
Rania yang hamil, tetapi Ratih yang seperti hamil yang benar-benar sangat perhatian dengan Rania. Pagi-pagi sekali Ratih dan Zahra sudah kekamar Rania. Rania harus pasrah dengan ibu mertuanya yang menyuapinya buah segar.
" Ma sudah, Rania sudah kenyang," keluh Rania merasa pagi-pagi perutnya sudah penuh dengan buah yang beberapa kali di suapi kemulutnya. Zahra hanya tertawa-tawa saja dengan Rania yang kewalahan menghadapi Ratih.
" Buah ini sehat untuk kandungan kamu. Jadi kamu harus memakannya, mama juga dulu waktu mengandung Rendy dan Nia, mama selalu rutin memakan buah ini, agar kandungan mama kuat," ucap Ratih yang memang terus menyuapi Rania, di mulut Rania belum habis sudah di isi lagi. Rania benar-benar harus pasrah menjadi menantu yang di sayangnya sangat luar biasa.
" Benar Rania, kamu harus makan buahnya," sahut Zahra yang tertawa-tawa aja.
" Kamu jangan mengatakan orang saja, kamu juga harus makan," sahut Ratih yang yang langsung menyodorkan kemulut Zahra dan mau tidak mau Zahra pun akhirnya membuka mulutnya dan memakannya.
" Hmmm, makan juga, jangan bilangin orang," sahut Rania seolah mengejek Zahra. Sudah tau mulutnya penuh masih sempat-sempatnya usil pada Zahra. Dan sekarang posisi Zahra sama dengan Rania harus kenyang di pagi hari.
" Kalian ber-2 harus sering-sering buka internet, sering-sering sharing. Kalian sama-sama hamil, jadi harus saling memberitahu, saling berdiskusi dan pasti apa-apa harus tanya mama, jangan sok tau ke-2nya, pokoknya kalian harus sama-sama pintar," ucap Ratih yang begitu posesif pada Zahra dan Rania.
Walau Zahra hamil di luar nikah. Tetapi sebagai ibu pengganti Ratih tidak mungkin tidak peduli pada keponakannya itu.
" Kalian mendengar atau tidak!" sahut Ratih. Rania dan Zahra sama-sama mengangguk.
" Hmmm oh iya vitaminnya sudah di beli semua?" tanya Ratih.
" Sudah. Tapi masih ada satu lagi yang ketinggalan. Rania lupa membelinya kemarin," sahut Rania.
" Ya sudah tidak apa-apa. Nanti biar mama saja yang beli vitaminnya," sahut Ratih.
" Nggak usah Tante, biar Zahra aja nanti, soalnya nanti juga sekalian ada perlu," sahut Zahra menawarkan diri.
" Kamu yakin bisa," sahut Ratih ragu. Zahra mengangguk.
" Apa tidak sebaiknya sama Rendy aja. Nanti aku bilang sama dia supaya tebus sekalian," sahut Rania.
" Nggak usah Rania, hanya membeli obat saja. Aku juga bisa kok, percayalah," sahut Zahra dengan yakin.
__ADS_1
" Ya sudah kalau memang begitu. Tapi kamu harus hati-hati ya, nyetir jangan ngebut-ngebut," ucap Ratih mengingatkan.
" Pasti Tante," sahut Zahra.
" Ya sudah nah buka mulut kalian di makan lagi buahnya," ucap Ratih.
" Sudah kenyang mah," sahut Rania mengeluh.
" Mana ada makan buah kenyang, sudah makan lagi," tegas Ratih yang tidak ada tawar menawar. Rania harus pasrah dan Zahra juga jadinya ikut-ikutan. Mereka sudah seperti 2 anak perempuan yang di manjakan.
" Ayo buka mulutnya!" tegas Ratih.
" Iya ma, iya Tante," sahut mereka dengan serentak.
" Kalian berdua jangan malas-malasan di suruh makan. Jadi nikmati semuanya. Buka mulutnya dengan lebar-lebar," titah Ratih yang kembali menyuapi Rania memaksanya makan dan sampai mulut Rania benar-benar penuh dan Zahra pun harus ikut-ikutan. Sementara Rendy yang baru keluar dari kamar mandi hanya tersenyum saja melihat mamanya yang begitu perhatian kepada istrinya.
