkan ibu nak," ucap Rania yang merasa bersalah pada anaknya itu.
" Rania sudah itu bukan kesalah kamu. Jangan berpikiran seperti itu sayang, ini semua sudah jalan Allah dan jika harus ada yang di salahkan itu adalah aku bukan kamu," sahut Rendy yang menenangkan Rania yang terus membuat Rania untuk tidak merasa bersalah.
" Sudah ya sayang kamu jangan menagis lagi. Anak kita sudah bahagia di tempatnya. Dia juga sangat bahagia karena ibunya telah datang berkunjung ketempatnya. Dan dia akan sedih jika melihat ibunya akan sedih," ucap Rendy yang membawa Rania ke pelukannya.
" Kamu jangan menangis lagi ya," ucap Rendy. Rania mengangguk. Rendy pun mengusap air mata istrinya dengan ke-2 tangannya dan mencium kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
" Kita pulang," ucap Rendy. Rania mengangguk. Sebelum pulang Rendy dan Rania sama-sama mengusap mesan itu dan juga mencium mesan itu dengan lembut.
Mereka belum pulang dan masih berdiri di depan kuburan kecil itu dengan Rania yang berada di pelukan Rendy yang tangannya di dada Rendy. Sementara tangan Rendy di pundak istrinya yang terus mengusap-usap pundak istrinya.
" Ibu dan ayah akan terus mengunjungi kamu," ucap Rania yang menatap mesan itu terus menerus yang tangisnya memang tidak akan berhenti jika berhubungan dengan anaknya yang telah tiada.
**********
Malam hari kembali tiba. Rania sudah tampaknya tertidur dengan berbaring miring. Rendy keluar dari kamar mandi dan langsung menuju tempat tidur. Rendy menaiki tempat tidur dan duduk di samping istrinya yang tertidur dengan membelakanginya. Rendy menarik selimut untuk menyelimuti Rania dengan mencium kening Rania lembut.
" I love you sayang," ucap Rendy.
Rendy yang bersandar di kepala ranjang mengambil buku yang di bacanya seperti biasa. Saat membuka halaman yang di tandai Rendy ada secarik kertas yang jatuh yang terlibat dan Rendy sudah tau itu apa. Apa lagi jika bukan ulah Rania yang sangat suka menuliskan surat untuknya.
Rendy mendengus tersenyum melihat kearah Rania dengan kepalanya yang geleng-geleng. Lalu langsung membuka lipatan kertas itu dan memang betul tulisan dari istrinya
Dear suamiku.
...Hari ini aku begitu sedih dan juga kecewa. Tulisan awal itu membuat ekspresi wajah Rendy berubah senyum itu yang tiba-tiba hilang dan begitu serius....
...Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar itu dari ku. Kenapa kita membahasnya dan saling bicara. Aku bertanya-tanya belakangan ini kenapa? keromantisan dia ranjang di antara kita tidak pernah terjadi. Aku heran kenapa kamu tidak menyentuhku dan aku juga sudah berusaha untuk memulainya dan kamu begitu acuh dan dingin kepadaku. Dan tadi rumah sakit aku mendengar semuanya....
...Yang ternyata apa yang tanyakan sudah terjawab dan lagi-lagi semua itu terjadi karena kesalahan ku. Sayang apa salahnya kita membahas ini. Sayang tidak mungkin selamanya seperti ini. Sembuh itu bukan milik kita dan jika aku sakit aku punya tugas penting untuk melayanimu. Melayanimu tidak akan membuatku mati. Bukankah itu pahala untuk kita berdua....
...Aku mohon sayang jangan jadikan alasan sakitku untuk merusak apa yang sudah kita bangun. Sakit ku tidak tau kapan sembuhnya dan bukan berati selama itu kita berdua seperti pasangan yang tidak menikah. Aku hanya akan merasa bersalah sayang seumur hidupku. Jika itu terjadi. Aku tidak ingin kekuranganku sebagai istri semakin banyak. Aku mohon biarkan aku tetap menjalankan tugasku sebagai istrimu yang memberikan hakmu. Aku tidak ingin membuatmu kecewa kepadaku,"...
__ADS_1
Tulis Rania dalam suratnya yang mengeluarkan semua isi di hatinya yang membuat mata Rendy berkaca-kaca.
Bersambung.