Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 98 Peringatan untuk Anisa.


__ADS_3

Karena suaminya yang sakit mau tidak mau Rania memang tidak masuk kerja. Rania adalah wanita yang hobi kerja. Tetapi semenjak mengenal Rendy dan apalagi menikah dengan Rendy bahkan pekerjaannya menjadi nomor sekian.


Apalagi sekarang ini Rendy sakit Rania rela tidak kekantor dan merawat Rendy suaminya. Bahkan sampai malam dia terus mengontrol kesehatan suaminya.


Rania yang berada di dalam kamar duduk di sofa dengan beberapa pekerjaannya. Dia memang tidak kekantor. Tetapi mengerjakan beberapa pekerjaannya di rumah.


Rania yang mengetik cepat di keyboard laptop sebentar-sebentar menghampiri Rendy memegang dahi suaminya melap keringatnya dengan tangannya. Ya Rania terus mengontrol kesehatan Rendy.


Dia terus melakukan hal itu, menghampiri Rendy dan kembali fokus pada kerjaannya. Rania sama sekali tidak lelah. Walau jam terus berputar tetapi dia tetap melakukannya sampai sekarang Rania malah tertidur dengan sebelah pipinya di menempel di atas meja.


Tidak lama Rania terbangun tiba-tiba. Ya Rania mendengar suara mengigau yang membuatnya begitu peka dan langsung bangun.


" Astaga, aku ketiduran," gumam Rania mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan melihat ke arah Rendy yang tampak gelisah, sebentar-sebentar bergerak. Rania pun langsung berdiri dan melihat kondisi Rendy.


" Rendy," kiri Rania yang duduk di samping Rendy dengan memegang pipi Rendy.


" Hmmmmmmmm," hanya suara itu yang terdengar di telinga Rania. Namun Rendy langsung meraih tangan Rania yang memegang pipinya dan Rendy memegang kuat tangan itu yang di letakkan di dadanya.


Rania hanya diam dan menatap suaminya itu dengan kasihan dengan Rendy yang belum sembuh bahkan belum bicara sama sekali. Rania pun hanya bisa menjaga suaminya kembali dan dia yang mengantuk pun harus tertidur dalam keadaan duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.


***********


Pagi-pagi sekali Rania sudah sibuk di dapur. Dia kembali menyiapkan bubur untuk suaminya. Tidak tau dia tidur atau tidak tetapi yang jelasnya dia bisa bangun lebih pagi dari pada mertuanya.


" Rania!" tegur Ratih yang sudah ada di dapur.


" Ma," sapa Rania.


" Kamu sedang apa?" tanya Ratih.


" Buat bubur ma, untuk Rendy," jawab Rania.


" Apa Rendy belum sembuh juga?" tanya Ratih.


" Belum mah, cuma nanti. Rania memutuskan untuk bawa Rendy kedokter kalau pagi ini kondisinya belum stabil," ucap Rania.


" Hmmm, iya mama juga setuju," sahut Ratih.


" Seharusnya dari kemarin di bawa ke Dokter," sahut Sarah tiba-tiba datang yang langsung main sambar-sambar saja.


" Kamu sih sok kepintaran. Walau Rendy Dokter bukan berarti kamu tau masalah medis. Lagian kamu sama Rendy juga baru menikah dan kalian kalian juga baru kenal. Jadi mana mungkin kamu tau segalanya. Seharusnya apa yang di lakukan Anisa itu sudah paling tepat. Kamu selalu meragukannya," ucap Sarah yang malah memarah-marahi Rania.


Ya Sarah akan mengambil kesempatan sekecil apapun untuk membuat Rania jelek di mata keluarga Rendy.


" Mbak, Sarah namanya juga Rania usaha," sahut Ratih.


" Usaha apanya sih mbak, lihat deh sudah 2 hari bangun saja Rendy tidak bisa bahkan tidak bicara itu karena sok tau dari dia," ucap Sarah. Rania hanya diam saja mendengarkan kata-kata Sarah yang memojokkannya.


" Ma, Rania antar ini untuk dulu," sahut Rania yang tampaknya tidak mau pusing.

__ADS_1


" Ya sudah sana kamu kasih Rendy makan ya," ucap Ratih. Rania mengangguk.


