
Ternyata hubungan Agam dan Anisa di atas ranjang tidak sehangat dan semanis hubungan mereka di luar. Sudah beberapa bulan ternyata Anisa tidak di sentuh oleh Agam. Namun mereka jika bersama layaknya suami istri dan hubungan pernikahan mereka yang lebih sehat.
Namun itu menjadi bahan pemikiran untuk Anisa. Seperti sekarang ini. Anisa yang berbaring di atas ranjang dengan Agam tidur di sampingnya setelah bicara dengan Agam tadi. Tidak menemukan titik terang apapun dan hanya perkataan yang di dengar Anisa dari Agam.
Anisa menoleh ke arah Agam dan melihat Agam yang tetap tertidur dengan nyenyaknya seperti tanpa ada pemikiran apa-apa.
" Apa kamu masih tersinggung Agam dengan apa yang terjadi waktu itu," batin Anisa yang malah tidak tenang dengan Agam yang tidak menyentuhnya karena penolakan yang di lakukan Anisa saat itu. Anisa sampai meneteskan air matanya terbawa perasaan yang sekarang merasa dia tidak di anggap sebagai istri.
************
Zahra dan Elang berada di dalam kamar dengan Zahra yang duduk di atas tempat tidur dan Elang berbaring dengan kepala Elang berada di atas pahanya yang beberapa kali mencium perut Zahra.
" Kapan dia akan keluar?" tanya Elang.
" Hmmm, sepertinya tidak lama lagi. Perkiraan Dokter 2 bulan lagi. Kalau tidak 1 bulan setengah," jawab Zahra.
" Aku sudah tidak sabar dengan kehadiran putra pertama kita," ucap Agam.
" Sama aku juga tidak sabar," sahut Zahra dengan tersenyum tanpa beban.
" Sayang kamu akan lahir ke dunia ini. Kamu akan menjadi jagoan papa dan juga jagoan mama. Kamu harus menjaga mama kamu," ucap Elang yang mengajak calon bayinya berbicara. Namun Zahra hanya tersenyum-senyum saja dan tiba-tiba Zahra melihat ke arah pintu kamar mereka yang memang terbuka sedikit dan ternyata ada Rania berdiri di sana.
" Rania!" tegur Zahra.
Rania yang memegang nampan tampak tersentak. Namun langsung tersenyum dengan langsung masuk. Dan Elang yang melihat Rania pun langsung bangkit dari pangkuan istrinya tersebut yang tidak enak dengan Rania.
" Ha, iya Zahra," sahut Rania yang terlihat menutupi sesuatu. " Hmmmm, aku hanya mengantarkan buah ini untuk kamu, ini bagus untuk kesehatan kamu yang bisa membantu persalinan kamu nanti," ucap Rania yang meletakkan di atas meja.
" Ya ampun makasih ya Rania sampai membuat kamu repot," ucap Zahra merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa. Ya sudah aku keluar dulu ya. Bolehkan pintunya aku tutup," sahut Rania.
" Hahah, boleh Rania, maaf ya," sahut Zahra tertawa pelan yang malu pada Rania. Karena bermesraan dengan suaminya tidak menutup pintu kamar mereka.
" Ya sudah aku pamit," sahut Rania dengan santai dan langsung pergi.
__ADS_1
" Kamu sih, masuk kamar tidak tutup pintu dulu," ucap Zahra pada suaminya.
" Kok jadi aku yang salah," sahut Elang heran.
" Ya kan tadi Rania jadi lihat kita kan malau," sahut Zahra.
" Ya ampun sayang namanya juga kita sudah nikah," sahut Elang.
" Iya sih. Tapi kamu lihat deh. Wajah Rania itu kelihatan sedih ya. Apa dia itu kepikiran dengan kondinyasi," ucap Zahra yang memperhatikan kondis Rania.
" Mungkin saja sayang. Kamu lihat sendiri belakangan ini Rania itu murung terus seperti wanita yang di paksa untuk kuat," ucap Rendy.
" Kamu benar, kasihan banget Rania kalau begitu. Rania itu terlalu banyak ujiannya," ucap Zahra.
" Kita berdoa saja semoga Rania cepat sembuh dan bisa hamil kembali. Agar wajahnya tidak sedih-sedih lagi dengan hadirnya buah hati di dalam kehidupannya dan juga suaminya," ucap Elang.