" Ya Allah terimakasih sudah mempercayakan aku dan istriku atas kehadiran buah hati kami nanti. Terima kasih ya Allah. Berikan kesehatan pada istriku, agar dia dan calon anak kami baik-baik saja," batin Rendy yang begitu bahagia dengan kebahagian yang di dapatkan.
Ternyata kebahagian kecil itu juga di lihat oleh Anisa yang berdiri di depan pintu. Di mana Anisa yang membawa nampan yang berisi susu dan juga mangkok. Saat ingin masuk kekamar itu. Anisa harus melihat perhatian Ratih yang berlebihan kepada Rania. Seolah menjadikan Rania sebagai ratu.
" Anisa!" tegur Rendy membuat seisi kamar melihat ke arah pintu dan Anisa ada di sana. Di mana Anisa jadi tersentak kaget.
" Ha, iya," sahut Anisa gugup.
" Kamu ngapain berdiri di situ?" tanya Rendy.
" Ini, aku membawakan apa yang di suruh Tante," jawab Anisa.
" Oh, iya Tante lupa, bawa kemari Anisa," sahut Ratih. Anisa mengangguk dan akhirnya melangkah pelan memasuki ruangan itu berdiri di depan, Rania, Zahra dan Ratih. Di mana Rania hanya melihat Anis biasa saja.
" Rania kamu minum susu ini dulu ya," ucap Ratih dengan mengambil segelas susu dari atas nampan yang di pegang Anisa.
__ADS_1
" Susu apa ini Tante?" tanya Zahra.
" Ini susu ibu hamil, kamu juga nanti minum ya," sahut Ratih. Zahra mengangguk aja, dan Rania pun menuruti apa kata ibu mertuanya yang mana dia langsung meminumnya dengan bantuan Ratih. Anisa hanya diam yang semakin iri dengan kebahagian orang lain.
" Enak?" tanya Ratih begitu susu yang di minum Rania telah habis.
" Iya mah, makasih ya sudah membuatkan Rania susu," sahut Rania.
" Kamu ini pakai berterimakasih segala lagi," sahut Ratih geleng-geleng.
" Hmmm, ya sudah, kalau begitu setelah ini kamu sarapan bubur. Mama kedapur dulu," ucap Ratih.
" Iya mah," sahut Rania.
" Rendy kamu pastikan istri kamu sarapan," sahut Ratih menekankan.
" Iya mah pasti," sahut Rendy mengangguk. Ratih tersenyum dengan mengusap pucuk kepala Rania.
" Ayo kita keluar," ajak Ratih. Zahra dan Anisa mengangguk dan mereka pun keluar dari kamar meninggalkan Rendy dan Rania dengan mangkuk bubur yang di pegang Rania. Dengan malasnya Rania melihat ke arah suaminya yang seolah mengatakan sudah tidak mau makan lagi.
Rendy duduk di samping Rania dan mengambil mangkok bubur itu dari Rania. Lalu menyendokkannya ke arah mulut Rania dengan menaikkan alisnya dan Rania menggeleng yang sudah kekenyangan.
" Ayo di makan. Nanti mama marah," tegas Rendy.
" Rendy aku itu hamil bukan sakit. Masa iya makan bubur hambar," sahut Rania yang mengeluh pada Rendy.
" Namanya juga mama yang suruh mungkin saja mama sangat tau apa yang terjadi pada kamu. Makanya membuatkan kamu bubur ini," ucap Rendy.
" Tapi aku sudah kenyang, aku tidak mau makan lagi, perutku bisa meledak loh," sahut Rania dengan wajahnya yang mengkerut.
" Sedikit saja, hanya sebagai syarat," sahut Rendy. Rania tetap menggeleng yang tidak mau dengan makanan itu.
__ADS_1
" Ayo hanya satu sendok," sahut Rendy yang harus memaksa Rania dan mau tidak mau Rania pun harus membuka mulutnya dan memakan bubur itu. Rendy tersenyum tipis melihat istrinya yang dengan terpaksa makan.
Bersambung