" Nanti Anisa akan antarkan vitamin untuk Rendy," sahut Sarah.


" Tidak perlu Tante," sahut Rania yang langsung menolak.


" Dah deh Rania, kamu itu kalau di kasih tau nggak usah ngeyel. Lagian itu vitamin yang langsung dari Rendy yang berikan pada Anisa untuk memberi tenaga. Kalau ngikuti kamu terus yang ada Rendy tidak akan sembuh-sembuh. Mau kamu hah!" ucap Sarah menegaskan pada Rania.


" Sudahlah jangan memperbesarkan masalah. Rania kamu antar saja makanannya untuk Rendy. Setelah itu vitamin nya nanti akan menyusul," sahut Ratih mengambil keputusan.


" Ya sudah ma," sahut Rania yang akhirnya mengalah dan pergi mengantarkan bubur untuk Rendy. Sarah langsung tersenyum miring.


" Untung saja Rendy tidak cepat sembuh, jadi semua orang bisa menyalahkan wanita yang sok tau itu," batin Sarah yang merasa menang, karena berhasil membuat Rania terpojokkan.


" Ini kesempatan, Anisa harus bergerak. Aku akan menyuruhnya untuk memberikan vitamin itu. Biar wanita yang sok tau itu tidak bisa berkutik lagi," batin Sarah penuh dengan rencananya.


***************


Rania pun akhirnya memasuki kamar, dan memang Rendy masih tetap dengan kondisinya. Rania duduk di samping Rendy.


" Panasnya sudah turun. Tetapi kenapa kamu tidak bangun juga," ucap Rania memegang pipi Rendy yang terasa sangat hangat.


" Aku beri obat sebelum makan dulu," ucap Rania mengambil tablet obat. Memang ada obat yang harus di makan sebelum mengkonsumsi makanan.


Seperti biasa Rania akan memasukkan kemulut Rendy agar di telan Rendy. Tetapi saat Rania memasukkannya, pil itu keluar dan Rania mencoba lagi dan melihat ke tenggorokan Rendy yang sama sekali tidak menelannya.


" Jika tidak minum obat ini Rendy tidak bisa makan dulu. Jika tidak makan perutnya bisa kosong dan mana mungkin aku menunggu dia bangun," ucap Rania yang penuh kebingungan.


Rania yang tidak ingin kondisi suaminya semakin memburuk. Akhirnya tiba-tiba idenya muncul, Rania pun memasukkan pil itu kedalam mulutnya lalu menunduk kewajah suaminya dengan memegang rambutnya agar tidak mengenai wajah Rendy.


Rania langsung mendekatkan bibirnya pada Rendy dengan menutup matanya. Jalan singkat yang di ambilnya memberikan obat itu melalu mulutnya. Agar suaminya dapat menelannya dan usaha Rania berhasil terlihat Rendy menelan salavinanya.


Setelah merasa obat itu sampai pada tenggorokan Rendy. Rania membuka matanya perlahan dan melepas bibirnya dari Rendy. Saat Rania ingin mengangkat wajahnya dari Rendy. Tiba-tiba Rendy membuka matanya perlahan dan melihat istrinya ada di depannya.


Di mana mata mereka saling beradu pandang dengan jarak yang hanya 2 inci saja.


" Kamu ngapain?" tanya Rendy dengan suara seraknya.


" Maaf aku hanya memberimu obat, soalnya kamu tidak bangun," jawab Rania yang kelihatan gugup. Rendy tersenyum lalu perlahan mengusap-usap pipi Rania dengan lembut.


Rendy mengangkat kepalanya sedikit yang ternyata langsung meraih bibir Rania lagi dan akhirnya Rania memejamkan matanya.


Rendy pun mencium dalam Rania. Tidak tau dia sudah sembuh atau tidak yang jelasnya. Balasan ciuman yang di berikannya pada Rania begitu dalam dan penuh sensasi yang membuat Rania harus terbuai dengan ciuman di pagi hari sang suami.


Ciuman itu terhitung satu menit lewat. Namun perlahan Rendy malam membalikkan tubuh Rania. Di mana posisi mereka sudah berubah di mana Rania berada di bawahnya dan Rendy sudah menindih tubuhnya.