" Iya kita hanya bisa berdoa untuk kebaikannya dan sangat bersyukur Rania menikah dengan Pria yang tepat yang sangat baik. Di mana Rendy selalu ada bersamanya, mendukungnya dan tidak pernah menuntut apapun kepadanya. Ya Allah benar-benar menguji rumah tangga mereka dengan begitu hebat dan semoga mereka bisa melewati semua ujian itu," ucap Zahra.
" Amin," sahut Elang yang kembali berbaring di pangkuan istrinya dan terus mengusap-usap perut itu dengan mencium beberapa kali perut buncit Zahra sampai-sampai Zahra kegelian.
**********
Artikel seputaran wanita yang menderita kanker rahim. Rania juga melihat Vidio YouTube dengan obrolan seorang Pria dan seorang Dokter.
" Ada pasien saya yang juga mengalami kanker rahim. Tetapi dia begitu semangat dan sampai saat di lakukan pengangkatan rahim karena sudah begitu parah dengan stadium lanjut. Namun pasien saya yang satu ini rela mengambil resiko yang tinggi. Sebelum rahimnya di angkat dia memutuskan untuk hamil walau itu sangat membahayakan dirinya sendiri,"
" Namun dia tetap kekeh untuk hamil sebelum rahimnya di angkat. Walau tau resiko yang di alaminya bahkan nyawanya. Tapi kembali lagi kematian hanya milik tuhan dan pasien saya itu begitu kuat menghadapi hamil terberatnya sampai dia melahirkan dan tetap memperjuangkan kandungannya dan ingin melahirkan walau dia kehilangan nyawanya.
" Banyak jenis dari tipe-tipe pasien memang. Ada pemikirannya yang seperti itu dan mungkin ada yang bertahap harus sembuh dulu baru memikirkan masalah kehamilannya,"
Krekkk.
Pintu kamar terbuka membuat Rania langsung mematikan YouTube itu dengan cepat yang ternyata Rendy yang sudah pulang.
" Assalamualaikum," sapa Rendy.
__ADS_1
" Walaikum salam," sahut Rania tersenyum dan meletakkan handphonenya di atas meja. Rendy menghampirinya dan Rania langsung mencium punggung tangan suaminya. Rendy juga menciumi wajah Rania seperti biasanya.
" Kamu sedang apa?" tanya Rendy duduk di samping Rania dengan mengusap-usap kepala Rania.
" Lagi scroll tiktok, soalnya bosan," jawab Rania bohong.
" Ohhh, begitu rupanya," sahut Rendy yang mencium pucuk kepala Rania dan melihat rambut Rania yang basah.
" Kamu sudah selesai halangan?" tanya Rendy.
" Hmmm, dari semalam sudah tidak ada lagi sampai detik ini. Jadi aku keramas aja akhirnya. Setelah lama menunggu lebih 3 Minggu," ucap Rania.
" Alhamdulillah kalau begitu. Semoga bukan depan. Kamu normal ya datang bukannya," ucap Rendy.
" Amin," sahut Rania yang langsung memeluk pinggang Rendy bermanja di dada bidang Rendy.
" Bagaiman hari ini di rumah sakit? tanya Rania.
" Lumayan lelah. Sangat banyak operasi," sahut Rendy. " Tapi kalau di peluk seperti ini lelahnya hilang," sahut Rendy.
" Oh, iya," sahut Rania Rendy mengangguk.
" Mau yang lebih tidak. Agar rasa lelahnya tidak tersisah sedikitpun," ucap Rania mengangkat kepalanya melihat suaminya. Rendy langsung tersenyum dengan mencium bibir Rania sekilas.
" Kenapa kamu suka mancing-mancing?" tanya Rendy.
" Namanya juga kangen," sahut Rania dengan santai.
" Aku mau mandi dulu tubuhku sangat lengket," ucap Rendy.
" Setelah itu?" tanya Rania.
" Aku ingin obat darimu supaya rasa lelahku tidak tersisa lagi," jawab Rendy. Rania tersenyum mendengarnya dengan memeluk erat suaminya itu Rendy juga memeluknya dengan erat.
Bersambung.
__ADS_1