Rendy melepas ciuman Itu, memberikan ruang untuk Rania. Agar Rania bisa bernapas dan mata mereka yang saling memandang sayu dengan debaran jantung yang tidak beraturan dan hembusan napas yang juga tidak beraturan yang terbalut gairah di pagi hari.


Rendy mencium lembut kening Rania dan juga ke-2 kelopak mata Rania, dan kembali menatap Rania dengan dalam.

__ADS_1


" Aku bersyukur akhirnya kamu sudah bangun," ucap Rania. Rendy menganggukkan matanya.


" Apa aku merepotkanmu?" tanya Rendy dengan suara seraknya," Rania langsung menggelengkan kepalanya. Rendy tersenyum dan kembali ingin meraih bibir Rania.


Ceklek.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan ternyata Anisa yang masuk sembarangan dan Anisa kaget melihat posisi 2 pasangan suami istri membuatnya melotot pada arah Rania dan Rendy. Rania dan Rendy pun melihat ke arah pintu.


Ya mau tidak mau Rendy harus bangkit dari tubuh istrinya dengan menghempas di samping Rania dan memijat kepalanya.


" Maaf," sahut Anisa yang dengan wajah kesalnya. Rania juga tampaknya kesal. Namun dengan cepat dia juga harus duduk dengan moodnya yang sudah berantakan.


" Ada kemari?" tanya Rania dengan suara dingin.


" Tante Ratih, menyuruhku memberikan vitamin untuk Rendy," jawab Anisa yang melihat ke arah Rendy yang sekarang bersandar di kepala ranjang.


" Tidak perlu, Rendy sudah bangun," sahut Rania yang langsung menolak.


" Tapi Rania, ini perlu untuk menambah tenaga Rendy," sahut Anisa. Rania menoleh ke arah Rendy.


" Tidak usah Anisa, aku pakai obat yang sudah ada saja," sahut Rendy yang akhirnya menolak. Membuat Rania tersenyum tipis.


" Rendy benar-benar berubah, dia selalu menolak apa yang aku berikan dan tadi apa yang mereka lakukan," batin Anisa yang penuh kekesalan.


" Anisa kamu sudah dengarkan apa kata Rendy," ucap Rania.


" Ya sudah kalau begitu. Aku hanya menjalankan apa yang di katakan Tante Ratih," sahut Anisa yang terus kalah malu.


" Aku pergi dulu," ucapnya pamit. Rania langsung bangkit dari tempat tidur dan tampaknya menyusul Anisa ke luar dari kamar.


" Anisa tunggu!" panggil Rania ketika berada di depan kamar.


" Ada apa?" tanya Anisa membalikkan tubuhnya.


" Anisa, aku minta sama kamu. Kamu tolong jaga sopan santun. Tidak seharusnya kamu masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu. Apa lagi kamu masuk kekamar orang yang sudah menikah. Kamu harus tau kamar itu suatu privasi dan pasangan suami istri yang menguasainya. Jika kamu masuk sembarangan itu sangat mengganggu kami. Sama dengan seperti tadi," ucap Rania memberi peringatan pada Anisa.


Anisa mengepal tangannya dengan menatap tajam Rania tanpa berani berbicara apa-apa pada Rania.


" Tolong ya kamu hargai privasi kami. Lagian kamu juga tidak perlu harus kekamar kami. Kalau ingin mengatakan sesuatu padaku atau Rendy. Nanti saja di katakan saat kita bertemu di bawah. Karena bagiku sangat pantang orang asing masuk kekamar pribadi," tegas Rania tanpa ampunan bicara pada Anisa.


Dia tidak peduli dengan nada pedas bicaranya Karena mungkin orang seperti Anisa pantas di perlakukan seperti itu.


" Sialan kamu Rania, kamu benar-benar berani menggurui ku," batin Anisa yang hanya bisa diam dengan menahan amarahnya.


" Aku masuk dulu, ingat ya pesanku. Untuk tidak melakukannya lagi," ucap Rania menegaskan dan akhirnya memasuki kamarnya kembali.


" Argggghhh, sial, Rania dia sungguh sangat berani. Rania kamu benar-benar wanita sialan," batin Anisa dengan wajahnya yang penuh amarah mendapat teguran dari Rania. Ya salah sendiri lantang masuk kamar orang yang membuat Rendy dan Rania tidak jadi romantis-romantisan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2